“Aduh Alisku tipis banget, ih kulitku tidak semulu teman-temanku, Aduh hidungku tak semancung temanku, atau Alhamdulillah walupun kulitku gelap namun yang terpenting kulitku sehat ”
Kalimat di atas mengenai persoalan yang akan dibahas kali ini. Apa itu body image? Body image adalah suatu perasaan pandangan serta presepsi seseorang terhadap fisik mereka sendiri baik itu rasa bangga, rasa puas, ataupun rasa kecewa bahkan ras insecure terhadap dirinya sendiri yang ditimbulkan dari pemikiran mereka sendiri.
Tidak dipungkiri seseorang sering sekali merasakan hal tersebut seperti melihat gaya tampilan mereka atau apapun yang terlihat di depan mata mereka yang dianggap dan rasa sangat tidak bagus bahkan mereka merasa itu adalah kekurangan. di sisi lain orang lain yang melihat hal tersebut tidak begitu perduli bahkan tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Kata body image dalam Islam semakin sering dibicarakan di kalangan mahasiswa dan remaja. Fenomena ini muncul karena banyak orang mulai membandingkan penampilan diri dengan standar kecantikan yang tersebar di media sosial.
Padahal, Islam telah mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki keindahan dan keunikan tersendiri sebagai ciptaan Allah ﷻ. Kesadaran ini penting agar umat Islam dapat menjaga rasa syukur dan kepercayaan diri sesuai ajaran agama.
Pandangan seseorang terhadap fisiknya, baik puas maupun tidak, dikenal sebagai body image. Konsep ini mencerminkan bagaimana seseorang menilai bentuk tubuh, wajah, dan keseluruhan penampilannya. Sayangnya, banyak yang terjebak dalam standar kecantikan tidak realistis yang membuat mereka merasa kurang berharga.
Di sinilah pentingnya memahami bagaimana Islam memandang tubuh manusia sebagai amanah dari Allah ﷻ yang harus dihormati dan dijaga.
Sebagai makhluk yang diciptakan sempurna, manusia telah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At-Tin: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap bentuk tubuh memiliki keindahan dan kesempurnaan sesuai kehendak Allah. Maka, memahami body image dalam Islam bukan sekadar soal penampilan, tetapi juga soal spiritualitas, rasa syukur, dan penerimaan diri sebagai bentuk ibadah.
Baca juga: Kirim Tulisan ke Media Mahasiswa Indonesia: 100% Diterbitkan!
1. Pengertian Body Image
Konsep body image sering kali dikaitkan dengan bagaimana seseorang menilai dan merasakan tubuhnya sendiri. Secara sederhana, body image adalah gambaran mental seseorang tentang bentuk tubuh, berat badan, warna kulit, dan fitur fisik lainnya.
Penilaian ini bisa positif atau negatif tergantung pada bagaimana seseorang memandang dirinya. Mahasiswa, misalnya, sering menghadapi tekanan sosial untuk tampil menarik sesuai standar kecantikan yang tersebar di media sosial, sehingga persepsi mereka terhadap tubuhnya bisa berubah.
Pandangan ini sejatinya bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek psikologis dan spiritual. Islam mengajarkan bahwa tubuh adalah amanah yang harus dijaga, bukan objek untuk dibandingkan dengan orang lain. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
يٰۤاَيُّهَا الۡاِنۡسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الۡكَرِيۡمِۙ ٦
الَّذِىۡ خَلَقَكَ فَسَوّٰٮكَ فَعَدَلَـكَۙ ٧
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuhmu) seimbang?”
(QS. Al-Infithar: 6–7)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah menciptakan tubuh manusia secara seimbang dan sempurna sesuai takaran terbaik. Maka, menolak atau merasa malu terhadap fisik sendiri berarti menolak karunia Allah.
Baca juga: Please Stop Body Shaming: Pengertian, Dampak, dan Cara Menghentikannya
2. Jenis-jenis Body Image
Body image terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu body image positif dan body image negatif. Keduanya memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental dan spiritual seseorang.
Body Image Positif
Seseorang yang memiliki body image positif cenderung merasa puas dengan tubuhnya apa adanya. Mereka mampu menghargai setiap bagian tubuh sebagai anugerah dari Allah ﷻ. Sikap ini menumbuhkan rasa syukur, percaya diri, dan ketenangan batin. Individu dengan pandangan positif terhadap tubuh biasanya lebih fokus pada kesehatan, bukan semata penampilan luar. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran nilai seseorang tidak terletak pada kecantikan fisik, melainkan pada kebersihan hati dan amal.
Body Image Negatif
Sebaliknya, body image negatif muncul ketika seseorang terus-menerus merasa tidak puas terhadap tubuhnya. Mereka cenderung membandingkan diri dengan orang lain, merasa minder, bahkan bisa mengalami depresi atau gangguan makan. Mahasiswa yang terpapar media sosial berlebihan sering menjadi korban pola pikir ini karena terus melihat figur ideal yang tidak realistis.
Islam memandang sikap seperti itu sebagai bentuk kurang bersyukur terhadap nikmat Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu (dalam hal dunia), dan janganlah kamu melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah atasmu.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat agar umat Islam tidak terjebak dalam perbandingan yang melemahkan keimanan dan kebahagiaan diri.
Baca juga: Pengaruh Body Shamming pada Orang Obesitas
3. Faktor yang Mempengaruhi Body Image
Persepsi seseorang terhadap tubuhnya tidak terbentuk secara tiba-tiba. Ada berbagai faktor yang memengaruhi cara seseorang memandang fisiknya, baik dari lingkungan sosial, media, maupun keluarga.
Pada masa mahasiswa, pengaruh ini terasa semakin kuat karena fase tersebut merupakan masa pencarian jati diri dan pembentukan kepercayaan diri.
Maka, memahami faktor-faktor pembentuk body image sangat penting agar seseorang mampu menjaga keseimbangan antara penampilan fisik dan kesehatan mental sesuai ajaran Islam.
Sebagian besar mahasiswa sering kali tidak menyadari bahwa pandangan mereka terhadap tubuh banyak dibentuk oleh hal-hal eksternal yang tidak selalu sejalan dengan nilai Islam.
Standar kecantikan yang dibangun oleh masyarakat modern kerap mengabaikan konsep syukur dan kesederhanaan. Padahal, Islam mengajarkan agar umatnya selalu bersikap tawaduk, tidak sombong atas kelebihan fisik, dan tidak minder terhadap kekurangan yang dimiliki.
Pengaruh Media Sosial
Media sosial menjadi salah satu faktor paling dominan dalam membentuk body image pada remaja dan mahasiswa.
Gambar-gambar model, selebritas, dan influencer dengan tubuh ideal menciptakan ilusi bahwa kecantikan hanya milik mereka yang langsing, berkulit cerah, dan berpenampilan sempurna. Padahal, apa yang ditampilkan sering kali hasil editan atau pencitraan belaka.
Akibatnya, banyak yang merasa tidak percaya diri dan terus membandingkan diri dengan standar palsu tersebut.
Islam menegaskan bahwa kecantikan sejati bukan pada rupa, melainkan pada ketakwaan. Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan terletak pada bentuk tubuh, warna kulit, atau wajah, melainkan pada tingkat ketakwaan kepada Allah. Maka, penggunaan media sosial seharusnya diarahkan pada hal-hal yang membawa manfaat, bukan menumbuhkan rasa rendah diri.
Lingkungan dan Pergaulan
Lingkungan sekitar, seperti teman kampus, keluarga, dan komunitas, juga memiliki peran besar terhadap pembentukan citra tubuh.
Ketika seseorang berada di lingkungan yang terlalu menonjolkan penampilan, maka tekanan untuk tampil “sempurna” akan semakin kuat. Kalimat sederhana seperti “kok kamu gemukan, ya?” dapat melukai perasaan dan menumbuhkan persepsi negatif terhadap tubuh.
Rasulullah ﷺ mengingatkan agar umat Islam menjaga lisan dan tidak menyakiti hati orang lain, sebagaimana sabdanya:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan pentingnya menghormati sesama, termasuk dalam hal penampilan fisik. Sikap saling menghargai akan menumbuhkan lingkungan yang sehat dan saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.
Faktor Keluarga dan Pola Asuh
Keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar menilai dirinya. Orang tua yang terlalu sering mengomentari fisik anak dapat tanpa sadar membentuk body image negatif. Sebaliknya, keluarga yang memberikan dukungan, kasih sayang, dan motivasi akan menumbuhkan rasa percaya diri dan penerimaan diri yang baik.
Islam menganjurkan setiap keluarga untuk menanamkan rasa syukur dan menghargai ciptaan Allah sejak dini. Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ:
“Dan janganlah kamu menghinakan manusia dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS. Luqman: 18)
Ayat ini menekankan pentingnya menjaga adab terhadap diri sendiri dan orang lain. Keluarga yang menanamkan nilai kerendahan hati dan rasa syukur akan membantu anak membentuk citra tubuh positif.
Baca juga: Stop Body Shaming!
4. Body Image dalam Perspektif Islam
Islam memiliki pandangan yang sangat jelas dan seimbang mengenai tubuh manusia. Tubuh bukan hanya wadah jasmani, melainkan amanah yang harus dijaga, dihormati, dan tidak boleh diubah tanpa alasan syar’i.
Dalam konteks body image dalam Islam, keindahan tubuh tidak diukur dari bentuk fisik, tetapi dari bagaimana seseorang mensyukuri ciptaan Allah dan memanfaatkannya untuk kebaikan.
Mahasiswa sebagai generasi muda sering kali dihadapkan pada dilema antara keinginan tampil menarik dan tuntunan agama.
Ketika seseorang terlalu fokus pada penampilan, ia bisa lupa bahwa nilai manusia tidak diukur dari kulit, berat badan, atau bentuk wajah. Islam menegaskan bahwa kecantikan sejati terletak pada hati yang bersih dan amal yang baik.
Konsep Syukur terhadap Tubuh
Rasa syukur menjadi pondasi utama dalam memandang tubuh secara positif. Seorang Muslim yang bersyukur akan menerima apa adanya bentuk tubuh yang telah diberikan Allahﷻ. Ia tidak mengeluh atau iri terhadap kelebihan orang lain. Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin dan menghindarkan diri dari rasa minder.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini mengingatkan bahwa tubuh yang sehat dan berfungsi sempurna adalah nikmat luar biasa. Bahkan jika ada kekurangan, itu merupakan ujian untuk meningkatkan keimanan, bukan alasan untuk membenci diri sendiri.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya mensyukuri kesehatan tubuh, beliau bersabda:
“Dua kenikmatan yang banyak dilalaikan manusia: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini memperlihatkan bahwa tubuh adalah karunia besar yang harus dijaga dan dihargai.
Larangan Mengubah Ciptaan Allah untuk Kepuasan Duniawi
Islam membedakan antara perubahan tubuh yang dibolehkan dan yang dilarang. Mengubah bentuk tubuh karena alasan medis seperti memperbaiki cacat lahir atau luka berat diperbolehkan. Namun, jika tujuannya hanya untuk mempercantik diri atau mengikuti tren, maka hal itu dilarang karena termasuk bentuk ketidaksyukuran terhadap ciptaan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut, perempuan yang meminta disambungkan rambutnya, perempuan yang menato tubuh, perempuan yang meminta ditato, serta perempuan yang merenggangkan giginya demi kecantikan yang mengubah ciptaan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa mengubah ciptaan Allah tanpa alasan darurat termasuk perbuatan tercela. Mahasiswa Muslim perlu memahami bahwa kecantikan sejati adalah hasil dari keimanan, bukan dari perubahan fisik semata.
Self-Love dan Tanggung Jawab Spiritual
Dalam Islam, mencintai diri sendiri bukan berarti memanjakan hawa nafsu, melainkan menghargai diri sebagai ciptaan Allah. Self-love yang benar adalah mencintai tubuh karena ia adalah titipan dari Sang Pencipta. Artinya, seseorang wajib menjaga kesehatannya, makan dengan seimbang, beristirahat cukup, dan menjauh dari hal yang merusak tubuh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tubuhmu memiliki hak atasmu.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan fisik. Mencintai tubuh berarti menjaga amanah Allah, bukan mengubahnya untuk kepuasan duniawi.
Baca juga: Body Goals Menurut Ahli Gizi
5. Dampak Body Image terhadap Kehidupan Mahasiswa
Fenomena body image pada remaja dan mahasiswa memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang merasa tidak puas terhadap tubuhnya, hal tersebut dapat memengaruhi cara berpikir, bergaul, hingga ibadahnya.
Islam menempatkan tubuh sebagai bagian dari amanah yang harus dijaga kesehatannya, sehingga pemikiran negatif terhadap tubuh bisa menjadi penghalang untuk bersyukur dan berbuat produktif.
Mahasiswa yang memiliki body image negatif sering kali merasa tidak percaya diri saat berinteraksi, bahkan enggan berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau akademik. Sebaliknya, mahasiswa dengan body image positif lebih mudah beradaptasi, berprestasi, dan memiliki keseimbangan emosional yang lebih baik.
Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami dampak yang ditimbulkan dari persepsi tubuh ini, baik secara psikologis, sosial, maupun spiritual.
Dampak Psikologis
Salah satu dampak terbesar dari body image negatif adalah gangguan pada kesehatan mental. Rasa minder, kecemasan, dan stres muncul ketika seseorang terus merasa tubuhnya tidak sesuai harapan.
Beberapa mahasiswa bahkan bisa mengalami gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia karena terobsesi memiliki tubuh ideal.
Islam mengajarkan agar setiap individu menjaga ketenangan jiwa dan tidak menyiksa diri demi memenuhi standar duniawi. Allah ﷻ berfirman:
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
(QS. An-Nisa: 29)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap bentuk penyiksaan diri, baik fisik maupun mental, termasuk perbuatan yang dilarang. Menolak diri sendiri secara berlebihan termasuk bentuk ketidaksyukuran terhadap karunia Allah.
Dampak Sosial
Citra tubuh juga memengaruhi hubungan sosial seseorang. Mahasiswa dengan rasa percaya diri rendah sering menjauh dari pergaulan karena takut diejek atau dibandingkan. Padahal, Islam menekankan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) dan interaksi sosial yang sehat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa setiap Muslim seharusnya saling mendukung, bukan menjatuhkan. Lingkungan kampus yang saling menghargai perbedaan fisik akan menciptakan suasana positif yang menumbuhkan kepercayaan diri bersama.
Dampak Spiritual
Selain aspek sosial dan mental, body image negatif juga berdampak pada spiritualitas seseorang. Orang yang terus-menerus merasa tidak puas terhadap tubuhnya bisa kehilangan rasa syukur, bahkan mengeluh terhadap takdir Allah.
Padahal, keimanan yang kuat justru lahir dari penerimaan diri dan rasa syukur atas apa yang dimiliki.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Segala urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa kebahagiaan seorang Muslim tidak bergantung pada rupa atau bentuk tubuh, melainkan pada sikap hati yang ikhlas dan bersyukur.
Baca juga: Stop Body Shaming, Depresi Hingga Bunuh Diri
6. Cara Menumbuhkan Body Image Positif Menurut Islam
Setelah memahami pengaruh dan dampak dari body image negatif, langkah selanjutnya adalah menumbuhkan body image positif sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Mahasiswa sebagai generasi berilmu perlu belajar memandang tubuh bukan sekadar penampilan, tetapi sebagai amanah dari Allah yang harus dijaga dan disyukuri.
Membangun citra tubuh yang sehat dan Islami berarti memadukan antara perawatan fisik, pengendalian emosi, dan peningkatan iman.
Islam tidak melarang seseorang untuk merawat diri, namun harus dengan niat menjaga nikmat yang telah diberikan Allah, bukan untuk kesombongan atau menyaingi ciptaan-Nya.
Menjaga Kesehatan Tubuh sebagai Amanah
Tubuh merupakan titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib menjaga kesehatan melalui pola makan yang baik, olahraga, dan istirahat cukup.
Rasulullah ﷺ mencontohkan gaya hidup seimbang yang mencakup aktivitas fisik, ibadah, dan istirahat.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan makan serta minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini mengajarkan prinsip moderasi, termasuk dalam menjaga tubuh. Menjaga kesehatan bukan hanya demi penampilan, melainkan bagian dari ibadah karena tubuh sehat memudahkan seseorang dalam beramal dan beribadah.
Menanamkan Rasa Syukur dan Penerimaan Diri
Rasa syukur adalah kunci utama dalam membentuk body image positif. Mahasiswa yang mampu menerima dirinya apa adanya akan terhindar dari rasa iri dan minder. Syukur juga menumbuhkan ketenangan batin karena seseorang menyadari bahwa setiap ciptaan Allah memiliki keindahan tersendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu, dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu, agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah atasmu.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan pentingnya fokus pada nikmat yang dimiliki, bukan pada kekurangan yang dimiliki orang lain. Dengan begitu, seseorang bisa lebih menghargai tubuhnya dan merasa cukup atas pemberian Allah.
Meningkatkan Keimanan dan Spiritualitas
Keimanan yang kuat dapat menumbuhkan pandangan positif terhadap diri. Ketika hati dekat dengan Allah, seseorang akan lebih mudah menerima segala bentuk fisiknya sebagai bagian dari takdir terbaik. Shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an membantu membersihkan hati dari rasa iri dan rendah diri.
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan batin hanya bisa diraih melalui hubungan yang baik dengan Sang Pencipta. Mahasiswa yang rajin beribadah dan mengingat Allah akan lebih kuat menghadapi tekanan sosial mengenai penampilan.
Menghindari Perbandingan yang Merusak
Salah satu penyebab utama munculnya body image negatif adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial memperparah hal ini karena menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Islam mengajarkan untuk menilai diri berdasarkan amal dan ketaatan, bukan berdasarkan rupa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa membandingkan diri hingga menimbulkan sombong atau minder sama-sama berbahaya. Fokus pada perbaikan diri jauh lebih bermanfaat dibanding mengejar standar kecantikan yang menipu.
Memperkuat Lingkungan yang Positif
Lingkungan yang mendukung memiliki pengaruh besar dalam menjaga body image positif. Mahasiswa perlu memilih pertemanan yang menumbuhkan semangat, bukan yang gemar mengkritik penampilan. Komunitas Islami yang sehat dapat menjadi tempat belajar menerima diri dan saling mengingatkan untuk bersyukur.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan betapa pentingnya memilih teman yang membawa kebaikan, karena lingkungan positif akan menumbuhkan keyakinan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh penampilan semata.
Kesimpulan
Body image dalam Islam bukan hanya persoalan tentang bagaimana seseorang memandang tubuhnya, tetapi juga cerminan dari keimanan, rasa syukur, dan penghargaan terhadap ciptaan Allah ﷻ.
Dalam pandangan Islam, tubuh adalah amanah yang harus dijaga, dihormati, dan disyukuri. Mahasiswa sebagai generasi yang tengah mencari jati diri perlu memahami bahwa nilai sejati tidak terletak pada penampilan fisik, melainkan pada amal dan akhlak mulia.
Fenomena body image negatif yang banyak terjadi di kalangan remaja dan mahasiswa menunjukkan bahwa pengaruh media sosial dan tekanan sosial sangat kuat.
Namun, Islam telah memberikan panduan agar umatnya tidak terjebak dalam perbandingan dan rasa rendah diri. Dengan menanamkan nilai syukur, menjaga kesehatan, serta memperkuat iman, seseorang akan mampu mencintai dirinya secara benar tanpa kehilangan arah spiritual.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa Islam tidak melarang seseorang untuk tampil indah, selama dilakukan dengan niat yang benar dan tidak melanggar syariat. Keindahan yang sejati bukan berasal dari fisik semata, melainkan dari hati yang ikhlas, penuh syukur, dan jauh dari kesombongan.
Mahasiswa Muslim perlu memahami bahwa standar kecantikan dunia hanyalah ilusi yang terus berubah. Sementara nilai iman, akhlak, dan rasa syukur adalah keindahan abadi yang akan meninggikan derajat seseorang di sisi Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”
(QS. Ath-Thalaq: 2)
Ayat ini menjadi penutup yang meneguhkan bahwa ketakwaan adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan sejati. Saat seseorang mampu menerima dirinya apa adanya dan mensyukuri tubuh yang dimiliki, maka ia telah menjalankan salah satu bentuk ibadah yang paling mulia.
Refleksi Akhir
Setiap mahasiswa perlu menanamkan keyakinan bahwa tubuh mereka adalah ciptaan terbaik dari Allah ﷻ. Tidak ada yang salah dengan warna kulit, bentuk tubuh, atau wajah yang berbeda-beda. Semua itu adalah tanda kebesaran Allah dan bukti bahwa keindahan sejati datang dari keberagaman.
Menumbuhkan body image positif berarti belajar mencintai diri sebagai bagian dari rasa syukur dan bentuk ketaatan kepada Allah. Saat seseorang mampu melihat dirinya melalui kaca iman, ia akan menemukan ketenangan, kebahagiaan, dan kepercayaan diri yang sejati.
Penulis: Yunzil Aenul Ismi
Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya
Editor : Muflih Gunawan
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












