Kiat Sukses Dunia dan Akhirat Ala Sahabat Bertangan Mas

Kiat Sukses Dunia dan Akhirat

Oleh: Umar Syahid
Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya
Aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Islam sebagai agama yang komprehensif tentu memiliki aturan untuk segala aspek kehidupan umatnya. Tidak hanya yang berbentuk Ibadah akan tetapi juga dalam hal-hal yang bersifat muamalah. Islam adalah agama rahmatan lil alamin yang artinya mengatur keseluruhan sektor manusia. Untuk itu segala aktivitas manusia mengarah pada landasan dan prinsip islam.

Dalam menjalankan kehidupan di dunia, manusia terutama umat muslim tentunya ingin hidup sukses baik didunia maupun diakhirat. Sukses sendiri terkadang disalah artikan oleh sebagian orang dan mereka menganggap kesuksesan dalam hidup adalah ketika mereka memiliki harta yang berlimpah dan kedudukan atau jabatan yang tinggi, Padahal kata sukses bagi manusia tidaklah selalu bisa diukur lewat harta maupun jabatan. Manusia dianugerahi oleh Allah swt. naluri yang menjadikannya gemar memperoleh manfaat dan menghindari mudharat. Beribadah dan melaksanakan tugas sebagai khalifah adalah tujuan penciptaan manusia, sedangkan ibadah tidak dapat terlaksana dengan baik bila kebutuhan manusia tidak tercukupi. Oleh sebab itu, pemenuhan kebutuhan duniawi merupakan sebuah kewajiban. Akan tetapi, pemenuhan kebutuhan dunia untuk mencapai sukses itu dapat dijalankan bersamaan dengan menggapai kesuksesan akhirat.

Namanya Abdurrahman bin Auf, demikian Rasulullah SAW memberikan nama padanya setelah masuk Islam, tepat dua hari setelah keislaman Abu bakar. Suri tauladan bagi kita semua untuk meraih kesuksesan di Dunia dan akhirat. Seorang sahabat yang terkenal dengan segala keshalehan, kekayaan serta kedermawanannya. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki ‘Sahabat Bertangan Emas’.

Abdurrahman bin Auf adalah pedagang yang genius sekaligus cerdik. Ketika pergi ke pasar, ia tak hanya berdagang, namun ia juga mengamati secara cermat. Dari pengamatannya ia tahu, lapak-lapak yang ditempati pedagang itu ternyata milik saudagar Yahudi. Para pedagang berjualan di sana menyewa tanah tersebut, tak jauh berbeda dengan pedagang sekarang yang menyewa kios di mal. Abdurrahman memiliki ide kreatif, sekaligus upaya memutus hegemoni saudagar Yahudi. Ia meminta tolong saudara barunya untuk membeli tanah yang kurang berharga yang terletak di samping pasar. Tanah tersebut lalu dipetak-petakan. Ada fasilitas sumur. Siapa pun boleh mengambil air dan berjualan di tanah itu tanpa membayar sewa. Singkat cerita pasar yang dikembangkannya meningkat pesat sekali.

Sungguh banyak teladan yang dapat diambil dari sepak terjang kehidupannya, Salah satunya adalah pada prinsip manajemen bisnis yang dipegang kuat dan diterapkan secara konsisten dan penuh komitmen, yaitu;

  1. Tidak sekadar mencari uang, melainkan mencari ridha Allah saja
  2. Jujur dalam tindak-tanduk (kaidah syar’i)
  3. Keselelarasan antara kerja keras, dan kerja cerdas
  4. Dengan sedekah, harta menjadi bersih dan subur
  5. Menjadi tuan harta, bukan malah menjadi budak harta
  6. Rajin bersyukur

Rully Attaqi dalam bukunya yang berjudul “Tunjukkan Saya di mana Pasar” menyebutkan kunci sukses Abdurrahman ada dalam rumus 5 beres, yaitu 1) beres akidahnya, di mana Abdurrahman yakin bahwa Allah yang memberi rezeki dan tidak memasukkan unsur riba ke dalam dagangannya dan tidak merugikan orang lain; 2) beres pemikirannya, yaitu pola pikir positif terhadap rezeki Allah dan mental sukses; 3) beres jam terbang yaitu ia sudah memiliki pengalaman cukup dalam berdagang, bahkan sebelum hijrah ke Madinah; 4) beres relasi; dan 5) beres reputasi.

Begitulah kisah singkat Abdurrahman, Ia berdagang untuk kepentingan dunia akhirat. Berdagang dengan mematuhi etika ekonomi Islam. sahabat nabi yang dijamin masuk surga, yang menjadi suri tauladan dalam meraih kesuksesan baik di dunia serta akhirat.  Kunci sukses adalah iman. Iman adalah fondasi dalam beramal shalih sebab Allah hanya akan menerima amal shalih makhluk yang beriman kepada-Nya. Kemampuan beramal shalih inilah yang dapat dikatakan sebagai kesuksesan dunia dan akhirat. Hadis Nabi Muhammad saw. yang banyak dikenal umat Muslim, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” merupakan landasan pokok bagi manusia untuk menyikapi kesuksesan yang telah dimiliki. Sejatinya, semakin tinggi kesuksesan yang diraih, semakin besar pula tanggung jawab dan kebermanfaatan yang dilakukan. Semakin tinggi gelar pendidikan yang dan ilmu yang diperoleh, semakin besar amanah untuk menyampaikannya kepada orang lain. Semakin banyak kekayaan yang didapat, semakin banyak zakat mal dan shadaqah yang harus dikeluarkan untuk orang lain. Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab dan amanah untuk membantu dan menyejahterakan rakyatnya yang mana ini semua telah tercermin pada diri sahabat Abdurrahman bin Auf yang terkenal dengan julukan sahabat bertangan emas.

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat contoh konkrit yang telah ditunjukkan oleh sejarah tentang bagaimana keimanan dan ketakwaan seseorang ternyata juga mampu memberikan kesuksesan kepada kita dunia dan akhirat. Ini adalah bentuk ikhtiar dan keimanan kita bahwa kita di dunia harus senantiasa berusaha untuk mencari harta sebagai ma’isyah (pemenuhan kebutuhan hidup) namun tidak harus sampai pada hubbun dunya (cinta dunia). Karena harta itu adalah titipan, amanah dan ujian dari Allah untuk mengetahui siapa diantara kita yang paling bertakwa kepada-Nya. “Inna Akramakun ‘Indallahi Atqaakum”.

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI