Merawat Demokrasi

Aras politik tengah mengalami gejolak akibat minimnya akal sehat. Terbatasnya ruang berpikir jernih membuat sebagian orang mengambil sikap yang tidak pantas dan destruktif. Demokrasi tidak lagi menjadi rambu dalam politik, tetapi terdistorsi kedalam kepentingan sesaat dan menyesatkan. Giorgio Agamben mengatakan, dibalik demokrasi ternyata masih bersemayam kekuasaan. Kekuasaan tersebut merupakan determinan dari kurangnya sikap kritis dalam memahami demokrasi seutuhnya. Kita meyakini demokrasi sebagai satu-satunya sistem yang menjamin kebebasan, tetapi kebebasan justeru kita pergunakan tanpa mengenal batas, kebablasan. 

Dalam beberapa peristiwa politik yang terjadi, demokrasi seringkali disepelekan. Menguatnya kepentingan sesaat membuat jejak kaki demokrasi tidak lagi bertumpu pada dirinya sendiri, tetapi didesain hanya demi mencapai kepentingan sekelompok orang. Keadaan seperti itu bahkan dilakukan secara sengaja dan membabi buta, tanpa melihat dampak yang ditimbulkan. Seolah tubuh demokrasi dengan gampang dijamah oleh tangan-tangan kotor sekaligus pikiran-pikiran yang sempit dan dangkal. Orang bebas melakukan apa saja dan seolah tanpa ada pembatasan, sehingga akal sehat turut terbuai pada kemauan yang mengerikan dan merusak. Disana demokrasi telah berada pada ambang batas yang tidak lagi bertumpu pada nilai-nilai politik, tetapi sudah menjelma menjadi satu-satunya sistem yang dipergunakan sebagai alat untuk memperuntukan kepentingan.

Kebiadaban Politik
Panggung politik selalu diwarnai dengan berbagai intrik. Praktik politik yang tidak berlandaskan nilai politik (politics value), merupakan suatu kebidaban politik. Saat ini, gelombang politik tengah mengarus sekaligus mengudara di ruang publik. Masyarakat (society) seolah ditempa dan masuk dalam polarisasi yang didesain oleh elit-elit tertentu. Dengan berbagai racikan bahasa yang dipergunakan, masyarakat dapat dengan mudah diombang-ambing kesana-kemari, tanpa melakukan filter informasi. Di sana kebiadaban politik itu tumbuh dalam diri setiap masyarakat yang telah terdoktrin oleh berbagai asupan-asupan yang kurang sehat. Nalar yang menjadi pusat akal sehat akhirnya tergerus oleh adanya kepentingan. Akal sehat tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, malah mudah dicekoki dengan tuntutan-tuntutan yang kurang bernalar.

Di sanalah masyarakat akhirnya mudah terpanggang pada kepentingan sekelompok orang. Dengan mudahnya menerima doktrinasi elit-elit tertentu, masyarakat akan tampil sebagai perusak pada nilai-nilai politik. Kebiadaban tersebut malah terus dilakukan pada rival politik yang diyakini tidak sepaham dengan kepentingan mereka. Upaya untuk menggendor dan memompa secara terus-menerus sampai rival politik tidak lagi mampu bersikap menentang, di situlah akhirnya perlahan kepentingan tersebut mulai masuk dan berkuasa. Dalih yang dipergunakan, ialah, seolah mereka benar dalam melakukan hal tersebut. Mencaplok kekuasaan secara otoriter dibawah nafsu kekuasaan, merupakan praktik yang paling dangkal dalam mencapai suatu kekuasaan.

Demokrasi tidak  lagi hidup sebagai pembatas bagi semua orang. Seolah demokrasi hanyalah satu sistem yang kurang lebih hanya sebagai pemenuhan bagi negara. Kebiadaan dalam berpolitik membuat kita malah mengencingi diri kita sendiri dengan cara-cara yang tidak etis. Kini akal sehat tidak lagi menjadi pendobrak yang bisa menghancurkan pikiran-pikiran sempit, malah akal pun menjadi kawan yang malah bersekongkol untuk menggandrungi kepentingan. Dalam keadaan seperti ini, demokrasi dan akal sehat telah kehilangan rohnya karena telah dicaplok dengan cara yang tidak elegan. Kebiadaban politik tersebut seharusnya tidak kita biarkan, tetapi kenyataan kita malah ikut merawat praktik semacam itu. Di sinilah kita berada pada sikap paradoks dalam menentukan cita-cita demokrasi.

Akal Sehat

Michel Foucaoult dengan tegas mengatakan, demokrasi dimulai dari cara berpikir. Cita-cita demokrasi, ialah, memberikan kebebasan bagi semua. Lantas apakah kebebasan tersebut dapat benar-benar bebas? Disinilah perkara tersebut harus kita pahami. Demokrasi memang memberikan kebebasan, tetapi demokrasi juga menyediakan pembatasan-pembatasan antara mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Untuk mencapai pemahaman mengenai demokrasi, kita memerlukan rasio atau akal sehat. Dari sinilah pemahaman bagi demokrasi dapat benar-benar kita ilhami sebagai satu sistem yang mewariskan kebebasan tersebut. Akal sehat menjadi titik pijak bagi setiap orang untuk membatasi dirinya pada mana yang tidak boleh dilakukan dan mana yang boleh dilakukan. Di situlah sebenarnya demokrasi dan akal sehat menjadi satu kesatuan yang harus kita rawat.

Dalam berbagai situasi, setiap orang bahkan mengandalkan sistem demokrasi. Tetapi dalam praktik yang terjadi, hampir-hampir akal sehat malah dipinggirkan. Lantas, apakah dengan itu kita sudah mengandalkan demokrasi? Belum, karena demokrasi bukan soal sistem yang hanyalah sistem, tetapi soal bagaimana sistem tersebut dipahami melalui akal sehat. Semua sistem yang dianut oleh negara dibelahan dunia manapun pada dasarnya ialah baik. Tetapi selama sistem tersebut hanyalah sistem yang dipaku di atas kertas, selama itu pula sistem tersebut tidak benar-benar merepresentasikan keadilan. Yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama, ialah, soal bagaimana sistem itu dibangun diatas konstruksi berpikir yang mampu mengedepankan nilai-nilai demokrasi. Selama demokrasi adalah sistem, selama itu pula akal sehat terus kita kembangkan dan galakan dalam praktik bernegara.

Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa semua sistem, ialah baik. Hal itu tergantung pada cara kita menggunakan akal sehat. Jika kita mengedepankan hal semacam itu, kita telah masuk kedalam suatu sikap merawat demokrasi. Merawat demokrasi bukan kita menjaga agar demokrasi itu tetap menjadi satu sistem yang terus kita anut. Tetapi cita-cita demokrasi dapat kita junjung dengan akal sehat. Titik tumpu demokrasi, ialah akal sehat sekaligus pula sikap yang bersesuaian dengan akal sehat tersebut. Tanpa itu demokrasi akan kehilangan eksistensi. Nilai penting itulah yang kini harus benar-benar kita lakukan dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai demokrasi. Sehingga pada akhirnya, demokrasi sebagai satu sistem tidak mudah diremuk oleh kepentingan segelintir orang. Semoga.

Patrisius Eduardus Kurniawan Jenila
Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Merdeka Malang

Baca juga:
Bonus Demografi dan Sikap Kita Menghadapinya
Setelah Terpilih, Kembali atau Menetap
Demokrasi dan Masa Depan Pemilu

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI