Mengapa Sistem Evaluasi di SD Masih Belum Adil bagi Siswa?

Sistem evaluasi di SD
Gambar: Dok. MMI

Tidak semua siswa gagal belajar karena tidak mampu. Sebagian justru gagal karena sistem evaluasi di sekolah belum mampu memahami kebutuhan mereka.

Evaluasi pembelajaran masih dipahami sebatas angka rapor dan nilai ujian.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Padahal, cara guru menilai siswa dapat menentukan keberhasilan proses pendidikan pada fase awal perkembangan anak.

Data Asesmen Nasional dalam Kemendikdasmen juga mencatat bahwa selama tahun 2022-2024 kemampuan literasi dan numerasi siswa sekolah dasar di Indonesia masih belum merata dan menghadapi tantangan serius.

Akan tetapi, dalam prosesnya masih menghadapi beragam kendala.

Meninjau kembali cara sekolah mengevaluasi proses belajar siswa menjadi langkah penting untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Evaluasi pembelajaran sejatinya tidak hanya melaksanakan penilaian dari hasil belajar peserta didik, tetapi juga kinerja guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Salah satu masalah besar dalam penerapan evaluasi di sekolah dasar negeri adalah guru dituntut menghasilkan penilaian yang komprehensif, tetapi pada saat yang sama tidak semua memeroleh pelatihan evaluasi yang memadai.

Fenomenanya, evaluasi pembelajaran akhirnya hanya menjadi rutinitas administratif untuk memenuhi tuntutan laporan sekolah.

Sekolah sering menekankan capaian angka, sementara proses perkembangan siswa justru kurang mendapatkan perhatian.

Akibat beban administrasi yang tinggi, guru kerap tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan evaluasi secara mendalam dan reflektif.

Penilaian pembelajaran akhirnya lebih berorientasi pada hasil akhir dibanding memahami proses belajar siswa.

Keterbatasan persiapan membuat evaluasi sering dilakukan secara terburu-buru dan kurang mendalam.

Akibatnya, guru sering hanya berfokus pada jawaban benar dan mengabaikan perkembangan sikap serta keterampilan siswa.

Objektivitas juga menjadi tantangan bagi guru dalam menilai hasil belajar siswa.

Sebab dalam praktiknya, guru masih dipengaruhi subjektivitas dalam menilai siswa.

Tidak sedikit penilaian siswa masih dipengaruhi persepsi personal guru terhadap perilaku dan latar belakang siswa.

Ketika evaluasi kehilangan objektivitas, nilai tidak lagi sepenuhnya mencerminkan kemampuan belajar peserta didik.

Sistem evaluasi yang tidak adil membuat siswa dinilai berdasarkan stigma, bukan perkembangan belajarnya.

Ketika guru lebih dipengaruhi persepsi pribadi dibanding kemampuan siswa yang sebenarnya, evaluasi kehilangan makna sebagai alat ukur pembelajaran yang adil.

Akibatnya, hasil penilaian menjadi kurang akurat dan sulit dipercaya. 

Selain itu, latar belakang siswa juga dapat memengaruhi seberapa baik kemampuan mereka belajar.

Hal ini karena kecerdasan bukanlah satu-satunya hal yang penting; hal-hal seperti tempat tinggal, keluarga, keuangan, budaya, dan perasaan juga berperan.

Siswa dari lingkungan kurang mendukung sering kali harus bekerja lebih keras hanya untuk mencapai standar yang sama.

Sekolah tidak dapat mengukur kemampuan siswa dengan pendekatan yang seragam, karena setiap anak tumbuh dalam kondisi sosial yang berbeda.

Jika perbedaan latar belakang diabaikan, evaluasi pembelajaran justru dapat memperlebar ketimpangan pendidikan.

Oleh karena itu, guru harus adil, menggunakan cara yang jelas untuk memeriksa, dan mempertimbangkan perbedaan setiap siswa untuk memastikan hasilnya menunjukkan kemampuan belajar yang sebenarnya. 

Persoalan ini tidak boleh terus dibiarkan karena dapat memengaruhi kualitas pembelajaran siswa dalam jangka panjang.

Sekolah perlu menghadirkan sistem evaluasi yang lebih adil dan mampu memahami kebutuhan setiap peserta didik.

Jika terus diabaikan, evaluasi yang tidak tepat justru dapat memperlebar ketimpangan belajar di sekolah dasar.

Karena itu, pembenahan sistem evaluasi tidak dapat lagi ditunda jika sekolah ingin menghadirkan pembelajaran yang lebih adil bagi setiap siswa.

Menjawab persoalan tersebut, evaluasi pembelajaran tidak boleh lagi hanya berfokus pada pengisian nilai rapor.

Sekolah perlu membangun sistem penilaian yang lebih adil, reflektif, dan berorientasi pada perkembangan siswa secara menyeluruh, bukan sekadar pencapaian angka akademik.

Langkah praktis lain yang perlu dilakukan sekolah adalah memperkuat kompetensi guru dalam bidang evaluasi pembelajaran melalui pelatihan yang berkelanjutan.

Evaluasi juga harus diarahkan pada pembentukan karakter, keterampilan, dan kemampuan berpikir siswa.

Pemanfaatan teknologi pendidikan dapat membantu proses penilaian menjadi lebih efektif dan menarik, sementara kolaborasi antara guru dan orang tua penting dilakukan agar evaluasi benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Pada akhirnya, evaluasi pembelajaran bukan sekadar menentukan tinggi rendahnya nilai siswa, tetapi bagaimana sekolah mampu memahami proses tumbuh dan berkembang setiap anak secara lebih manusiawi.


Penulis: Tsurayya
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Veteran Bantara Sukoharjo


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses