Mudik Spiritual Menuju Fitrah Manusia

Menjelang hari raya idul fitri, kita menyaksikan melalui televisi di rumah-rumah kita, bagaimana orang-orang bergerak untuk pulang ke kampung halaman. Pada momen ini orang-orang biasanya membawa pulang kabar bahagia kepada keluarganya: cerita tentang kesuksesan studi, tentang kenaikan pangkat, tentang pekerjaan baru, tentang kesuksesan bisnis, bahkan cerita tentang seorang jomblo yang telah menemukan tambatan hatinya, dan seterusnya. Semua cerita itu terbalut dalam suasana “lebaran”.

Ibarat dalam suatu pertandingan, Idul Fitri adalah momen selebrasi atas kemenangan yang diraih kaum muslimin yang menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Idul Fitri adalah saat kebahagiaan di mana kaum muslimin berbagi kebahagiaan dengan bersedekah, menebarkan damai dan kasih sayang dengan saling memaafkan. Ibarat bayi dalam kehidupan, saat Idul Fitri seorang muslim ibarat terlahir kembali (reborn) sebagai manusia baru. Idul Fitri adalah saat di mana manusia melakukan mudikspiritual.

Mudik dalam Arti Kehidupan
Orang-orang yang mudik sesungguhnya sedang menjalani teologi “ilaihi roji’un”. Setiap orang pada saatnya pasti mudik ke kampung halaman abadi. Mudik spritual. Yakni kembali ke hadapan Allah Sang Maha Pemilik segalanya. Perjalanan pulang itu tentunya penuh liku, menempuh jarak yang cukup panjang dan melelahkan. Stasiun pertama adalah kematian, saat malaikat maut menjemput. Kemudian menuju alam akhirat yang kekal abadi.

Rasulullah senang sekali membaca surat al-‘A’la dan al-Ghasiyah ketika melaksanakan sholat Ied. Dari dua surat itu kita bisa menemukan dua kata kunci: Pertama, Qad aflaha man tazakka wa zakara isma rabbihi fashalla. Dan kedua, Inna ilayna iyyabahum, tsumma inna alayna hisabahum.

Kata kunci pertama: Qad aflaha man tazakka wa zakara isma rabbihi fashalla, bicara tentang pentingnya mensucikan jiwa, berzikir kepada Allah dan menunaikan sholat. Tiga hal ini adalah sebentuk laku, yang mengisi proses perjalanan manusia sebelum mudik menuju Tuhannya. Sebagai musafir (di dunia) manusia memiliki kewajiban untuk menyiapkan bekalnya sebelum ‘mudik’ ke kampung halaman abadi. Serta, ia akan mempertanggungjawabkan segalanya kelak di sisi Tuhannya.

Kata kunci kedua: Inna ilayna iyyabahum, tsumma inna ‘alaina hisabahum. Ayat ini menegaskan bahwa manusia pasti kembali. Mudik hakiki ke kampung halaman abadi. Dan Tuhan-lah yang akan meng-hisab segala jejak-lakunya. Lalu, sudahkah kita menyiapkan bekal terbaik untuk sebuah mudik yang hakiki? Pertanyaan tersebut tentunya sangat menyentak dada dan mengiris hati nurani kita. Karena selama ini kita begitu banyak alfa.

Tak ada yang lain, bekal terbaik untuk mudik hakiki adalah taqwa. Sebagaimana tujuan berpuasa, yakni “la’alakum tattaqun”. Definisi taqwa dalam al-Qur’an sangat komperehensif. Dalam surat Ali Imran ayat 133-135, misalnya, taqwa dimaknai sebagi sikap “rela menginfakkan harta dalam kedaan susah dan senang, mengendalikan amarah, memaafkan orang lain, sering berbuat baik, cepat meminta maaf bila berbuat salah dan tidak mengulanginya lagi”.

Definisi taqwa dalam surat ini menggambarkan bahwa taqwa erat kaitannya dengan relasi-sosial, etika, dan integritas. Taqwa tidak semata-mata melangit, namun taqwa itu sebenarnya membumi, berdimensi hablun mina an-nas.

Empat Fondasi Fitrah Manusia
Dalam perjalanannya, supaya puncak ketaqwaan itu dapat terlaksana, ada empat fondasi yang harus dilaksanakan. Pertama, Tauhid. Menurut ajaran Islam, manusia terlahir ke dunia sebagai makhluk yang beriman kepada Allah. Keimanan ini sudah diikrarkan manusia sejak masih dalam alam arwah (Qs 7, Al-A’raf: 172). Beriman kepada Allah adalah fitrah Allah yang ditetapkan untuk manusia sehingga selamat dan teguh di jalan hidup yang lurus (Qs 30, Al-Rum: 30).

Tauhid yang murni adalah akar yang menumbuhkan pengabdian yang tulus, optimisme, kemerdekaan, keterbukaan, keberanian, dan keteguhan. Tauhid yang murni menuntut manusia untuk menyembah hanya kepada Allah, dzat yang Maha Esa dalam segala totalitas, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Tauhid merupakan titik puncak, melandasi, memadu, dan menjadi sasaran keimanan yang mencakup keyakinan dalam hati, penegasan lewat lisan, dan perwujudan dalam perbuatan.

Kedua, Hablu minallah. Dengan menyembah hanya kepada Allah, semua selain Allah adalah makhluk. Prinsip ini akan menghilangkan sifat feodalisme dan melahirkan masyarakat yang egalitarian yang ditandai oleh adanya kesamaan kedudukan dan kesempatan bagi setiap manusia untuk mengembangkan diri dan meraih prestasi. Egalitarianisme merupakan spirit kemajuan (Wolkinson dan Pickett, 2010) yang meniscayakan adanya kompetisi yang sehat di antara sesama warga negara.

Dalam kehidupan manusia sebagai ciptaan Allah, terdapat dua pola hubungan manusia dengan Allah, yaitu pola yang didasarkan pada kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dan sebagai hamba Allah. Kedua pola ini dijalani secara seimbang, lurus dan teguh, dengan tidak menjalani yang satu sambil mengabaikan yang lain. Sebab memilih salah satu pola saja akan membawa manusia kepada kedudukan dan fungsi kemanusiaan yang tidak sempurna. Sebagai akibatnya manusia tidak akan dapat mengejewantahkan prinsip tauhid secara maksimal.

Ketiga, Hablum Minanas. Memahami ketinggian eksistensi dan potensi yang dimiliki manusia, setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai warga dunia, manusia adalah satu dan sebagai warga negara manusia adalah sebangsa, sebagai mukmin manusia adalah bersaudara.

Pengembangan berbagai aspek budaya dan tradisi dalam kehidupan manusia dilaksanakan sesuai dengan nilai dalam hubungan dengan Allah, manusia dan alam selaras dengan perekembangan kehidupan. Melalui pandangan seperti ini pula kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dikembangkan. Bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dimaksudkan untuk mewujudkan cita-cita bersama hidup dalam kemajuan, keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Tolak ukur bernegara adalah keadilan, persamaan hukum dan perintah serta adanya permusyawaratan.

Keempat, Hablu Minal Alam. Alam semesta adalah ciptaan Allah SWT. Dia menentukan ukuran dan hukum-hukumnya. Alam juga menunjukan tanda-tanda keberadaan, sifat dan perbuatan Allah. Berarti juga nilai taiuhid melingkupi nilai hubungan manusia dengan alam.

Sebagai ciptaan Allah, alam berkedudukan sederajat dengan manusia. Namun Allah menundukan alam bagi manusia, dan bukan sebaliknya. Jika sebaliknya yang terjadi, maka manusia akan terjebak dalam penghambaan terhadap alam, bukan penghambaan terhadap Allah. Karena itu sesungguhnya berkedudukan sebagai khalifah di bumi untuk menjadikan bumi maupun alam sebagai obyek dan wahana dalam bertauhid dan menegaskan dirinya.

Perlakuan manusia terhadap alam tersebut dimaksudkan untuk memakmurkan kehidupan di dunia dan diarahkan kepada kebaikan di akhirat, di sini berlaku upaya berkelanjutan untuk mentransendensikan segala aspek kehidupan manusia. Sebab akhirat adalah masa depan eskatologis yang tak terelakan. Kehidupan akhirat akan dicapai dengan sukses kalau kehidupan manusia benar-benar fungsional dan selalu berbuat kebajikan.

Dengan demikian, semoga Idul Fitri benar-benar menjadi momentum yang sesuai dengan artinya, yakni kembali ke kondisi fitrah. Kembali ke jati diri kemanusiaan kita sebagai hamba Allah yang total, kembali kepada tabiat asli manusia sebagai makhluk sosial, dan kembali kepada naluri manusia sebagai makhluk penyayang terhadap lingkungan dan alam secara luas.

Dadan Rizwan Fauzi, S.Pd.
Mahasiswa PKN Pascasarjana UPI

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI