Di zaman serba digital ini, anak-anak tampak begitu akrab dengan gadget. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam bermain game, menonton YouTube, atau menjelajah media sosial. Tapi begitu diminta belajar, banyak yang langsung kehilangan semangat.
Orang tua pun sering mengeluh, “Anakku malas belajar!” Padahal, menurut teori psikologi perkembangan dari Urie Bronfenbrenner, perilaku anak tidak terbentuk begitu saja. Semua itu dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar anak, terutama lingkungan terdekat yang disebut mikrosistem.
Mikrosistem: Lingkungan Terdekat yang Menentukan
Bronfenbrenner menjelaskan bahwa mikrosistem adalah lingkungan yang paling dekat dengan anak—seperti keluarga, sekolah, dan teman sebaya. Di sinilah nilai, kebiasaan, dan minat anak terbentuk.
Keluarga menjadi tempat pertama anak belajar. Jika orang tua sibuk dengan pekerjaan atau juga asyik bermain ponsel, anak cenderung meniru kebiasaan tersebut. Apalagi kalau belajar sering diwarnai amarah atau tekanan, anak akan menganggap belajar sebagai hal yang tidak menyenangkan.
Sebaliknya, kalau orang tua menciptakan suasana belajar yang positif—misalnya belajar bersama, memberi pujian kecil, atau membuat waktu belajar jadi lebih fleksibel—anak akan merasa belajar adalah hal yang menyenangkan dan bermakna.
Kuncinya ada pada teladan dan kedekatan emosional. Anak lebih mudah meniru perilaku yang ia lihat daripada sekadar mendengar nasihat.
Selain keluarga, sekolah dan teman sebaya juga bagian dari mikrosistem. Di sekolah, anak belajar disiplin dan tanggung jawab. Namun, jika di rumah tidak ada dukungan yang sama, semangat belajar anak akan cepat menurun.
Teman sebaya pun berpengaruh besar. Jika lingkungannya lebih sering menghabiskan waktu bermain game online, anak akan lebih mudah mengikuti kebiasaan itu.
Baca Juga: Peran Keluarga dalam Mengembangkan Potensi Anak Sejak Dini untuk Masa Depan yang Gemilang
Lingkungan Lain yang Juga Berperan
Selain mikrosistem, teori Bronfenbrenner juga mengenal mesosistem, yaitu hubungan antara rumah dan sekolah. Jika komunikasi orang tua dan guru kurang, anak tidak akan mendapat bimbingan yang konsisten.
Ada juga eksosistem (seperti kesibukan orang tua), makrosistem (nilai sosial yang menganggap gadget adalah hal normal), dan kronosistem, yaitu pengaruh waktu dan perubahan—contohnya, kebiasaan anak yang terbentuk sejak pandemi karena belajar online.
Dampak dan Solusi
Terlalu sering bermain gadget tanpa pengawasan bisa membuat anak kehilangan fokus belajar, kecanduan, dan jarang berinteraksi secara langsung. Solusinya bukan melarang anak sepenuhnya, tapi menyeimbangkan penggunaan gadget dan waktu belajar.
Jadikan rumah tempat yang nyaman untuk belajar, komunikasikan aturan penggunaan gadget dengan bijak, dan manfaatkan teknologi untuk kegiatan edukatif. Orang tua juga harus menjadi contoh: letakkan ponsel saat berbicara dengan anak dan tunjukkan bahwa belajar bisa menyenangkan tanpa harus dipaksa.
Baca Juga: Kecanduan TikTok pada Anak SD: Tren Kekinian yang Mengancam Prestasi?
Kesimpulan
Anak yang lebih suka main gadget bukan berarti malas belajar. Mereka hanya belum mendapatkan lingkungan yang mendukung semangat belajar. Melalui pendekatan teori Bronfenbrenner, kita tahu bahwa keluarga sebagai mikrosistem memiliki peran terbesar.
Ketika rumah menjadi tempat yang hangat, suportif, dan penuh teladan positif, anak akan belajar bukan karena terpaksa, tapi karena memang ingin berkembang.
Penulis: Diva Dwi Wijayanti
Mahasiswa PGSD Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)
Dosen Pengampu: Ibu Trivena
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












