Pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP), tidak sedikit siswa-siswi yang merasa cemas dan takut ketika dihadapkan dengan materi aljabar. Konsep awal aljabar mulai diperkenalkan sejak kelas 3-6 SD yang merupakan pola bilangan, kemudian berkembang menjadi manipulasi simbolik yang lebih formal di SMP dalam berbagai kurikulum nasional, termasuk Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka.
Dalam Kurikulum Merdeka, penguatan numerasi termasuk kemampuan memahami representasi, hubungan, dan operasi angka dianggap kompetensi esensial yang harus dikuasai siswa (Kemendikbud, 2025).
Namun, capaian numerasi siswa Indonesia pada studi internasional seperti TIMSS menunjukkan prestasi matematika siswa kelas VIII masih relatif rendah dibanding negara lain peserta studi tersebut, yang menjadi salah satu indikator tantangan penguasaan materi matematika di jenjang ini.
Di samping itu, aljabar seringkali dianggap sebagai batu sandungan karena sifatnya yang sangat abstrak, menggunakan banyak simbol yang cukup sulit dipahami oleh siswa-siswi yang sepenuhnya belum menguasai matematika dasar.
Ketakutan ini kemudian membentuk sikap pasrah atau menghindar terhadap pembelajaran matematika. Dengan demikian, ketakutan siswa pada materi aljabar tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan kombinasi dari pengalaman negatif sebelumnya, pemahaman konsep dasar yang lemah, dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang bertahap dan suportif agar siswa dapat menguasai materi aljabar tanpa merasa tertekan.
Banyak siswa SMP mengalami ketakutan saat belajar aljabar karena sejak SD mereka belum memiliki pondasi numerasi yang kuat. Penguasaan operasi aritmatika dasar, seperti faktorisasi, perkalian berurutan, dan hubungan pola bilangan, menjadi prasyarat penting sebelum siswa siap menerima konsep aljabar yang lebih abstrak.
Literasi numerasi siswa Indonesia relatif rendah, yang juga berdampak terhadap kemampuan mereka memahami konsep matematis yang lebih tinggi seperti aljabar. Ketika siswa belum paham bagaimana angka bekerja secara konsisten atau bagaimana pola bilangan terbentuk, simbol huruf dan hubungan variabel pada aljabar terasa asing dan membingungkan.
Di sisi lain, ketidaksiapan pemahaman ini membuat siswa mudah merasa kewalahan bahkan sebelum benar-benar mencoba memahami materi yang sebenarnya dapat dikaitkan dengan hal yang lebih konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Akibatnya, pondasi yang lemah sejak SD turut memperkuat ketakutan mereka saat memasuki pembelajaran aljabar di SMP. Hal tersebut telah diteliti oleh beberapa mahasiswa/mahasiswi dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Selain faktor kemampuan dasar, metode pengajaran yang kurang konstruktif juga memperkuat ketakutan siswa terhadap aljabar. Banyak guru masih menyampaikan materi secara prosedural, yakni berfokus pada rumus tanpa mengaitkannya dengan konteks yang bermakna.
Sebuah studi menemukan bahwa lebih dari 45% siswa SMP merasa guru menjelaskan aljabar terlalu cepat dan tidak memberikan contoh konkret yang cukup. Di sisi lain, pendekatan menghafal langkah-langkah penyelesaian membuat siswa tidak memahami alasan di balik manipulasi simbol, sehingga mereka mudah panik ketika menghadapi soal baru.
Di sisi lain, ketakutan siswa terhadap aljabar dapat dikurangi melalui strategi pembelajaran yang lebih suportif dan bertahap. Mungkin di zaman modern saat ini, siswa/siswi dapat menggunakan media digital, contohnya seperti handphone, laptop, dan lain-lainnya.
Menurut saya dengan menonton video yang bermanfaat mengenai pembelajaran matematika aljabar tentu sangat membantu siswa/siswi dalam memahami konsep, pola, representasi matematika aljabar itu sendiri (Jamna, Solfema, Handican ; 2022).
Tidak hanya itu, suasana di dalam kelas juga tidak kalah pentingnya dalam menyusun strategi pembelajaran yang efektif. Dengan suasana kelas yang nyaman dan berbagai fasilitas yang memadai untuk belajar. Siswa/siswi dapat merasa bebas untuk mencoba bahkan melakukan kesalahan selama menjalani proses belajar serta teman – teman yang mendukung dalam proses belajar.
Dengan demikian, kombinasi penguatan konsep numerasi dasar, penggunaan contoh-contoh nyata, dan dukungan emosional menunjukkan bahwa ketakutan terhadap aljabar dapat dikurangi jika pembelajaran diarahkan pada kebutuhan kognitif dan psikologis siswa.
Ketakutan siswa SMP terhadap materi aljabar pada dasarnya berakar dari kombinasi faktor akademis dan pedagogis yang saling berkaitan. Beragam temuan menunjukkan bahwa kelemahan pemahaman dasar sejak SD, pendekatan pengajaran yang kurang bermakna, dan pengalaman belajar yang menegangkan berkontribusi pada munculnya kecemasan tersebut.
Meski demikian, masalah ini bukan sesuatu yang tidak dapat diatasi. Dengan memperkuat numerasi sejak dini, menerapkan strategi pembelajaran yang lebih konkret dan bertahap, serta membangun lingkungan kelas yang suportif, guru dapat membantu siswa melihat aljabar sebagai konsep yang dapat dipahami, bukan sebagai sumber rasa takut.
Oleh karena itu, upaya kolaboratif antara guru, sekolah, dan orang tua sangat penting agar pembelajaran aljabar dapat berlangsung lebih humanis dan mendorong kepercayaan diri siswa dalam menghadapi tantangan matematika.
Penulis: Kent Alexander Suganda
Mahasiswa Matematika, Universitas Katolik Parahyangan
Dosen Pengampu: Frisca Ayu Desi Widyaningrum, S.Pd., M.A.
Referensi
Kemendikbud.(2025).Studi Internasional TIMSS.https://pusmendik.kemdikbud.go.id/produk/kategori-asesmen-terstandar/page-studi-internasional-timss?utm_source
Rosadi, Fahlevi, Rohana, Rena Revita.(2025).Tantangan Perkembangan Kemampuan Matematis Siswa Indonesia dalam Kurikulum Merdeka.https://journal.arimsi.or.id/index.php/Aljabar/article/view/542
Murni, Jamna, Solfema, Rhomiy Handican.(2022).Pemanfaatan Smartphone dalam Pembelajaran Matematika.https://j-cup.org/index.php/cendekia/article/download/2153/845/
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














