Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak, definisi bullying adalah perilaku kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya.
Atau dengan kata lain bullying dapat dianggap sebagai tindakan seseorang yang disengaja untuk membuat orang lain merasa takut atau terancam, sehingga menyebabkan korban merasa tidak aman, atau bahkan tidak bahagia (Lestari, 2016).
Tindakan tersebut menyoroti bahwa bullying tidak hanya terbatas pada tindakan fisik, tetapi juga mencakup kekerasan psikologis.
Namun, yang pasti bullying sering kali terjadi dalam waktu yang cukup lama, menyebabkan dampak yang berkepanjangan pada kesejahteraan korban.
Perilaku bullying adalah tindakan negatif di mana seseorang dengan sengaja menyebabkan cedera atau ketidaknyamanan pada orang lain.
Ini sebagian besar mencerminkan perilaku agresif yang melibatkan kontak fisik, kata-kata kasar, atau bahkan ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang menghina.
Selain itu, bullying juga dapat mencakup pengucilan yang disengaja dari suatu kelompok (Volk, 2014).
Jenis-Jenis Bullying
- Verbal: Mengejek, menghina, mengancam, atau merendahkan seseorang secara lisan.
- Fisik: Melakukan kontak fisik untuk menyakiti, seperti memukul, menendang, atau mendorong.
- Sosial: Mengucilkan atau menyebarkan gosip buruk untuk merusak reputasi korban.
- Digital/Siber: Menggunakan media digital untuk mengintimidasi, mengancam, atau menyebarkan informasi memalukan tentang seseorang.
Bullying bukan hanya perilaku iseng atau candaan yang berlebihan. Ia adalah bentuk kekerasan yang secara perlahan menggerogoti kesehatan psikologis, kematangan emosi, dan kepercayaan diri peserta didik.
Anak yang terus-menerus menjadi korban biasanya mengalami tekanan batin, ketakutan, rasa tidak berharga, hingga kehilangan kontrol terhadap dirinya.
Pada kasus SMA 72, dugaan bahwa pelaku mengalami perundungan menunjukkan bahwa akumulasi tekanan emosional dapat memicu tindakan ekstrem ketika tidak ditangani dengan baik.
Ini membuktikan bahwa perkembangan emosi anak di sekolah memerlukan perhatian serius, bukan hanya dalam sisi akademik tetapi juga dalam pembentukan karakter dan kesehatan mental.
Dunia pendidikan tentu dibuat terkejut atas peristiwa tersebut. Bahkan beberapa pihak lain dibuat heran dan bingung dengan tindakan ekstrem yang dilakukan seorang siswa SMA tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan terkait hidup sang pelaku menyangkut kondisi sosial, psikologis, dan pendidikan yang dijalaninya selama ini.
Ironis memang, karena sang pelaku adalah siswa bersekolah yang masih di bawah umur. Bahkan beberapa sumber informasi mengatakan pelaku peledakan diduga korban perundungan yang tak memiliki ruang aman untuk berlindung.
Begitu tidak terbukanya terhadap permasalahan bullying yang dihadapinya, ia pada akhirnya mengalami repressing psikis yang menimbulkan perasaan dikeluarkan dari komunitas, tidak dihargai, dan dikucilkan (Agustine, 2025).
Dampak bullying terhadap perkembangan psikologis, sosial, dan akademik peserta didik:
1. Mengalami Ketakutan dan Kecemasan
Bullying dapat menimbulkan rasa takut dan cemas, membuat anak enggan pergi ke sekolah. Saat di sekolah, korban sering merasa khawatir menggunakan fasilitas, seperti kamar mandi, berjalan di lorong, atau naik kendaraan umum.
Jika berlanjut, anak bisa semakin menghindari sekolah dan menolak mengikuti kegiatan, seperti field trip atau kunjungan lapangan.
2. Kehilangan Kepercayaan Diri
Akibat intimidasi bagi korban Intimidasi membuat anak merasa lebih rendah dari pelaku, memandang dirinya buruk, dan kehilangan kepercayaan diri.
Ia menjadi ragu mencoba hal baru, dan pengalaman buruk ini dapat terbawa hingga dewasa, sehingga berdampak pada harga diri yang rendah.
3. Mengisolasi Diri
Bullying membuat korban merasa ditolak dan dibuang secara sosial, sehingga ia cenderung mengisolasi diri dari teman maupun keluarga.
Selain itu, perundungan di sekolah menciptakan lingkungan yang tidak sehat, di mana anak yang dianggap lemah terus menjadi sasaran intimidasi dan dikucilkan.
4. Sulit Membentuk Hubungan
Masalah kepercayaan dan kecemasan, bullying dapat membuat anak sulit menjalin hubungan karena merasa tidak percaya pada orang lain dan kesulitan berkomunikasi.
Dampak ini tidak hanya terjadi sesaat, tetapi bisa terbawa hingga ia dewasa.
5. Memicu Gangguan Mental
Bullying dapat memicu gangguan mental pada anak dan remaja, seperti depresi, kecemasan, gangguan makan, hingga PTSD.
Pada kasus ekstrem, korban bisa menyakiti diri, berpikir untuk bunuh diri, atau bahkan melakukan kekerasan sebagai bentuk pembalasan.
Baca Juga: Bullying Antara Refleks Terkondisi dan Lingkungan Toxic
6. Masalah Kesehatan Fisik
Bullying fisik dapat langsung menimbulkan luka atau memar. Selain itu, trauma mental juga dapat memengaruhi kesehatan tubuh, membuat korban lebih sering mengalami sakit kepala, jantung berdebar, sakit perut, sulit tidur, mengompol, dan berbagai keluhan fisik lain tanpa penyebab medis yang jelas.
7. Penurunan Prestasi Akademik
Rasa takut dan cemas membuat korban sulit fokus belajar, lebih sering membolos, bahkan berisiko putus sekolah. Akibatnya, nilai dan prestasi akademiknya menurun.
Sekolah sering kali lalai dalam menangani bullying karena menganggapnya hal biasa. Padahal, masa remaja merupakan fase penting bagi pembentukan identitas, dan setiap gangguan emosional dapat mengubah pola pikir anak.
Teori Erikson menjelaskan bahwa remaja sangat membutuhkan penerimaan sosial untuk membentuk identitas diri sementara bullying atau perundungan dapat merusak perkembangan jati diri mereka.
Teori Vygotsky menjelaskan bahwa peserta didik membutuhkan interaksi positif sebagai scaffolding untuk berkembang sosial, tetapi kekerasan menghancurkan dukungan tersebut.
Untuk mencegah kasus serupa terulang, sekolah perlu memperkuat sistem pengawasan, pendidikan karakter dan pelaporan bullying, menyediakan layanan konseling, serta menciptakan budaya empati di antara peserta didik.
Keluarga juga harus aktif membangun komunikasi terbuka dengan anak, sementara pihak sekolah dan pemerintah harus bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman dan suportif.
Upaya pencegahan ini penting agar sekolah kembali menjadi ruang yang mendukung perkembangan sehat bagi seluruh peserta didik.
Penulis:
1. Adhwaa Shofi Nabilah
2. Hasbi Nur Rizkyah
3. Rizkyana Putri Syifa Fatimah Azzahra
4. Zahra Fadhilah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Irma Sofiasyari, S.Pd., M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Referensi
Lestari, Windy Sartika. (2016). Analisis faktor-faktor penyebab bullying di kalangan peserta didik (studi kasus pada siswa smpn 2 kota tangerang selatan).
Volk, Anthony A., Dane, Andrew V, & Marini, Zopito A. (2014). What is bullying? A theoretical redefinition. Developmental Review, 34(4), 327–343.
Agustine.J. 2025. Insiden Ledakan SMAN 72 Jakarta Murni Reaksi Personal. https://ugm.ac.id/id/berita/pengamat-ugm-insiden-ledakan-sman-72-jakarta-murni-reaksi-personal/
Andini, N., Hafizhah, N. N., Meylani, N. I., & Kurnia, R. (2025). Dampak Sosial dan Psikologis Bullying pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 9(6), 1779–1787. https://doi.org/10.31004/basicedu.v9i6.10833
Fadila, I. (2025). 7 dampak bullying di sekolah bagi korban dan pelaku. Hello Sehat. https://hellosehat.com/parenting/remaja/kesehatan-mental-remaja/dampak-bullying
Universitas Negeri Surabaya. (2025). BULLYING! Mari pahami dan cermati: Pengertian, Macam Bullying dan Penyebab Bullying. S‑1 Sastra Jerman, Universitas Negeri Surabaya. https://s1sj.fbs.unesa.ac.id/post/bullying-mari-pahami-dan-cermati-pengertian-macam-bullying-dan-penyebab-bullying
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












