Independensi Harga Mati

Independen merupakan sebuah kata yang begitu akrab di telinga kita. Sering kita mendengar kata ini di mana- mana. Namun, pernahkah kita mendalami apa makna dari kata independen? Apakah independen hanya sekedar bebas? Apakah independen hanya sebatas berdiri sendiri? Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba mengulas makna independensi dalam perspektif mahasiswa.

Mahasiswa merupakan agent of change. Mereka adalah sosok-sosok manusia yang memiliki pemikiran yang luas, maju, dan krittis. Mereka adalah pemuda-pemudi harapan bangsa, mereka adalah orang-orang bermental baja tumpuan rakyat. Mereka adalah orang-orang berniat tulus, berhati murni, dengan pemikiran progresif.

Mahasiswa sebagai agent of change tentu memiliki andil yang besar dalam sistem ketatanegaraan kita. Mereka memiliki akses untuk merubah struktur kenegaraan. Mereka mampu menciptakan gagasan-gagasan besar bagi kepentingan bangsanya. Bahkan mereka mampu mengakhiri sistem diktator yang sekian lama membelenggu rakyat.

Tentu dalam segala tindak tanduknya, segala pemikirannya, dan segala aktivitasnya, mahasiswa lekat dengan satu kata, yaitu “independen”. Bagi mahasiswa, menjaga independensi adalah harga mati. Independensi ibarat harga diri bagi mahasiswa. Dengan independensi, mahasiswa mempunyai benteng kokoh nan tebal yang tidak dapat ditembus oleh para peretas ideologi, pendogma pikiran, dan pendoktrin yang melenakan.

Independensi mutlak diperlukan oleh mahasiswa, ia menjaga ketulusan pemikirannya, ia menjaga kesucian nuraninya, ia membentengi jiwanya dari godaan setan yang terkutuk!. Dengan semangat independensi yang kuat, maka akan terlahir pula sosok mahasiswa yang kuat pula, baik secara intelektual, moral, iman, dan takwa.

Tak pelak memang, independensi merupakan suatu hal yang menjadi kebutuhan primer mahasiswa. Tanpanya mahasiswa takkan berdaya, takkan kuasa, takkan digdaya. Tanpa indepensi, mahasiswa akan terlena, tergoda, dan terperana. Mahasiswa hanya akan menjadi bulan – bulan penguasa. Ia akan dimanfaatkan, ia akan mudah didkoktrin, dan pada akhirnya ia akan terjerembab kedalam jurang belenggu.

Namun, saat ini kita melihat bagaimana mahasiswa begitu coba dikikis, dikeruk, dan dikerik semangat independensinya. Mereka begitu nyata kita lihat coba didoktrin, dicuci otaknya hanya untuk bertekuk lutut di hadapan penguasa. Kita lihat upaya pengkerdilan ruang gerak mahasiswa. Sering kita lihat mahasiswa kini begitu terjerat oleh segala kebijakan yang dibuat oleh penguasa.

Mahasiswa kini sedang coba dijinakan, ditaklukan, dan dikendalikan. Penguasa tak mau melihat mahasiswa yang urakan, ugal-ugalan, dan berjiwa demonstran. Penguasa berusaha mengikis jiwa muda mahasiswa yang penuh gagasan, penuh wawasan, dan penuh semangat perlawanan dengan mencerabut semangat independesi setiap mahasiswa dalam jiwanya.

Segala upaya dilakukan penguasa untuk melaksanakan akal bulusnya tadi. Sistem meritokrasi adalah yang perlu diperhatikan secara khusus bagi mahasiswa. Meritokrasi sendiri sebenarnya adalah upaya pemberian penghargaan bagi mereka yang berprestasi. Contohnya seseorang yang berprestasi dan memiliki banyak sumbangsih dalam bidang pendidikan, diangkat statusnya menjadi menteri pendidikan.

Memang secara kasat mata seolah tak ada yang salah dengan sistem meritokrasi, namun seorang mahasiswa dengan semangat independensi yang kuat tentu akan menyikapinya secara hati-hati dan bijaksana. Bisa jadi sistem itu dilakukan sebagai upaya pelemahan dan pengontrolan daya kritis mahasiswa, atau apakah upaya berbau meritokrasi tadi memang sebuah niat yang murni dan tulus.

Independensi tentu mempunyai andil yang besar dalam menyikapi hal di atas. Independensi merupakan pusat filtrasi pada segala bentuk kontak yang terjadi, apalagi dengan hubungannya dengan penguasa. Dalam organ tubuh, independen ibarat hati, ialah yang menyaring segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, ialah yang berusaha menghilangkan dan menetralisir setiap racun yang berpotensi mengancam kondisi tubuh.

Indpendensi juga memberi rasa aman bagi mahasiswa dalam menjalankan segala kegiatannya, karena dari semangat independensi akan terlihat suatu hasil yang lurus dan tulus. Yakinlah bahwa dengan berpegang teguh pada semangat independensi yang kuat, maka di dalam hatinya, mahasiswa juga telah memiliki sutatu pondasi yang kokoh dalam menjalankan setiap kegiatannya.

Perlu dicamkan pula, perlu diingat pula, betapa dengan semangat independensi yang kuat, mahasiswa dapat memberikan suatu jalan keluar yang cerah bagi kemajuan bangsa. Kita lihat orde baru tumbang oleh semangat independensi yang kuat. Mereka tak gentar oleh berondongan peluru yang siap kapan saja menghujam badan mereka.

Mereka tak tergiur oleh setiap materi yang coba ditawarkan rezim Orde Baru sebagai bentuk uang damai. Mereka tetap berdiri tegak, dengan semangat independensi yang kuat, mereka menayatakan untuk tetap melawan, walaupun nyawa sebagai taruhannya!

Begitupun dalam sekup yang kecil seperti kampus, tetap dibutuhkan semangat independensi yang menggelora, menggebu – gebu, dan bearapi – api. Jangan sampai kita terlenakan dengan takluk oleh setiap kebijakan kampus, apalagi sampai menjadi alat atau sapi perah kampus !!. Katakan tidak dan segera nayatakan perlawanan.

Bagi mahasiswa dalam hubungannya dengan penguasa, independensi itu sendiri berati membaur, bukannya melebur. Kemudian indpendensi itu beriringan, bukannya digiringkan. Dan bagi mahasiswa, independensi itu adalah harga diri yang tak boleh digadaikan. Independensi harga mati!

Rahman Wahid
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI