Akulturasi Budaya dan Agama di Kalimantan Selatan

budaya kalimantan selatan
Foto: Instagram @yuyayuu

Indonesia dikenal dengan keanekaragaman suku, budaya dan tradisi nya. Ada yang merupakan budaya asli Indonesia dan ada juga yang terbentuk dari proses akulturasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi.

Adapun akulturasi budaya menurut Abd. Aziz Faiz, S.Sos., M.Hum yang merupakan dosen sosiologi agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kelompok kebudayaan lain dihadapkan dengan unsur unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilang nya kebudayaan itu sendiri.

Bacaan Lainnya
DONASI

Salah satu contoh akulturasi budaya di Indonesia adalah perpaduan antara tradisi lokal dan Budaya Hindu-Kaharingan dengan ajaran Islam, lebih khusus yang terjadi di Kalimantan Selatan tempat saya tinggal.

Kalimantan dikenal dengan suku dayak yang mempuyai kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang sedangkan dinamisme adalah kepercayaan yang meyakini adanya perkara ghaib yang ada pada benda-benda seperti batu, api, keris, pohon beringin dsb.

Masuknya Islam di Kalimantan Selatan diawali oleh para pedagang Gujarat Arab dan pedagang China tetapi tidak lantas merubah seluruh kebudayaan yang ada. Islam hanya menghapuskan tradisi yang bertentangan degan aqidah, adapun tradisi yang tidak bertentangan akan tetap dipertahankan dan dilestarikan .

Contoh akulturasi budaya yang banyak dijumpai di Kalimantan Selatan adalah: Hadrah, Rudat, Batapung Tawar, Bubur Asy Syura, Aruh Ganal, Madihin, Baarwahan, Bahaulan, Basunat, dan Baayun Maulud.

Adapun Tradisi Baayun Maulud adalah perpaduan antara budaya lokal, budaya Hindu, dan budaya Islam. Baayun Maulud terdiri dari dua kata yaitu Baayun (ayunan) dan Maulud (peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW) sehingga baayun maulud mempunyai arti kegiatan mengayun anak (bayi) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW .

Tradisi ini berasal dari kepercayaan nenek moyang terdahulu yaitu kepercayaan kaharingan (Dayak pedalaman) yang memiliki nama tradisi Bapalas Bidan dan kepercayaan Hindu yang memiliki nama tradisi Baayun Wayang.

Dahulu tradisi ini dilaksanakan karena orang orang saat itu percaya bahwa seorang anak yang lahir tidak sendirian melainkan disertai dengan empat saudara ghaib nya yaitu Tubaniah, Tambuniah Kamariah, dan Uriah.

Kemudian agar si anak tidak sakit akibat diganggu saudara ghaib nya, maka ia harus diayun dan diberi tapung tawar  biasanya menggunakan daun pandan atau daun pisang dengan cara memercikkan air yang dibacakan doa atau mantra mantra tertentu).

Tradisi ini awalya hanya terdapat di desa Banua Halat yang dilaksanakan secara turun temurun, lalu tradisi ini berkembang dan dilaksanakan di seluruh daerah di Kalimantan Selatan.

Sampai saat ini tradisi itu masih ada, hanya saja dilakukan dengan bentuk baru yang sudah mengalami proses akulturasi dengan budaya islam. Pembacaan doa atau mantra tadi diganti dengan pembacaan ayat suci Al Quran atau shalawat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Selain itu, orang-orang Dayak Kaharingan mempunyai kebiasaan melaksanakan sebuah upacara yang bernama ”Aruh ganal“. Aruh artinya perayaan atau selamatan, sedangkan Ganal artinya besar. Jadi aruh ganal berarti perayaan atau selamatan besar.

Kegiatan utama dalam upacara aruh ganal itu biasa nya dilaksanakan selama sepekan di Balai Adat dengan adanya pembacaan mantra-mantra dari para Balian (tokoh besar orang Dayak) dan disertai dengan Baayun atau Maayun anak.

Maka setelah Islam masuk dan banyak masyarakat yang memeluk ajaran Islam, terutama orang orang Dayak di desa Banua Halat. Tradisi ini mengalami proses akulturasi dan dinamai lah upacara Baayun Maulud yang dirangkaikan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam setiap tanggal 12 Rabiul Awal.

Tujuan dilaksanakannya Baayun Maulud adalah agar anak dapat meneladani akhlak dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.

Peserta Baayun Maulud sendiri tidak hanya anak-anak melainkan ada juga orang dewasa dikarenakan niat atau nazar tertentu. Misal apabila doanya terkabul atau ia sembuh dari suatu peyakit maka ia akan Baayun Maulud.

Selain itu, ada juga karena semata mata berharap akan kesehatan, keselamatan dan keberkahan atas kemuliaan nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dalam tradisi ini, orang yang diayun biasanya dibacakan syair-syair Maulid Habsyi. Pada saat pembacaan Asyraqal orang-orang berdiri dan anak diayunkan secara perlahan.

Alat dan bahan yang digunakan saat Baayun Maulud ada tiga kain yaitu kain kuning, kain Sarigading (kain Sasirangan khas Banjar), dan Tapih Bahalai (kain atau sarung panjang khas Banjar).

Biasa nya ayunan dihiasi dengan anyaman janur pohon nipah yang digantung di ayunan dalam berbagai bentuk. Tali ayunan dihiasi dengan bunga melati dan kenanga.

Ada pula Wadai (kue) cucur dan Wadai (kue) cincin khas Banjar serta lakatan (nasi lamak) dan tape ketan. Syarat agar bisa melaksanakan tradisi Baayun Maulud ini adalah menyiapkan Piduduk (makanan) contoh nya seperti beras 3,5 liter, jarum, gula habang ( gula merah ), hintalu hayam (telur ayam kampung), nyiur (kelapa), benang, binggul (uang receh), dan uyah (garam). Semua prosesi dilaksanakan dan dipatuhi oleh masyarakat yang merupakan perwujudan dari akulturasi yang harus dilestarikan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa akulturasi budaya yang terjadi di Indonesia khususnya di Kalimantan Selatan membawa dampak positif bagi masyarakat, yaitu tetap lestarinya kebudayaan lokal yang disesuaikan dengan ajaran Islam.

Gusti Anagia Dita Farhatun
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Baca juga:
Pengaruh Wabah Covid-19 Terhadap Kebudayaan Masyarakat
Pasar Jajan Tradisional Kampung Budaya Polowijen Mampu Dongkrak Ekonomi Kreatif
Memahami Makna Kematian dalam Tradisi Dayak Bahau

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI