Puisi oleh: Yehezkiel Sihombing
Lentera meredup di tengah padam listrik panjang,
Sore kelam di tanah syari’ah.
Gema tangisan bayi menjelma ngeri,
Jua setiap doa menjulang tak henti pada Dewata memohon ampun.
Di tengah genangan banjir, sumringah memandang lalat bercumbu hangat dengan luka.
Gema gemuruh longsor melepas tebing tandus,
Isyarat caci maki pada pengungsi yang menumpang di punuknya.
Jemari bergetar, menggigil, mengumpul imaji bahagia dalam relung.
Bumi bergetar, Sang Khalik masih bercanda dengan makhluknya.
Gempa menghampiri, bumi bergerak kegirangan,
Di tengah genangan banjir sumringah, jua gunung berganti kulit.
Tanyakanlah pada alam, arah surga di jalur mana?
Aceh, 20 Desember 2025.
Bionarasi Penulis
Yehezkiel Pernando Sihombing lahir pada tanggal 29 Agustus 2003 di Cikampak. Ia pernah beberapa kali mendapatkan gelar juara saat kompetisi puisi antar sekolah tingkat kecamatan saat menjadi pelajar di SD Swasta Grahadura Leidong Prima Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara. Yehezkiel aktif di kelas Asqa Imagination School (AIS) #61 mulai bulan Agustus 2025.
Ia termasuk peserta yang lolos 36 besar Anugerah COMPETER 2026, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per Januari 2026 mendatang. Penulis bisa disapa di Instagram @yehezkiels1h0mb1n9
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













