Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa Jepang dapat terlibat secara militer jika China menyerang Taiwan. Pernyataan kontroversial ini langsung memicu kemarahan Beijing, yang merespons dengan menjatuhkan sanksi ekonomi serta diplomatik kepada politisi Jepang.
Dampaknya instan; saham Jepang di sektor pariwisata dan maskapai penerbangan langsung kolaps. Hubungan bilateral yang telah dijaga dengan hati-hati selama puluhan tahun hancur dalam sekejap.
Taiwan adalah sebuah pulau demokratis berpopulasi 23 juta jiwa yang telah mengatur pemerintahannya sendiri sejak 1949. Namun, Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah China yang harus disatukan kembali. Bagi China, ini adalah isu kedaulatan nasional yang tidak dapat ditawar.
Di sisi lain, Amerika Serikat berada di posisi yang sulit; mereka ingin membela Taiwan, tetapi di saat yang sama ingin menghindari perang terbuka dengan China yang merupakan kekuatan superpower nuklir.
Ketegangan di kawasan terus berkembang pesat. Pada November 2025, AS mengecam China karena mengarahkan radar militer ke pesawat Jepang di dekat Okinawa, yang direspons Jepang dengan mengerahkan jet tempur untuk membayangi pesawat China.
Memasuki Desember 2025, Rusia mulai menunjukkan solidaritasnya kepada China melalui patroli gabungan pesawat strategis Tu-95 berkapasitas nuklir bersama bomber China H-6 di Pasifik.
Ini menjadi sinyal jelas bahwa Moskow berdiri di belakang Beijing. Tidak ketinggalan, Korea Utara juga mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Jepang, sementara China terus melindunginya dari sanksi PBB.
Delapan puluh tahun setelah Perang Dunia II, ketiga negara ini masih memiliki perselisihan wilayah yang belum selesai. Kepulauan Diaoyu (Senkaku) diklaim oleh China dan Jepang, sedangkan Kepulauan Dokdo diklaim oleh Korea Selatan dan Jepang. Selain itu, warisan sejarah penjajahan Jepang yang dinilai belum ditangani secara memadai tetap menjadi luka lama yang sewaktu-waktu dapat terbuka kembali.
Jika konflik bersenjata pecah, dampaknya akan terasa secara global. Jepang, China, dan Korea Selatan adalah produsen utama teknologi dunia. Jika perang terjadi, rantai pasok global akan terputus dalam hitungan minggu, menyebabkan pabrik-pabrik di seluruh dunia berhenti beroperasi dan memicu resesi ekonomi global yang parah.
Di sektor energi, China sangat bergantung pada Selat Malaka untuk 80 persen impor energinya. Jika jalur laut ini terganggu, harga minyak dunia akan melonjak drastis, mengguncang ekonomi negara-negara importir seperti Indonesia. Kawasan ASEAN secara keseluruhan akan mengalami hantaman ekonomi yang hebat.
Dunia harus bertindak sekarang. AS, China, Jepang, dan Taiwan harus segera duduk bersama di meja perundingan. Setiap pihak wajib memperjelas “garis merah” yang tidak boleh dilanggar. AS harus menjaga keseimbangan antara mendukung Taiwan dan menghindari konfrontasi militer dengan China.
ASEAN juga harus mengambil peran aktif sebagai mediator, di mana Indonesia, Malaysia, dan Singapura perlu memperkuat kerja sama keamanan di Selat Malaka. Di saat yang sama, media massa diharapkan tidak bersikap sensasional dan masyarakat tidak panik.
Kita tidak boleh mengabaikan peringatan sejarah. Perang Dunia I dan Perang Dunia II dimulai dari ketegangan regional yang gagal dikelola dengan baik. Kini, Asia Timur berdiri di ambang konflik besar dengan aliansi militer yang saling berhadapan, persengketaan wilayah yang belum tuntas, serta sentimen nasionalisme yang kian memanas.
Meskipun Perdana Menteri Takaichi menyatakan bahwa Jepang mencari perdamaian dan bukan perang, pernyataannya justru meningkatkan risiko konflik di lapangan. Perdamaian di Asia Timur adalah kepentingan global, bukan sekadar isu regional.
Jika perang pecah, tidak ada satu pun negara yang akan kebal dari dampaknya. Indonesia harus mengambil peran aktif dalam upaya diplomasi damai ini sebelum semuanya terlambat.
Perdamaian adalah sebuah pilihan, bukan kebetulan. Pilihan itu harus diambil sekarang juga. Dunia kini menunggu kepemimpinan yang berani untuk menyelesaikan konflik ini secara damai. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan generasi masa lalu. Perdamaian harus menang.
Penulis: Theresia M Ramela
Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












