Hujan Lebat BMKG, Strategi Komunikasi Pemerintah ala Image Restoration di Tengah Ancaman Banjir

image restoration
Ilustrasi Image Restoration (Gambar: Dok. MMI)

Dalam berita “Musim Hujan Bisa Sampai Februari 2026, BMKG Ingatkan Pemda tak Telat Minta Modifikasi Cuaca”, disebutkan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fase puncak musim hujan bertahan hingga Februari 2026 di berbagai wilayah Indonesia.

Direktur Kelolaifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menekankan kesiapan modifikasi cuaca untuk mencegah bencana hidrometeorologi, tetapi hal itu bergantung pada permintaan pemerintah daerah agar tidak terlambat, mengingat daerah seperti Jawa Barat telah mengalami banjir akibat curah hujan tinggi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena hujan lebat dan potensi banjir rob ini sedang trending karena dampaknya yang luas, termasuk genangan di pesisir utara Jawa, seperti Jakarta, pada 12-19 Februari 2026, dipicu oleh fase Bulan Baru yang meningkatkan muka air laut.

Pemerintah melalui BMKG telah berkomunikasi peringatan dini, namun respons publik dan daerah sering terlambat, memperburuk kerugian. Hal ini menyoroti kelemahan dalam diseminasi informasi cuaca yang tepat waktu.

Fenomena ini menuntut pemerintah menerapkan strategi komunikasi krisis secara proaktif, khususnya Teori Apologia dari William L. Benoit yang menekankan image restoration rhetoric untuk memulihkan citra setelah kegagalan.

Baca Juga: Mahasiswa Fisika UPN “Veteran” Jawa Timur Melaksanakan Magang di BMKG Dhoho Kediri: Mendalami Dunia Meteorologi Lewat Observasi Cuaca dan Pengolahan Data

Teori ini mencakup lima strategi utama: denial (penyangkalan), evasion of responsibility (penghindaran tanggung jawab), reduction of offensiveness (pengurangan kesalahan), corrective action (tindakan korektif), dan mortification (pengakuan kesalahan).

Pemerintah cenderung menggunakan corrective action melalui peringatan BMKG dan modifikasi cuaca, tetapi kurang mortification saat banjir terjadi, sehingga citra sebagai penanggulang bencana tergerus.

Secara sistematis, apologia dimulai dengan identifikasi ancaman: prediksi hujan ekstrem sejak November 2025 hingga Februari 2026 telah diumumkan, namun implementasi kurang efektif di daerah rawan, seperti Jakarta dan Jawa Tengah.

Pemerintah bisa mengurangi offensiveness dengan membandingkan kondisi La Niña lemah sebagai faktor global di luar kendali, sambil menekankan upaya, seperti cold surge monitoring.

Namun, opini saya, strategi evasion sering dominan, membuat publik skeptis terhadap kredibilitas informasi resmi, sebagaimana terlihat pada banjir rob yang merendam pemukiman tanpa evakuasi dini.

Baca Juga: Pengalaman Praktis Mahasiswa dalam Pengamatan Atmosfer Lapisan Atas di BMKG Juanda Unit Aerologi

Alur logisnya, tanpa apologia holistik, polarisasi opini muncul di media sosial, memperburuk echo chamber di mana warga saling tuduh pemerintah lalai.

Teori Benoit memperkuat bahwa corrective action seperti modifikasi cuaca harus didahului mortification untuk membangun kepercayaan jangka panjang.

Pemerintah disarankan mengintegrasikan Teori Apologia dalam protokol komunikasi bencana, lakukan mortification publik saat prediksi gagal dicegah, terapkan corrective action berbasis data real-time via aplikasi BMKG.

Langkah ini tidak hanya memulihkan citra, tetapi juga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mitigasi, menuju ketahanan nasional yang lebih kuat.


Penulis: Qadar Maulana
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Nasional


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses