Problematika Pendidikan Selama Pandemi Covid-19

problematikan pendidikan

Pandemi Covid-19 yang mengakibatkan peningkatan pasien positif setiap harinya membuat aktivitas belajar-mengajar terpaksa dilakukan secara daring atau online. Lembaga Pendidikan sudah mengeluarkan pengumuman resmi tempo lalu mengenai ditiadakannya pembelajaran secara langsung dan digantikan oleh daring. Namun, dalam praktiknya apakah pembelajaran daring ini dapat berjalan dengan lancar di seluruh wilayah Indonesia? Apakah semua siswa bisa mengikuti kegiatan tersebut tanpa hambatan? Ini tentu menjadi problematika pendidikan selama pandemi Covid-19.

Nyatanya, Indonesia bisa kita kategorikan belum siap melakukan pembelajaran daring. Jaringan internet yang masih belum merata menjadi salah satu alasan yang sangat nyata dan konkret. Data dari Speedtest global Index tahun 2019 menyatakan bahwa, kecepatan koneksi internet di Indonesia berada di posisi 122 dunia, dengan rata-rata kecepatan mengunduh 17,02 Mbps dan mengunggah sebesar 10,44 Mbps. Hal tersebut cukup ironis karena Indonesia yang “katanya” sudah termasuk list negara maju masih berada di posisi buncit untuk masalah kecepatan internet.

Memang benar, di perkotaan dapat merasakan jaringan yang cukup bagus, namun sayang sekali hal tersebut berbeda ketika berada di daerah pedesaan karena sinyal internet tidaklah sebagus di kota. Faktor kecepatan internet ini sangat penting dalam mendukung kegiatan belajar mengajar secara jarak jauh. Bagaimana bisa pembelajaran daring berjalan dengan lancar apabila kecepatan internet masih belum baik. Hal tersebut pastinya akan menghambat dan membuat kegiatan belajar mengajar kurang efektif.

Faktor lainnya datang dari pihak pengajar yang mungkin saja kurang begitu terbiasa dengan sistem online atau komputerisasi. Tidak semua guru dapat mengoperasikan komputer dengan baik karena terkadang mereka agak kesusahan dengan perkembangan aplikasi-aplikasi yang ada. Guru yang sudah sepuh misalnya, mereka lebih mudah mengajar secara langsung di kelas dibandingkan dengan mengajar secara daring. Hal itu mengakibatkan banyak materi yang harusnya disampaikan oleh guru berubah menjadi tugas-tugas yang harus dikerjakan dan dipelajari sendiri oleh siswa.

Lantas, apakah pembelajaran secara daring ini menjadi solusi pendidikan untuk saat ini atau malah menimbulkan permasalahan baru, timbul strata sosial, dan ketidakadilan? Jika kita lihat, tidak semua sekolah di Indonesia mempunyai website atau portal pembelajarannya masing-masing. Mungkin hanya segelintir sekolah saja yang memilikinya, sehingga ketika mereka hendak melakukan kelas daring harus menggunakan jasa aplikasi pihak ketiga yang memberikan fitur mumpuni.

Jangan sampai pembelajaran daring ini hanya sekedar menjadi ajang pemberian informasi tugas sekolah saja tanpa adanya materi pembelajaran dari guru. Jangan sampai siswa belajar tanpa kontrol dari seorang guru. Masih belum bisa disebut pembelajaran daring apabila kegiatannya hanya sebagai penjembatanan akan tugas-tugas sekolah.

Melihat dari sudut pandang orang yang berada di pedesaan, mereka tentu akan terbebani karena sinyal-sinyal di daerah pedesaan masih belum cukup untuk mendukung sistem belajar. Siswa dari keluarga kurang mampu juga terbebani apabila mereka perlu membeli kuota internet lebih untuk belajar. Jikalau ada siswa yang masih belum mempunyai smartphone, mereka tidak bisa pula mengikuti kelas daring tersebut. Sehingga pada akhirnya sangat sulit untuk merealisasikan Pendidikan berbasis daring di daerah yang susah sinyal.

Pemerintah harus menyadari kondisi internet di Indonesia dan semua problematika ini. Jangan sampai secara langsung menginstruksikan untuk belajar secara secara daring tanpa memberikan suatu bentuk keringanan & bantuan untuk hal tersebut. Memang benar, sempat diberitakan bahwasanya beberapa provider memberikan akses gratis 30GB paket data untuk mendukung kegiatan ini. Namun, hal tersebut hanya bisa digunakan untuk beberapa aplikasi belajar dan portal beberapa universitas saja dan lebih terkesan iklan sebuah layanan aplikasi.

Alangkah lebih baik jika pemerintah menyediakan bantuan berupa paket data untuk menunjang kebutuhan belajar mengajar selama masa karantina Covid-19 ini. Hal tersebut akan sangat membantu bagi teman-teman yang sekiranya kesusahan dalam mendapatkannya karena harga paket internet di Indonesia masih tergolong mahal. Meskipun koneksi yang tidak stabil setidaknya ada kompensasi yang diberikan oleh pemangku kebijakan negeri ini.

Mau tidak mau, di situasi seperti ini kita semua tidak mempunyai pilihan lain selain melakukan pembelajaran daring. Pembelajaran jarak jauh yang baik adalah pembelajaran dengan interaksi antara guru dan siswa. Salah satu hal yang dapat dilakukan yaitu melalui video call. Dengan ini guru tidak serta-merta menginstruksikan tugas saja ke siswanya. Mereka juga harus memberikan arahan, bimbingan, dan penjelasan kepada siswanya.

Forum-forum diskusi juga harus tetap ada di situasi saat ini. Kalau tidak bisa melakukan secara video call, melalui chat sudah lebih baik dari pada tidak sama sekali. Selain itu, karena buruk dan kurang stabilnya tingkat koneksi internet di Indonesia, para guru juga bisa merekam penjelasannya dan mengirimkannya kepada para siswa. Kita semua paham, di era sekarang sangat mudah untuk melakukan file sharing, termasuk halnya mengirimkan video.

Kita semua juga harus saling memahami di situasi yang seperti ini. Salah satu hal yang bisa kita semua lakukan saat ini yaitu membantu mengampanyekan model-model pembelajaran daring yang bisa di terapkan dalam situasi saat ini. Tentunya kampanye dan penyuluhan ke pihak guru akan sangat membantu dalam memaksimalkan pembelajaran daring ini. Terutama pada pengajar yang kurang begitu lihai dalam hal komputerisasi.

Dari semua problematik yang ada dapat kita ambil kesimpulan bahwasannya negara kita masih belum bisa dikatakan siap untuk melakukan pembelajaran berbasis daring. Oleh karenanya, berupaya memanfaatkan fasilitas yang tersedia dan berusaha untuk membantu satu sama lain adalah cara paling bijak yang bisa dilakukan saat ini untuk mendukung proses pembelajaran. Tidak ada yang tahu kapan pandemik ini akan berakhir dan tidak ada pilihan lain yang bisa kita ambil selain melakukan pembelajaran jarak jauh. Seperti kata Nadiem Makarim, “Teknologi adalah tools, hanya suatu alat, bukan segalanya. Kualitas pembelajaran dalam kelas, interaksi antara guru dan murid itu esensinya” semoga pandemik ini segera berakhir di negeri ini dan kegiatan pembelajaran dapat dilakukan secara normal seperti biasanya.

Jauharul Arifin
Mahasiswa Sampoerna University

Baca juga:
Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia, Padahal Pendidikan adalah Senjata
Pendidikan Karakter Berbasis Qur’an
Pentingnya Pendidikan Karakter Menuju Indonesia Maju, Indonesia Emas

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI