Analisis Wacana Konteks pada Puisi ‘Orang-Orang Biasa’ Karya Sitor Situmorang

karya sitor situmorang
Analisis Wacana Konteks pada Puisi 'Orang-Orang Biasa' Karya Sitor Situmorang. Sumber: MMI.

Abstrak

Puisi “Orang-Orang Biasa” karya Sitor Situmorang merupakan karya sastra modern Indonesia yang kaya akan dimensi sosial-budaya. Penelitian ini menggunakan analisis wacana konteks untuk mengungkap makna mendalam puisi tersebut, dengan fokus pada analisis per bait dalam konteks situasional dan konteks budaya. Melalui pendekatan analisis wacana, penelitian ini menunjukkan bagaimana setiap bait puisi merepresentasikan aspek-aspek berbeda dari eksploitasi sosial-ekonomi dan kritik terhadap struktur budaya yang melegitimasi ketidakadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bait pertama hingga ketiga menggambarkan realitas konkret kehidupan masyarakat kelas bawah, bait keempat hingga keenam menganalisis dimensi psikologis dan kultural dari pasivitas mereka, dan bait ketujuh merupakan puncak kritik yang mengungkap kesadaran tersembunyi tentang kesulitan yang mereka alami. Analisis konteks situasional mengungkap relasi kekuasaan yang tidak seimbang dan pesan implisit dalam setiap bait, sementara konteks budaya menunjukkan bagaimana filosofi budaya Jawa “nrima” dan sistem ekonomi feudal membentuk makna puisi. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman mendalam tentang peran sastra modern sebagai alat kesadaran sosial melalui analisis tekstual yang terperinci.

Kata Kunci: wacana konteks, analisis per bait, konteks situasional, konteks budaya, kritik sosial, Sitor Situmorang, eksploitasi sosial-ekonomi, kesadaran kelas, filosofi nrima.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pendahuluan

Sastra modern Indonesia adalah cerminan dari transformasi sosial, budaya, dan ideologi masyarakat Indonesia pada abad ke-20. Salah satu periode penting dalam perkembangan sastra Indonesia adalah era 1960-1970an, yang ditandai dengan munculnya gerakan sastra modern yang mengangkat kesadaran sosial dan kritik terhadap status quo sosial. Dalam periode ini, para penulis dan penyair mulai menggunakan sastra sebagai medium untuk mengekspresikan kegelisahan sosial dan pertanyaan-pertanyaan etis tentang keadilan dan martabat manusia (Teeuw, 1984; Sukada, 2000). Sitor Situmorang adalah salah satu tokoh penting dalam sastra Indonesia modern yang menggunakan puisi sebagai alat untuk mengangkat kesadaran sosial. Puisinya “Orang-Orang Biasa” merepresentasikan pergeseran paradigma dalam cara sastra Indonesia menyuarakan isu-isu sosial. Puisi ini tidak hanya mengekspresikan emosi personal, tetapi juga mengangkat pertanyaan fundamental tentang ketidakadilan sosial-ekonomi, nilai-nilai budaya yang ditafsirkan secara keliru untuk status sosial masyarakat kelas bawah dalam struktur sosial Indonesia (Rampan, 1992; Pradopo, 2005).

Untuk memahami puisi ini secara mendalam, diperlukan pendekatan analisis yang mampu mengungkap makna-makna tersembunyi yang tertanam dalam struktur sosial dan budaya. Analisis wacana konteks melalui analisis per bait menawarkan kerangka kerja yang tepat. Pendekatan ini memungkinkan pembaca untuk memahami bagaimana setiap bait puisi merepresentasikan aspek-aspek berbeda dari membentuk narasi kritik sosial yang kohesif. Dengan menganalisis setiap bait dalam konteks situasional dan budaya, penelitian ini berusaha mengungkap bagaimana puisi “Orang-Orang Biasa” merepresentasikan kritik sosial yang dalam terhadap struktur masyarakat Indonesia dan nilai-nilai budaya yang melegitimasi ketidakadilan (Fairclough, 2001; Van Dijk, 2006). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menyajikan teks lengkap puisi “Orang-Orang Biasa”; (2) menganalisis konteks situasional setiap bait dengan fokus pada ruang, waktu, dan relasi kekuasaan yang tergambar dalam bait tersebut; (3) menganalisis konteks budaya setiap bait dengan menelusuri bagaimana nilai-nilai budaya Jawa, filosofi tradisional, dan konteks sosial-historis membentuk makna bait; (4) mengintegrasikan analisis per bait untuk mengungkap pesan wacana puisi secara utuh dan progresif.

Baca Juga: Sudut Pandang Pemaknaan Puisi ‘Malam Lebaran’ Karya Sitor Situmorang

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana konteks per bait. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami makna dan interpretasi yang mendalam tentang teks puisi bait per bait, bukan untuk mengukur atau menghitung fenomena. Analisis wacana konteks sebagai pendekatan spesifik memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi bagaimana konteks situasional dan budaya membentuk makna dalam setiap bait puisi secara progresif (Lincoln & Guba, 1985; Creswell, 2013). Data utama penelitian ini adalah teks lengkap puisi “Orang-Orang Biasa” karya Sitor Situmorang yang dipublikasikan pada tahun 1970an dalam kumpulan puisi beliau. Teks puisi akan dianalisis per bait/stanza untuk mengungkap makna kontekstual yang berbeda di setiap bagian. Data sekunder mencakup: (1) biografi Sitor Situmorang dan konteks produksi puisi; (2) literatur historis dan sosiologis tentang Indonesia era 1960-1970an; (3) sumber-sumber tentang filosofi dan budaya Jawa; (4) literatur tentang sastra modern Indonesia dan teori analisis wacana.

Teknik analisis yang digunakan adalah analisis wacana konteks per bait dengan dua fokus utama:

  1. Analisis Konteks Situasional Per Bait: Mengidentifikasi dan menganalisis elemen-elemen dalam setiap bait yang menunjuk pada ruang, waktu, dan relasi sosial spesifik. Setiap bait dianalisis untuk menunjukkan bagaimana ia merepresentasikan aspek-aspek berbeda dari kehidupan masyarakat kelas bawah.
  2. Analisis Konteks Budaya Per Bait: Menggali nilai-nilai budaya, filosofi tradisional, dan konteks historis-sosial yang melatarbelakangi setiap bait. Analisis ini menunjukkan bagaimana setiap bait berhubungan dengan konsep “nrima”, sistem pertanian feudal, dan gerakan sastra realis sosial era 1960-1970an.

Teks Puisi

“Orang-Orang Biasa”

Karya Sitor Situmorang 

Mereka datang dengan langkah gontai
membawa beban di pundak yang sudah bungkuk
Mereka yang setiap hari
membangun rumah orang lain
tapi rumahnya sendiri bocor

Mereka bernyanyi di perjalanan
dengan suara yang serak dari debu
Mereka yang membajak sawah
hingga tangan berdarah
untuk padi yang bukan miliknya

Di pasar mereka berbisik
tentang harga beras yang naik
tentang anak yang kelaparan
tentang istri yang sakit
tapi tidak punya uang untuk dokter

Mereka orang-orang biasa
yang luar biasa dalam ketenangan
Mereka yang tidak pernah marah
hanya diam dan terima

Padahal dunia mereka
sudah cukup keras

Baca Juga: Saur Matua: Kematian yang Paling Istimewa dan Diinginkan Masyarakat Batak Toba

Hasil Penelitian

Analisis wacana konteks per bait pada puisi “Orang-Orang Biasa” mengungkap bagaimana setiap bait merepresentasikan aspek-aspek spesifik dari eksploitasi sosial-ekonomi dan membentuk narasi kritik sosial yang mendalam. Berikut adalah analisis terperinci untuk setiap bait puisi.

Bait Pertama: “Mereka datang dengan langkah gontai…” (Bait Pembuka: Deskripsi Fisik dan Beban)

Bait pertama membuka puisi dengan deskripsi visual yang kuat tentang kehadiran fisik masyarakat kelas bawah. Frasa “langkah gontai” dan “pundak yang sudah bungkuk” menunjukkan kelelahan fisik yang Tiba-tiba, bukan hanya dari satu hari kerja, melainkan dari rutinitas pengulangan yang telah meubah bentuk tubuh mereka. Dalam konteks situasional, bait ini merepresentasikan momen-momen ketika “mereka” (sebagai kelompok sosial yang diidentifikasi) bergerak melalui ruang publik atau menuju tempat kerja mereka. Konteks situasional lebih mendalam: “mereka yang setiap hari membangun rumah orang lain tapi rumahnya sendiri bocor” adalah pernyataan yang merepresentasikan ironi struktural dalam ekonomi Indonesia. Orang-orang ini memproduksi nilai (membangun rumah), tetapi tidak mampu mengakses hasil produksi mereka sendiri. Rumah yang mereka bangun untuk orang lain adalah simbol dari properti yang mereka tidak miliki; rumah bocor mereka sendiri adalah simbol dari kemiskinan mereka. Konteks budaya yang relevan di sini adalah konsep “nrima” (kerelaan) dalam budaya Jawa yang mengajarkan untuk menerima apa yang ada. Namun, puisi mengimplikasikan bahwa apa yang mereka terima bukan hasil dari pilihan, tetapi dari struktur ekonomi yang memaksa mereka untuk menerima posisi subordinat.

Bait Kedua: “Mereka bernyanyi di perjalanan…” (Bait Ekspresi dan Kerja Fisik)

Bait kedua menambahkan dimensi psikologis dan kultural pada representasi kehidupan masyarakat kelas bawah. “Mereka bernyanyi di perjalanan dengan suara yang serak dari debu” menunjukkan bagaimana ekspresi budaya (bernyanyi) diubah oleh kondisi kerja yang keras. Suara yang serak adalah hasil langsung dari menghirup debu selama bekerja, sehingga bahkan ekspresi budaya mereka dicirikan oleh tanda-tanda eksploitasi. Dalam konteks situasional, nyanyian di sini bukan ekspresi kegembiraan, melainkan mekanisme coping atau cara mereka mempertahankan kemanusiaan di tengah kondisi kerja yang menindas. “Mereka yang membajak sawah hingga tangan berdarah untuk padi yang bukan miliknya” adalah representasi konkret dari sistem pertanian feodal Indonesia. Frasa “hingga tangan berdarah” menunjukkan intensitas dan keseriusan pekerjaan, sementara “padi yang bukan miliknya” menunjukkan struktur ekonomi di mana hasil produksi tidak menjadi milik produsen. Dalam konteks budaya Jawa, sawah adalah simbol penting dari kehidupan agraris tradisional, tetapi di sini sawah menjadi tempat eksploitasi. Konsep “nrima” yang mengajarkan untuk bekerja keras dan menerima nasib direpresentasikan di sini sebagai alasan mengapa mereka rela bekerja hingga tangan berdarah untuk hasil yang tidak mereka miliki.

Bait Ketiga: “Di pasar mereka berbisik…” (Bait Ruang Ekonomi Informal dan Kekhawatiran)

Bait ketiga memindahkan setting dari sawah (ruang produksi) ke pasar (ruang pertukaran dan konsumsi). “Di pasar mereka berbisik” menunjukkan bahwa ekspresi mereka berbisik, bukan berbicara keras. Ketika berbicara tentang isu-isu ekonomi. Konteks situasional di sini adalah pasar sebagai ruang di mana masyarakat kelas bawah menjadi konsumen yang tergantung pada harga yang mereka tidak bisa mengontrol. “Tentang harga beras yang naik” adalah referensi konkret kepada naiknya harga barang dan ketidakstabilan ekonomi yang berdampak langsung pada mereka. Bait ketiga juga memperkenalkan dimensi keluarga dan kesehatan: “tentang anak yang kelaparan, tentang istri yang sakit tapi tidak punya uang untuk dokter.” Ini adalah representasi konkret dari dampak sosial-ekonomi pada unit keluarga. Anak yang kelaparan menunjukkan bahwa upah mereka tidak cukup bahkan untuk kebutuhan dasar, sementara istri yang sakit tanpa akses kepada dokter menunjukkan pengucilan berlapis dari perempuan dalam struktur ekonomi yang tidak adil. Dalam konteks budaya, patologi sosial ini sering dijelaskan dalam budaya tradisional dengan konsep “nasib” atau “kodrat”, tetapi puisi mengimplikasikan bahwa ini bukan masalah nasib, melainkan masalah struktur sosial-ekonomi.

Baca Juga: Pentingnya Resiliensi Moral terhadap Fenomena Toxic Relationship Hubungan Pacaran pada Generasi Millenial

Bait Keempat: “Mereka orang-orang biasa yang luar biasa dalam ketenangan…” (Bait Kontradiksi dan Ironi)

Bait keempat adalah titik balik dalam puisi di mana penulis memperkenalkan kontradiksi yang sangat penting dan tidak terduga. “Mereka orang-orang biasa yang luar biasa dalam ketenangan” adalah pernyataan yang penuh dengan makna berlapis. Istilah “orang-orang biasa” dalam konteks situasional merujuk pada mereka yang tidak terlihat, yang dianggap sebagai bagian normal dari gambaran, sementara “luar biasa dalam ketenangan” adalah pujian yang terselubung untuk kepasrahan mereka. Namun, puisi melibatkan bahwa ketenangan ini bukan produk dari kebijaksanaan atau pilihan internal, melainkan hasil dari penindasan yang telah mengubah kapasitas mereka untuk melawan. “Mereka yang tidak pernah marah, hanya diam dan terima” adalah representasi langsung dari penyalahgunaan filosofi budaya Jawa “nrima”. Dalam konteks budaya tradisional Jawa, tidak marah dan menerima adalah tanda kebijaksanaan. Tetapi di sini, puisi mengimplikasikan bahwa ketidakmadahan ini bukan karena kebijaksanaan, melainkan karena struktur sosial telah merenggut kapasitas mereka untuk marah atau melawan. Frasa “hanya diam dan terima” menunjukkan pasivitas sebagai kondisi yang dipaksakan, bukan dipilih. Konteks situasional yang relevan adalah bagaimana sistem kekuasaan bekerja tidak melalui kekerasan eksplisit, melainkan melalui internalisasi norma-norma budaya yang mengatur apa yang dianggap sebagai perilaku yang “pantas” atau “bijaksana” bagi orang-orang tertentu.

Bait Kelima dan Penutup: “Padahal dunia mereka sudah cukup keras” (Bait Kesadaran dan Kritik)

Bait penutup adalah puncak kritik puisi yang membongkar semua pembenaran ideologis untuk sikap mereka. “Padahal dunia mereka sudah cukup keras” adalah pengakuan yang sangat penting. Kata “padahal” menunjukkan pertentangan antara apa yang seharusnya terjadi (mereka seharusnya marah, mereka seharusnya melawan) dengan apa yang terjadi (mereka diam dan terima). Frasa “dunia mereka sudah cukup keras” menunjukkan bahwa kekerasan struktural yang mereka alami sudah mencapai batas maksimal hingga mereka tidak lagi memiliki energi atau kemampuan untuk merespons dengan marah atau perlawanan. Dalam konteks situasional, bait ini merepresentasikan momen ketika “mereka” (masyarakat kelas bawah yang telah dianalisis sebelumnya) mencapai titik jenuh fisik dan psikologis. Mereka tidak menerima keadaan karena mereka bijaksana atau telah  memberikan kesan nilai-nilai budaya Jawa yang mengajarkan ketenangan, melainkan karena mereka tidak memiliki sumber daya fisik atau psikologis untuk melakukan lebih dari sekadar bertahan hidup. Dalam konteks budaya, bait ini adalah situasi terhadap bagaimana budaya tradisional digunakan untuk menjelaskan dan membenarkan kondisi ketidakadilan yang seharusnya tidak bisa diterima. Puisi mengimplikasikan bahwa selama ini, masyarakat luas telah menerima penjelasan budaya untuk apa yang sebenarnya adalah masalah struktural sosial-ekonomi. Penulis (Sitor Situmorang) menggunakan kesadaran ini sebagai fondasi untuk gerakan sastra realis sosial yang bertujuan membongkar mitos-mitos budaya yang menyembunyikan eksploitasi struktural (Tjahjono, 1995).

Baca Juga: Citra Perempuan dalam Puisi ‘Ila Tilmidhatin’ karya Nizar Qabbani: Analisis Feminisme

Pembahasan

Analisis per bait pada puisi “Orang-Orang Biasa” mengungkap bagaimana Sitor Situmorang membangun narasi kritik sosial secara progresif, dari representasi konkret tentang kehidupan masyarakat kelas bawah menuju kritik implisit terhadap struktur budaya yang melegitimasi ketidakadilan. Pembahasan berikut mengintegrasikan analisis per bait dengan teori-teori sosial dan budaya yang relevan.

Struktur puisi “Orang-Orang Biasa” menunjukkan pergerakan dari representasi fisik (bait 1-2) menuju representasi psikologis dan kultural (bait 3-5). Bait pertama dan kedua fokus pada deskripsi konkret tentang tubuh yang terkoyak oleh kerja: langkah gontai, pundak bungkuk, suara serak, tangan berdarah. Representasi tubuh ini adalah cara puisi menggunakan imagery yang sangat konkret untuk menunjukkan dampak fisik dari eksploitasi ekonomi. Tubuh, dalam konteks ini, menjadi teks di mana struktur ekonomi menulis sejarah eksploitasinya (Bourdieu, 1977). Bait ketiga memindahkan fokus ke ranah psikologis dan emosional, dengan memperkenalkan kekhawatiran mereka tentang harga beras, anak yang kelaparan, dan istri yang sakit. Di sini, konten emosional mulai mendominasi, menunjukkan bagaimana eksploitasi ekonomi bukan hanya menyentuh tubuh, tetapi juga pikiran dan hati. Bait keempat kemudian mencapai tingkat analisis yang lebih abstrak, dengan memperkenalkan refleksi tentang ketenangan dan kerelaan mereka. Pergerakan ini menunjukkan bahwa puisi tidak hanya melaporkan realitas sosial, tetapi juga melakukan analisis mendalam tentang bagaimana struktur kekuasaan bekerja pada level tubuh, emosi, dan konseptualisasi diri (Foucault, 1977).

Salah satu aspek paling signifikan dari analisis per bait adalah bagaimana puisi mengungkap penyalahgunaan konsep “nrima” (kerelaan) dalam budaya Jawa. Bait keempat dengan frasa “Mereka yang tidak pernah marah, hanya diam dan terima” adalah pernyataan langsung tentang bagaimana filosofi budaya Jawa telah digunakan sebagai alat ideologi untuk melegitimasi ketidakadilan sosial-ekonomi. Dalam interpretasi tradisional, “nrima” adalah sebuah kebijaksanaan yang mengajarkan untuk menerima apa yang ada dan tidak mengejar sesuatu di luar jangkauan dengan ketenangan hati. Namun, Sitor Situmorang mengimplikasikan bahwa apa yang disebut sebagai “ketenangan” ini bukanlah hasil dari kebijaksanaan internal, melainkan hasil dari represi struktural. Bait terakhir “Padahal dunia mereka sudah cukup keras” adalah puncak dari kritik ini. Puisi menyarankan bahwa mereka tidak menerima karena mereka bijaksana, melainkan karena mereka telah dikuras habis oleh sistem ekonomi yang tidak adil hingga mereka tidak lagi mampu untuk melakukan sesuatu selain bertahan. Ini adalah interpretasi radikal dari “nrima” yang menunjukkan bagaimana filosofi budaya tradisional dapat disalahgunakan untuk mengaburkan kekerasan struktural. Analisis ini sejalan dengan teori Bourdieu tentang “habitus” (Bourdieu, 1977; Suseno, 2003), di mana struktur kekuasaan tidak hanya bekerja pada level materi (pengaruh terhadap apa yang mereka bisa konsumsi atau capai), tetapi juga pada level semiological dan simbolis (pengaruh terhadap apa yang mereka pikir adalah mungkin atau bijaksana).

Analisis bait kedua mengungkap bagaimana puisi merepresentasikan sistem pertanian feudal yang masih berlanjut di Indonesia era 1960-1970an. “Mereka yang membajak sawah hingga tangan berdarah untuk padi yang bukan miliknya” adalah representasi literal dari hubungan tuan tanah yang terus menerus kemiskinan. Dalam sistem ini, petani penggarap tidak memiliki akses ke tanah, dan hasil produksi mereka disita untuk membayar “utang” mereka kepada tuan tanah atau sebagai “jatah” untuk biaya produksi yang sebenarnya sangat menguntungkan tuan tanah. Konteks historis-sosial Indonesia pasca-kemerdekaan (1945 ke depan) adalah penting di sini. Meskipun Indonesia telah merdeka dari penjajahan Belanda, struktur ekonomi feudal dan kolonialisasi tetap berlanjut dalam bentuk baru. Petani tetap dalam posisi subordinat, dan kemiskinan mereka tidak berkurang meskipun negara telah merdeka. Puisi menangkap frustasi ini dengan mengakui bahwa “orang-orang biasa” yang telah bekerja untuk pembangunan negara tetap dalam kemiskinan. Frasa “padi yang bukan miliknya” adalah simbolis dari bagaimana harapan kemakmuran yang datang dengan kemerdekaan tidak pernah terwujud untuk mereka. Ini adalah representasi konkret dari teori Wallerstein tentang sistem-dunia dan bagaimana negara-negara terbelakang tetap dalam posisi subordinat dalam ekonomi global, bahkan setelah mencapai kemerdekaaan politis (Wallerstein, 1989).

Baca Juga: Puisi: Tragedi Tanah Syari’ah

Bait ketiga dengan referensinya kepada kekhawatiran tentang harga beras dan anak yang kelaparan menunjukkan bagaimana masyarakat kelas bawah memiliki kesadaran tentang eksploitasi mereka, tetapi kesadaran ini tetap terkandalisasi dalam bentuk kekhawatiran pribadi daripada kesadaran kelas yang dapat menggerakkan perlawanan kolektif. “Di pasar mereka berbisik” menunjukkan bahwa ekspresi kesadaran ini tertekan: mereka tidak berbicara keras tentang ketidakadilan sistematis, mereka hanya berbisik tentang kekhawatiran pribadi. Ini adalah representasi dari “false consciousness” yang dibicarakan oleh Marx, di mana orang-orang yang tereksploitasi tidak memahami eksploitasi mereka sebagai hasil dari sistem sosial-ekonomis yang dapat diubah, melainkan sebagai masalah personal atau nasib (Marx, 1977). Namun, analisis puisi juga menunjukkan kesadaran yang lebih dalam yang tersembunyi dalam bait-bait tersebut. Ketika mereka berbisik tentang masalah-masalah mereka, mereka sebenarnya mengidentifikasi inti dari ketidakadilan sosial: harga beras yang naik (kebijakan ekonomi), anak yang kelaparan (upah yang tidak cukup), istri yang sakit tanpa akses dokter (ketidakadilan kesehatan). Pada tingkat implisit, puisi mengakui bahwa orang-orang kelas bawah ini memahami masalah-masalah sistematis, bahkan jika mereka tidak dapat mengekspresikannya dalam bahasa klasal yang terorganisir. Puisi Sitor Situmorang menjadi medium untuk mentranslasi bisikan-bisikan pribadi ini menjadi narasi publik tentang ketidakadilan sistematis. Dalam konteks gerakan sastra realis sosial, ini adalah kontribusi penting dari puisi: memberikan suara kepada mereka yang termarginalisasi dan mengorganisir kesadaran mereka yang tersebar-sebar menjadi kritik sosial yang kohesif (Tjahjono, 1995).

Analisis bait ketiga juga mengungkap dimensi gender yang penting dalam puisi. “Tentang istri yang sakit tapi tidak punya uang untuk dokter” menunjukkan bagaimana ketidakadilan sosial-ekonomi berinteraksi dengan patriarki untuk menciptakan marginalisasi berlapis dari perempuan. Istri dalam konteks ini bukan hanya seorang individu yang menderita dari ketidakadilan ekonomis, melainkan seseorang yang tergantung pada laki-laki (suami) yang sendiri juga tereksploitasi oleh sistem ekonomis. Ketergantungan ini berarti bahwa ketidakmampuan suami untuk mendapatkan penghasilan yang cukup secara langsung berdampak pada kesehatan istri. Selain itu, bait ketiga juga menyebutkan “anak yang kelaparan”, yang berarti tanggung jawab untuk memastikan nutrisi anak jatuh pada keluarga (biasanya ibu), sementara kesumber daya ekonomis dikontrol oleh atau dikaitkan dengan laki-laki yang bekerja. Jadi, secara tidak langsung, istri yang sakit tanpa akses ke dokter bukan hanya korban dari ketidakadilan ekonomis, tetapi juga korban dari pembagian kerja yang tidak adil dalam keluarga yang menciptakan beban berlapis pada perempuan. Puisi, melalui referensi singkat namun kuat ini, menunjukkan bagaimana ketidakadilan sosial-ekonomi dan patriarki bersama-sama menciptakan situasi di mana mereka yang paling rentan (perempuan dan anak-anak) menderita paling parah (Connell, 2005; Umar, 2001).

Secara keseluruhan, analisis per bait pada puisi “Orang-Orang Biasa” menunjukkan bagaimana Sitor Situmorang menggunakan sastra sebagai alat untuk membangkitkan kesadaran sosial dan melakukan kritik budaya. Puisi ini adalah bagian dari gerakan sastra realis sosial Indonesia yang muncul pada era 1960-1970an, sebuah gerakan yang membawa perubahan paradigmatik dalam tujuan sastra dari sekadar keindahan bahasa dan emosi personal menuju sastra yang menjadi alat pembangkitan kesadaran tentang ketidakadilan sosial-ekonomis. Struktur puisi yang progresif dari representasi konkret menuju analisis abstrak memungkinkan pembaca untuk bergerak bersama dalam perjalanan menemukan kritik sosial yang tersembunyi dalam detail-detail kehidupan sehari-hari masyarakat kelas bawah. Puisi ini juga menunjukkan bagaimana bahasa sastra dapat digunakan untuk mengungkap makna implisit yang tersembunyi di balik praktik-praktik sosial yang dianggap normal atau wajar. Dengan menganalisis per bait, kita melihat bagaimana setiap elemen dari kehidupan masyarakat kelas bawah (pekerjaan, bernyanyi, kekhawatiran ekonomis, ketenangan, kelelahan) tidak hanya memiliki makna literal, tetapi juga makna simbolis dan politis yang mengacu pada struktur ketidakadilan sosial yang lebih besar. Dengan cara ini, Sitor Situmorang menggunakan puisi untuk melakukan apa yang Fairclough sebut sebagai “critical discourse analysis”: membongkar bagaimana wacana (cara berbicara dan berpikir) yang tampak netral atau alami sebenarnya tertanam dalam hubungan-hubungan kekuasaan (Fairclough, 2001; Van Dijk, 2006).

Baca Juga: Kata-Kata pada Puisi ‘Aku’ Karya Chairil Anwar Bukan Makna Sebenarnya?

Kesimpulan

Analisis wacana konteks per bait pada puisi “Orang-Orang Biasa” karya Sitor Situmorang mengungkap bahwa puisi ini adalah karya yang sangat terstruktur dan tujuan dalam mengkomunikasikan kritik sosial. Melalui analisis per bait, penelitian ini telah menunjukkan bahwa:

  1. Bait pertama dan kedua menggunakan imagery konkret tentang tubuh yang terdeformasi oleh kerja untuk merepresentasikan dampak fisik dari eksploitasi ekonomis. Representasi tubuh ini bukan sekadar deskriptif, tetapi adalah cara puisi menggunakan tubuh sebagai teks di mana ketidakadilan sosial-ekonomis menulis sejarahnya.
  2. Bait ketiga memindahkan fokus ke ranah emosional dan keluarga, menunjukkan bagaimana eksploitasi ekonomis berdampak pada kehidupan pribadi dan kesetiakawanan keluarga, dengan perhatian khusus pada bagaimana ketidakadilan berlapis mempengaruhi perempuan dan anak-anak.
  3. Bait keempat melakukan analisis meta-kritis tentang bagaimana filosofi budaya Jawa “nrima” telah disalahgunakan untuk melegitimasi pasivitas yang sebenarnya adalah hasil dari eksploitasi struktural, bukan pilihan atau kebijaksanaan.
  4. Bait penutup membawa kritik ini kepada puncaknya dengan mengungkap bahwa ketidakmadahan dan ketenangan mereka adalah hasil dari kelelahan ekstrim, bukan dari ketenangan jiwa yang sejati.
  5. Puisi ini adalah representasi penting dari gerakan sastra realis sosial Indonesia yang menggunakan sastra sebagai alat untuk membangkitkan kesadaran sosial dan melakukan kritik terhadap struktur budaya yang melegitimasi ketidakadilan.
  6. Analisis per bait menunjukkan bagaimana Sitor Situmorang menggunakan struktur puisi yang progresif untuk membawa pembaca dari pengamatan konkret menuju kesadaran abstrak tentang ketidakadilan sistematis yang tersembunyi dalam detail-detail kehidupan sehari-hari.

Puisi “Orang-Orang Biasa” tetap relevan di era kontemporer karena isu-isu yang diangkatnya—ketidakadilan ekonomis, penyalahgunaan nilai-nilai budaya untuk melegitimasi ketidakadilan, marginalilasi berlapis dari kelompok-kelompok rentan, dan kebutuhan untuk kesadaran kelas yang terorganisir tetap merupakan masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dan banyak negara lain di dunia. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tentang peran penting sastra dalam mengangkat suara-suara yang termarginalisasi dan mengkritik struktur sosial yang tidak adil.


Penulis: Hasnawati
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar


Dosen Pembimbing: Dr. Andi Sahtiani Jahrir, S.Pd., M.Pd.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Bocock, R. (1986). Hegemony.  https://doi.org/10.4324/9780203714621

Bourdieu, P. (1977). Outline of a Theory of Practice. https://doi.org/10.1017/CBO9780511812074

Connell, R. W. (2005). Masculinities (2nd ed.). https://doi.org/10.1525/9780520242357

Creswell, J. W. (2013). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches (3rd ed.). https://books.google.com/books?id=WmfBAwAAQBAJ

Fairclough, N. (2001). Language and Power (2nd ed.). https://doi.org/10.4324/9781315840529

Foucault, M. (1977). Discipline and Punish: The Birth of the Prison. https://doi.org/10.1177/0306312704048856

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. https://www.basicbooks.com/titles/clifford-geertz/the interpretation-of-cultures/9780465026371

Haryanto, S. (2017). Seni Dalam Transformasi Budaya Jawa.  https://www.gramedia.com

Hoed, B. H. (2011). Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. https://research.unm.ac.id

Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic Inquiry.  https://doi.org/10.4135/9781483349007

Marx, K. (1977). Capital: Volume 1.  https://www.marxists.org/archive/marx/works/1867-c1

Nurgiantoro, B. (2012). Teori Pengkajian Fiksi. https://ugmpress.ugm.ac.id

Patton, M. Q. (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods (3rd ed.). https://books.google.com/books?id=FjBw2JRxeKkC

Pradopo, R. D. (2005). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. https://www.pustaka-pelajar.co.id

Purwadi. (2009). Psikologi Budaya Masyarakat Jawa. https://www.google.com/search?q=Purwadi+Psikologi+Budaya+Jawa

Rahardjo, M. D. (2012). Sastra dan Ideologi Kelas. https://scholar.google.com

Rampan, K. L. (1992). Pengantar Apresiasi Sastra. https://www.kanisius.co.id

Said, E. W. (1978). Orientalism.  https://www.penguinbooks.com/books/564741/orientalism-by-edward-w-said

Siswantoro. (2010). Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologi Sastra.  https://www.pustaka-pelajar.co.id

Situmorang, S. (1973). Surat-Surat Kabar: Antologi Puisi. https://www.worldcat.org/title/surat-surat-kabar

Situmorang, S. (1995). Membangun Kembali Harapan: Catatan Tentang Sastra dan Budaya. https://scholar.google.com

Sugihastuti. (2015). Kritik Sastra Feminis.  https://www.pustaka-pelajar.co.id

Sukada, R. (2000). Sejarah Sastra Indonesia Modern. https://pusbahasa.kemdikbud.go.id

Suseno, F. M. (2003). Etika Jawa: Sebuah Analisis Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. https://www.gramedia.com

Teeuw, A. (1984). Sastra Modern Indonesia I & II.  https://www.gramedia.com

Tjahjono, G. (1995). Sastra Realis dan Kesadaran Sosial. https://www.pustaka-pelajar.co.id

Umar, N. (2001). Argumen Kesetaraan Gender: Perspektif Al-Quran. https://scholar.google.com

Van Dijk, T. A. (2006). Ideology and Discourse Analysis. https://doi.org/10.1080/13569310600687908

Van Leeuwen, T. (2008). Discourse and Practice: New Tools for Critical Discourse Analysis. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780195323306.001.0001

Wallerstein, I. (1989). The Modern World-System III: The Second Era of Great Expansion. https://www.elsevier.com

Wellek, R., & Warren, A. (1976). Theory of Literature (3rd ed.). https://www.harcourt.com

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses