Pencegahan Narkoba di Lembaga Pemasyarakatan, Berikut Analisanya

Narkoba
Razia di lembaga pemasyarakatan, guna mencegah peredaran narkoba.

Salah satu penyebab terjadinya jual beli narkoba di dalam Lembaga Pemasyarakatan adalah adanya korupsi di kalangan petugas dan staf di dalamnya. Selain itu, adanya over kapasitas atau kelebihan jumlah tahanan juga menjadi faktor penyebabnya.

Hal ini membuat pengawasan terhadap tahanan menjadi kurang efektif, sehingga mudah terjadi perdagangan narkoba di dalamnya. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan dan pelatihan bagi petugas di Lembaga Pemasyarakatan juga menjadi faktor yang memperparah masalah ini.

Jual beli narkoba di dalam Lembaga Pemasyarakatan memiliki dampak yang sangat buruk, tidak hanya bagi para tahanan, tetapi juga bagi masyarakat secara umum.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Dampak Overcrowded pada Pemenuhan Hak Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan

Tahanan yang terlibat dalam perdagangan narkoba dapat menjadi pengedar narkoba yang membahayakan masyarakat. Selain itu, keamanan dan kredibilitas Lembaga Pemasyarakatan juga terancam jika masalah ini terus dibiarkan.

Kontrol yang dilakukan petugas pemasyarakatan.

Pemerintah dan lembaga terkait harus mengambil langkah yang tepat dalam menangani masalah ini. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah meningkatkan pengawasan di dalam Lembaga Pemasyarakatan dan memberikan pelatihan dan pendidikan kepada petugas dan staf di dalamnya.

Selain itu, pemberantasan korupsi di Lembaga Pemasyarakatan juga perlu dilakukan dengan tegas. Selain itu, program rehabilitasi bagi tahanan yang terlibat dalam perdagangan narkoba juga harus ditingkatkan. Program rehabilitasi yang baik dapat membantu tahanan untuk menghindari perilaku kriminal, termasuk penggunaan dan perdagangan narkoba.

Jual beli narkoba di dalam Lembaga Pemasyarakatan merupakan masalah yang sangat serius dan memerlukan penanganan yang tepat. Upaya pencegahan dan penanganan harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk dengan pemberantasan korupsi, peningkatan pengawasan, serta pemberian pelatihan dan pendidikan bagi petugas dan staf di dalam Lembaga Pemasyarakatan.

Selain itu, program rehabilitasi bagi tahanan yang terlibat dalam perdagangan narkoba juga harus ditingkatkan.

Kasus jual beli narkoba yang marak di Lembaga Pemasyarakatan Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks. Salah satu faktor penyebab utamanya adalah adanya korupsi dan praktik nepotisme di kalangan petugas dan staf di dalamnya.

Baca Juga: Kasus Jual Beli Kamar Mewah di Lembaga Pemasyarakatan: Analisis Menggunakan Teori 7S McKinsey

Dalam beberapa kasus, petugas dan staf yang seharusnya bertanggung jawab atas pengawasan dan pemantauan kegiatan para tahanan justru ikut terlibat dalam perdagangan narkoba.

Selain itu, masalah overkapasitas atau kelebihan jumlah tahanan di dalam Lembaga Pemasyarakatan juga memperparah situasi ini. Kelebihan jumlah tahanan membuat pengawasan dan pemantauan menjadi lebih sulit, sehingga memungkinkan perdagangan narkoba terjadi di dalamnya.

Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan dan pelatihan bagi petugas di Lembaga Pemasyarakatan juga menjadi faktor yang memperburuk situasi, karena petugas yang kurang terlatih dan tidak memahami cara menghadapi situasi kritis dapat membuat masalah semakin rumit.

Tidak hanya itu, kurangnya akses terhadap program rehabilitasi yang efektif juga dapat memicu terjadinya perdagangan narkoba di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Program rehabilitasi yang baik dan efektif dapat membantu tahanan untuk menghindari perilaku kriminal dan kecanduan narkoba, namun dalam banyak kasus, akses terhadap program ini masih terbatas atau tidak memadai.

Secara keseluruhan, kasus jual beli narkoba yang marak di Lembaga Pemasyarakatan Indonesia merupakan masalah yang kompleks dan membutuhkan upaya penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan.

Upaya penanganan yang efektif harus melibatkan berbagai pihak dan aspek, termasuk upaya pemberantasan korupsi, peningkatan pengawasan dan pemantauan, pelatihan dan pendidikan bagi petugas dan staf, serta akses terhadap program rehabilitasi yang efektif.

Teori 7S McKinsey adalah suatu kerangka kerja yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor kunci dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Teori ini terdiri dari tujuh elemen yang saling terkait dan mempengaruhi keseluruhan kinerja organisasi, yaitu: strategi, struktur, sistem, staf, budaya, keterampilan, dan gaya kepemimpinan.

Dalam konteks kasus jual beli narkoba di Lapas, analisis dengan menggunakan teori 7S McKinsey dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang faktor-faktor yang mempengaruhi masalah tersebut:

Baca Juga: Fungsi Petugas Medis di Lembaga Pemasyarakatan

  1. Strategi: Dalam konteks Lembaga Pemasyarakatan, strategi yang tepat adalah strategi pencegahan kejahatan dan pengendalian masalah yang muncul di dalamnya, termasuk pencegahan perdagangan narkoba. Namun, terdapat kelemahan dalam strategi ini yang membuat kasus jual beli narkoba masih marak di dalam Lapas. Hal ini mungkin karena kurangnya kebijakan yang jelas dan efektif dalam mengatasi masalah tersebut.
  2. Struktur: Struktur organisasi di dalam Lapas harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memfasilitasi pengawasan dan pemantauan yang efektif terhadap kegiatan tahanan dan staf. Namun, terdapat kelemahan dalam struktur organisasi di Lapas yang membuat tugas pengawasan dan pemantauan menjadi kurang efektif. Salah satu penyebabnya adalah kelebihan kapasitas tahanan yang membuat staf Lapas kesulitan dalam melakukan tugasnya.
  3. Sistem: Sistem pengawasan dan pemantauan di dalam Lapas harus ditingkatkan agar dapat menghindari tindakan jual beli narkoba oleh tahanan. Sistem ini dapat meliputi penggunaan teknologi seperti CCTV dan pengembangan sistem informasi untuk memantau aktivitas tahanan secara terus-menerus.
  4. Staf: Pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi staf Lapas harus menjadi prioritas utama agar dapat meningkatkan kualitas pengawasan dan pemantauan. Selain itu, seleksi dan perekrutan staf harus dilakukan dengan cermat agar hanya staf yang berkualitas tinggi yang dapat bekerja di Lapas.
  5. Budaya: Budaya kerja yang diterapkan di dalam Lapas harus mengedepankan prinsip profesionalisme, integritas, dan akuntabilitas. Hal ini dapat membantu menghindari tindakan korupsi dan praktik nepotisme yang dapat memperparah masalah jual beli narkoba di Lapas.
  6. Keterampilan: Keterampilan staf di Lapas harus ditingkatkan dalam hal pengawasan dan pemantauan, serta dalam penanganan tahanan yang mengalami masalah kecanduan narkoba. Pelatihan dan pengembangan keterampilan juga harus diarahkan pada penggunaan teknologi modern dan metode penanganan yang efektif.
  7. Gaya Kepemimpinan: Gaya kepemimpinan yang tepat adalah gaya kepemimpinan yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan keadilan. Pemimpin harus menunjukkan sikap teladan dan mengambil tindakan tegas terhadap tindakan kriminal di dalam Lapas, termasuk tindakan jual beli narkoba. Selain itu, pemimpin juga harus mendorong partisipasi aktif staf dalam memecahkan masalah dan membuat kebijakan yang efektif dalam menangani masalah jual beli narkoba di Lapas.

Dengan menganalisis kasus jual beli narkoba di Lapas dengan menggunakan teori 7S McKinsey, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kasus ini, seperti kebijakan yang tidak jelas, struktur organisasi yang tidak efektif, sistem pengawasan yang kurang memadai, staf yang kurang berkualitas, budaya kerja yang buruk, keterampilan yang kurang memadai, dan gaya kepemimpinan yang tidak tepat.

Baca Juga: Revitalisasi Penyelenggaraan Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan

Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan perubahan dalam semua elemen teori 7S McKinsey agar dapat menciptakan Lapas yang lebih aman dan bebas dari kegiatan jual beli narkoba.

Kasus jual beli narkoba di dalam Lapas perlu mendapat perhatian serius karena dapat menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi masyarakat. Pertama-tama, Lapas bertujuan untuk memperbaiki perilaku dan mempersiapkan narapidana untuk kembali ke masyarakat dengan perilaku yang lebih baik.

Namun, praktik jual beli narkoba di dalam Lapas justru memberikan dampak yang bertentangan dengan tujuan tersebut. Kedua, Lapas dapat menjadi pusat penyebaran narkoba ke masyarakat. Ketika narapidana keluar dari Lapas dengan ketergantungan narkoba, maka kemungkinan besar mereka akan terus menggunakan narkoba di masyarakat dan bahkan bisa menjadi pengedar narkoba.

Hal ini akan berdampak pada meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba dan merusak generasi muda yang menjadi target pasar utama narkoba. Ketiga, praktik jual beli narkoba di dalam Lapas juga bisa memperburuk kondisi keamanan di Lapas.

Narapidana yang terlibat dalam praktik ini bisa memanipulasi staf dan pengawas untuk mempertahankan praktik jual beli narkoba di dalam Lapas. Hal ini tentu sangat membahayakan keamanan di Lapas dan mengancam keselamatan staf, pengunjung, serta narapidana yang tidak terlibat dalam praktik tersebut.

Keempat, kasus jual beli narkoba di dalam Lapas juga dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan dan sistem penegakan hukum.

Ketika Lapas yang seharusnya menjadi tempat pembinaan dan pemulihan menjadi tempat berkumpulnya narapidana yang terlibat dalam praktik kriminal, maka masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap sistem peradilan dan pemerintah sebagai pengelola Lapas.

Oleh karena itu, kasus jual beli narkoba di dalam Lapas perlu mendapat perhatian serius dan tindakan tegas dari pemerintah dan aparat penegak hukum.

Baca Juga: Kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan dan Bagaimana Penanganannya

Perlu ada upaya untuk meningkatkan keamanan di Lapas, meningkatkan kualitas staf dan pengawas, memperbaiki sistem pengawasan dan kebijakan yang jelas, serta mengubah budaya kerja dan gaya kepemimpinan yang tidak tepat agar dapat menciptakan Lapas yang lebih aman dan berkontribusi positif dalam mempersiapkan narapidana untuk kembali ke masyarakat dengan perilaku yang lebih baik.

Penulis: Radith Prayuda Waibawa
Mahasiswa
Manajemen Pemasyarakatan Politeknik Ilmu Pemasyarakatan 

Editor: Ika Ayuni Lestari     

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI