Membaca ‘Instan’ dengan Lebih Jujur

makanan instan adalah
Membaca 'Instan' dengan Lebih Jujur. Sumber: MIM.

Ambil satu sachet minuman jahe di dapur Anda. Balik kemasannya. Di sana tertulis: jahe instan. Tapi tidak ada yang menjelaskan bagaimana jahe yang aslinya berair, berserat, dan mudah busuk bisa berubah menjadi serbuk kering yang larut dalam tiga detik.

Kata ‘instan’ telah menjadi label paling laku di rak supermarket Indonesia. Kopi instan, susu instan, minuman herbal instan, bumbu instan. Kita membeli, menyeduh, meminum tanpa pernah bertanya proses apa yang mengubah bahan segar menjadi serbuk yang bisa bertahan dua tahun di dalam kemasan foil.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di balik kata itu, ada satu teknologi yang bekerja diam-diam: spray drying, atau pengeringan semprot.

Baca Juga: Bahaya Mie Instan bagi Kesehatan: Mengungkap Fakta di Balik Kelezatannya

Cara kerjanya sederhana untuk dijelaskan: cairan bahan pangan disemprotkan menjadi titik-titik halus ke dalam ruang bersuhu tinggi. Dalam sepersekian detik, airnya menguap dan yang tersisa hanyalah partikel serbuk kering. Itulah yang masuk ke dalam sachet yang Anda pegang tadi.

Bukan teknologi baru. Bukan pula teknologi yang misterius. Tapi ia hampir tidak pernah disebut di mana pun  tidak di label kemasan, tidak di iklan, tidak di pelajaran sekolah. Yang dijual adalah kata ‘instan’, bukan proses di baliknya.

Ini bukan sekadar soal pengetahuan teknis. Ada konsekuensi nyata dari ketidaktahuan ini.

Ketika konsumen tidak memahami proses di balik produk yang mereka beli, mereka tidak punya alat untuk menilai kualitasnya secara kritis.

Baca Juga: Makanan Cepat Saji dan Gaya Hidup Anak Muda

Apakah serbuk jahe ini mengandung kandungan aktif yang sama dengan jahe segar? Apakah proses pengeringannya merusak senyawa yang justru dicari? Apakah bahan tambahan yang digunakan aman dan perlu? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak muncul karena konsumen tidak tahu bahwa pertanyaan itu relevan untuk ditanyakan.

Industri pangan modern membangun kepercayaan di atas kenyamanan dan kenyamanan paling mudah dijual ketika konsumen tidak terlalu banyak bertanya.

Kata ‘alami’, ‘herbal’, ‘tradisional’ ditempel di atas produk yang sesungguhnya melewati proses industri yang panjang dan kompleks. Tidak ada yang salah dengan prosesnya. Yang perlu dipertanyakan adalah kebiasaan menyembunyikannya.

Literasi pangan bukan kemewahan akademik. Ia adalah kemampuan dasar yang menentukan pilihan konsumen setiap hari di warung, di supermarket, di aplikasi belanja online.

Memahami bahwa ‘instan’ adalah hasil teknologi, bukan keajaiban, adalah langkah pertama untuk menjadi konsumen yang tidak mudah dibohongi oleh klaim di kemasan.

Mulai dari sachet di dapur Anda.


Penulis: Aza Wajalla (F0505251043)
Mahasiswa Ilmu Pangan IPB University


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses