Pemanfaatan teknologi di Indonesia telah meningkat dan memberi dampak berarti di segala bidang, tak terkecuali pada bidang kesehatan terutama layanan fisioterapi. Pemanfaatan teknologi pada layanan fisioterapi tidak lepas dari faktor pandemi COVID-19 yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.
Saat masyarakat diharuskan untuk melakukan social distancing dan bekerja dari rumah karena situasi yang tidak memungkin untuk melakukan aktivitas di luar ruangan, sementara pelayanan fisioterapi juga harus tetap berjalan.
Sejalan dengan hal tersebut, muncul berbagai inovasi layanan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi telekomunikasi seperti telerehabilitation, telehealth serta aplikasi kesehatan berbasis Internet of Things (IoT) yang digunakan untuk memudahkan komunikasi antara fisioterapis dengan pasiennya.
Kendati demikian, pemanfaatan teknologi digital tersebut belum seutuhnya sempurna karena di samping munculnya temuan yang memiliki potensi besar untuk layanan fisioterapi, ada beberapa kendala yang juga dihadapi seperti keterbatasan prasarana, koneksi internet yang masih belum merata, serta keterampilan SDM dalam menguasai teknologi tersebut.
Pemanfaatan teknologi digital pada fasilitas fisioterapi mengacu pada pemakaian sistem komunikasi secara daring dan mengganti pelayanan yang tadinya dilakukan secara luring seperti rehabilitasi, konsultasi, bahkan pengawasan pasien dapat dilakukan dari jarak jauh menggunakan peranti elektronik seperti gawai dengan menerapkan media audio, video, situs web hingga aplikasi.
Sementara itu, pemanfaatan teknologi digital seperti aplikasi layanan kesehatan dan konsultasi tersebut tidak hanya diciptakan untuk membantu pasien dengan mobilitas yang terbatas, tetapi juga ditinjau dari segi tampilan, proses uji coba dan penggunaan telekomunikasi seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Anwar et al. (2022) agar nantinya segala bentuk informasi yang ada di dalamnya dapat mudah diakses oleh pasien sehingga proses intervensi, konsultasi dan pemantauan dari fisioterapis dapat berjalan dengan maksimal.
Pemanfaatan teknologi telekomunikasi tersebut sepenuhnya dapat menciptakan potensi yang lebih besar dalam perkembangan dan kemajuan layanan fisioterapi.
Misalnya pemanfaatan telehealth dalam penelitian oleh Nabilla & Karnadipa (2022) yang melakukan pemantauan pasien penderita radang sendi lutut dan pemberian latihan dalam kurun waktu tertentu melalui panggilan telepon dan video.
Pemanfaatan teknologi digital lain dalam upaya memajukan layanan fisioterapi salah satunya adalah pengembangan alat fisioterapi dengan kombinasi Internet of Things (IoT) yang dapat digunakan fisioterapis untuk memantau dan meningkatkan kualitas hidup pasien pasca-stroke dengan kombinasi inovasi seperti sensor gerak yang mampu membaca sudut dan jumlah gerakan dengan akurasi tinggi dan mengirimkannya ke aplikasi melalui gawai untuk nantinya dipantau oleh fisioterapis (Mustafa et al., 2021).
Inovasi-inovasi tersebut dapat memudahkan fisioterapis dan pasien berkomunikasi dari jarak jauh dan memudahkan pasien dengan keterbatasan tertentu yang menyebabkan mereka tidak bisa datang langsung ke fisioterapis.
Baca Juga: Aina Hadirkan Smartron: Alat Fisioterapi Canggih asal Korea Selatan untuk Akses Terapi Cuma-Cuma
Menilik dari berbagai kreasi teknologi tersebut, kesuksesan sebuah layanan kesehatan dalam hal fisioterapi bukan hanya dipandang dari teknologinya, tetapi juga dari kesediaan sumber daya manusia dan cara mereka mengelolanya.
Sejalan dengan hal tersebut, menurut Lubis et al. (2024), pemanfaatan teknologi pada layanan fisioterapi disambut dengan optimis oleh sebagian besar fisioterapis di Indonesia, namun pelaksanaannya masih belum merata karena adanya beberapa kendala seperti: keterbatasan pengelolaan fasilitas layanan, pengadaan dana & regulasi yang minim, kurangnya keterampilan dan pengetahuan tentang penggunaan inovasi digital tersebut, serta terbatasnya informasi di beberapa wilayah tentang teknologi digital dalam lingkup fisioterapi (telehealth, telephysiotherapy, aplikasi kesehatan & konsultasi, telerehabilitation) terutama di daerah 3T.
Sehingga beberapa tantangan tersebut dapat mengganggu layanan yang diberikan fisioterapis pada pasien dari jarak jauh dan layanan yang diberikan menjadi kurang maksimal.
Sedangkan jika ditilik dari segi sistem programnya, beberapa kreasi digital seperti aplikasi fisioterapi mulai dikembangkan dengan fitur-fitur tertentu yang dikemas dalam tampilan sederhana dan mudah dipahami oleh pasien dapat membantu meningkatkan layanan fisioterapi(Anwar et al., 2022).
Hal tersebut memperlihatkan bahwa kendala dan pengembangan teknologi digital perlu diperbaiki agar pemanfaatan teknologi dalam pengembangan layanan fisioterapi dapat memudahkan dan memberi kenyamanan pada pasien, tidak hanya ketika fisioterapis dan pasien melakukan komunikasi secara luring.
Baca Juga: Fisioterapi
Apabila pemanfaatan teknologi digital diimbangi oleh kesiapan dari segi kecakapan dan keterampilan sumber daya manusia dalam menggunakan kreasi teknologi, regulasi dan pengadaan dana dari pemerintah yang terarah dan jelas, perbaikan dan penambahan akses internet di seluruh daerah di Indonesia, serta pengembangan fitur-fitur dalam telekomunikasi dan aplikasi layanan yang mudah diakses pasien dan peningkatan keamanan data pasien, maka pemanfaatan teknologi digital ini akan memajukan layanan fisioterapi di Indonesia.
Namun sebaliknya, jika kesiapan tersebut masih minim dan kurangnya dukungan serta regulasi yang berarti dari pemerintah atau institusi, maka efektivitas dari pemanfaatan teknologi digital ini tidak akan berjalan dengan baik.
Secara keseluruhan, pemanfaatan teknologi digital ini dapat meningkatkan layanan fisioterapi di Indonesia kedepannya. Namun kondisi seperti pengetahuan dasar, keterampilan dan penguasaan teknologi digital oleh sumber daya manusia sangat mempengaruhi efektivitas pemanfaatan teknologi.
Oleh sebab itu, kerja sama antar berbagai pihak dalam pemanfaatan teknologi pada layanan fisioterapi ini juga sangat penting agar dapat dilaksanakan tanpa adanya kendala dan tidak akan memunculkan kesenjangan baru yang lain.
Ketika tantangan tersebut diatasi secara bertahap, pemanfaatan teknologi digital seperti telekomunikasi dan sejenisnya akan memajukan dan mengembangkan layanan fisioterapi di Indonesia.
Penulis: Adinda Ayu Setia Wardoyo
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Lubis, Z. I., Tanazza, S. A., Sari, N. P. D. P., Rahim, A. F., & Multazam, A. (2024). Factor Analysis of Physiotherapists on the Implementation of Telephysiotherapy in Indonesia. Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan, 17(4), 1136–1144. https://doi.org/10.33860/jik.v17i4.2247
Mustafa, L. D., Imamuddin, A. M., & Hp, Y. (2021). Telemonitoring alat fisioterapi pasien pasca stroke berbasis Internet of Things ( IoT ). JURNAL ELTEK, 19(2), 39–47. https://doi.org/10.33795/eltek.v19i2.281
Nabilla, T. M., & Karnadipa, T. (2022). EFEKTIVITAS PEMBERIAN LATIHAN MELALUI TELEHEALTH TERHADAP PENURUNAN NYERI dan PENINGKATAN FUNGSI LUTUT pada OSTEOARTRITIS KNEE: STUDI LITERATUR. Fisioterapi : Jurnal Ilmiah Fisioterapi, 21(02), 104–115. https://doi.org/10.47007/fisio.v21i2.4402
NIZIRWN ANWAR, JERRY MARATIS, & DEWANTO ROSIAN ADHY. (2022). Rancang Bangun Aplikasi Mobile Untuk Layanan Fisioterapi Online (Let’S Fisio). Jurnal INSTEK (Informatika Sains Dan Teknologi), 7(2), 230–237. https://doi.org/10.24252/instek.v7i2.31655
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













