Masyarakat Kabupaten Kediri Disarankan Konsumsi Umbi-Umbian, Apakah Masih Efektif untuk Saat Ini?

Konsumsi Umbi-Umbian
Ilustrasi Umbi-Umbian (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Kediri, 31 Desember 2023

Dengan adanya kenaikan harga beras yang cukup signifikan telah terjadi sejak musim kemarau tahun ini. Tingginya harga beras belakangan ini, menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat.

Kenaikan harga beras yang signifikan telah membuat sebagian besar masyarakat merasa terbebani dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Pemerintah sudah menyalurkan bantuan untuk meringankan beban masyarakat.

Akan tetapi, jika mengandalkan cadangan pangan beras pemerintah saja, dikhawatirkan ada masyarakat yang masih kesulitan untuk memperoleh cadangan pangan. Dalam menghadapi tantangan ini, sejumlah ahli pangan dan tokoh masyarakat menyarankan agar masyarakat beralih ke konsumsi umbi-umbian sebagai alternatif yang lebih ekonomis dan tetap memberikan gizi yang dibutuhkan.

Umbi-umbian menjadi pilihan yang efektif sebagai pengganti beras karena kandungan gizi tinggi, harga yang terjangkau, ketersediaan yang stabil, kemampuan penyimpanan yang baik, fleksibilitas dalam pengolahan, dan cocok untuk pertanian lokal, memberikan masyarakat pilihan diversifikasi pangan yang lebih sehat dan ekonomis.

Kenaikan harga beras yang mencapai puncak tertinggi dalam beberapa bulan terakhir telah membuat banyak rumah tangga di Kabupaten Kediri mengalami tekanan ekonomi. Hal ini terutama dirasakan oleh keluarga dengan pendapatan menengah ke bawah yang sekarang harus mengeluarkan sebagian besar anggaran mereka untuk membeli beras.

Tidak hanya itu, kenaikan harga beras yang signifikan semakin memperumit masalah ketidakseimbangan ekonomi. Gaji para pekerja yang tidak ada kenaikan sementara biaya kebutuhan pokok terus melonjak menimbulkan tekanan finansial yang tidak terelakkan bagi sebagian besar masyarakat.

Kendati terdapat dorongan untuk beralih ke konsumsi alternatif seperti umbi-umbian, realitas perekonomian yang tak seimbang turut meruncingkan tantangan dalam menjaga keseimbangan anggaran keluarga.

Menanggapi situasi ini, Dr. Siti Nurul, ahli gizi terkemuka di Kabupaten Kediri, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak kesehatan masyarakat jika tingginya harga beras terus berlanjut.

Beras memang menjadi sumber karbohidrat utama bagi sebagian besar masyarakat, tetapi kita harus menyadari bahwa ada alternatif lain yang dapat memenuhi kebutuhan gizi kita. Salah satunya adalah umbi-umbian, seperti singkong, ubi, dan kentang,” ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa umbi-umbian tidak hanya lebih terjangkau secara ekonomis, tetapi juga kaya akan serat, vitamin, dan mineral yang esensial bagi kesehatan. Dengan beralih ke konsumsi umbi-umbian, masyarakat tidak hanya dapat menghemat pengeluaran, tetapi juga meningkatkan pola makan yang lebih seimbang dan bergizi.

Jadi selain beras kita juga bisa konsumen umbi-umbian. Ini bisa jadi salah satu solusi pemenuhan kebutuhan pokok di tengah mahalnya harga beras,” ujarnya.

Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, umbi-umbian juga bisa dijadikan pilihan diversifikasi nutrisi. pangan tersebut kaya akan serat dan antioksidan senyawa yang dibutuhkan oleh tubuh. bahan tersebut memiliki konposisi kimia yang serupa dengan beras.

Di dalam umbi-umbian mengandung pati yang dapat dimodifikasi sehingga bisa diaplikasikan pada beragam produk. efek positifnya adalah terbentuknya Pati Resistance atau disebut dengn RS.

Rekomendasi untuk beralih ke konsumsi umbi-umbian juga memerlukan dukungan penuh dari Dinas Pertanian dan Pangan Kediri. Seperti menggalakkan kampanye untuk mempromosikan keberagaman pangan, termasuk umbi-umbian, sebagai solusi alternatif di tengah kenaikan harga beras.

Kampanye yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberagaman pangan, khususnya umbi-umbian, sebagai solusi alternatif yang tidak hanya memberikan manfaat gizi, tetapi juga mendukung petani lokal dan menciptakan pola konsumsi yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Dengan meningkatkan variasi pangan yang dikonsumsi, masyarakat dapat membangun ketahanan pangan yang lebih baik. Ini dapat membantu mengurangi dampak fluktuasi harga dan kebijakan pangan global.

Masyarakat perlu menyadari bahwa kita memiliki banyak pilihan makanan yang baik selain beras. Dengan memanfaatkan keberagaman pangan, kita tidak hanya dapat menghadapi tantangan ekonomi, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan lokal,” kata Bambang.

Sebagai bagian dari upaya ini, Dinas Pertanian dan Pangan Kediri akan menyelenggarakan serangkaian pelatihan dan sosialisasi mengenai cara memasak dan memanfaatkan umbi-umbian secara kreatif dalam menu sehari-hari.

Agar masyarakat tidak kebingungan untuk mengolah umbi tersebut agar bisa dijadikan makanan pokok. Hal ini diharapkan dapat membantu masyarakat meraih manfaat penuh dari beralih ke sumber pangan alternatif ini.

Dalam menghadapi situasi ekonomi yang sulit ini, penekanan pada keberagaman pangan dan edukasi mengenai manfaat konsumsi umbi-umbian menjadi kunci untuk menjaga kesejahteraan masyarakat.

Sembari harga beras terus menjadi permasalahan, perubahan kebiasaan konsumsi pangan masyarakat menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekonomi dan kesehatan.

Melalui perubahan pola konsumsi, edukasi, dan dukungan penuh terhadap perubahan ini, diharapkan masyarakat Kediri dapat membangun ketahanan pangan yang kuat dan mengatasi ketidakseimbangan ekonomi.

Dengan umbi-umbian, maka kita dapat menciptakan makanan yang kaya akan gizi dan karbohidrat dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan beras.

Semoga langkah-langkah ini dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat, mengurangi tekanan finansial, dan menciptakan diversi makanan yang lebih kaya akan nutrisi dengan harga yang lebih terjangkau.

Masyarakat Kediri diharapkan dapat menghadapi tantangan harga beras tinggi dengan lebih tangguh dan tetap menjaga kesehatan keluarga mereka. Konsumsi umbi-umbian bukan hanya solusi praktis tetapi juga langkah menuju masyarakat yang lebih berdaya dan berkelanjutan.

Namun untuk saat ini masyarakat masih enggan untuk mangganti makanan pokok mereka dari nasi menjadi umbi umbian. Karena makan umbi terkesan untuk kalangan menengah kebawah.

 

Penulis: Anisa Fika Aulia Mustofa
Mahasiswa Teknologi Pangan, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI