Banyak siswa di sekolah menghadapi tantangan besar dalam proses pendidikannya. Salah satunya adalah kesulitan belajar siswa yang berasal dari keluarga broken home. Kondisi keluarga yang tidak harmonis seringkali memberikan dampak psikologis mendalam pada anak, sehingga mereka kesulitan untuk fokus belajar.
Kamu mungkin sering mendengar istilah broken home, tetapi tidak semua orang memahami bagaimana kondisi ini benar-benar memengaruhi kehidupan akademik anak. Faktanya, siswa yang tumbuh di keluarga tidak utuh sering merasa tertekan, kehilangan motivasi, bahkan mengalami trauma emosional yang memengaruhi konsentrasi belajar mereka.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai berbagai bentuk kesulitan belajar yang dialami siswa broken home, penyebabnya, hasil penelitian yang relevan, hingga strategi terbaik untuk mengatasinya.
Dengan memahami topik ini, kamu sebagai guru, orang tua, atau masyarakat bisa ikut membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat.
Baca juga: Si Anak Broken Home dan Kecemburuannya pada Anak Luqman
Apa itu Siswa Broken Home?
Kehidupan keluarga sangat menentukan perkembangan seorang anak. Saat keluarga harmonis, anak biasanya tumbuh dengan kepercayaan diri dan semangat belajar yang tinggi.
Sebaliknya, ketika keluarga dilanda konflik, perceraian, atau kehilangan salah satu anggota, anak berisiko menghadapi kesulitan dalam banyak aspek, termasuk dalam bidang akademik.
Siswa broken home adalah mereka yang hidup di tengah keluarga yang tidak stabil. Kondisi ini bukan sekadar soal perceraian, melainkan juga konflik berkepanjangan, sikap acuh orang tua, hingga minimnya dukungan emosional. Semua faktor tersebut dapat memicu kesulitan belajar pada anak di sekolah.
Topik ini penting dibahas di Indonesia karena jumlah keluarga broken home semakin meningkat. Guru sering menemukan kasus kesulitan belajar pada siswa yang berasal dari keluarga tidak harmonis. Jika hal ini diabaikan, dampaknya bukan hanya pada prestasi sekolah, tetapi juga pada masa depan anak.
Baca juga: Cara Bangkit dari Masalah Broken Home
Jenis Kesulitan Belajar yang Umum Dialami
Setiap anak memiliki tantangan unik dalam belajar, namun siswa broken home cenderung menghadapi masalah lebih kompleks. Kondisi psikologis mereka membuat mereka lebih rentan mengalami berbagai bentuk kesulitan belajar, baik yang bersifat umum maupun kesulitan belajar spesifik.
Guru sering mengeluhkan penurunan prestasi siswa broken home, meski secara intelektual mereka sebenarnya mampu. Hal ini memperlihatkan bahwa masalah bukan terletak pada kemampuan otak, melainkan lebih kepada faktor emosional dan lingkungan keluarga.
Dengan memahami jenis-jenis kesulitan belajar ini, kita bisa lebih mudah menentukan pendekatan yang tepat. Berikut adalah beberapa bentuk kesulitan belajar pada siswa sekolah dasar hingga SMA yang sering ditemukan pada anak broken home.
Baca juga: Perubahan Sikap Anak Broken Home Terutama Pada Anak Usia SD/MI
Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Siswa Broken Home
Kesulitan belajar tidak terjadi begitu saja. Ada banyak faktor penyebab yang saling berkaitan, terutama ketika siswa berasal dari keluarga broken home. Faktor-faktor ini bisa berupa kondisi emosional, psikologis, hingga minimnya dukungan dari orang-orang terdekat.
Seorang anak yang kehilangan kasih sayang orang tua sering merasa diabaikan. Ketidakstabilan emosi ini berpengaruh langsung pada kemampuan akademik. Tidak heran jika banyak jurnal kesulitan belajar pada anak SD menemukan bahwa siswa dari keluarga broken home lebih rentan mengalami penurunan prestasi.
Dengan mengenali faktor penyebab ini, guru dan orang tua bisa lebih cepat memberikan solusi. Jadi, bukan hanya menghukum anak ketika nilainya turun, tetapi memahami akar masalah yang sesungguhnya.
Baca juga: Memperbaiki Psikologis Remaja di Tengah Keluarga Broken Home
Bukti dan Temuan Penelitian Terkini
Banyak penelitian menunjukkan bahwa broken home memiliki dampak nyata terhadap prestasi akademik siswa. Namun, hasilnya tidak selalu sama pada setiap individu. Ada anak yang tetap berprestasi meskipun berasal dari keluarga broken home, sementara sebagian lainnya mengalami penurunan drastis.
Fakta ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis anak sangat menentukan bagaimana mereka merespons situasi keluarga. Dukungan dari guru dan teman juga menjadi faktor yang membedakan. Inilah mengapa analisis kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran matematika sering memberikan hasil yang bervariasi.
Penelitian ini menjadi penting untuk dijadikan rujukan, agar sekolah bisa menyiapkan strategi yang lebih tepat. Dengan begitu, siswa broken home tetap memiliki peluang untuk sukses di bidang akademik.
Dalam kaitannya dengan psikologi pendidikan, Broken Home secara tidak langsung memberikan efek negatif bagi psikologis pada peserta didik ataupun bahkan pada kesulitan belajar yang didasari pada permasalahan keluarga dimana seorang peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya sehingga berdampak pada presentasi, antara lain:
- Tidak memiliki motivasi untuk belajar,
- cenderung lebih memilih diam atau jarang berpendapat,
- Rasa peduli terhadap teman terkadang rendah,
- konsentrasi belajar menjadi terganggu,
- Terdapat perbedaan motivasi belajar pada siswa yang berasal dari keluarga broken home dengan motivasi belajar siswa dari keluarga utuh. motivasi belajar anak yang berasal dari keluarga broken home lebih rendah daripada motivasi belajar siswa dari keluarga yang utuh.
Adapun dampak kesulitan belajar pada anak broken home secara garis besar, antara lain:
- kurangnya konsentrasi mengikuti kegiatan belajar;
- sering berulah/nakal/ribut dalam proses belajar mengajar;
- labilnya kondisi emosional;
- hilangnya mood untuk belajar;
- merasa tidak mampu;
- cepat menyerah;
- jatuhnya presentasi;
- adanya kecenderungan berperilaku menyendiri dan tertutup.
Baca juga: Dampak Adanya Keluarga Broken Home terhadap Gangguan Depresi Remaja
Strategi Mengatasi Kesulitan Belajar
Mengatasi kesulitan belajar siswa broken home tidak bisa hanya dilakukan oleh anak itu sendiri. Dukungan dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar sangat penting agar anak tidak merasa sendirian menghadapi tantangan hidupnya.
Penting bagi orang tua, meski sudah berpisah, untuk tetap menjaga komunikasi dengan anak. Guru pun harus memahami kondisi ini, bukan hanya memberi hukuman. Pendekatan konseling, motivasi, dan pujian bisa membantu anak kembali semangat belajar.
Dengan strategi yang tepat, cara mengatasi kesulitan belajar pada siswa broken home dapat dilakukan secara efektif. Anak bisa menemukan kembali kepercayaan diri dan motivasi internal mereka untuk berprestasi di sekolah.
Baca juga: Psikoedukasi: Membangun Kesejahteraan Emosional Anak Broken Home
Studi Kasus Nyata
Agar lebih nyata, mari kita lihat pengalaman seorang siswa broken home di salah satu sekolah dasar. Anak ini sering bolos, malas mengerjakan PR, dan nilainya menurun. Setelah ditelusuri, ternyata ia mengalami trauma karena perceraian orang tuanya.
Namun, dengan dukungan guru melalui konseling rutin dan perhatian dari wali kelas, anak tersebut perlahan mulai berubah. Ia mulai rajin masuk sekolah, mengerjakan tugas, dan bahkan menunjukkan peningkatan nilai di beberapa mata pelajaran.
Kisah ini menunjukkan bahwa meski kondisi keluarga bisa sangat berat, anak tetap bisa bangkit. Yang dibutuhkan adalah dukungan dan pendekatan yang tepat.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Masalah kesulitan belajar siswa broken home adalah isu serius yang tidak boleh diabaikan. Kondisi keluarga yang tidak harmonis memang membawa dampak besar, namun dengan dukungan yang tepat, anak tetap bisa berkembang.
Dukungan lintas sektor—mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat—sangat diperlukan. Guru harus memahami, orang tua harus peduli, dan lingkungan harus memberikan ruang aman bagi anak untuk tumbuh.
Kamu sebagai pembaca bisa ikut berkontribusi, entah sebagai orang tua, guru, atau anggota masyarakat. Dengan memberikan perhatian, empati, dan motivasi, kamu bisa membantu anak broken home mengatasi kesulitan belajar pada anak usia dini hingga remaja, serta membantu mereka meraih masa depan yang lebih cerah.
Cara mengatasi permasalahan tersebut tentunya datang dari pengajar/guru, orang tua, masyarakat sekitar, orang terdekat dengan cara mendidik yang benar dan yang paling penting peserta didik itu sendiri dimana semua harus berperan aktif dalam menggapai perubahan kearah yang lebih baik dengan cara nasihat, tindakan, bantuan secara moril maupun materil dan yang lebih penting adalah harus adanya usaha untuk menggapai nya sendiri.
Pesan saya untuk para orang tua yaitu semisal ada permasalah dalam keluarga harus diselesaikan dengan baik jangan sampai anaknya tau dan sebagai orang tua harus mempunyai komitmen untuk keluarganya ataupun mendidik anaknya, agar anaknya tersebut menjadi anak yang baik dan berprestasi.
Penulis: Muhammad Imam Ma’arif
Mahasiswa IAIN Pekalongan
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













