Peran dan Relevansi Nilai-Nilai Pancasila dalam Menghadapi Hoaks melalui Media Sosial di Era Digital

Era Digital
Ilustrasi Era Digital (Sumber: MMI

Abstrak

Perkembangan teknologi informasi daerah digital memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses dan menyebar informasi melalui media sosial. Namun kemudian ini juga menimbulkan isu lain berupa meningkatnya penyebaran hoaks yang dapat menyebabkan kesalahpahaman, konflik sosial, serta mempengaruhi opini publik.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apa peran dan relevansi nilai-nilai pancasila dalam menghadapi dan mencegah penyebaran hoax di era digital, serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membuat hoaks mudah menyebar di media sosial.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi literatur dari berbagai sumber buku dan jurnal ilmiah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran hoaks dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti rendahnya tingkat literasi digital di kalangan masyarakat, kecepatan penyebaran informasi di media sosial, serta kecenderungan pengguna untuk langsung membagikan informasi tanpa melakukan pengecekan fakta.

Dalam mengatasi dan menghadapi permasalahan tersebut penerapan nilai-nilai Pancasila seperti kejujuran, kemanusiaan, persatuan dan sikap bijaksana menjadi pedoman penting dalam menyikapi informasi secara bertanggung jawab.

Selain itu, strategi seperti peningkatan literasi digital, edukasi kepada masyarakat, kebiasaan memverifikasi informasi, serta kerjasama antara pemerintah lembaga Pendidikan, media, dan masyarakat juga diperlukan untuk mengurangi penyebaran hoaks.

Dengan demikian penerapan nilai-nilai Pancasila dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam menggunakan media sosial diharapkan dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Kata Kunci: Pancasila, Hoaks, Media Sosial, Literasi Digital

 

Pendahuluan

Perubahan teknologi informasi di zaman digital telah membawa dampak yang luar biasa dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Peningkatan teknologi ini tidak hanya memengaruhi cara orang berinteraksi, tetapi juga merevolusi cara Masyarakat mendapatkan, mengolah, dan membagikan informasi.

Jaringan internet dan platform media sosial berperan sebagai pendorong utama dalam mempercepat aliran informasi. Melalui beberapa platform digital, masyarakat kini bisa dengan mudah mengakses berita serta berbagai informasi dari berbagai sumber di seluruh dunia.

Sambungan internet dan wadah media sosial memungkinkan informasi tersebar dengan sangat cepat tanpa kekangan ruang dan waktu, sehingga orang orang dapat mengakses berita dari beragam sumber secara seketika. Namun kemudahan itu turut menimbulkan tantangan baru yakni makin meluasnya penyebaran hoaks atau berita palsu dalam lingkungan digital.

Hoaks dapat dijelaskan sebagai berita yang tidak sesuai dengan kebenaran atau dengan sengaja dimanipulasi untuk menciptakan kesalahpahaman di Masyarakat. Jenis informasi ini sering kali disebarkan secara massif melalui platform komunikasi digital, seperti media sosial, situs web, aplikasi pesan instan, dan juga saluran berbagi konten lain (Zaborova & Markova, 2021).

Dalam banyak situasi, hoaks dirancang dengan maksud tertentu, seperti memengaruhi sudut pandang Masyarakat, menciptakan kekuatan, merusak nama baik individu atau kelompok, dan bahkan memecah belah komunitas. Pada zaman digital ini hoaks dapat menjalar amat pesat sebab media sosial memungkinkan informasi dibagikan dalam hitungan detik.

Banyak pemakai internet tanpa sadar turut membagikan informasi yang belum tentu kebenarannya, baik karena minimnya literasi maupun keinginan untuk segera membagikan berita yang dianggap menarik untuk publik. Oleh karena itu, Masyarakat perlu bersikap lebih waspada, kritis, dan bertanggung jawab dalam menerima serta menyebarluaskan informasi agar ruang digital tidak dipenuhi oleh berita yang menyesatkan (Marlina et al., 2022).

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana relevansi penerapan nilai nilai Pancasila dalam menghadapi serta mencegah penyebaran hoaks di era digital, dan (2) dan faktor apa saja yang mempengaruhi hoaks mudah tersebar melalui media sosial di era digital.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran dan relevansi penerapan nilai nilai dalam menghadapi serta mencegah penyebaran haoaks di era digital, dan untuk mengidentifikasi faktor faktor yang menyebabkan hoaks mudah tersebar melalui media sosial di era digital.

 

Landasan Teori

1. Konsep Pancasila sebagai Dasar Nilai dalam Kehidupan Bermasyarakat

Pancasila merupakan dasar negara sekaligus ideologi milik rakyat Indonesia, berfungsi sebagai penuntun dalam hubungan sosial, ciri khas bangsa, dan urusan pemerintahan. Nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila merefleksikan asas moral, etika dan aturan yang menjadi tumpuan saat membentuk perilaku warga.

Pancasila bukan hanya sebagai fondasi negara, tetapi juga berperan sebagai sistem nilai yang menjadi panduan dalam berfikir, bersikap, dan bertindak di kehidupan sehari-hari. Lima sila yang termuat dalam Pancasila menyimpan dasar-dasar penting yang dapat diterapkan pada berbagai sisi kehidupan, meliputi ranah teknologi, informasi, dan komunikasi.

Aspek seperti ketulusan, perikemanusiaan, kesatuan, kearifan, dan pemerataan sosial dapat berperan sebagai arahan etika saat menghadapi berbagai kesulitan pada zaman digital. (Kamilia & Selvianika, 2023)

2. Konsep Hoaks dalam Komunikasi Digital

Hoaks adalah kabar bohong atau berita palsu yang disebar dengan tujuan spesifik, contohnya memengaruhi opini publik, menimbulkan kekacauan, ataupun memicu pertikaian dalam Masyarakat. Dalam zaman komunikasi digital, berita bohong sering kali menyebar melalui wadah media sosial, laman daring, dan aplikasi pesan singkat yang mempermudah penyebaran informasi dengan cepat.

Hoaks atau informasi keliru juga termasuk bagian dari fenomena disinformasi, yang terjadi ketika informasi yang tidak benar disebarkan secara luas tanpa verifikasi yang memadai.

Penyebaran hoaks sering dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk rendahnya tingkat literasi digital, kecepatan penyebaran informasi, serta kecenderungan pengguna media sosial untuk membagikan informasi tanpa melakukan pengecekan kebenaran sebelumnya (Arisanty et al., 2022).

3. Era Digital dan Arus Informasi

Era digital ditandai dengan kemajuan yang cepat dalam teknologi komunikasi dan informasi yang memungkinkan orang untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan tanpa kesulitan.

Jaringan internet dan platform media sosial telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi dari yang dulunya bersifat satu arah menjadi lebih dinamis dan terbuka. Dalam situasi ini, data dapat tersebar dengan cepat sehingga masyarakat harus memiliki kemampuan untuk membedakan antara informasi yang akurat dan yang menipu (Caled & Silva, 2021).

Baca juga: Peran Komunikasi Organisasi dalam Meningkatkan Kualitas SDM: Penguatan Komunikasi Internal di Era Digital

4. Literasi Digital dalam Menghadapi Hoaks

Literasi digital ialah kemampuan individu dalam memperoleh, memahami, menilai, dan memanfaatkan informasi yang berasal dari platform digital dengan cara yang kritis dan bertanggung jawab. Kemampuan ini sangat penting guna menolong masyarakat dalam mengenali serta menjauhi penyebaran berita yang tidak benar.

Literasi digital meliputi kecakapan dalam mengurai dan mengukur data yang diperoleh melalui ranah digital, agar orang dapat memanfaatkan informasi itu dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab. (Bieza, 2020)

5. Relevansi Nilai-Nilai Pancasila dalam Menghadapi Hoaks

Nilai-nilai dalam Pancasila berperan penting dalam menghadapi penyebaran hoaks di era digital. Sila pertama menekankan pentingnya kejujuran, yang mendorong inidvidu untuk menyampaikan informasi yang akurat.

Sila kedua mengajarkan nilai kemanusiaan dengan cara menghormati satu sama lain dan menghindari penyebaran informasi yang bisa merugikan. Sila ketiga menekankan betapa pentingnya menajga persatuan dan tidak cepat terpengaruh oleh berita yang bisa menyebabkan perpecahan.

Sementara itu, sila keempat dan kelima mendorong masyarakat untuk bersikap bijak, kritis, serta membagikan informasi dngan cara yang adil dan bertanggung jawab.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguraikan fenomena penyebaran informasi di zaman palsu di zaman digital serta pentingnya penerapan prinsip-prinsip Pancasila dalam menanganinya. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk memaparkan dan menganalisis suatu fenomena dengan mendalam berdasarkan informasi yang didapat dari berbagai sumber.

Metode pengumpulan data dilaksanakan dengan cara kajian pustaka, yang mencakup studi berbagai sumber seperti buku, jurnal akademis, dan artikel yang relevan dengan Pancasila, hoaks, platform media sosial, dan keterampilan literasi digital. Data yang terkumpul kemudiam dianalisis secara deskriptif untuk menjelaskan hubungan antara nilai-nilai Pancasila dan Upaya dalam mengatasi penyebaran hoaks di era digital.

 

Pembahasan

1. Peran dan Relevansi Nilai-Nilai Pancasila dalam Menghadapi Hoaks di Era Digital

Perkembangan teknologi digital menyebabkan informasi dapat menyebar dengan sangat cepat melalui internet dan media sosial. Hal ini mempermudah terjadinya penyebaran hoaks yang dapat memicu kesalahpahaman dan konflik dalam Masyarakat.

Hoaks tersebut dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif seperti kesalahpahaman, konflik sosial, serta disintegrasi dalam masyarakat. Maka dari itu, sangat penting adanya pedoman nilai yang dapat membantu masyarakat untuk menangani informasi dengan bijak.

Dalam konteks ini, nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila memiliki peranan penting sebagai dasar moral untuk menghadapi penyebaran hoaks di zaman digital. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman moral dalam penggunaan media digital (Supriatna et al., 2024).

Nilai kejujuran yang terkandung dalam sila pertama mendorong individu untuk menyampaikan informasi yang akurat dan menghindari penyebaran berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Prinsip kemanusiaan dalam sila kedua mengajarkan untuk menghargai orang lain serta menghindari penyebaran informasi yang berpotensi merugikan pihak tertentu.

Di samping itu, nilai persatuan dalam sila ketiga mengingatkan kepada Masyarakat agar senantiasa menjaga keharmonisan dan tidak mudah terprovokasi oleh berita yang dapat memecah belah bangsa.

Sila keempat memberikan penekanan pada pentingnya berperilaku bijaksana dan berpikir kritis sebelum menerima maupun menyebarkan suatu informasi. Sementara itu, sila kelima menekankan bahwa keadilan sosial itu krusial, termasuk dalam hal penyebaran informasi yang tidak merugikan orang lain. (Hasanah & Busro, 2023)

Dengan demikian, prinsip-prinsip Pancasila tetap signifikan saat menghadapi bermacam tantangan di zaman digital, termasuk penyebaran berita palsu. Pancasila bukan hanya berperan sebagai fondasi negara, tetapi juga sebagai panduan etika dalam kehidupan sosial. Dengan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam pemanfaatan media digital, diharapkan masyarakat dapat bersikap lebih arif, analitis, dan bertanggung jawab ketika menerima serta membagikan informasi

2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Hoaks Mudah Tersebar melalui Media Sosial di Era Digital

Penyebaran informasi palsu di platform sosial dipengaruhi oleh beberapa elemen. Salah satu elemen kunci adalah rendahnya tingkat pemahaman digital di kalangan masyarakat. Banyak individu pengguna media sosial yang masih kurang memiliki keterampilan untuk memverifikasi kebenaran informasi, sehingga mereka cenderung percaya dan menyebarkan berita yang belum teruji kebenarannya.

Elemen lainnya adalah laju distribusi informasi di media sosial. Informasi bisa disebarkan dengan mudah hanya dengan satu klik, sehingga berita yang tidak akurat dapat dengan cepat dijangkau banyak orang. Di samping itu, faktor emosi juga sering berperan dalam penyebaran informasi palsu.

Berita yang bersifat menggugah atau kontroversial biasanya lebih menarik perhatian dan lebih cepat dibagikan oleh pengguna platform sosial. Selain itu minimnya pemahaman masyarakat tentang signifikansi atau memeriksa sumber informasi juga menjadi salah satu penyebab hoaks mudah tersebar.

Banyak pengguna media sosial yang langsung mempercayai informasi tanpa memastikan atau mengecek keaslian sumbernya (Chandra & Maydian, 2021).

Faktor lain yang juga memengaruhi adalah kemampuan untuk tetap anonim di dunia maya di media sosial seseorang bisa menyebarkan informasi tanpa perlu menunjukkan identitas secara jelas, kondisi ini memungkinkan seseorang atau kelompok tertentu membuat dan menyebarluaskan informasi yang tidak benar dengan sulit untuk ditelusuri.

Penggunaan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan hoaks dapat terjadi karena adanya fitur seperti share dan like di media sosial dapat mempercepat penyebaran hoaks yang seringkali tidak disadari oleh pengguna. Peningkatan literasi digital dan kesadaran masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bijak sangat penting untuk mengurangi penyebaran informasi yang tidak benar di era digital.

3. Tantangan Menghadapi Hoaks melalui Media Sosial di Era Digital

Perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi pada zaman digital telah menyebabkan perubahan signifikan dalam cara orang mendapatkan dan mendistribusikan informasi.

Walaupun ini membawa banyak kemudahan, situasi ini juga menciptakan tantangan besar berupa meningkatnya penyebaran berita bohong atau informasi yang tidak benar. Berita bohong dapat memengaruhi pandangan masyarakat, menimbulkan kebingungan, bahkan dapat memprovokasi konflik di dalam komunitas jika tidak dikelola dengan baik.

Salah satu tantangan utama dalam menghadapi berita bohong adalah rendahnya tingkat pemahaman digital dalam masyarakat. Pemahaman digital merujuk pada kemampuan individu untuk mengevaluasi dan memahami kebenaran informasi yang beredar di internet.

Banyak pengguna platform media sosial yang dengan cepat mempercayai dan menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi sebelumnya. Sebagai hasilnya, informasi yang tidak benar bisa dengan mudah menyentuh banyak orang (Harisanty et al., 2021).

Selain itu, berita yang sifatnya sensasional atau mengundang reaksi emosional juga menjadi salah satu pemicu utama penyebaran hoaks secara cepat. Konten yang dapat memicu emosi seperti kemarahan, ketakutan, atau rasa ingin tahu umumnya lebih menarik perhatian pengguna di platform media sosial.

Hal ini menyebabkan banyak orang membagikan informasi tersebut tanpa melakukan verifikasi terhadap kebenarannya terlebih dahulu. Satu lagi tantangan dalam melawan hoaks adalah anonimitas yang ada di ranah digital.

Di platform media sosial, seseorang dapat menyebarkan informasi tanpa perlu menyebutkan identitasnya secara jelas. Situasi ini membuat individu yang menyebarkan hoaks menjadi sulit untuk dilacak, sehingga distribusi informasi yang salah menjadi semakin sulit untuk dikendalikan.

Karenanya, diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat untuk lebih kritis dan bertanggung jawab saat menggunakan media sosial sehingga penyebaran hoaks dapat dikurangi.

4. Strategi dalam Menghadapi Hoaks Melalui Media Sosial di Era Digital

Penyebaran hoaks di media sosial perlu diatasi dengan berbagai strategi agar informasi yang beredar di masyarakat tetap akurat dan tidak menyesatkan. Salah satu strategi yang penting adalah meningkatkan literasi digital masyarakat.

Literasi digital membantu masyarakat memahami cara menggunakan internet dengan bijaksana serta mampu menilai apakah suatu informasi benar atau tidak. Dengan literasi digital yang baik, masyarakat dapat lebih kritis dalam menerima informasi dari media sosial.

Strategi berikutnya adalah membiasakan masyarakat untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya. Pengguna media sosial perlu memeriksa sumber berita, membandingkan informasi dengan sumber lain yang terpercaya, serta memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Kebiasaan melakukan pengecekan fakta (fact-checking) sangat penting agar masyarakat tidak menjadi bagian dari penyebaran hoaks di media sosial. Selain itu, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat juga penting untuk menghadapi hoaks.

Kegiatan seperti seminar, pelatihan literasi digital, dan kampanye edukasi dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya hoaks. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat belajar mengenali berita palsu dan menggunakan media sosial dengan lebih bijak (Fardiah et al., 2020).

Strategi lainnya adalah melibatkan berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga pendidikan, media, dan masyarakat. Penanganan hoaks memerlukan kerja sama dari semua pihak agar informasi yang salah dapat segera diklarifikasi dan diganti dengan informasi yang benar.

Dengan demikian, menghadapi hoaks dapat dilakukan melalui peningkatan literasi digital, kebiasaan memeriksa informasi, edukasi kepada masyarakat, serta kerja sama berbagai pihak. Upaya ini dapat membantu masyarakat menjadi lebih kritis dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.

 

Penutup

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyebaran hoaks di era digital menjadi tantangan yang serius bagi masyarakat, terutama karena kemudahan dan kecepatan informasi di media sosial. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Penerapan nilai-nilai dalam Pancasila juga memiliki peran penting sebagai pedoman moral agar masyarakat menjunjung kejujuran, tanggung jawab, serta menjaga persatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, peningkatan literasi digital, kebiasaan memverifikasi informasi, serta kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, media, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran hoaks.

Dengan adanya upaya tersebut, diharapkan masyarakat dapat menggunakan media sosial secara lebih kritis, bijak, dan bertanggung jawab sehingga lingkungan digital yang sehat dapat terwujud.

 


Penulis: Rahmadani Widi Chairunnisa
Mahasiswa Tadris Biologi, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon


Dosen Pengampu: Wisnu Hatami, M.Pd


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

Arisanty, M., Febrina, N., Wiradharma, G., & Ginting, E. (2022). Social Media User in Receiving and Sharing Hoax Information: Overview from Motivation Level.  Jurnal Studi Sosial Dan Politik, 6 (1), 80–100. https://doi.org/10.19109/jssp.v6i1.12238

Biezā, K. E. (2020). Digital Literacy: Concept and Definition. 11 (2), 1–15. https://doi.org/10.4018/IJSEUS.2020040101

Caled, D., & Silva, M. J. (2021). Digital media and misinformation: An outlook on multidisciplinary strategies against manipulation. 1–37. https://doi.org/10.1007/S42001-021-00118-8

Chandra, Y. U., & Maydian, N. (2021). Factors Influencing Disinformation on Social Media: A Systematic Literature Review. https://doi.org/10.1109/ICIMTECH53080.2021.9535001

Fardiah, D., Rinawati, R., Darmawan, F., Abdul, R., & Lucky, K. (2020). Media Literacy for Dissemination Anticipated Fake News on SocialMedia. 13 (2), 278–289. https://doi.org/10.29313/MEDIATOR.V13I2.6624

Harisanty, D., Srirahayu, D. P., Anna, N. E. V., Mannan, E. F., Anugrah, E. P., Nurpratama, M. R., & Dina, N. Z. (2021). Socialization of digital literacy education to anticipate hoax news. Distributed Computing, 3 (1), 33 – 37. https://doi.org/10.20473/DC.V3.I1.2021.33-37

Hasanah, U., & Busro, B. (2023). Hold Your Fingers: The Communication Ethics on WhatsApp Based on the Hadith. https://doi.org/10.17576/jkmjc-2023-3903-13

Juditha, C. (2020). Perilaku Masyarakat terkait penyebaran hoaks di media sosial. Jurnal Pekommas.

Kaelan. (2013). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma

Kamiliya, S., & Selvianika, S. (2023). The Decline of the Function of Pancasila as the Moral of the Nation and the Basis of the State. 1 (02), 72–77. https://doi.org/10.58812/eslhr.v1i02.56

Marlina, M., Desiana, D., Fitri, S., Rahmah, R. A., & Marzuki, A. G. (2022). Digital literacy in minimizing the spread of hoax news. INTERNATIONAL CONFERENCE ON RESEARCH AND DEVELOPMENT (ICORAD), 1 (1), 74–79. https://doi.org/10.47841/icorad.v1i1.11

Nasrullah, R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi.    Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Putri, Y.K., & Ardoni. (2024). Pengaruh literasi digital terhadap pencegahan penyebaran hoaks di             media sosial. Jurnal Pendidikan Tambusai.

Setiawan, D. (2017). Literasi digital dan tantangan di era informasi. Jurnal Ilmu Komunikasi. Zaborova, E., & Markova, T. (2021). New paradigms and challenges of social life in the information and digital era. 291 , 04009. https://doi.org/10.1051/E3SCONF/202129104009

Supriatna, C., Bahani1, F. N., Ramzar, F. A., Hakim, L. M. F. N., Kholid, M. H., Dzakwan, R. M., & Furnamasari, Y. F. (2024). Eksistensi Nilai-Nilai Pancasila di Era Society 5.0. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5 (2), 2570–2578. https://doi.org/10.54373/imeij.v5i2.1085

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses