Krisis Kapabilitas dalam Literasi di Era Milenial

Kapabilitas itu apa sih? Menurut kamus KBBI, kapabilitas merupakan “kemampuan” seseorang dalam berbahasa, berinteraksi, komunikatif. Kapabilitas secara terminologi, tidak sebatas untuk menjelaskan tentang kemampuan atau keterampilan, namun lebih dari itu, yaitu menekankan pengertian tentang maksud bahwa seseorang itu lebih paham secara mendetail. Menurut kamus online Merriam-Webster, literasi berasal dari istilah latin “literature” dan bahasa inggris “letter”. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis.

Pada era milenial ini merupakan tantangan yang sulit bagi mahasiswa yang dihadapkan dengan kecanggihan teknologi informasi yang semakin maju, misalnya seperti gadget dan alat canggih lainnya. Sehingga kalangan mahasiswa disibukkan dengan dunianya sendiri, seolah-olah menuhankan gadget dan semuanya bisa didapatkan melalui gadget. Betapa canggihnya teknologi informasi di era milenial ini yang seharusnya para mahasiswa ditutut untuk memiliki kesadaran terhadap peran fungsi mahasiswa.

Pada realitanya di era milenial teknologi informasi semakin canggih dan seiring dengan bertambahnya tahun keadaan mahasiswa yang semakin memburuk, karena minimnya rutinitas literasi dan komunikasi terhadap sesama mahasiswa ataupun dengan masyarakat sekitar. Hal tersebut merupakan dampak dari kecanggihan teknologi informasi yang semakin maju membuat kalangan mahasiswa menjadi kurangnya minat dalam literasi, karena mahasiswa yang sekarang mayoritas menginginkan yang instan. Seperti media sosial yang sering digunakan oleh semua kalangan, karena dengan media sosial kita dapat menemukan apa saja, mulai dari berita hingga aplikasi-aplikasi yang hanya sekadar mencari eksistensi dalam dunia maya.

Bacaan Lainnya
DONASI

Pada intinya semangat literasi dan mahasiswa yang identik dengan kekritisannya telah mengalami degradasi, kurangnya rasa keingintahuan dan kepekaan terhadap lingkungan di sekitar. Realitanya dapat disebabkan karena tidak dipupuk dari kecil, sehingga ketika kita masih kecil dan masih meraba-raba langsung diberikan gadget, hal ini yang menyebabkan pemalasan dalam budaya literasi, karena dari ketika masih kecil pun sudah diberi yang instan, seharusnya diberikan buku-buku yang berfaedah agar kita lebih kritis dan memiliki wawasan yang luas.

Kemudian sifat membaca dan menulis juga harus dipaksakan, karena apabila tidak dipaksakan maka tidak akan terbiasa, seserorang menjadi bisa karena terbiasa. Kurangnya kesadaran di tubuh internal maupun eksternal untuk menuju perubahan yang lebih berfaedah untuk orang banyak, karena ada kalangan mahasiswa sibuk dengan dunianya masing-masing, dan itu merupakan dampak dari teknologi informasi yang semakin canggih dan maju. Di era milenial ini mayoritas kalangan mahasiswa hanya mementingkan eksistensi dan seolah-olah eksistensi itu begitu penting dengan tidak memperhatikan di sekeliling kita dan lupa terhadap amanat dan program kerja yang sifatnya hanya normatif dan monoton, sehingga cenderung pada degradasi inovasi di tubuh internal sendiri dan melupakan peran fungsi mahasiswa yang sesungguhnya.

Oleh sebab itu, literasi sangat penting dan membawa dampak positif bagi mahasiswa, karena sangat bermanfaat dalam mempelajari atau membuat konsep berkomunikasi verbal, tulisan problem solving, bergaul serta dapat memilih dan memilah hal yang positif dan negatif. Literasi juga sebagai salah satu upaya untuk mengimplementasikan progam revolusi mental dan pendidikan karakter yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia. Kemudian dapat bermanfaat untuk memperlambat kepikunan, stres dan menambah kosakata dalam berkomunikasi. Terdapat sentimen mengenai dampak negatif dari penggunaan teknologi informasi yaitu dapat merubah individu seseorang menjadi malas untuk bersosialisasi, mengabaikan tugas dan juga pekerjaan, dapat membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna, kemudian prestasi belajar pula dapat mengalami penurunan. Selain dampak negatif adapun dampak positif dari teknologi informasi yaitu dapat mempermudah akses terhadap informasi-informasi terbaru, membantu individu dalam mencari informasi, dan sebagai lokasi untuk bisnis jual beli.

Solusinya maka harus adanya pembatasan dari pemerintah mengenai teknologi informasi yang sangat canggih, agar para mahasiswa bisa lebih sering membaca buku dan media cetak lainnya yang sama pentingnya. Kemudian memperbanyak membuka lapak buku di tiap-tiap kampus, agar para mahasiswa dapat terbiasa dengan mambaca dan menulis, dengan adanya lapak buku dapat lebih mudah untuk membiasakan dalam membaca buku dan terbiasa dengan menulis. Terkadang para mahasiswa malas untuk ke perpustakaan dengan berbagai alasan, sehingga dengan adanya lapak buku ini dapat menarik perhatian para pelajar, dan dapat memanage waktu antara bermain gadget dengan membaca buku. Hal tersebut merupakan inovasi baru yang belum terlaksana di berbagai kampus, seiring berjalannya setidaknya dengan adanya lapak buku dapat mendongkrak di berbagai kampus, karena dapat meminimalisir waktu antara bermain handphone dengan membaca buku ataupun menulis.

Muhamad Firhan Ardyan
Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
Universitas Jenderal Achmad Yani

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI