Kenali Manfaat Bawang Putih sebagai Obat Hipertensi

Bawang Putih
Sumber: media.istockphoto.com

Bawang putih merupakan tanaman semusim yang pertumbuhanya mirip dengan bawang merah, tetapi berbeda dari daun dan tangkai bunga bawang merah, yaitu memiliki rongga yang menyerupai tabung. Tanaman ini bersifat steri. Namun, para pakar meyakini bahwa bawang putih berasal dari Serbia Rusia sebelum menyebar ke Asia, Mediterania, dan akhirnya Eropa.

Di Indonesia, bawang putih dibawa oleh pedagang Cina dan Arab, kemudian dibudidayakan di daerah pesisir atau daerah pantai. Seiring dengan berjalannya waktu, bawang putih masuk ke daerah pedalaman dan akhirnya bawang putih akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Tanaman ini digunakan sebagai bumbu penyedap masakan dan banyak juga digunakan sebagai obat tradisional. Bawang putih memiliki khasiat yang sangat  banyak, kandungan kimia allisin dan alii-metil-sulfida berkhasiat sebagai anti hipertensi.

Bacaan Lainnya
DONASI

Pemberian bawang putih tunggal (Allium Sativum) dapat menurunkan tekanan  darah pada penderita. Kandungan alami dari bawang putih yang mengandung senyawa kimia yang sangat penting, salah satunya termasuk volatile oil (0,1-0,36 %) yang mengandung sulfur, termasuk didalamnya adalah allicin, ajoene dan vinyl thinnes yang dihasilkan secara non enzimatik dari allicin yang dapat mengencerkan darah dan berperan dalam mengatur tekanan darah sehingga dapat memperlancar peredaran darah.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang bertambah pada 2025 mendatang diperkirakan sekitar 29% warga dunia terkena hipertensi. WHO menyebutkan negara ekonomi berkembang memiliki penderita hipertensi sebesar 40% sedangkan negara maju hanya 35%, kawasan Afrika memegang posisi puncak penderita hipertensi, yaitu sebesar 40%.

Baca Juga: Pengaruh Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus) sebagai Pengobat Antihipertensi

Kawasan Amerika sebesar 35% dan Asia Tenggara 36%. Kawasan Asia penyakit ini telah membunuh 1,5 juta orang setiap tahunnya. Hal ini menandakan satu dari tiga orang menderita hipertensi. Sedangkan di Indonesia cukup tinggi, yakni mencapai 32% dari total jumlah penduduk.

Efek antihipertensi dari bawang putih sudah diteliti namun masih bersifat kontroversial. pada penelitian-penelitian sekarang ini, dilakukan percobaan-percobaan dengan hasil yang menunjukkan penurunan tekanan darah diastolik dan ada juga percobaan yang menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik yang bermakna pada pasien yang diterapi dengan bawang putih.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hananto (2015) telah membuktikan pengaruh bawang putih terhadap tekanan darah penderita hipertensi dengan hasil tekanan darah sebesar 179/100-109 mmHg (pre test) 140-159/90-99 mmHg (post test) dan hasil uji  wilcoxon sign rank test menunjukan nilai p <0,05.

Kemudian Penelitian lain dari Mohanis (2015) juga membuktikan efek bawang putih (air seduhan) yang sama dengan hasil tekanan darah sistolik rata-rata adalah 165.33 mmHg (sebelum) dan 154 mmHg (setelah). Tekanan darah diastolik rata-rata 96,66 mmHg (sebelum) dan 94 mmHg (setelah). Sementara mean artery presure (MAP) rata-rata 124,68 mmHg (sebelum) dan 12,98 mmHg (setelah).

Baca Juga: Pengaruh Tanaman Daun Salam (Syzygium Polyanthum) sebagai Antihipertensi

Sebagai pendamping obat medis, konsumsi bawang putih bahkan telah disarankan oleh para dokter di Australia untuk para pasien hipertensi. Catherine Hood juga menemukan bukti bahwa bawang putih dapat mengurangi aktivitas angiotensin coverting enzyme(ACE). Ini merupakan mekanisme di mana obat inhibitor ACE berperan dalam menurunkan tekanan darah dengan meminum satu gelas air seduhan bawang putih rutin setiap pagi selama 7 hari.

Hasilnya menunjukkan pengurangan signifikan pada tekanan darah sistolik dan diastolik sebesar 6-10 mmHg dan tekanan diastol 6-9 mmHg. Menurut beberapa ahli, pengobatan nonfarmakologis sama penting dengan pengobatan farmakologis, dan bahkan akan lebih menguntungkan terutama bagi penderita hipertensi ringan.

Pada penderita hipertensi ringan, pengobatannonfarmakologis kadang dapat mengendalikan atau menurunkan tekanan darah sehingga pengobatan secara farmakologis tidak diperlukan atau sekurangnya ditunda. Namun pada kondisi ketika obat antihipertensi sangat diperlukan, maka pengobatan nonfarmakologis dapat dijadikan sebagai pelengkap sehingga menghasilkan efek pengobatan yang lebih baik.

Baca Juga: Potensi Rebusan Daun Alpukat (Persea americana Miller) sebagai Alternatif Pengobatan Hipertensi

Pada prinsipnya ada dua macam terapi yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit hipertensi,  yaitu terapi farmakologi dan terapi non farmakologi. Pengobatan farmakologi yaitu dengan meminum obat-obatan antihipertensi seperti diuretic, antagonis kalsium, penghambat enzim konversi angiotensin.

Dan pengobatan non farmakologi yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat yaitu berupa penurunan berat badan, olahraga, berhenti merokok, modifikasi diet seperti mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran, mengurangi asupan garam, dan mengurangi konsumsi alkohol. Besarnya efek samping pengobatan farmakologi membuat banyak orang beralih menggunakan pengobatan non farmakologi.

Penulis: Ramadani Saputri
Mahasiswa S1 Jurusan Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Padang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI