Karakteristik dan Keistimewaan Isi Kandungan Al-Qur’an

Karakteristik Al-Qur'an
Al-Qur'an merupakan pedoman hidup sepanjang zaman bagi umat Islam yang memuat ajaran tentang akidah, akhlak, hukum, dan berbagai aspek kehidupan. Karakteristik serta keistimewaannya menjadikannya sumber petunjuk, rahmat, dan hikmah yang tetap relevan bagi setiap generasi. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sebagai wahyu ilahi, Al-Qur’an tidak hanya berisi ajaran tentang akidah dan ibadah, tetapi juga memuat petunjuk mengenai akhlak, hukum, muamalah, ilmu pengetahuan, serta berbagai aspek kehidupan lainnya. Oleh karena itu, Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam.

Salah satu hal yang menjadikan Al-Qur’an istimewa adalah karakteristiknya yang berbeda dari kitab-kitab lainnya. Al-Qur’an memiliki bahasa yang indah, susunan ayat yang sempurna, serta kandungan yang relevan sepanjang zaman.

Selain itu, isi kandungan Al-Qur’an bersifat universal dan mampu memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan manusia, baik yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, sosial, maupun spiritual. Keistimewaan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat yang diberikan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw.

Di era modern yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, pemahaman terhadap karakteristik dan keistimewaan isi kandungan Al-Qur’an menjadi semakin penting. Banyak nilai dan ajaran yang terkandung di dalamnya dapat dijadikan pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Oleh karena itu, kajian mengenai karakteristik dan keistimewaan isi kandungan Al-Qur’an perlu dilakukan agar umat Islam semakin memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Pembahasan

Karakteristik Utama Al-Qur’an

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang, sehingga manusia benar-benar menjadi umat pilihan (khoiru ummah), yakni umat yang mempunyai keistimewaan dengan karakteristik tertentu.

Berkaitan dengan Al-Qur’an, bukanlah hal yang aneh apabila para ulama memberikan perhatian khusus terhadap karakteristiknya. Karakteristik yang dimiliki Al-Qur’an sangat banyak, baik yang berkaitan dengan keutamaan, kelebihan, kedudukan, gaya bahasa Al-Qur’an, dan lain-lain.

Secara umum, Al-Qur’an mempunyai karakteristik yang universal, di antaranya terpelihara melalui hafalan, sanadnya bersambung, hanya dapat disentuh oleh orang yang suci, yaitu suci dari kufur dan syirik serta suci dari hadas kecil dan besar, serta terpelihara sepanjang masa.¹

Isi Kandungan Al-Qur’an

Istilah dalam bahasa Arab yang berarti membaca (qara’a, yaqro’u, qur’anan) merupakan akar etimologis dari kata Al-Qur’an. Istilah qara’a menggambarkan praktik pengumpulan kata-kata dan huruf-huruf dari berbagai tempat. Dari Big Bang hingga saat-saat terakhir kehidupan manusia, Al-Qur’an mencakup semuanya dalam tugasnya sebagai panduan bagi keberadaan manusia.

Berikut ini beberapa isi kandungan Al-Qur’an.

Akidah

Akar kata Arab al-‘aqdu berarti ikatan, pengikat, pengikatan, tekad, atau penguatan, dan menjadi asal kata aqidah. Menurut Syekh Abu Bakar Al-Jazairy, aqidah mengacu pada kumpulan kebenaran yang dapat diterima manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah. Kebenaran tersebut diyakini secara mendalam sehingga segala sesuatu yang bertentangan dengannya akan ditolak.

Akidah tauhid bertumpu pada penalaran yang sehat karena seluruh keyakinan, khususnya mengenai keagungan dan keesaan Allah, dibangun di atas fondasi tersebut.

Menurut ajaran Al-Qur’an, iman atau aqidah harus melahirkan amal saleh. Iman sejati bukan sekadar keyakinan yang tidak diwujudkan dalam perbuatan baik, dan amal saleh tidak dapat disebut sebagai kesalehan apabila tidak dilandasi keimanan.

Iman dan amal saleh merupakan konsep yang tidak dapat dipisahkan dalam Al-Qur’an. Oleh sebab itu, setiap pembahasan mengenai iman selalu berkaitan dengan amal saleh.

Berikut ayat yang berkaitan dengan akidah.

وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوا بِيْ لَعَلَّهُمْ

يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186).

Pelajaran dari ayat tersebut:

  • Kewajiban menjawab panggilan Allah Swt. dengan keimanan dan amalan saleh.
  • Dekatnya Allah dengan hamba-hamba-Nya karena seluruh alam semesta berada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya. Tidak ada seorang pun hamba yang jauh dari Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari penglihatan, pendengaran, dan kekuasaan-Nya. Inilah hakikat kedekatan Allah.

Al-Imari sampai pada kesimpulan bahwa mengenal Allah merupakan fondasi dan pilar utama keimanan Islam karena pentingnya penanaman keimanan dan keterkaitannya yang kuat dengan peristiwa alam. Cara manusia memperoleh pemahaman tersebut adalah dengan menemukan ayat-ayat Allah di alam semesta dan dalam diri mereka sendiri.

Realitas Sekitar

Akidah (Keimanan dan Keteguhan dalam Musibah)

Kasus Nyata

Korban gempa di Cianjur tetap melaksanakan salat berjamaah di tenda pengungsian meskipun rumah mereka hancur akibat gempa bumi pada tahun 2022.²

Realitas

Peristiwa ini menunjukkan bahwa keimanan kepada Allah membuat seseorang tetap menjalankan ibadah dan tidak kehilangan harapan meskipun berada dalam kondisi yang sangat sulit. Hal ini sejalan dengan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk (hudan) dan penguat keimanan.³

Akhlak

Istilah akhlak berasal dari kata Arab khuluqun, yang berarti budi pekerti. Konsep ini dipandang sebagai sesuatu yang tertanam dalam diri manusia sehingga memengaruhi sikap dan tindakan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan yang panjang.

Menurut Ibn Miskawaih (421 H), akhlak adalah “sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong seseorang melakukan perbuatan tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan.” Dari sudut pandang ilmiah, akhlak mengkaji perilaku manusia yang baik dan buruk.

Al-Qur’an menyerukan umat Islam untuk berbuat baik kepada sesama, menghormati orang tua, dan membangun hubungan sosial yang harmonis. Pengembangan akhlak yang baik diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera.

Berikut ayat yang berkaitan dengan akhlak.

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4).

Sifat yang agung dan luhur menjadi ciri khas Nabi Muhammad saw., sosok yang paling ideal dalam akhlak. Setiap akhlak mulia mencapai puncaknya pada diri beliau. Rasulullah saw. dikenal sebagai pribadi yang penyayang, ramah, mudah didekati, senang membantu, memenuhi undangan, serta tidak pernah menolak permintaan selama mampu memenuhinya.

Beliau juga senantiasa bermusyawarah dengan para sahabat, menerima hadiah dengan lapang dada, mudah memaafkan kesalahan, tidak berkata kasar, tidak pendendam, dan selalu membalas keburukan dengan kebaikan serta kesabaran.

Realitas Sekitar

Dikisahkan ketika masih kecil, Abdul Qadir al-Jailani hendak menuntut ilmu ke Baghdad. Ibunya menjahitkan 40 dinar di dalam bajunya dan berpesan agar ia selalu berkata jujur.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa:

  • Kejujuran merupakan salah satu bentuk akhlak yang paling mulia.
  • Akhlak yang baik dapat mengubah hati orang lain menjadi lebih baik.⁴

Hukum

Hukum Islam didasarkan pada ajaran Allah Swt. dan berkaitan erat dengan segala keputusan, perintah, maupun ketetapan mengenai kehidupan manusia.

Hukum Islam memiliki dua komponen utama. Pertama, aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah melalui ibadah, seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Ketentuan tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperoleh rahmat dan perlindungan-Nya.

Kedua, aturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesama serta lingkungan sekitarnya, meliputi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, hukum Islam bersifat komprehensif karena mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Kisah

Al-Qur’an mengandung berbagai kisah tentang umat terdahulu, baik mereka yang memperoleh kejayaan maupun yang mengalami kebinasaan. Kisah-kisah tersebut menjadi pelajaran sekaligus bukti bahwa umat-umat terdahulu benar-benar pernah ada.

Melalui kisah-kisah itu, Al-Qur’an mengajarkan pentingnya memperbaiki kekhilafan dan kedurhakaan, baik pada tingkat individu maupun kelompok. Ajaran tentang iman, hukum, dan akhlak disampaikan secara lebih efektif melalui kisah-kisah sejarah dalam Al-Qur’an.

Tujuan penyampaian kisah dalam Al-Qur’an bukanlah menjadikan manusia sebagai ahli sejarah, melainkan menumbuhkan kesabaran, rasa syukur, serta kesadaran bahwa manusia adalah makhluk Allah yang wajib taat kepada-Nya.⁵

Keistimewaan Al-Qur’an

Keistimewaan Al-Qur’an adalah sifat atau karakteristik yang terdapat pada Al-Qur’an sehingga dapat dibedakan dari seluruh ucapan (kalam) di dunia ini, termasuk hadis Nabi maupun hadis Qudsi, meskipun Al-Qur’an dan hadis Qudsi sama-sama berasal dari Allah.

Keistimewaan tersebut menunjukkan bentuk penghormatan terhadap Al-Qur’an yang tidak dimiliki kitab-kitab samawi lainnya, seperti Injil, Taurat, dan Zabur. Tujuannya adalah menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang sangat istimewa, memiliki kedudukan tertinggi di antara kitab-kitab sebelumnya, sekaligus menjadi mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. yang berlaku sepanjang zaman.

Perlu diketahui bahwa cakupan keistimewaan Al-Qur’an sangat luas. Keistimewaan tersebut diperoleh dari pengakuan Al-Qur’an sendiri, hadis Nabi, serta pendapat para ulama dan cendekiawan. Oleh sebab itu, sangat mungkin sisi-sisi keistimewaan Al-Qur’an terus bermunculan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan kemajuan zaman.

Keistimewaan Al-Qur’an merupakan gabungan dari dua kata, yaitu keistimewaan dan Al-Qur’an. Kata keistimewaan berasal dari kata istimewa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata istimewa memiliki beberapa makna, di antaranya:

  1. Khas, digunakan untuk tujuan tertentu.
  2. Khusus, misalnya sekolah istimewa bagi anak tunarungu dan tunawicara.
  3. Berbeda dari yang lain.
  4. Luar biasa, misalnya mendapat sambutan yang istimewa.
  5. Terutama atau lebih-lebih.

Kata istimewa merupakan homonim, yaitu kata yang dieja dan dilafalkan sama, tetapi memiliki arti yang berbeda sesuai konteks. Sebagai adjektiva, kata ini berfungsi menjelaskan kata benda atau kata ganti agar menjadi lebih spesifik.

Beberapa bentuk turunannya antara lain keistimewaan, mengistimewakan, dan teristimewa. Menurut KBBI, keistimewaan berarti sifat-sifat istimewa atau karakteristik khusus yang dimiliki oleh seseorang, tempat, ataupun benda.⁶

Fungsi Al-Qur’an

Untuk memahami tujuan Al-Qur’an, perlu diperhatikan bagaimana Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri. Selain itu, penjelasan Nabi Muhammad saw. melalui hadis dan pandangan para ulama juga menjadi rujukan.

Al-Qur’an menjelaskan beberapa fungsinya bagi manusia, yaitu sebagai mau’idhah, syifa’, hudan, rahmah, dan al-furqan.

Mau’idhah

Ibnu Sayyidih, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Manzur, mengartikan mau’idhah sebagai peringatan yang ditujukan agar hati seseorang menjadi lembut, disertai kabar gembira dan peringatan.

Dalam QS. Yunus ayat 57 disebutkan bahwa Al-Qur’an merupakan mau’idhah, yaitu pengajaran dan peringatan dari Allah Swt. Pengajaran tersebut pada hakikatnya berisi pedoman hidup yang sangat dibutuhkan manusia.

Abu Hayyan menjelaskan makna tersebut sebagai tathir zhawahir al-khalq ‘an ma la yanbaghi, yaitu meluruskan perilaku lahir manusia dari segala sesuatu yang tidak sepatutnya dilakukan. Dengan demikian, Al-Qur’an berisi bimbingan mengenai hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia sehingga menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.

Syifa’

Secara etimologis, syifa’ berarti obat. Al-Qur’an menjadi asy-syifa’ bagi berbagai penyakit, baik penyakit individu maupun penyakit masyarakat, apabila manusia menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Al-Qur’an merupakan obat bagi berbagai macam penyakit, baik penyakit fisik, penyakit hati, maupun penyakit lainnya. Ketika seseorang mengalami sakit, Al-Qur’an menjadi salah satu rujukan utama karena pada hakikatnya hanya Allah Swt. yang Maha Menyembuhkan.

Hasan al-Basri, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Sayyid Thanthawi berdasarkan riwayat Abu al-Syaikh, menjelaskan bahwa Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai obat bagi penyakit hati, bukan penyakit jasmani. Penyakit tersebut berupa keraguan, kemunafikan, dan kekufuran.

Hudan

Al-Qur’an merupakan wahyu suci yang dianugerahkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat dan pedoman hidup bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Fungsi Al-Qur’an adalah mengarahkan manusia menuju jalan yang benar, kejujuran, serta kesejahteraan hidup. Di dalamnya terdapat petunjuk mengenai cara menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Akan tetapi, agar benar-benar menjadi petunjuk, Al-Qur’an harus dibaca, dipahami, dan diamalkan. Tanpa pengamalan, Al-Qur’an tidak akan berfungsi sebagai pedoman hidup.

Berdasarkan uraian tersebut, Al-Qur’an menjadi petunjuk agar manusia memperoleh ketenteraman, keberkahan, serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah telah menunjukkan jalan yang benar, sedangkan pilihan untuk mengikuti petunjuk tersebut bergantung pada setiap manusia melalui kesediaannya membaca dan mengamalkan Al-Qur’an.

Rahmah

Rahmat dalam bahasa Arab disebut rahmah, yang mengandung makna riqqah taqtadhi al-ihsan ila al-marhum, yaitu perasaan kasih sayang yang mendorong seseorang untuk berbuat baik kepada yang disayangi. Islam merupakan agama yang membawa rahmat, dan tidak ada Islam yang tidak membawa rahmat. Oleh karena itu, Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an adalah Islam yang menghadirkan kasih sayang, sedangkan Islam yang tidak membawa kasih sayang tidak sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

Dengan demikian, Al-Qur’an dan hadis menjadi dasar bagi bangunan rahmat, bukan sekadar susunan kata dan huruf. Dalam bahasa Indonesia, kasih sayang berarti belas kasih, yaitu rasa kepedulian seseorang terhadap sesamanya yang kemudian diwujudkan dalam perilaku yang terpuji.

Al-Furqan

Secara etimologis, kata furqan berasal dari kata faraqa yang berarti pembeda. Dalam Surah Al-Baqarah, Al-Qur’an menjelaskan dirinya sebagai al-furqan, yaitu pembeda antara yang hak dan yang batil, antara kesesatan dan petunjuk, serta antara jalan yang mengantarkan kepada kesejahteraan dan jalan yang membawa kepada kesulitan.

Allah Swt. menganugerahkan kepada manusia hati, indra, dan akal sehingga manusia mampu mengenali kebenaran serta membedakan antara yang benar dan yang salah. Kemampuan tersebut akan berfungsi dengan baik apabila hawa nafsu mampu dikendalikan.¹

Al-Qur’an Menjadi Pedoman Hidup bagi Umat Islam

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril. Membacanya merupakan ibadah, sekaligus menjadi penutup seluruh wahyu Allah yang diturunkan kepada umat manusia. Al-Qur’an juga menjadi salah satu rukun iman serta pedoman hidup yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad saw.

M. Fuad Nasar menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan referensi utama bagi mayoritas umat Islam. Berbagai nasihat yang terkandung di dalamnya, terutama mengenai pedoman menjalani kehidupan sehari-hari, menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab yang sangat berguna dan berharga.

Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup bagi manusia yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kitab suci ini memuat ajaran Islam yang senantiasa relevan sepanjang zaman. Tujuan utama Al-Qur’an adalah mengarahkan manusia menuju jalan yang benar agar memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Selain itu, Al-Qur’an berisi berbagai pelajaran yang dapat dijadikan teladan dalam berbagai bentuk hubungan, seperti hubungan antarsesama manusia, guru dan murid, keluarga, kerabat, maupun hubungan antara makhluk dengan Sang Pencipta. Al-Qur’an juga menjadi sumber ketenangan jiwa.

Berdasarkan QS. Al-Isra’ ayat 82, membaca dan memahami Al-Qur’an akan mendatangkan kasih sayang dan rahmat Allah Swt. Oleh karena itu, membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang dianjurkan bagi setiap muslim. Allah menjanjikan pahala dan berbagai keuntungan bagi orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an.

Sebaliknya, apabila manusia meninggalkan Al-Qur’an, berpaling dari Allah, dan terus-menerus berbuat dosa, Allah akan membiarkan hati mereka lalai dari mengingat kalam-Nya. Kelalaian terhadap Al-Qur’an pada hakikatnya merupakan akibat dari perilaku manusia yang mengikuti hawa nafsunya.

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang sangat dianjurkan karena berarti membaca firman Allah yang berisi petunjuk bagi kehidupan manusia. Menurut Safliana (2018), membaca Al-Qur’an akan menghasilkan pahala yang sangat besar.

Membaca Al-Qur’an dianjurkan dalam berbagai keadaan, kecuali pada kondisi-kondisi yang dilarang oleh syariat Islam. Misalnya ketika rukuk, sujud, tasyahud, atau berada di tempat yang tidak layak seperti kamar mandi. Dalam keadaan tertentu, perhatian terhadap bacaan Al-Qur’an juga harus didahulukan, seperti ketika mendengarkan khutbah.

Apabila seorang mukmin mengetahui keutamaan membaca Al-Qur’an, niscaya ia akan membacanya setiap hari.²

Berikut makna membaca Al-Qur’an:

Sudah sepantasnya setiap mukmin menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dengan membacanya, merenungkan, mentadabburi, kemudian mengamalkan isi kandungannya. Ibnul Qayyim berkata:

“Tidak ada yang lebih besar manfaatnya bagi hati daripada membaca Al-Qur’an dengan mentadabburi dan merenungkannya, karena Al-Qur’an merupakan kitab suci yang dapat dijadikan pedoman hidup oleh setiap manusia. Dengan membaca dan mentadabburinya akan lahir al-mahabbah (cinta kepada Allah), al-khauf (rasa takut kepada Allah), ar-raja’ (berharap hanya kepada Allah), al-inabah, tawakal, rida terhadap takdir Allah, sifat sabar, syukur, serta seluruh amal yang dapat menghidupkan hati dan menyempurnakannya. Membaca satu ayat Al-Qur’an dengan tadabbur jauh lebih baik daripada mengkhatamkan Al-Qur’an tanpa pemahaman terhadap maknanya. Membaca Al-Qur’an dengan memahami isi kandungannya jauh lebih bermanfaat bagi hati serta lebih besar pengaruhnya dalam menambah keimanan dan merasakan manisnya Al-Qur’an.”

Surah Fatir Ayat 29

ِاِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُونَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.”

Kata يَتْلُوْنَ (yatluna) pada ayat tersebut berasal dari kata tala yang bermakna tilawah. Tilawah memiliki tiga makna, yaitu:

  1. Makna lafdziyyah, yaitu membaca lafaznya.
  2. Makna maknawiyyah, yaitu membaca, memahami, dan mentadabburi maknanya.
  3. Makna hukmiyyah, yaitu mengamalkan isi kandungannya.

Lanjutan ayat tersebut menjelaskan, “Mereka yang selalu bertilawah dan menegakkan salat.” Menegakkan salat tidak hanya berarti mengerjakannya, tetapi juga melaksanakannya dengan kualitas yang baik. Salat yang baik akan memberikan pengaruh positif dalam kehidupan.

Lalu, apa yang dimaksud dengan perdagangan yang tidak merugi dalam Surah Fatir ayat 29?

Pertama, setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca akan dibalas dengan satu kebaikan.

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia akan memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).

Makna kebaikan (hasanah) tersebut antara lain:

  1. Kebaikan di dunia, seperti menjadi pribadi yang saleh, memiliki keluarga yang saleh, lingkungan yang baik, rezeki yang berkah, serta memperoleh husnul khatimah. Adapun kebaikan di akhirat meliputi keselamatan dari siksa kubur dan api neraka. Seluruh kebaikan tersebut bersumber dari hasanah yang Allah berikan.
  2. Allah mengampuni dosa-dosa melalui setiap hasanah yang diperoleh dari membaca Al-Qur’an.

Setiap hari manusia seolah-olah sedang berbisnis dengan Allah. Pertanyaannya adalah, apakah pahala yang diperoleh lebih banyak daripada dosa yang dilakukan, atau justru sebaliknya.

Keuntungan lain bagi orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an adalah Allah mengangkat derajatnya sebagai keluarga Allah di dunia.

Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlul Qur’an, yaitu keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Ahli Al-Qur’an juga disejajarkan kedudukannya dengan para malaikat. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., Rasulullah saw. bersabda:

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.”

Yang dimaksud mahir dalam hadis tersebut dapat diartikan sebagai orang yang hafal Al-Qur’an atau orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an dengan memahami maknanya.

Keutamaan lain membaca Al-Qur’an adalah Allah mengangkat derajat seseorang di surga.

“Dikatakan kepada penghafal Al-Qur’an, ‘Bacalah, naiklah, dan bacalah secara tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia, karena kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.'” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Amr bin Ash).

Itulah keutamaan orang-orang yang يَتْلُوْنَ (yatluna), yaitu mereka yang tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami makna serta berusaha mengamalkan isi kandungannya. (iyiz).³

Membaca Al-Qur’an adalah Suatu Kebaikan

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka ia akan memperoleh satu kebaikan,” sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud.

Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama safarah, yaitu para malaikat yang mulia atau para utusan Allah yang memberikan petunjuk kepada manusia. Orang yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan memperbanyak tilawah akan memperoleh pahala karena membaca sekaligus mentadabburi isi Al-Qur’an.

Sebenarnya, orang yang mahir membaca Al-Qur’an pun pernah mengalami kesulitan ketika belajar. Akan tetapi, setelah mampu melewati kesulitan tersebut, derajatnya menjadi sangat mulia di sisi Allah.⁴

Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an wajib dipelajari agar manusia tidak tersesat. Agar tidak mudah terbawa godaan setan, Al-Qur’an harus dikaji, dipahami, dihayati, kemudian diamalkan. Al-Qur’an akan menjadi penolong bagi orang yang istiqamah membacanya. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi saw.:

“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim).

Kemampuan merupakan kecakapan, kesanggupan, dan kekuatan seseorang untuk melakukan sesuatu. Membaca adalah proses mengubah lambang atau tulisan menjadi bacaan yang dapat dipahami maknanya.

Berdasarkan pengertian tersebut, membaca merupakan kegiatan memahami suatu bacaan dengan melafalkan tulisan yang telah ada. Adapun Al-Qur’an menurut para ulama adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan ditulis dalam bentuk mushaf. Para ahli tafsir juga mendefinisikan Al-Qur’an sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan membacanya bernilai ibadah.

Dengan demikian, kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan kecakapan seseorang untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah yang berlaku. Untuk memahami maksud yang terkandung di dalam Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia, seseorang harus terlebih dahulu membacanya.⁵

Penutup

Kesimpulan

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sebagai wahyu terakhir, Al-Qur’an tidak hanya berisi ajaran ibadah, tetapi juga mengatur berbagai aspek kehidupan manusia agar berjalan sesuai dengan tuntunan Allah Swt. Al-Qur’an memiliki karakteristik yang istimewa, seperti terjaga keasliannya, memiliki bahasa yang indah dan penuh makna, kandungannya bersifat universal, serta tetap relevan sepanjang zaman. Keistimewaan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan sumber petunjuk yang sempurna bagi kehidupan manusia.

Isi kandungan Al-Qur’an mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari akidah, akhlak, hukum, sejarah, hingga kisah-kisah umat terdahulu yang mengandung banyak pelajaran dan hikmah. Melalui kisah-kisah tersebut, manusia dapat mengambil ibrah tentang pentingnya keimanan, ketaatan, kesabaran, serta menjauhi kesombongan dan kemaksiatan. Dengan demikian, Al-Qur’an menjadi sumber ilmu, pedoman moral, dan pengingat agar manusia senantiasa berada di jalan yang benar.

Selain itu, Al-Qur’an memiliki berbagai fungsi penting, yaitu sebagai petunjuk (hudan), pelajaran dan nasihat (mau’idhah), penyembuh (syifa’), rahmat (rahmah), serta pembeda antara yang benar dan yang salah (al-furqan). Fungsi-fungsi tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an hadir untuk membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik, baik dalam hubungan dengan Allah Swt., sesama manusia, maupun lingkungan sekitarnya. Al-Qur’an juga menjadi sumber ketenangan hati bagi orang-orang yang beriman dan berusaha mengamalkan ajarannya dengan sungguh-sungguh.

Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami, mentadabburi, menghafal, dan mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Membaca Al-Qur’an akan lebih sempurna apabila disertai penghayatan terhadap maknanya serta penerapan dalam perilaku. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, seseorang akan memperoleh petunjuk, ketenangan, keberkahan, keselamatan, serta kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Catatan Kaki

  1. Mohammad Zaedi, “Karakteristik Tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’an,” Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol. 1, No. 1, 2021, hlm. 34.
  2. Okezone News, “Haru dan Khusyuk, Para Korban Gempa Cianjur Salat Jumat di Pengungsian.”
  3. ANTARA Foto, “Pengungsi Korban Gempa Bumi Cianjur.”
  4. NU Online, “Buah Kejujuran,”
  5. Novelia Najmi dan Alwizar, “Isi dan Fungsi Al-Qur’an,”
  6. Muhammad Habib Izzuddin Amin, “Keistimewaan Al-Qur’an dan Relevansinya dalam Konteks Saat Ini,”
  7. Nur Wulandari Sunawir dan Alwizar, “Isi dan Fungsi Al-Qur’an,” Vol. 8, No. 2, 2024, hlm. 27925–27926.
  8. Seli Septina, Ratna Sari, dan Ali Akbar, “Keutamaan Tadabbur dalam Al-Qur’an,”
  9. Mabit Tarbiyatul Quran, “Keutamaan Membaca Al-Qur’an (Tadabur QS. Fatir: 29).”
  10. Siti Khodijah Al-Bishri, “Al-Qur’an sebagai Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari,”
  11. Fitriyah Mahdali, “Analisis Kemampuan Membaca Al-Qur’an dalam Perspektif Sosiologi Pengetahuan,” Jurnal Studi Al-Qur’an dan Hadis, Vol. 2, No. 2, 2020, hlm. 147.

Daftar Pustaka

Al-Bishri, Siti Khodijah. “Al-Qur’an sebagai Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari.” Maliki Interdisciplinary Journal, Vol. 2, No. 11, 2024.

ANTARA Foto. (2022). Pengungsi Korban Gempa Bumi Cianjur. Diakses melalui ANTARA Foto.

Amin, Muhammad Habib Izzuddin. “Keistimewaan Al-Qur’an dan Relevansinya dalam Konteks Saat Ini.” Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan.

Fitriyah Mahdali. “Analisis Kemampuan Membaca Al-Qur’an dalam Perspektif Sosiologi Pengetahuan.” Jurnal Studi Al-Qur’an dan Hadis, Vol. 2, No. 2, 2020, hlm. 147.

Kompas.com. (2022). BNPB: Total Ada 325 Titik Pengungsian Gempa Cianjur. Diakses melalui Kompas.com.

Mabit Tarbiyatul Quran. “Keutamaan Membaca Al-Quran (Tadabur QS. Fatir: 29).”

Najmi, Via Novelia, dan Alwizar. “Isi dan Fungsi Al-Qur’an.” Hamalatul Qur’an: Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Vol. 5, No. 2, 2024.

Okezone. (2022). Haru dan Khusyuk, Para Korban Gempa Cianjur Salat Jumat di Pengungsian. Diakses melalui Okezone News.

Seli Septina, Ratna Sari, dan Ali Akbar. “Keutamaan Tadabbur dalam Al-Qur’an.” Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, Vol. 3, No. 6, November–Desember 2024, hlm. 8–9.

Sunawir, Nur Wulandari, dan Alwizar. “Isi dan Fungsi Al-Qur’an.” Program Studi Pendidikan Agama Islam, Vol. 8, No. 2, 2024.

Zaedi, Mohammad. “Karakteristik Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an.” Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol. 1, No. 1, 2021.


Penulis:
Abdul Jalil (1251180016)
Mahasiswa Program Studi Studi Agama-agama, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Syarif Hidayatullah (1251180043)
Mahasiswa Program Studi Studi Agama-agama, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Dosen Pengampu: Fitriana, M.A., M.Ed., Ph.D.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses