Kecerdasan Spiritual di Atas Kecerdasan Materil

Opini
Ilustrasi: Pixabay.com

Setiap manusia berbeda dengan manusia lainnya, termasuk kecerdasannya. Menurut Anita E. Woolfolk, kecerdasan atau intelligence ialah kemampuan untuk belajar, keseluruhan pengetahuan yang diperoleh dan kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.

Kecerdasan juga merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia yang menjadikannya memiliki nilai lebih dibandingkan makhluk Allah lainnya.

Dengan kecerdasannya, seseorang dapat terus-menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas kehidupannya pada tingkatan yang semakin kompleks, yaitu melalui proses berpikir dan belajar. Dalam artikel ini, poin penting yang akan disampaikan ialah terkait pengaruh kecerdasan spiritual dibandingkan kecerdasan materil dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Mudik Spiritual Menuju Fitrah Manusia

Tato Asmara mengungkapkan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan seseorang untuk mendengar hati nuraninya atau bisikan yang mengilhami dalam dirinya dan beradaptasi, untuk itu kecerdasan spiritual sangat ditentukan oleh upaya membersihkan dan memberikan pencerah qalbu sehingga mampu memberikan nasihat dan arah tindakan serta cara mengambil keputusan.

Dari pengertian itu dapat kita artikan bahwa kecerdasan spiritual sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia.

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang membantu setiap individu untuk mengembangkan kemampuan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. Kecerdasan ini terletak pada alam tak sadar dari kinerja otak manusia.

Keyakinan, ketulusan, dan keikhlasan kepada Tuhan adalah suatu hal yang tidak dapat dijelaskan bahkan digambarkan dalam fungsi otak manusia.

Wujud dari kecerdasan spiritual ialah pengimplementasian dari makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan melalui tahapan-tahapan dan pemikiran yang bersifat fitrah menuju manusia yang seutuhnya.

Contoh seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi yaitu seorang ulama ketika menyampaikan ceramahnya, sering mengutip ayat suci Al-Qur’an. Ketika ia mengutip itu, ia menyuarakannya bukan hanya untuk orang lain yang sedang mendengar ceramahnya, namun juga untuk dirinya sendiri.

Hal ini ia lakukan untuk memperkaya batinnya, menyegarkan ingatannya serta menentramkan pikirannya. Dalam hatinya, begitu indah ayat suci Al-Qur’an yang memiliki keindahan bahasa dan struktur kata yang baik dengan makna yang dalam.

Baca Juga: Esensi Nilai Pendidikan yang Terdapat dalam QS. Al-Qashash ayat 77

Lalu, apa itu kecerdasan materil? Kecerdasan materil merupakan kecerdasan yang tampak pada diri manusia yang terdiri dari kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Kecerdasan intelektual yang biasa disebut dengan IQ merupakan kecerdasan otak yang dimaksudkan untuk kecerdasan secara analitis, logika, matematis, dan lain sebagainya yang kerap dipelajari ketika menempuh pendidikan di sekolah.

Menurut Ary Ginanjar, IQ diperoleh dengan melatih kebiasaan kognitif seperti melatih orang untuk mengoperasikan komputer, menghafal daftar, di mana hal ini merupakan serangkaian kebiasaan kognitif yang berasal dari otak kiri.

Sedangkan kecerdasan emosional atau EQ adalah kemampuan seseorang atau individu untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengendalikan emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya

Bagaimana cara EQ bekerja? Cara EQ bekerja yaitu melalui bentuk afeksi yang terletak pada otak kanan manusia. EQ melalui proses kinerja otak akan bekerja dengan maksimal ketika sensasi datang. Sensasi ini kemudian ia integrasikan dengan pengalaman masa lalu, kemudian dipersepsikan.

Bilamana orang tersebut tidak memiliki EQ yang baik, maka integritas yang dimilikinya mungkin hanya akan keluar sebagai persepsi yang dangkal dan mentah, tanpa disertai dengan afeksi yang baik. 

Memori atau ingatan yang ia miliki kemudian digali lagi sehingga pada saatnya ia berpikir, ia akan jauh lebih baik menerima motivasi atau dorongan yang masuk tadi. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa kecerdasan materil bukanlah kecerdasan yang bersifat ruhaniyah ataupun kecerdasan jiwa.

Contoh pengimplementasian dari kecerdasan materil dalam kehidupan sehari-hari yaitu jika siswa SMA diminta menyelesaikan soal matematika atau soal fisika, biasanya anak yang IQ-nya lebih tinggi akan lebih cepat dan tepat menjawab soal dibandingkan dengan anak yang IQ-nya lebih rendah.

Contoh lainnya yaitu ketika seseorang mendapat hadiah, lalu ia merasa senang, maka hal itu termasuk dalam bagian EQ. Perlu dicatat bahwasanya emosional bukan hanya marah, tetapi ada banyak, seperti bahagia, sedih, senang, atau kecewa. Anak yang memiliki EQ rendah cenderung kurang bisa mengendalikan emosinya.

Baca Juga: Apakah Teknologi dan Media Pembelajaran Memiliki Peran Penting dalam Penanaman Nilai-Nilai Wasathiyah Islam?

Dari penjelasan terkait kedua kecerdasan tersebut, dapat kita simpulkan jika kecerdasan materil adalah parameter kecerdasan kognitif dan pengendalian rasa, maka kecerdasan spiritual dapat didefinisikan sebagai landasan atau tumpuan yang diperlukan untuk mentranspose dua aspek kecerdasan IQ dan EQ menuju kebijaksanaan dan pemahaman atau pengetahuan yang mendalam.

Menurut Stephen R. Covey, kecerdasan spiritual adalah pusat paling mendasar di antara kecerdasan yang lain, karena ia menjadi sumber bimbingan bagi kecerdasan lainnya. Jika kecerdasan spiritual seseorang itu tinggi, tentu kecerdasan materilnya akan terarah ke dalam kebaikan dan membawa manfaat untuk orang lain.

Dan jika kecerdasan spiritual seseorang itu rendah, pengetahuannya akan membawa dampak buruk pada orang lain.

Meskipun kecerdasan spiritual lebih berpengaruh dalam mendorong kemampuan seseorang, bukan berarti kita hanya berusaha untuk meningkatkan kecerdasan spiritual saja melainkan tetap senantiasa meningkatkan kecerdasan materil yang kita punya.

Terus berusaha meningkatkan kualitas kehidupan dengan berusaha menjadi manusia yang lebih baik dengan selalu berdoa dan berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis: Maida Maulia Herdiani
Mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI