Kenapa di Indonesia Tidak Ada Balapan F1?

Balapan F1
Ilustrasi Balapan F1 (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Dengan memiliki basis penggemar balapan Formula 1 yang cukup besar di Indonesia, tetapi Indonesia belum pernah menggelar adu balap jet darat ini sama sekali. Kini jika syarat untuk menyelenggarakan balapan F1 terpenuhi, bukan tidak mungkin mimpi tersebut akan terwujud suatu saat nanti.

Jika kita lihat negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang sudah rutin menjadi tuan rumah F1 setiap musimnya.

Padahal, Malaysia telah menjadi tuan rumah balapan F1 dan MotoGP di sirkuit Sepang selama dua dekade terakhir. Sementara itu Singapura sejak 2008 menghelat balapan malam pertama kali di jalan raya sepanjang sejarah balapan F1.

Bacaan Lainnya
DONASI

Thailand juga disebut mengikuti kedua negara tersebut dengan menjadi tuan rumah balapan F1 di Sirkuit Internasional Buriram.

Jika saja niatan Thailand itu terwujud, maka Indonesia boleh dibilang semakin tertinggal dari negara-negara tetangga tersebut mengingat balapan F1 bakal bisa mendatangkan devisa untuk negara khususnya dari sektor pariwisata, hal ini dikutip dari detik sport.

Menurut saya para penggemar balapan F1 di Indonesia jika ingin menonton secara langsung maka mereka harus pergi ke Negara tetangga terdekat dahulu yaitu Malaysia dan Singapura.

Untuk menonton secara online pun kita tidak bisa langsung menonton pada chanel di televisi nasional, melainkan kita harus berlangganan dengan penyedia saluran televisi yang menayangkan balapan F1.

Itulah yang menurut kita sebagai penggemar balapan F1 termasuk masih terlalu sulit jika mau menonton balapan tersebut.

Padahal Indonesia sudah lama sekali, dalam hal ini pemerintah dan juga para penggiat mobil lokal berusaha mwnghadirkan F1 di tanah air.

Ini bukan hanya tentang keuangan yang besar – Melbourne, misalnya, harus menyetor sekitar 30 juta dolar AS kepada Bernie Eccleston sebagai superstar Formula 1 untuk dapat menyelenggarakan balapan – tetapi juga tentang infrastruktur, terutama sirkuit.

Pasalnya, satu-satunya sirkuit internasional yakni di Sentul tidak memenuhi persyaratan FIA. Namun, pada tahun 1996 pernah diadakan balapan MotoGP di kelas 125cc di lintasan Sentul, mantan pesaing Tinton Soeprapto dengan Valentino Rossi yang menang saat itu.

Atau di sirkuit jalan raya Karawaci yang seharusnya digunakan untuk balapan A1GP tahun 2009, namun gagal karena penyelenggara balapan tiba-tiba bangkrut.

Ada tempat lain yang berpeluang menjadi sirkuit F1 seperti Sirkuit Internasional Serangan di Pulau Serangan Bali atau Sirkuit Mandalika di Lombok.

Namun saat ini, Indonesia setidaknya telah memiliki modal penting sebagai ajang balap F1, yakni CPD (Carnet de Passages e Douane) yang merupakan dokumen bea cukai internasional yang diperlukan untuk memfasilitasi keluar masuknya kendaraan bermotor di setiap negara, dalam hal ini mobil F1.

CPD sendiri dalam situs resminya menyebut FIA sebagai salah satu syarat untuk menyelenggarakan balapan mobil kelas internasional.

Dokumen ini bertindak sebagai pengganti dokumen pabean nasional dan dijamin oleh rantai jaminan internasional. Dengan CPD ini, kendaraan yang masuk atau keluar Indonesia dalam jangka waktu tertentu tidak perlu membayar uang jaminan kepabeanan.

Setelah penantian yang sangat lama sekitar 30 tahun, akhirnya Indonesia mendapatkan CPD yang dianggap oleh Ikatan Otomotif Indonesia (IMI) sebagai organisasi otomotif terbesar di negeri ini.

Kesuksesan IMI dalam menyediakan CPD membuahkan penghargaan dari Dirjen Bea dan Cukai yang diserahkan dalam rangka Hari Pabean Internasional ke-63 pada Senin (26/1) di Kantor Bea dan Cukai Rawamangun, yang juga dihadiri oleh Menteri RI Keuangan Bambang Brodjonegero.

Dengan adanya CPD, diharapkan Indonesia semakin menarik minat para pecinta olahraga motor internasional untuk memberikan lampu hijau untuk menyelenggarakan F1 atau kompetisi bergengsi lainnya.

“Tentunya ini sangat berguna dan menguntungkan bagi Indonesia. Terutama untuk dunia motorsport, masyarakat dan pariwisata kita,” kata Direktur IMI Komjen Pol (Purn) Nanan Sukarna dalam siaran pers yang diperoleh Detiksport.

“Kartu CPD ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia motorsport khususnya di ajang internasional seperti Formula 1 dan lainnya, dimana Indonesia sudah berusaha mendapatkan kartu CPD ini selama lebih dari 30 tahun, namun sejauh ini baru terealisasi. “Manajemen IMI sekarang,” lanjut Nanan.

Indonesia tetap akan menyelenggarakan balapan F1 tapi tidak di sirkuit Mandalika. Tetapi kata Bambang Soesatyo “Lokasinya di Bintan (racetrack), jadi pariwisatanya tersebar ke seluruh nusantara,”, Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI), Sabtu (28/5).

Bamsoet menyebut Sirkuit Pertamina Mandalika merupakan sesuatu yang istimewa untuk menjadi tuan rumah balapan MotoGP.

Balapan sepeda motor lainnya juga mengikuti agenda yang disiapkan IMI bersama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA).

“Setidaknya dua atau tiga event lagi akan kita selenggarakan di Mandalika,” kata Bamsoet usai pengukuhan perwakilan IMI NTB di Mataram. Ia mengungkapkan Bintan sebenarnya sedang mempersiapkan kompetisi jet darat di Kepulauan Riau.

Presiden Joko Widodo berencana membangun groundbreaking sirkuit dalam waktu dekat. Sama seperti dimulainya balapan F1 di Indonesia. Waktu pembangunan yang direncanakan adalah 8 bulan. Dari Juni Jadi kita berharap balapan F1 bisa digelar di Indonesia tahun depan.

“Rencana peluncuran F1 2023. Ini sepenuhnya berdasarkan dana swasta dan investasi asing, tidak ada (pendanaan) pemerintah,” kata Bamsoet.

Sirkuit Internasional Bintan merupakan bagian dari kawasan Lagoi, destinasi wisata terpadu dan eksklusif di Kepulauan Riau. Lintasan yang dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 237 hektar ini diperkirakan menelan biaya hingga Rp 1 triliun.

“Ini akan melengkapi (sirkuit) Mandalika yang sudah ada di Lombok,” ujarnya. Sebelumnya, Pemprov NTB bekerja keras memastikan Formula 1 bisa hadir di Mandalika. Saya bahkan bertemu dengan beberapa penyelenggara balapan jet darat.

ITDC juga mendukung tindakan pemerintah provinsi. Hanya saja, syarat dasar untuk menggelar balapan di Formula 1 cukup tinggi. Ada kemungkinan posisi tersebut tidak dapat diisi dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Yakni, tawaran akomodasi hotel bintang 5 dengan total 3.000 kamar. Persyaratan ruangan ini merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi di area F1.

Lokasi tidak boleh berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Tapi bisa juga di luar daerah, tapi tidak lebih dari 3 km dari Mandalika.

Karena itu, CEO Mandalika Bram Subiandoro mengatakan, pihaknya belum membahas kemungkinan menggelar F1. “Sementara ini, kami akan fokus ke GT Challenge Asia dulu” ujarnya, hal ini dikutip dari Lombok post.

Penulis: Dimas Kurniadi
Mahasiswa Teknik Mesin, Universitas Muhamadiyah Malang

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI