Tragedi banjir badang di Sumatra Barat dan ancaman tenggelamnya pesisir timur akibat rob yang semakin ekstrem bukan lagi sekadar peristiwa musiman, melainkan sinyal krisis ekologis yang nyata. Dalam beberapa tahun terakhir, bencana hidrometeorologi terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang meningkat.
Di balik fenomena ini, perdebatan mengenai alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan monokultur, khususnya sawit kembali mencuat-terutama di kawasan Bukit Barisan yang selama ini menjadi benteng alami ekosistem Sumatra.
Dalam konteks ini, membangun resiliensi Sumatra tidak cukup hanya melalui bantuan sosial pascabencana, tetapi membutuhkan keberanian untuk melakukan audit tata ruang secara menyeluruh dan mendorong transisi menuju ekonomi yang mampu memulihkan ekosistem hulu.

Baca Juga: Tafsir Ekologis dan Krisis Lingkungan: Studi Kasus Bencana Banjir dan Longsor di Sumatra 2025
Sawit dan Harga yang Harus Dibayar Lingkungan
Alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit telah menyebabkan penurunan signifikan terhadap daya dukung lingkungan di Sumatra. Hutan alami memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap air hujan sekaligus menjaga stabilitas struktur tanah. Akar pohon yang kompleks berfungsi sebagai penahan air dan mencegah erosi.
Sebaliknya, perkebunan monokultur seperti sawit cenderung mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air. Pola tanam yang homogen serta minimnya vegetasi penutup tanah menyebabkan air hujan lebih banyak mengalir di permukaan daripada meresap ke dalam tanah.
Akibatnya, aliran permukaan meningkat secara drastis dan memperbesar risiko terjadinya banjir bandang, terutama di wilayah hilir yang menjadi titik akumulasi air.
Di sisi lain, perubahan iklim semakin memperparah kerentanan Sumatra terhadap bencana. Curah hujan ekstrem kini terjadi lebih sering dibandingkan dekade sebelumnya, sehingga meningkatkan potensi banjir dan tanah longsor.
Selain itu, kenaikan permukaan laut juga memperbesar ancaman rob di wilayah pesisir timur Sumatra, yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat pesisir. Tanpa penguatan resiliensi lingkungan, dampak dari bencana ini akan semakin luas dan merusak.
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa intensitas hujan ekstrem di Indonesia meningkat hingga sekitar 20% dalam dua dekade terakhir, yang berbanding lurus dengan meningkatnya kejadian banjir dan longsor¹.
Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa sektor perkebunan sawit memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah maupun nasional. Sawit sering disebut sebagai ‘emas hijau’ karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi salah satu komoditas ekspor utama Indonesia.
Namun, ekspansi yang tidak terkendali justru berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan dan meningkatkan risiko bencana. Kekhawatiran bahwa pembatasan alih fungsi lahan akan mengurangi lapangan kerja juga kerap menjadi alasan untuk mempertahankan praktik yang ada.
Padahal, pengelolaan sawit secara berkelanjutan serta perlindungan kawasan hutan dapat menjadi solusi tengah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa sekitar 50% deforestasi di Indonesia berkaitan dengan pembukaan lahan, sehingga pengelolaan yang lebih bijak menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan tanpa harus mengorbankan salah satunya².
Pada akhirnya, resiliensi lingkungan merupakan fondasi utama dalam menghadapi ancaman bencana dan perubahan iklim di Sumatra.
Baca Juga: Hutan Hilang, Banjir Datang: Pelajaran Pahit dari Aceh
Deforestasi dan alih fungsi hutan telah melemahkan kemampuan alami lingkungan dalam meredam risiko banjir, sementara perubahan iklim semakin memperparah kondisi tersebut baik di wilayah daratan maupun pesisir.
Oleh karena itu, perlindungan ekosistem, perbaikan tata kelola lahan, serta penerapan praktik ekonomi berkelanjutan menjadi langkah yang tidak dapat ditunda.
Masa depan Sumatra tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar keuntungan yang dihasilkan hari ini, tetapi oleh sejauh mana kita mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.
Penulis: Steven Andreas
Mahasiswa Manajemen Universitas Hayam Wuruk Perbanas
Dosen Pengampu: Marta
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
End Notes:
- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Laporan Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem di Indonesia.
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Laporan Deforestasi Indonesia, 2022.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













