Ketika Ormawa Menjadi “Kuburan Massal Intelektual”

Melirik pergerakan mahasiswa Indonesia era Orla (Orde Lama) dan Orba (Orde Baru), aroma aktivis mahasiswa masih kuat menyengat. Kegiatan diskusi di pojok dan sudut-sudut kampus masih cukup masif sehingga menghasilkan gagasan dan pemikiran yang anti kapitalis dan egaliter. Sistem demokrasi di kalangan mahasiswa masih terlihat jelas dengan kegiatan berorganisasinya.

Dedikasi dan etos pengurus organisasi yang tinggi menjadikannya nutrisi dan pacuan bagi perahu organisasinya sehingga tumbuh subur dan berprogres ke arah yang lebih baik. Ruh idealisme masih terawat dan terjaga dalam (aktivis) mahasiswanya. Hal tersebut dibuktikan dengan aksi mahasiswa yang turun ke jalan dalam melaksanakan demo(krasi) ke gedung pemerintahan, menyampaikan aspirasinya langsung, tidak elitis dan berjuang demi menjaga hak dan kesejahteraan rakyat.

Demonstrasi sendiri sesungguhnya bukanlah hal yang dilarang, apalagi aneh, sebab di negara yang bersistem Demokrasi, demo merupakan hal yang lumrah dilakukan dan mesti hadir bila kondisi negara tidak dalam keadaan baik-baik saja. Demo tidak sekedar kritik dibalut aksi, namun juga merawat fungsi dan peran dari Demokrasi itu sendiri. Demonya para mahasiswa (agent of change) merupakan bentuk kepedulian sekaligus keresahan para mahassiswa yang memikirkan kondisi dan nasib negara kedepannya.

Memasuki era reformasi, massa beranggapan kondisi negara telah berangsur membaik dan sehat wal afiat setelah di cengkeram Orba selama 32 tahun lamanya. Meskipun begitu, sisa-sisa luka pada tatanan pemerintahan dan kerakyatan setelah terlepas dari doktrin Orba masih banyak dan perlu diobati. Terlepas dari Orba dan tegaknya reformasi merupakan kemerdekaan demokrasi kali kedua yang dirayakan seluruh lapisan masyarakat.

Perubahan pun terjadi secara drastis di kalangan Ormawa, terutama yang duduk di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Saat ini, mahasiswa yang menjadi bagian atau menjadi anggota Ormawa seringkali dianggap sebagai sebuah keistimewaan, seperti dianggap mampu menjalankan amanahnya yang sibuk, membagi tugas antara kuliah dan organisasi. Ormawanya besar bahkan terkenal karena eventnya. Sebuah kebanggaan yang melunturkan nilai-nilai agent of change.

Kini sejarah telah lapuk bersama zamannya. Pergerakan mahasiswa sendiri mengalami pergeseran yang menanggalkan nilai-nilai Ormawa sebelumnya yang memperjuangkan reformasi yang kini dapat kita hirup harumnya.

Dekadensi dalam pergerakan mahasiswa terjadi pada nadi-nadi mahasiswa yang menjadi penghuni di Ormawa kampus. Dimulai dari kemerosotan dalam literasi, diskusi, hingga mulai tumpul dan bahkan lenyap kritisme mahasiswa.

Tan Malaka pernah berkata, Idealisme merupakan kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Bila pemudanya atau mahasiswanya tidak lagi idealis, maka yang terjadi ialah tenggelam dalam arus tanpa berani atau berdaya untuk melawannya.

Ormawa kini justru tidak mampu menumbuhkan kritis dan idealisme pada mahasiswa. Sebuah kemalangan atau justru foya-foya intelektual ketika event digelar. Bila Ormawa besar dan terkenal hanya karena rajin gelar atau sukses di eventnya, itu tidak jauh beda dengan OSIS di SMA.

Semestinya, di kalangan mahasiswa jangan terpaku karena event, banyak hal lain yang dapat dilakukan. Hal selain event dan jauh lebih berfaedah ialah menggelar kajian, diskusi, ataupun peningkatan pada kegiatan litera(k)si. Hal ini bertujuan untuk memupuk kembali kritisme dan idealisme mahasiswa, terutama yang bernaung di bawah payung Ormawa.

Mirisnya, jika terjadi penyelewengan hak mahasiswa oleh birokrasi kampus, Ormawa saat ini cenderung tutup mulut atau bahkan pura-pura tidak tahu. Diktatorisasi kampus mungkin saja terjadi bila minimnya pengawasan maupun lunturnya demokrasi di lingkungan kampus. Ormawa, terutama Badan Eksekutif Mahasiswa semestinya mampu melayangkan kritiknya kepada pihak birokrasi kampus atas kesewenangannya terhadap hak mahasiswanya.

Ormawa sendiri bukanlah alat kampus dalam mengontrol gerak-gerik mahasiswa, melainkan sebaliknya yang mengontrol dan mengawasi kebijakan kampus kepada mahasiswanya. Bila terjadi deviasi pada kebijakan kampus, menyulitkan atau tidak sesuai dengan harapan mahasiswa, maka Ormawa wajib menunaikan tugasnya sebagai wakil mahasiswa untuk melakukan advokasi ataupun peninjauan kepada petinggi kampus agar dapat mendengar aspirasi dari mahasiswa.

Namun akhir-akhir ini, penghuni Ormawa banyak yang telah masuk angin. Orientasi dalam batang tubuh Ormawa yang selayaknya Independen, kini telah beranjak dan tampak ditunggangi berbagai kepentingan, entah itu kepentingan pribadi ataupun yang bersifat kolusi. Bahkan Ormawa kini telah menjelma menjadi humas kampus. Jelas independensinya mulai terganggu.

Bila menjelang masa penerimaan mahasiswa baru, Ormawa turut ambil bagian dalam menyebarkan brosur kampusnya kepada masyarakat umum dengan alasan membantu pihak kampus dalam mempromosikan PT-nya agar laku di pasaran. Padahal fungsi tersebut cukup dilakukan oleh pihak PMB. Namun dengan alasan demi membesarkan nama kampus, para aktivis mahasiswa ini rela turun ke jalan untuk menjadi sales kampus agar menarik minat konsumen yang lebih banyak.

Berkenaan dengan fungsinya sebagai perwakilan mahasiswa, ibarat dewan perwakilan rakyat yang duduk manis di parlemen, diharap tidak mabuk kepayang atau masuk angin. Namun seperti yang terjadi akhir-akhir ini pada Dewan Perwakilan Rakyat kita yang menarik perhatian, diagung-agungkan dengan sebongkah program kerja, dan tidak dapat dikritik karena UU MD3 yang meruntuhkan pilar-pilar demokrasi. Alangkah lucunya negeri ini, demokrasi namun enggan di kritik, yang padahal merupakan nutrisi untuk perbaikan dan pembangunan selanjutnya yang lebih baik.

Ketika Ormawa hanya sebagai sebagai ajang unjuk diri, agar dikenal dan terkenal di kalangan kampus maupun luar kampus, sebagai wadah untuk berleha-leha, dan tidak bisa dikritik, inilah yang disebut dekadensi aktivis atau bisa dibilang “Kuburan Massal Intelektual”. Ormawa yang hanya dijadikan pelampiasan bagi mahasiswa yang senang hura-hura, dan pekerjaan yang penting beres; pun bila tidak beres akan dibereskan oleh generasi berikutnya.

Padahal dalam mengemban amanah perwakilan mahasiswa, tidak semudah mengumbar janji dan rentetan proposal event, tetapi keseriusan dalam mengawal dan mempertahankan demokrasi kampus dan menjamin aspirasi berikut kesejahteraan mahasiswa. Ormawa mesti mampu menjadi wadah aspirasi mahasiswa dan membangun pemikiran yang kritis di kalangan mahasiswa agar tidak mudah dikibuli ataupun ditindas oleh kapitalisme birokrat kampus.

Dekadensi yang terjadi dalam Ormawa perlu diintevensi untuk meruwat dan merawat orientasi Ormawa. Intervensi seperti mengadakan kembali diskusi atau kajian mahasiswa mengenai isu terkini, menggalakkan budaya literasi dan membaca kembali sejarah pergerakan mahasiswa, serta saling berkunjung antar Ormawa perguruan tinggi dalam rangka silaturrahmi dan upgrading internal yang perlu berkembang dinamis sesuai perjalanan zaman.

Ahmad Yudi S
Mahasiswa STIKes Respati

Baca juga:
PB HMI Sesalkan Pengrusakan Sekretariatnya
PP KAMMI: Presiden Jokowi Harus Pecat Kepala BMKG
LPP KAMMI Siap gelar Debat Penyampaian Visi Misi Capres, Tanpa Bocoran Soal

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI