Potensi Singkong sebagai Solusi Lokal

Potensi Singkong sebagai Solusi Lokal
Ilustrasi Singkong (Sumber: Penulis)

Singkong adalah tanaman umbi-umbian yang memiliki beragam manfaat yang tersebar di berbagai sektor kehidupan. Manfaat ini bisa dari segi kesehatan dan juga olahan pangan yang praktis dan murah.

Dari segi kesehatan, singkong merupakan salah satu bahan makanan gluten-free (bebas gluten) yang cocok dikonsumsi oleh seseorang yang terkena celiac dan juga intoleransi laktosa. Singkong juga tidak mengandung gula sehingga cocok untuk dikonsumsi oleh seorang penyandang diabetes.

Singkong dapat diolah menjadi makanan beragam olahan yang diminati oleh remaja masa kini seperti tela-tela keju, stik singkong dan juga sempol singkong.

Dari manfaat yang dipaparkan diatas, singkong tidak hanya memberikan keunggulan yang signifikan, tetapi juga menempatkannya sebagai pilihan yang sangat menarik bagi masyarakat secara luas karena selain ketersediaannya yang luas diberbagai daerah singkong juga cukup diminati karena harganya yang terjangkau ditiap daerah.

Singkong yang melimpah di daerah Lampung dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku utama dalam pengolahan cookies.

Hal ini dikarenakan Lampung dikenal sebagai daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia yang dapat mendukung singkong sebagai bahan baku utama dalam pembuatan cookies, karena ketersediaan singkong yang melimpah dan dapat dipastikan menjadi pasokan bahan baku yang stabil serta berkualitas tinggi untuk produksi cookies.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015, angka singkong yang diproduksi di Provinsi Lampung mencapai jumlah sebesar 7.387.084 ton.

Pada tahun yang sama, total produksi singkong di seluruh Indonesia mencapai angka 21.801.415 ton dan Lampung merupakan kota yang memberikan kontribusi sangat signifikan dalam pencapaian tersebut.

Sehingga, keberadaan singkong yang melimpah di Lampung menjadi faktor penting dalam mendukung industri pembuatan cookies untuk menghidupkan dan memperkaya kreativitas dalam penggunaan bahan baku lokal.

Indonesia secara luas dikenal sebagai negara agraris yang mendapatkan identitasnya dari mayoritas penduduknya yang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor pertanian. Di negara agraris, pentingnya pertanian tidak bisa diremehkan karena perannya yang mendalam dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Ditjen Tanaman Pangan pada tahun 2019, area yang digunakan untuk menanam singkong adalah seluas 628.305 hektar dengan hasil produksi sebanyak 16,35 juta ton. Dari hasil produksi singkong yang besar tersebut, muncul berbagai pemanfaatan lokal yang kreatif dan bervariasi salah satu contohnya ialah cookies.

Cookies ialah sejenis kue kering yang telah menjadi favorit tidak hanya diminati oleh anak-anak, tapi juga oleh remaja hingga dewasa di seluruh masyarakat Indonesia. Karena konsumsi cookies oleh beragam kalangan masyarakat menyebabkan konsumsi cookies di Indonesia mengalami peningkatan.

Menurut Sekretaris Jendral Kementerian Pertanian (2020) mengenai konsumsi cookies per kapita pada tahun 2020 mencapai 22,834 ons. Rata-rata pertumbuhan konsumsi cookies dari tahun 2016 – 2020 meningkat hingga 4,250%.

Dengan adanya peningkatan yang signifikan dalam konsumsi cookies merupakan bukti nyata bahwa cookies telah berhasil mengidentitaskan dirinya sebagai produk makanan yang sangat diminati dikalangan masyarakat Indonesia.

Cookies yang dikonsumsi masyarakat di Indonesia secara keseluruhan masih berbasis tepung terigu, yang menyebabkan peningkatan impor tepung terigu di Indonesia melonjak.

Hal ini menunjukkan perlunya industri di Indonesia untuk melakukan transformasi produk mereka karena dengan melakukannya perubahan ini, impor tepung terigu Indonesia tidak akan mengalami peningkatan setiap tahun.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019 Indonesia mengalami peningkatan impor tepung terigu yang signifikan.

Dalam tahun tersebut, total impor tepung terigu mencapai 34.467 ton, mengalami kenaikan sebesar 2,6 juta ton jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bahkan, pada tahun yang sama, impor tepung terigu Indonesia melonjak tajam hingga mencapai 10,69 juta ton, naik sebanyak 5 juta ton dibanding tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, kondisi ini menuntut industri di Indonesia untuk melakukan transformasi produk guna mengurangi ketergantungan pada impor tepung terigu sebagai bahan utama pembuatan cookies.

Peningkatan impor tepung terigu setiap tahunnya, seperti yang terjadi pada tahun 2019, menekankan pentingnya melakukan transformasi tepung tergigu untuk cookies agar industri mampu memenuhi permintaan pasar lokal tanpa harus mengandalkan impor dalam jumlah besar.

Karena tingginya impor tepung terigu dan hasil produksi singkong di Indonesia, salah satu Solusi yang dapat dilakukan adalah modifikasi singkong menjadi tepung atau biasa disebut dengan tepung mocaf.

Tepung mocaf adalah salah satu tepung modifikasi berbahan dasar singkong, sangat cocok untuk menggantikan tepung terigu untuk kebutuhan industri makanan. Tepung mocaf bisa dijadikan salah satu modifikasi tepung dalam industri pangan karena karakteristik fisiknya yang sangat mirip dengan tepung terigu.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Anindita & Gunawan (2020) Tepung mocaf yang dihasilkan memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan tepung terigu, yakni berwarna putih, teksturnya lembut, dan tidak memiliki aroma singkong.

Oleh karena itu, penggunaan tepung mocaf dapat menjadi alternatif yang baik untuk memenuhi kebutuhan industri makanan, serta mendukung keberlanjutan pasokan bahan baku dalam jangka panjang.

Penggunaan tepung mocaf bukan hanya memberikan keuntungan bagi konsumen yang mengonsumsinya, tetapi juga memberikan dukungan langsung kepada petani singkong.

Melalui upaya memperluas pasar untuk produk tepung mocaf para petani memiliki kesempatan untuk tidak hanya meningkatkan hasil panen mereka secara substansial, tetapi juga memperluas jangkauan pasar mereka membuka pintu bagi diversifikasi pendapatan dan stabilitas ekonomi yang lebih baik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wahyu dkk rata-rata produksi dalam usaha tani singkong mencapai sekitar 16.227 kilogram per usahatani, dengan harga jual rata-rata per kilogram sebesar Rp. 500, memberikan penerimaan sekitar Rp. 8.113.643 per usaha tani dengan ketentuan petani hanya mendapatkan bagian sekitar 60% dari total pendapatan tersebut, sementara sisanya, yakni 40%, dialokasikan kepada perusahaan atau entitas lain yang terlibat dalam pemasaran dan distribusi produk.

Dengan adanya pengembangan tepung mocaf, memberikan semangat kepada petani untuk terus meningkatkan produksi singkong sehingga dapat meningkatkan pendapatannya.

Proses modifikasi tepung mocaf melalui fermentasi yang melibatkan bakteri asam laktat telah terbukti sebagai metode yang sangat efektif dalam meningkatkan nilai gizi dari tepung tersebut.

Pemanfaatan bakteri asam laktat tidak hanya memberikan kontribusi penting dalam industri makanan dengan perannya dalam fermentasi dan pengawetan, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan dalam bidang kesehatan. Salah satu aspek penting adalah peran bakteri asam laktat dalam pembentukan biofilm menjadi penyebab penyakit kronis.

Penelitian yang dilakukan oleh Manalu et al (2019) peran bakteri asam laktat di bidang kesehatan yaitu dapat menurunkan kasus kejadian intoleransi laktosa, menurunkan Tingkat serum kolesterol dan menstimulasi sistem imun tubuh.

Sehingga, tepung mocaf dapat dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai bagian dari pola makan sehari-hari karena mengonsumsi tepung mocaf telah diakui sebagai pilihan yang aman serta memberikan kontribusi pada peningkatan nilai gizi.

 

Penulis: Feni Anjas Sari
Mahasiswa Ilmu Gizi, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI