Banjir Surut, Masalah Air Bersih Belum Usai

dampak banjir sumatra
Banjir Surut, Masalah Air Bersih Belum Usai. Sumber: Penulis.

Banjir yang melanda kawasan Tabiang Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, tidak hanya merendam rumah warga. Setelah air surut, persoalan baru muncul: sebagian sumur warga berubah keruh dan berbau sehingga tidak lagi layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Bagi masyarakat setempat, kondisi ini menjadi tantangan baru setelah bencana. Air bersih yang sebelumnya mudah diperoleh kini menjadi semakin sulit diakses.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

“Airnya keruh sekali setelah banjir. Kami jadi khawatir memakainya untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar seorang warga.

Selain menimbulkan kerusakan lingkungan, banjir juga meninggalkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Warga berusaha kembali menjalani aktivitas sehari-hari sambil membersihkan lingkungan yang masih dipenuhi lumpur dan sisa material yang terbawa arus.

Banjir tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga memengaruhi kualitas sumber air yang digunakan masyarakat. Lumpur, limbah, dan berbagai material yang terbawa arus dapat mencemari sumur serta sumber air lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, akses terhadap air bersih menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat, terutama untuk memasak, mandi, dan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Hutan Hilang, Banjir Datang: Pelajaran Pahit dari Aceh

Di tengah kondisi tersebut, berbagai upaya mulai dilakukan untuk membantu masyarakat memulihkan kehidupan pascabencana.

Salah satunya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan mahasiswa dan dosen dari Universitas Syedza Saintika (UNSYKA). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Mahasiswa Berdampak yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pemasangan sistem filtrasi air bersih di RT 2 yang terdampak banjir. Sistem penyaringan ini diharapkan dapat membantu warga memperoleh air yang lebih aman untuk digunakan.

Selain penyediaan fasilitas penyaringan air, masyarakat juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan lingkungan setelah banjir.

Warga diajak memahami berbagai langkah sederhana untuk mencegah munculnya penyakit yang sering terjadi setelah bencana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, memastikan kualitas air yang digunakan, serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa juga memberikan pelatihan kepada kader kesehatan masyarakat mengenai mitigasi bencana serta melakukan kegiatan trauma healing bagi warga yang terdampak.

Baca Juga: Mahasiswa UNSYKA Mengembalikan Senyum Anak Korban Banjir Bandang lewat Permainan Ular Tangga

Selain itu, dilakukan pula skrining kesehatan bagi masyarakat, seperti pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan asam urat sebagai upaya deteksi dini penyakit tidak menular yang berpotensi muncul setelah bencana.

Koordinator kegiatan, Fajar Nugraha, menyebut upaya ini merupakan bagian dari kontribusi mahasiswa dalam membantu masyarakat menghadapi dampak bencana.

Bagi warga setempat, bantuan tersebut memberikan manfaat yang nyata. Selain membantu penyediaan air bersih, kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan serta kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Perlahan, kehidupan masyarakat mulai kembali berjalan. Warga membersihkan lingkungan, anak-anak kembali bermain di sekitar rumah, dan fasilitas penyaringan air yang baru dipasang mulai dimanfaatkan bersama.

Bagi masyarakat Tabiang Banda Gadang, pemulihan setelah bencana memang membutuhkan waktu. Namun melalui kerja sama berbagai pihak, harapan untuk bangkit kembali tetap tumbuh di tengah masyarakat.


Penulis:
1. Bayu Rahmat Alif
2. Rahmi Novita Yusuf
Mahasiswa Universitas Syedza Saintika (UNSYKA)
Aktif juga di Hima Teknologi Laboratorium Medik, Hima Keperawatan, Hima Biomedis


Dosen Pengampu: Rahmi Novita Yusuf


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses