Implementasi Kurikulum Merdeka: Strategi Efektif Mewujudkannya secara Optimal

kurikulum merdeka
ilustrasi: https://www.depoedu.com/2020/09/07/edu-talk/menyambut-kurikulum-baru-dan-merdeka-belajar-di-tahun-ajaran-2021-2022/

Implementasi Kurikulum Merdeka menjadi langkah penting dalam sejarah pendidikan di Indonesia.

Kebijakan ini merupakan bagian dari program besar Merdeka Belajar yang digagas oleh Kementerian Pendidikan sebagai upaya memperbaiki mutu pembelajaran pascapandemi. 

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tujuan utamanya ialah mengatasi learning loss dan menciptakan sistem pendidikan yang lebih fleksibel, relevan, dan kontekstual.

Perubahan ini menjadi respons nyata terhadap kelemahan Kurikulum 2013, yang dinilai terlalu padat dan kurang memberi ruang kreativitas.

Melalui kurikulum merdeka belajar, guru diberi kebebasan untuk menyesuaikan pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa serta karakter daerah.

Prinsip konsep merdeka yang diusung menekankan kemandirian belajar, kolaborasi, dan penerapan nilai-nilai pendidikan karakter.

Meskipun begitu, implementasi kurikulum merdeka di sekolah tidak serta-merta berjalan mulus.

Banyak sekolah masih beradaptasi dengan sistem baru, terutama dalam penggunaan modul ajar kurikulum merdeka dan perangkat pembelajaran kurikulum merdeka.

 Pertanyaannya, sejauh mana penerapan kurikulum merdeka dapat menjawab tantangan dunia pendidikan di era digital?

Artikel ini akan mengulas secara mendalam konsep dan implementasi Kurikulum Merdeka, perbedaannya dengan kurikulum 2013, serta strategi untuk memastikan efektivitas pelaksanaannya di satuan pendidikan.

Baca juga: Kirim Opini ke Media Mahasiswa Indonesia: 100% Diterbitkan!

Latar Belakang dan Konsep Dasar Kurikulum Merdeka

1. Sejarah Singkat Kurikulum di Indonesia

Perjalanan kurikulum nasional tidak terlepas dari perubahan zaman dan kebutuhan sosial. Sejak Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah telah melakukan berbagai inovasi.

Dari Kurikulum Berbasis Kompetensi hingga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), setiap pembaruan berupaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Namun, Kurikulum 2013 dalam pembelajaran dianggap terlalu kompleks. Banyak guru kesulitan menyesuaikan administrasi yang rumit.

 Kelemahan ini menjadi dasar bagi lahirnya Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2022/2023 sebagai alternatif yang lebih sederhana dan adaptif.

Konsep ini selaras dengan program Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan. Melalui kebijakan tersebut, sekolah diberikan keleluasaan dalam menerapkan kurikulum merdeka sesuai konteks lokal.

Dengan begitu, setiap sekolah dapat menciptakan pembelajaran yang relevan bagi siswa.

2. Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka

Konsep dan implementasi Kurikulum Merdeka berfokus pada penguatan profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai seperti kemandirian, gotong royong, dan berpikir kritis menjadi inti dari proses belajar. Sekolah tidak lagi diwajibkan mengikuti struktur kaku, melainkan diberi ruang berinovasi.

Kurikulum Merdeka belajar di sekolah menekankan pendekatan berbasis proyek untuk menghubungkan teori dengan praktik. Misalnya, siswa SD belajar lingkungan lewat kegiatan nyata seperti menanam pohon. Hal ini membuat mereka lebih mudah memahami pelajaran.

Dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka, guru menjadi fasilitator yang mendorong siswa aktif mengeksplorasi ide. Pendekatan ini sejalan dengan pembelajaran yang lebih interaktif, di mana siswa belajar melalui kolaborasi dan observasi nyata.

Selain itu, pemerintah menyediakan berbagai sumber pendukung seperti silabus Kurikulum Merdeka, buku Kurikulum Merdeka, serta capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka. Semua perangkat ini membantu guru memahami struktur pembelajaran dan indikator capaian siswa.

Penerapan kebijakan ini juga dikaji secara akademik dalam berbagai jurnal pendidikan, jurnal ilmiah, serta jurnal manajemen.

Banyak penelitian menyebut bahwa implementasi kurikulum merdeka belajar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat karakter siswa.

Bahkan, jurnal pendidikan Islam menyoroti penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pada mata pelajaran pendidikan agama Islam sebagai sarana menumbuhkan nilai moral.

3. Perbedaan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013

Perbedaan mendasar antara Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka terletak pada fleksibilitas dan pendekatan pembelajaran.

Kurikulum lama bersifat terpusat dan seragam, sementara Kurikulum Merdeka menekankan kemandirian sekolah dalam menyesuaikan materi serta kegiatan belajar.

Selain itu, kurikulum merdeka pada pembelajaran abad-21 lebih menekankan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Siswa didorong untuk memecahkan masalah, berkolaborasi, dan berinovasi.

Guru diharapkan menggunakan model pembelajaran abad 21 untuk menciptakan suasana belajar yang aktif.

Dari sisi evaluasi, implementasi Kurikulum 2013 lebih menitikberatkan pada penilaian hasil akhir, sedangkan implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran berfokus pada proses belajar siswa.

Pendekatan formatif ini memberi kesempatan siswa berkembang sesuai kemampuannya.

Transformasi ini menjadi bagian penting dalam manajemen inovasi kurikulum nasional. Tidak hanya memperbaiki sistem, tetapi juga mengubah cara berpikir pendidik dan peserta didik.

Dengan pendekatan baru ini, diharapkan pembelajaran pendidikan dapat lebih menyenangkan, relevan, dan bermakna bagi semua siswa.

Baca juga: Optimalisasi Implementasi Kurikulum Merdeka: Strategi Mewujudkan Pendidikan Berkualitas di Indonesia

Tujuan dan Prinsip Utama Implementasi Kurikulum Merdeka

1. Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dan Mutu Pendidikan

Tujuan utama implementasi kurikulum merdeka adalah membentuk pelajar yang berkarakter, mandiri, dan berakhlak mulia.

Konsep ini diwujudkan melalui penguatan profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai dasar seperti gotong royong, bernalar kritis, dan kreatif menjadi fondasi pendidikan.

Dalam konteks ini, mutu pendidikan menjadi tolok ukur keberhasilan program. Setiap satuan pendidikan diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan melalui penerapan pembelajaran aktif, kolaboratif, dan menyenangkan.

Guru berperan penting untuk mendorong pembelajaran yang relevan dengan dunia nyata.

Implementasi Kurikulum Merdeka dalam meningkatkan mutu pendidikan menuntut keterlibatan seluruh pihak.

Pemerintah, guru, dan masyarakat harus bekerja sama membangun ekosistem belajar yang sehat. Sinergi ini diharapkan menciptakan sekolah yang mandiri, kreatif, dan kompetitif di tingkat global.

2. Kurikulum yang Fleksibel, Adaptif, dan Kontekstual

Kelebihan Kurikulum Merdeka belajar terletak pada fleksibilitasnya. Sekolah memiliki ruang untuk menyesuaikan materi dan metode pembelajaran sesuai kebutuhan lokal.

Guru dapat menggabungkan teori dan praktik melalui pembelajaran berbasis proyek, sehingga siswa memahami konsep secara mendalam.

Pendekatan ini sangat efektif diterapkan di sekolah dasar, karena siswa cenderung belajar lebih baik saat berinteraksi langsung dengan lingkungan.

Contohnya, kegiatan membuat taman sekolah atau proyek daur ulang menjadi media belajar nyata.

Kurikulum Merdeka pada pembelajaran abad-21 juga menekankan penggunaan teknologi digital.

Guru diharapkan memanfaatkan media interaktif untuk menciptakan suasana belajar yang menarik. Inovasi ini akan membantu meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan.

3. Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran yang Lebih Interaktif

Salah satu prinsip utama kurikulum merdeka belajar dengan model pembelajaran aktif adalah memberikan ruang bagi siswa untuk berpartisipasi.

Pendekatan ini disebut merdeka belajar dengan model pembelajaran proyek. Siswa didorong meneliti, berkolaborasi, dan mempresentasikan hasil kerja.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter tangguh dan kreatif. Guru harus mampu menciptakan suasana yang menyenangkan agar siswa merasa terlibat secara penuh.

Beberapa penelitian di jurnal kajian pendidikan menunjukkan bahwa implementasi merdeka belajar memiliki dampak positif terhadap peningkatan hasil akademik dan karakter sosial siswa.

Dengan pendekatan yang tepat, kurikulum merdeka belajar kampus merdeka bahkan dapat diterapkan sejak jenjang dasar untuk memupuk rasa ingin tahu dan semangat eksplorasi.

Baca juga: Tantangan dan Harapan Implementasi Kurikulum Merdeka sebagai Solusi Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah

1. Kesiapan Guru dan Infrastruktur Pendidikan

Keberhasilan implementasi kurikulum merdeka belajar sangat bergantung pada kompetensi guru.

Faktanya, banyak guru di daerah masih belum menguasai teknologi digital secara optimal. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan hanya sekitar 40% guru yang mahir TIK.

Keterbatasan fasilitas juga menjadi kendala serius. Beberapa sekolah dasar dan menengah kekurangan perangkat seperti laptop, proyektor, atau jaringan internet. Kondisi ini membuat pelaksanaan pembelajaran Kurikulum Merdeka tidak merata.

Untuk itu, pemerintah perlu memperkuat pelatihan dan pendampingan agar guru dalam implementasi kurikulum mampu mengembangkan metode inovatif.

Program pelatihan berbasis telaah metode pembelajaran dapat membantu guru menemukan cara terbaik untuk menciptakan pembelajaran yang sesuai karakter siswa.

2. Miskonsepsi dan Tantangan Implementasi di Lapangan

Miskonsepsi menjadi tantangan terbesar implementasi pengembangan Kurikulum Merdeka.

Sebagian guru beranggapan bahwa perubahan kurikulum hanya sebatas administrasi. Padahal, yang berubah adalah paradigma pembelajaran itu sendiri.

Selain itu, terdapat kesenjangan pemahaman antara sekolah kota dan desa. Sekolah di perkotaan lebih mudah menerapkan sistem digital, sementara di daerah, sebagian besar guru masih terbiasa menggunakan metode konvensional.

Hal ini menyebabkan ketimpangan hasil belajar. Untuk mengatasinya, pemerintah perlu mendorong pemerataan sumber daya serta memastikan adanya pendaftaran implementasi Kurikulum Merdeka yang menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia.

3. Kesenjangan Teknologi dan Akses Pembelajaran

Transformasi digital dalam kurikulum nasional membawa tantangan baru bagi sekolah di daerah. Banyak siswa belum memiliki akses memadai terhadap internet, sehingga pembelajaran daring menjadi tidak efektif.

Kesenjangan ini membuat pelaksanaan implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah berjalan lambat. Sekolah-sekolah yang kurang didukung teknologi sulit menyesuaikan diri dengan sistem baru yang berbasis digital.

Pemerintah harus menyiapkan strategi khusus agar merdeka di sekolah bukan hanya slogan. Pemberian fasilitas seperti laboratorium komputer dan jaringan internet diharapkan membantu guru mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara optimal.

4. Kompetensi Guru dan Tantangan Literasi

Tantangan lain yang perlu dihadapi adalah rendahnya literasi pedagogik guru. Banyak pendidik belum memahami sepenuhnya relevansi Kurikulum Merdeka belajar dengan praktik kelas.

Akibatnya, proses belajar sering kali kembali ke pola lama yang berpusat pada guru.

Melalui seminar nasional, jurnal ilmiah mandala education, dan jurnal basicedu, banyak ahli pendidikan menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi profesional guru.

Mereka perlu memahami kurikulum merdeka berfokus pada pengembangan karakter serta kemampuan abad ke-21.

Dengan demikian, keberhasilan implementasi tidak hanya diukur dari administrasi, tetapi juga dari sejauh mana guru mampu menerapkan prinsip pembelajaran aktif, reflektif, dan kontekstual di kelas.

5. Kesenjangan dan Tantangan di Sekolah Penggerak

Program IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka) pertama kali diujicobakan di sekolah penggerak. Hasilnya menunjukkan bahwa keberhasilan bergantung pada kesiapan guru dan dukungan kepala sekolah.

Namun, beberapa sekolah belum memiliki pemahaman yang sama tentang mekanisme pelaksanaan.

Akibatnya, ada perbedaan dalam hasil belajar. Di sisi lain, sekolah yang berkomitmen tinggi terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan.

Kasus ini membuktikan pentingnya kolaborasi antara guru, kepala sekolah, dan masyarakat agar belajar di sekolah penggerak benar-benar berjalan efektif.

Hanya dengan komitmen bersama, implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran dapat memberikan dampak nyata bagi pendidikan dasar dan menengah.

Baca juga: Saatnya Kurikulum Merdeka: Menuju Seabad Indonesia Merdeka

Strategi Efektif Mengatasi Hambatan Implementasi Kurikulum Merdeka

1. Penguatan Kapasitas Guru dan Pelatihan Profesional

Guru menjadi aktor utama dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka. Melalui pelatihan berbasis metode penelitian, guru diharapkan mampu memahami filosofi konsep merdeka dan menerapkannya di ruang kelas.

Program pengembangan kompetensi harus dilakukan secara menyeluruh agar pendidik memahami struktur kurikulum merdeka dalam pembelajaran dan mampu menyesuaikannya dengan karakter peserta didik.

Beberapa jurnal ilmu pendidikan menegaskan bahwa peningkatan profesionalisme guru merupakan kunci penerapan Kurikulum Merdeka yang efektif. Guru harus belajar mengolah bahan ajar digital, merancang proyek lintas bidang, dan menilai hasil belajar secara autentik.

Selain itu, pelatihan berbasis jurnal pendidikan islam juga dibutuhkan agar nilai spiritual tetap menjadi bagian dari pendidikan di Indonesia. Upaya ini akan memperkuat karakter religius dan moral siswa.

2. Dukungan Pemerintah Daerah dan Kolaborasi Sekolah

Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah. Dukungan berupa fasilitas, supervisi, dan pendanaan sangat dibutuhkan agar setiap satuan pendidikan mampu melaksanakan kurikulum secara maksimal.

Kerja sama antara pemerintah, guru, dan masyarakat harus ditingkatkan. Sinergi ini membantu menciptakan sistem pembelajaran pendidikan yang relevan dengan kebutuhan lokal.

Program belajar kampus merdeka di sekolah dan kampus merdeka di sekolah dasar merupakan contoh kolaborasi yang dapat mempercepat penyebaran praktik baik antar satuan pendidikan.

Selain itu, penguatan manajemen inovasi kurikulum di tingkat sekolah juga perlu dilakukan untuk memastikan setiap komponen berjalan sesuai rencana. Kepala sekolah berperan penting dalam mengarahkan guru dan mengelola sumber daya agar implementasi merdeka berjalan efektif.

3. Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

Pendekatan pembelajaran berbasis proyek menjadi ciri khas utama Kurikulum Merdeka belajar di sekolah. Melalui proyek, siswa dilatih memecahkan masalah nyata di lingkungannya.

Misalnya, proyek daur ulang sampah, pertanian organik, atau kegiatan sosial di masyarakat.

Strategi ini melatih kolaborasi, kreativitas, dan tanggung jawab sosial. Di merdeka di sekolah dasar, model proyek sederhana seperti kebun kelas atau lomba literasi mampu menumbuhkan semangat belajar.

Guru juga dapat memanfaatkan model pembelajaran abad 21 yang menekankan kolaborasi lintas bidang.

Cara ini mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis serta memperkuat kualitas pembelajaran di semua jenjang.

Baca juga: Implementasi Kurikulum Merdeka terhadap Daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal)

Peran Guru dan Sekolah dalam Keberhasilan Implementasi

1. Guru sebagai Fasilitator dan Inovator

Guru tidak lagi sekadar penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang mendorong partisipasi aktif siswa. Peran guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka menuntut kemampuan reflektif dan adaptif terhadap perubahan.

Guru yang profesional mampu menyesuaikan strategi pengajaran berdasarkan kondisi kelas. Dengan pendekatan mandiri belajar, mereka menjadi teladan bagi siswa untuk terus berinovasi dan berkembang.

Dalam konteks pendidikan dasar dan menengah, guru berperan penting menjaga kesinambungan antara teori dan praktik. Mereka harus memastikan pembelajaran tetap menyenangkan, kontekstual, dan berpusat pada siswa.

2. Sekolah Sebagai Pusat Inovasi Pendidikan

Sekolah berfungsi sebagai laboratorium inovasi untuk penerapan Kurikulum Merdeka. Kepala sekolah dan guru harus membangun budaya refleksi dan kolaborasi agar implementasi Kurikulum Merdeka belajar dapat berjalan konsisten.

Beberapa jurnal studi menunjukkan bahwa sekolah yang rutin melakukan evaluasi internal memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi. Program mentoring antar guru juga terbukti efektif mempercepat adaptasi terhadap kurikulum baru.

Selain itu, dukungan komunitas seperti forum guru dan jurnal manajemen pendidikan menjadi sarana berbagi pengalaman dan hasil riset. Semua upaya ini membantu sekolah mencapai mutu pendidikan yang lebih baik.

Baca juga: Dilema Guru Akhir Semester: Perlukah Mempertimbangkan Nilai Bagus atau Nilai Asli pada Kurikulum Merdeka

Evaluasi dan Dampak Implementasi Kurikulum Merdeka

1. Pengaruh terhadap Kualitas Pembelajaran

Dampak nyata implementasi Kurikulum Merdeka terlihat pada meningkatnya kualitas pembelajaran di berbagai sekolah penggerak. Siswa menjadi lebih aktif, percaya diri, dan berani mengemukakan pendapat.

Evaluasi tidak lagi berfokus pada nilai semata, tetapi juga pada proses belajar. Guru menilai partisipasi, kolaborasi, dan kemampuan refleksi siswa. Pendekatan ini membantu siswa memahami konsep secara mendalam dan kontekstual.

Penelitian dalam jurnal kajian pendidikan menyebut bahwa pendekatan ini efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi siswa, terutama di sekolah dasar.

2. Pembelajaran dari Sekolah Penggerak

Program belajar di sekolah penggerak menjadi contoh nyata bagaimana implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran dapat berhasil bila seluruh pihak berkomitmen.

Di beberapa sekolah, termasuk SMA Negeri 4, hasilnya menunjukkan peningkatan minat belajar dan partisipasi siswa.

Faktor pendukung utamanya adalah kepemimpinan kepala sekolah, pelatihan guru berkelanjutan, serta dukungan masyarakat.

Semua elemen ini berperan besar dalam membentuk ekosistem merdeka belajar di era digital.

3. Kontribusi Dunia Akademik dan Publikasi Ilmiah

Transformasi pendidikan juga diperkuat oleh penelitian dari berbagai jurnal ilmiah, jurnal basicedu, hingga jurnal manajemen pendidikan. Kajian-kajian tersebut membantu memperbaiki pendekatan pembelajaran dan strategi penerapan kurikulum.

Jurnal ilmiah mandala education menyoroti pentingnya refleksi berkelanjutan agar guru memahami karakteristik siswa. Sementara itu, jurnal pendidikan Islam mengkaji bagaimana pendidikan Islam dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum merdeka belajar di sekolah untuk membangun moral dan spiritualitas pelajar.

Masa Depan Kurikulum Merdeka dan Harapan Pendidikan Nasional

1. Kurikulum Nasional 2024 dan Transformasi Berkelanjutan

Tahun 2024 menjadi tonggak penting, karena Kurikulum Merdeka direncanakan menjadi kurikulum nasional. Hal ini menandai era baru dalam sistem pendidikan Indonesia yang lebih terbuka, fleksibel, dan berbasis kompetensi.

Pemerintah harus memastikan transisi berjalan lancar melalui kebijakan yang berpihak pada sekolah. Selain itu, perlu dilakukan implementasi kurikulum merdeka dalam meningkatkan mutu pendidikan agar hasil belajar lebih merata di seluruh daerah.

Penerapan ini diharapkan dapat memperkuat pembelajaran berbasis proyek serta memperluas akses terhadap pendidikan dasar dan menengah yang inklusif.

2. Menyiapkan Generasi Merdeka di Era Digital

Era digital menuntut siswa berpikir kritis, kreatif, dan adaptif. Melalui implementasi merdeka belajar, peserta didik diharapkan mampu menghadapi tantangan global dengan percaya diri.

Guru dan sekolah memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai pendidikan karakter sekaligus kemampuan teknologi. Dengan begitu, Indonesia dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas akademis, tetapi juga berintegritas.

Implementasi ini memperkuat arah pembelajaran Kurikulum Merdeka menuju transformasi berkelanjutan yang selaras dengan tujuan pendidikan di Indonesia.

Kesimpulan

Implementasi Kurikulum Merdeka merupakan langkah nyata dalam transformasi pendidikan nasional. Dengan dukungan guru, pemerintah, dan masyarakat, kurikulum ini berpotensi besar meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Keberhasilan tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada komitmen setiap sekolah untuk berinovasi. Melalui semangat Merdeka Belajar, Indonesia siap mencetak generasi unggul yang berpikir kritis, mandiri, dan berkarakter kuat.

Pendidikan masa depan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan perjalanan untuk membentuk manusia seutuhnya — merdeka dalam berpikir, berkarya, dan berkontribusi bagi bangsa.

FAQ (Pertanyaan Umum Seputar Kurikulum Merdeka)

1. Apakah Kurikulum Merdeka efektif?

Ya. Berdasarkan hasil penelitian di berbagai jurnal pendidikan, kurikulum ini terbukti meningkatkan minat belajar dan karakter siswa.

2. Apa perbedaan utama Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka?

Kurikulum 2013 bersifat seragam, sedangkan Kurikulum Merdeka lebih fleksibel dan berbasis konteks sekolah.

3. Apa tantangan implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar?

Tantangan utamanya adalah kesiapan guru, fasilitas terbatas, serta adaptasi terhadap teknologi digital.

4. Bagaimana cara menerapkan Kurikulum Merdeka di sekolah?

Guru dapat menggunakan pembelajaran berbasis proyek, menilai proses belajar, dan melibatkan siswa secara aktif.

5. Apakah Kurikulum Merdeka berlaku untuk semua jenjang?

Ya. Kurikulum ini diterapkan di semua jenjang, mulai dari Kurikulum Merdeka PAUD hingga perguruan tinggi.

 

Dengan demikian, secara perlahan tapi pasti, guru juga akan mampu mengimbangi dan mengembangkan kurikulum yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan sekolah maupun peserta didik sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka.

Penulis: Delia Lupita Adi                                    
Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Malang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses