Kamu pasti sudah tahu, budaya di Kalimantan Selatan bukan hanya sekadar tarian, pakaian adat, atau upacara tradisional. Lebih dari itu, ia adalah hasil perjalanan panjang interaksi antara penduduk lokal, pendatang, dan pengaruh agama yang beragam.
Di wilayah ini, kita bisa menemukan berbagai contoh akulturasi yang begitu kaya, mulai dari tradisi pernikahan, ritual keagamaan, hingga seni pertunjukan.
Sejak dulu, budaya di Kalimantan Selatan berkembang seiring masuknya berbagai agama seperti Islam, Hindu, dan Budha, yang masing-masing membawa unsur kebudayaan baru. Proses ini melahirkan tradisi unik yang tetap berakar pada kearifan lokal namun dibalut nilai-nilai dari luar.
Artikel ini akan mengajak kamu menyelami makna akulturasi, mengenal agama di Kalimantan Selatan, memahami kebudayaan yang ada di Kalimantan Selatan, hingga melihat bukti nyata keragaman budaya yang terbentuk dari percampuran itu. Semua dibungkus dengan gaya bahasa ringan dan mudah dipahami.
1. Pengertian Akulturasi
Akulturasi adalah proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling memengaruhi, tanpa menghilangkan unsur asli dari budaya yang ada. Di Kalimantan Selatan, akulturasi bisa kita lihat dari cara masyarakat menggabungkan nilai-nilai tradisi Banjar dengan ajaran agama, khususnya Islam.
Dalam contoh akulturasi dalam sosiologi, fenomena ini dianggap sebagai bentuk adaptasi yang sehat. Masyarakat tidak hanya menerima budaya luar, tetapi juga menyesuaikannya dengan identitas mereka sendiri. Inilah yang membuat budaya Kalimantan tetap hidup, meskipun terus berubah seiring waktu.
Banyak contoh akulturasi budaya yang kita jumpai di kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan pakaian adat dalam acara keagamaan, atau ritual pernikahan yang memadukan unsur adat dan agama.
Apa itu akulturasi?
Akulturasi adalah proses ketika suatu kelompok masyarakat mengadopsi unsur-unsur dari budaya lain, tetapi tetap mempertahankan ciri khas budayanya sendiri. Misalnya, masyarakat Banjar tetap melestarikan batik sasirangan meskipun mendapat pengaruh dari busana Muslim.
Akulturasi dalam sosiologi
Dalam sosiologi, contoh akulturasi dalam sosiologi adalah proses pertukaran budaya yang menghasilkan perpaduan baru. Di Kalimantan Selatan, ini bisa terlihat pada upacara adat yang menggabungkan doa-doa Islam dengan tradisi leluhur.
Baca juga: Paru-Paru Dunia: Kalimantan dan Tantangannya
2. Agama di Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan dikenal sebagai daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, agama yang ada di Kalimantan Selatan tidak hanya Islam, tetapi juga Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan kepercayaan lokal seperti Kaharingan di beberapa komunitas.
Keberagaman ini memberi warna tersendiri bagi kehidupan sosial. Misalnya, perayaan Maulid Nabi di Banjarmasin sering kali dipadukan dengan tradisi Banjar, seperti arak-arakan perahu hias di sungai.
Selain itu, agama menjadi salah satu faktor penting yang mendorong terjadinya akulturasi budaya. Contoh akulturasi budaya Islam di Kalimantan Selatan adalah penggunaan bahasa Arab dalam doa yang dibacakan pada acara adat Banjar.
Agama yang ada di Kalimantan Selatan
- Islam (mayoritas)
- Kristen Protestan
- Katolik
- Hindu
- Budha
- Kepercayaan lokal
Peran agama dalam akulturasi budaya
Agama bukan hanya mengatur ibadah, tetapi juga memengaruhi seni, tata cara hidup, dan upacara adat. Contohnya, pernikahan adat Banjar yang tetap mempertahankan prosesi “batapung tawar” meski mengikuti akad nikah Islam.
Baca juga: Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia ke Kalimantan Timur
3. Budaya dan Kearifan Lokal di Kalimantan Selatan
Budaya Kalimantan Selatan adalah perpaduan dari kearifan lokal suku Banjar, Dayak, dan etnis pendatang. Kebudayaan Kalimantan Selatan mencakup seni tari, seni musik, busana adat, kuliner, hingga sistem nilai yang dipegang teguh oleh masyarakatnya.
Salah satu yang terkenal adalah tapih sarigading, kain khas Banjar yang digunakan dalam berbagai acara resmi. Ada pula tradisi ganal yang merupakan bentuk pesta adat besar.
Kearifan lokal Kalimantan Selatan terlihat dalam cara masyarakat menjaga lingkungan, seperti membuat rumah panggung untuk menghadapi banjir, atau tradisi “batapung tawar” yang diyakini membawa berkah.
Kebudayaan Kalimantan Selatan
Termasuk tari Radap Rahayu, musik Panting, kuliner seperti Soto Banjar, dan upacara seperti Aruh Ganal.
10 Kearifan lokal di Kalimantan Selatan
- Batapung Tawar
- Tapih Sarigading
- Ganal
- Ayunan bayi khas Kalimantan
- Tapih Bahalai
- Bapalas
- Aruh Ganal
- Upacara Bapalas Bidan
- Aruh Baharin
- Rumah panggung Banjar
4. Contoh Akulturasi Budaya dan Agama di Kalimantan Selatan
Proses akulturasi di Kalimantan Selatan banyak terlihat pada contoh akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal. Misalnya, tradisi Maulid Habsyi yang disertai makan bersama hidangan khas Banjar.
Selain itu, ada juga pengaruh Hindu-Budha pada masa lampau yang masih bisa ditemukan dalam pola ukiran rumah Banjar dan simbol-simbol pada seni hias.
5–10 contoh akulturasi budaya di Kalsel
- Pernikahan adat Banjar + akad nikah Islam
- Maulid Nabi + arak-arakan perahu
- Batapung Tawar + doa Islam
- Tapih Sarigading pada acara keagamaan
- Musik Panting di acara Maulid
- Rumah panggung + ornamen Hindu-Budha
- Tradisi gotong royong + acara selamatan
- Pesta panen + doa bersama
- Khataman Al-Qur’an + jamuan adat
- Aruh Ganal + pengajian
5. Bukti Keragaman dan Akulturasi
Keragaman budaya di Kalimantan Selatan bukan sekadar cerita di buku sejarah. Kamu bisa melihatnya langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dari pasar tradisional hingga acara pernikahan, ada banyak bukti keragaman budaya akulturasi di Kalimantan Selatan yang nyata.
Misalnya, saat menghadiri hajatan di daerah Banjar, kamu akan melihat prosesi adat yang diiringi doa-doa Islami, hidangan khas Banjar seperti nasi kuning, dan pakaian tradisional yang dipadukan dengan busana Muslim modern. Semua ini adalah contoh akulturasi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Jika kita bandingkan dengan daerah lain, bukti keragaman budaya akulturasi di Indonesia juga banyak. Di Jawa, misalnya, tradisi Sekaten memadukan adat keraton dengan perayaan Maulid Nabi. Di Bali, budaya Hindu berpadu dengan tradisi lokal pra-Hindu yang menghasilkan ritual unik.
Bukti keragaman budaya akulturasi di Kalimantan Selatan
- Aruh Ganal yang memadukan doa Islam dengan tradisi panen padi.
- Batapung Tawar dalam acara keagamaan.
- Khataman Al-Qur’an yang diiringi prosesi adat Banjar.
Bukti keragaman budaya akulturasi di Indonesia
- Sekaten di Jawa Tengah.
- Gereja Katedral Jakarta dengan arsitektur bergaya kolonial dan elemen lokal.
- Festival Tabuik di Sumatera Barat.
Bukti keragaman budaya di tempat tinggal kalian
Kamu bisa mulai dengan melihat acara adat di lingkunganmu. Apakah ada tradisi lokal yang dipadukan dengan ajaran agama atau pengaruh budaya luar? Itulah salah satu bukti akulturasi yang dekat dengan kita.
6. Upacara Adat dan Tradisi Khas Kalsel
Upacara adat di Kalimantan Selatan sangat beragam. Setiap acara punya makna, simbol, dan tata cara yang diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak di antaranya merupakan hasil akulturasi, di mana unsur agama menyatu dengan kearifan lokal.
Upacara adat yang ada di Kalimantan Selatan mencakup prosesi kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Ada juga acara besar seperti Aruh Ganal, yang awalnya merupakan pesta panen, kini dibuka dengan doa-doa Islami.
Tradisi khas Kalimantan Selatan juga terlihat pada kesenian, seperti tari Radap Rahayu yang dulunya dipentaskan untuk menyambut tamu penting, kini digunakan dalam berbagai acara resmi daerah.
Upacara adat di Kalimantan Selatan
- Aruh Ganal
- Bapalas Bidan
- Batapung Tawar
- Aruh Baharin
- Aruh Adat Panen
Tradisi dan budaya khas Kalimantan Selatan
- Seni musik Panting
- Tari Radap Rahayu
- Pembuatan tapih sarigading
- Kuliner Soto Banjar dan kue-kue tradisional
- Perahu hias dalam perayaan Maulid Nabi
7. Dampak dan Hasil Akulturasi
Akulturasi budaya dan agama membawa banyak dampak positif. Di Kalimantan Selatan, proses ini membuat budaya semakin kaya dan beragam. Masyarakat jadi punya identitas yang unik, menggabungkan warisan leluhur dengan nilai-nilai modern dan ajaran agama.
Dampak positifnya antara lain memperkuat rasa persatuan, memperkaya seni dan tradisi, serta meningkatkan toleransi antarumat beragama. Namun, ada juga potensi konflik jika perbedaan budaya dan keyakinan tidak dikelola dengan bijak.
Beberapa tradisi bahkan dianggap bertentangan dengan kesehatan, misalnya kebiasaan makan makanan tertentu yang tinggi gula atau lemak dalam acara adat, atau penggunaan bahan berbahaya dalam ritual tertentu.
Dampak positif akulturasi budaya dan agama
- Memperkaya seni dan tradisi.
- Meningkatkan toleransi antarbudaya.
- Memperkuat identitas lokal.
Warisan budaya hasil akulturasi
- Rumah Banjar dengan ornamen Islam dan Hindu-Budha.
- Sasirangan motif religi.
- Tradisi Aruh Ganal yang dimodifikasi.
Potensi konflik atau tradisi yang bertentangan dengan kesehatan
- Makanan tinggi gula pada acara adat.
- Penggunaan asap berlebihan saat ritual.
- Tradisi mandi di sungai yang tercemar.
8. Kesimpulan
Akulturasi budaya dan agama di Kalimantan Selatan adalah proses panjang yang melibatkan percampuran nilai-nilai lokal dengan ajaran agama serta pengaruh luar. Hasilnya adalah kekayaan tradisi, kearifan lokal, dan seni yang tidak ternilai.
Keragaman ini menjadi bukti bahwa perbedaan justru bisa menghasilkan sesuatu yang indah jika dijalani dengan rasa saling menghargai. Dari contoh akulturasi budaya Islam, pengaruh Hindu-Budha, hingga perpaduan adat dan modernitas, semua membentuk identitas Kalimantan Selatan yang unik.
Kamu juga bisa ikut menjaga dan melestarikan warisan ini. Mulai dari mempelajari sejarahnya, ikut dalam upacara adat, hingga mengajarkan nilai-nilainya pada generasi berikutnya. Karena pada akhirnya, akulturasi bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga masa depan budaya kita.
Indonesia dikenal dengan keanekaragaman suku, budaya dan tradisi nya. Ada yang merupakan budaya asli Indonesia dan ada juga yang terbentuk dari proses akulturasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akulturasi adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi.
Adapun akulturasi budaya menurut Abd. Aziz Faiz, S.Sos., M.Hum yang merupakan dosen sosiologi agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kelompok kebudayaan lain dihadapkan dengan unsur unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilang nya kebudayaan itu sendiri.
Salah satu contoh akulturasi budaya di Indonesia adalah perpaduan antara tradisi lokal dan Budaya Hindu-Kaharingan dengan ajaran Islam, lebih khusus yang terjadi di Kalimantan Selatan tempat saya tinggal.
Kalimantan dikenal dengan suku dayak yang mempuyai kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang sedangkan dinamisme adalah kepercayaan yang meyakini adanya perkara ghaib yang ada pada benda-benda seperti batu, api, keris, pohon beringin dsb.
Masuknya Islam di Kalimantan Selatan diawali oleh para pedagang Gujarat Arab dan pedagang China tetapi tidak lantas merubah seluruh kebudayaan yang ada. Islam hanya menghapuskan tradisi yang bertentangan degan aqidah, adapun tradisi yang tidak bertentangan akan tetap dipertahankan dan dilestarikan .
Contoh akulturasi budaya yang banyak dijumpai di Kalimantan Selatan adalah: Hadrah, Rudat, Batapung Tawar, Bubur Asy Syura, Aruh Ganal, Madihin, Baarwahan, Bahaulan, Basunat, dan Baayun Maulud.
Adapun Tradisi Baayun Maulud adalah perpaduan antara budaya lokal, budaya Hindu, dan budaya Islam. Baayun Maulud terdiri dari dua kata yaitu Baayun (ayunan) dan Maulud (peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW) sehingga baayun maulud mempunyai arti kegiatan mengayun anak (bayi) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dan kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW .
Tradisi ini berasal dari kepercayaan nenek moyang terdahulu yaitu kepercayaan kaharingan (Dayak pedalaman) yang memiliki nama tradisi Bapalas Bidan dan kepercayaan Hindu yang memiliki nama tradisi Baayun Wayang.
Dahulu tradisi ini dilaksanakan karena orang orang saat itu percaya bahwa seorang anak yang lahir tidak sendirian melainkan disertai dengan empat saudara ghaib nya yaitu Tubaniah, Tambuniah Kamariah, dan Uriah.
Kemudian agar si anak tidak sakit akibat diganggu saudara ghaib nya, maka ia harus diayun dan diberi tapung tawar biasanya menggunakan daun pandan atau daun pisang dengan cara memercikkan air yang dibacakan doa atau mantra mantra tertentu).
Tradisi ini awalya hanya terdapat di desa Banua Halat yang dilaksanakan secara turun temurun, lalu tradisi ini berkembang dan dilaksanakan di seluruh daerah di Kalimantan Selatan.
Sampai saat ini tradisi itu masih ada, hanya saja dilakukan dengan bentuk baru yang sudah mengalami proses akulturasi dengan budaya islam. Pembacaan doa atau mantra tadi diganti dengan pembacaan ayat suci Al Quran atau shalawat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Selain itu, orang-orang Dayak Kaharingan mempunyai kebiasaan melaksanakan sebuah upacara yang bernama ”Aruh ganal“. Aruh artinya perayaan atau selamatan, sedangkan Ganal artinya besar. Jadi aruh ganal berarti perayaan atau selamatan besar.
Kegiatan utama dalam upacara aruh ganal itu biasa nya dilaksanakan selama sepekan di Balai Adat dengan adanya pembacaan mantra-mantra dari para Balian (tokoh besar orang Dayak) dan disertai dengan Baayun atau Maayun anak.
Maka setelah Islam masuk dan banyak masyarakat yang memeluk ajaran Islam, terutama orang orang Dayak di desa Banua Halat. Tradisi ini mengalami proses akulturasi dan dinamai lah upacara Baayun Maulud yang dirangkaikan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam setiap tanggal 12 Rabiul Awal.
Tujuan dilaksanakannya Baayun Maulud adalah agar anak dapat meneladani akhlak dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.
Peserta Baayun Maulud sendiri tidak hanya anak-anak melainkan ada juga orang dewasa dikarenakan niat atau nazar tertentu. Misal apabila doanya terkabul atau ia sembuh dari suatu peyakit maka ia akan Baayun Maulud.
Selain itu, ada juga karena semata mata berharap akan kesehatan, keselamatan dan keberkahan atas kemuliaan nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dalam tradisi ini, orang yang diayun biasanya dibacakan syair-syair Maulid Habsyi. Pada saat pembacaan Asyraqal orang-orang berdiri dan anak diayunkan secara perlahan.
Alat dan bahan yang digunakan saat Baayun Maulud ada tiga kain yaitu kain kuning, kain Sarigading (kain Sasirangan khas Banjar), dan Tapih Bahalai (kain atau sarung panjang khas Banjar).
Biasa nya ayunan dihiasi dengan anyaman janur pohon nipah yang digantung di ayunan dalam berbagai bentuk. Tali ayunan dihiasi dengan bunga melati dan kenanga.
Ada pula Wadai (kue) cucur dan Wadai (kue) cincin khas Banjar serta lakatan (nasi lamak) dan tape ketan. Syarat agar bisa melaksanakan tradisi Baayun Maulud ini adalah menyiapkan Piduduk (makanan) contoh nya seperti beras 3,5 liter, jarum, gula habang ( gula merah ), hintalu hayam (telur ayam kampung), nyiur (kelapa), benang, binggul (uang receh), dan uyah (garam). Semua prosesi dilaksanakan dan dipatuhi oleh masyarakat yang merupakan perwujudan dari akulturasi yang harus dilestarikan.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa akulturasi budaya yang terjadi di Indonesia khususnya di Kalimantan Selatan membawa dampak positif bagi masyarakat, yaitu tetap lestarinya kebudayaan lokal yang disesuaikan dengan ajaran Islam.
Penulis: Gusti Anagia Dita Farhatun
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Editor: Rahmat Al Kafi
*Artikel ini telah diupdate pada tanggal 12 Agustus 2025
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













