Pendahuluan
Nizar Qabbani (1923-1998) merupakan salah satu penyair Arab modern yang paling berpengaruh, dikenal sebagai “penyair perempuan” karena puisinya sering mengeksplorasi tema cinta, sensualitas, dan kritik terhadap patriarki Arab. Puisi “Ila Tilmidhatin” (atau lebih tepat “إلى تلميذة” – Ila Tilmidtha, “Kepada Seorang Murid Perempuan”) adalah salah satu karyanya yang intim dan penuh nuansa. Puisi ini menggambarkan hubungan antara seorang lelaki yang lebih dewasa (penyair) dengan seorang perempuan muda yang masih “belajar” tentang cinta.
Melalui lensa feminisme, puisi ini menampilkan citra perempuan yang kompleks: sekaligus sebagai objek hasrat sekaligus subjek yang memiliki kekuatan emosional dan intelektual. Analisis ini akan membahas bagaimana Qabbani merepresentasikan perempuan, baik sebagai korban norma patriarkal maupun sebagai figur yang mampu menantangnya.
Isi Puisi dan Citra Perempuan
Teks Puisi
علّمتِني حبَّكِ
أن أحزنَ
وأنا محتاجٌ منذ عصورٍ لامرأةٍ تجعلني أحزن
لامرأةٍ أبكي فوق ذراعيها مثل العصفور
لامرأةٍ تجمع أجزائي كقصيدةِ نثرٍ مكسورة
علّمتِني حبَّكِ
كيف أفتّشُ في وجهي عن وجهي
كيف أفتّشُ في صوتي عن صوتي
كيف أفتّشُ في جسدي عن جسدي
علّمتِني حبَّكِ
أشياءَ ما كانت أبداً في الحسبان
فقرأتُ أقاصيصَ الطفولةِ في عينيكِ
وكتبتُ على شفتيكِ قصائدَ مجنونة
Terjemahan
Cintamu telah mengajariku
untuk bersedih
dan sejak lama aku membutuhkan seorang perempuan
yang membuatku mampu bersedih
seorang perempuan tempat aku menangis di pelukannya seperti burung kecil
seorang perempuan yang mengumpulkan kepingan diriku seperti puisi yang retak
Cintamu telah mengajariku
bagaimana mencari wajahku di dalam wajahku
bagaimana mencari suaraku di dalam suaraku
bagaimana mencari tubuhku di dalam tubuhku
Cintamu telah mengajariku
hal-hal yang tak pernah terbayangkan
aku membaca kisah masa kecil di matamu
dan menulis puisi-puisi gila di bibirmu
Puisi ini dibuka dengan permintaan penyair kepada perempuan muda:
“Qul li – walaw kidzban – kalaman na’iman Qad kada yaqtuluni bika al-timtsal…”
(“Katakan padaku – meski bohong – kata-kata lembut Patung hampir saja terbunuh karenamu…”)
Di sini, perempuan digambarkan sebagai sosok yang begitu indah hingga mampu “membunuh” patung (simbol kekakuan dan ketidakberdayaan lelaki). Citra ini menunjukkan kekuatan perempuan atas emosi lelaki. Perempuan muda disebut masih “thiflah” (anak kecil) dalam seni mencinta, sementara lelaki mengaku dirinya pun sebenarnya “anak-anak” juga. Ini meruntuhkan hierarki gender tradisional di mana lelaki selalu diposisikan sebagai guru atau penguasa.
Qabbani menolak citra perempuan yang ideal dalam dongeng romantis Timur (“qishash al-hawa qad afsadatki… kulluha ghaybubah wa khurafah wa khayal”). Cinta bukanlah cerita dongeng yang berakhir bahagia dengan pernikahan, melainkan perjalanan penuh badai, keraguan, dan keputusasaan. Perempuan di sini bukan lagi pasif yang menunggu “pangeran”, melainkan mitra dalam perjalanan yang penuh gejolak.
Beberapa baris kunci menunjukkan citra perempuan yang kuat:
- Perempuan sebagai misteri yang tak terjangkau: “Inni uhibbuki min khilali ka’abati… wajhan ka-wajhi Allahi laysa yuthal” (Aku mencintaimu melalui kesedihanku… wajah seperti wajah Tuhan yang tak terjangkau). Perempuan menjadi sesuatu yang sakral, hampir ilahi, yang melampaui pemahaman lelaki.
- Perempuan sebagai pemicu revolusi emosional: Cinta digambarkan sebagai pemberontakan (“nathur li-ayyi syai’in tafih”), keraguan, dan bahkan “pembunuhan” yang saling menerima. Ini menunjukkan perempuan bukan sekadar objek sensual, tapi katalisator transformasi jiwa.
Analisis Feminisme
Dari perspektif feminisme liberal, Qabbani memberikan ruang bagi perempuan untuk menjadi subjek yang aktif. Perempuan muda (tilmidhah) bukan lagi hanya “murid” pasif, melainkan guru yang mengajarkan lelaki tentang kerapuhan dirinya sendiri. Ini selaras dengan sikap Qabbani yang seumur hidup membela emansipasi perempuan Arab, mengkritik budaya yang mengekang mereka dalam peran domestik dan tradisional.
Namun, dari sudut pandang feminisme radikal atau post-kolonial, ada kritik. Perempuan masih direpresentasikan melalui lensa hasrat lelaki. Tubuh dan kecantikannya (“husnuki” – keindahanmu) menjadi pusat perhatian, meski disertai penghargaan mendalam. Qabbani sering dikritik karena cenderung mengobjekkan tubuh perempuan meski dengan bahasa puitis yang indah.
Di sisi lain, puisi ini menantang norma patriarkal Arab yang menuntut lelaki selalu kuat dan rasional. Qabbani justru menunjukkan kerapuhan lelaki (“ar-rijalu jami’uhum athfal” – semua lelaki adalah anak-anak) di hadapan perempuan. Ini adalah bentuk subversi halus: lelaki mengakui ketergantungannya pada perempuan, sehingga meruntuhkan superioritas maskulin.
Simpulan
Puisi “Ila Tilmidhatin” menggambarkan citra perempuan sebagai sosok yang kompleks – cantik, misterius, kuat, sekaligus rapuh. Melalui analisis feminisme, terlihat bahwa Qabbani tidak hanya merayakan keindahan perempuan, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk menjadi agen perubahan emosional dan intelektual. Meski masih ada unsur objektifikasi, puisi ini tetap menjadi pernyataan progresif di tengah masyarakat Arab yang patriarkal.
Karya Qabbani mengajarkan bahwa cinta sejati adalah kesetaraan dalam kerapuhan. Perempuan bukan lagi “yang lemah”, melainkan mitra yang mampu mengguncang jiwa lelaki dan masyarakat. Di era sekarang, pesan ini tetap relevan sebagai panggilan untuk menghargai perempuan sebagai subjek utuh, bukan sekadar objek hasrat atau pelengkap.
Penulis: Alviana Firdatus Sholihah (240301110051)
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Aktif juga sebagai:
- Pengurus Media Maskan Mambaul Ulum (2025 – sekarang)
- Ketua Bidang Divisi QibarDuta Inisiatif Indonesia Batch 12 (2025 – sekarang)
- Anggota Himpunan Mahasiswa Prodi Bahasa Sastra Arab (HMPBS)Jabatan: Divisi As Syihafah (2024 – sekarang)
- Sekretaris Forum Kajian Hukum (FK KH) (2025 – sekarang)
- Pengurus Jami’yyah Dakwah Fan Islami (UPKM JDFI) (2025 – sekarang)
- El Jidal BSA Divisi Qibar sebagai Anggota (2024 – 2025)
- INFO PUB Jurnalistik Fakultas Humaniora (2024 – sekarang)
- Departemen Ekraf IthlaWakil Bendahara FIMP (2025 – sekarang)
- Kordinator Bimbel Kimia Osis (2021 – 2022)
- Sekretaris Osis (2021 – 2022)
- Anggota Osis_Ketaqwaan (2020 – 2021)
Dosen Pengampu: H. Misbahus Surur, M.Pd
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Qabbani, Nizar. Ila Tilmidhatin. Diakses dari https://www.aldiwan.net/ (teks asli puisi berbahasa Arab).
Qabbani, Nizar. Arabian Love Poems: Full Arabic and English Texts. Diterjemahkan oleh Bassam K. Frangieh dan Clementina R. Brown. Three Continents Press, 1999.
Qabbani, Nizar. On Entering the Sea: The Erotic and Other Poetry of Nizar Qabbani. Diterjemahkan oleh Lena Jayyusi dan Christopher Middleton. Interlink Books, 1996.
Mohammed, Tara Burhan. “Women in Nizar Qabbani’s Poetry”. Center for Gender and Development Studies, American University of Iraq, Sulaimani, 2023. https://auis.edu.krd/CGDS/essay/tara-burhan-mohammeds-essay-women-nizar-qabbani’s-poetry
Frangieh, Bassam K. Introduction to Arabian Love Poems. Three Continents Press, 1999.
Khaf, Mohja. “The Poetic Female Persona in Nizar Qabbani’s Work”. Journal of Arabic Literature, Vol. 31, No. 2, 2000.
Assadi, Jamal. “Arab Women in Nizar Kabbani’s Poetry”. Academia.edu, 2021.
Kamel, Maha. “Nizar Qabbani: Feminist Voice from an Arab Man”. Medium, 3 Oktober 2022.
Al-Qabbani, Nizar. The Complete Poetic Works (Al-A’mal al-Shi’riyyah al-Kamilah). Beirut: Dar al-Adab, berbagai edisi.
Jayyusi, Salma Khadra (ed.). Modern Arabic Poetry: An Anthology. Columbia University Press, 1987.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












