Hustle Culture: Budaya Kerja Keras yang Merugikan

Hustle Culture
Ilustrasi Hustle Culture (Sumber: Penulis)

Generasi Z sebagai kalangan anak muda saat ini pastinya diriuhkan dengan segala ambisi hidup yang terlihat ideal.

Mulai dari remaja yang saat ini disibukkan dengan pekerjaan rumah, mahasiswa-mahasiswa yang menghabiskan waktu mereka menyesap segelas kopi agar tetap terjaga saat mengerjakan tugas, rapat hingga tengah malam sehabis kelas, hingga mereka yang sudah dihadapi dengan realita korporat dengan segala jobdesk yang tidak masuk akal.

Semangat muda mereka masih membara, mencari pengakuan lingkungan sekitar bahwa mereka layak untuk diperhitungkan. Atau demi portofolio dan daftar riwayat pencapaian, agar nantinya mereka bisa mendapat pekerjaan di tempat yang menawarkan gaji di angka yang tinggi.

Bacaan Lainnya
DONASI

Semua hal yang mereka usahakan itu tidak ada salahnya. Akan tetapi, mari kita lihat sisi lain dari budaya bekerja secara berlebihan, atau yang dikenal dengan hustle culture.

Istilah ini pastinya sudah sering didengar hingga digunakan di kalangan gen Z sehari-hari, bukan? “Gue harus hustle nih buat tugas besok,” atau “akhir-akhir ini lagi hustle parah”.

Hustle culture menunjukkan suatu keadaan di mana seseorang menganggap dirinya harus selalu bekerja keras, melakukan aktivitas produktif tanpa henti, kemudian mendapatkan hasil yang maksimal di seluruh aspek kehidupan yang ia lakukan.

Kebiasaan ini mewajarkan penggunaan waktu di luar batas jam kerja atau operasional ideal seseorang untuk mencapai tujuan masing-masing. Bagus, memang, hasil akhir yang diinginkan.

Namun, ada yang salah jika kita membiarkan waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, bersosialisasi, dan berkoneksi dengan orang-orang di sekitar kita untuk mengejar pencapaian semata.

Kenalkan, Putri (nama disamarkan). Menjadi mahasiswa baru di salah satu universitas ternama tanah air mengubah banyak sekali pandangannya tentang kultur hustle ini.

Tugas-tugas yang didapatkan tidak sedikit dan tidak mudah menurutnya, diperlukan waktu yang banyak untuk dapat menyelesaikannya. Belum lagi waktu untuk mempelajari dan memahami materi yang disampaikan di kelas.

“Mau gak mau ya harus begadang,” ucapnya saat ditanya bagaimana cara mengatur waktu untuk membagi semua itu. Karena manajemen waktu yang kurang baik itu, Putri sempat beberapa kali drop, sehingga tidak dapat masuk kuliah seperti biasanya.

Ada banyak pelajar dan mahasiswa seperti Putri di luar sana. Yang sudah mengetahui dampak negatif jangka panjang dari terus-terusan begadang, tetapi tidak punya pilihan lain daripada harus gagal di subjek tertentu.

Selain marak di institusi pendidikan, hustle culture juga terjadi di ranah pekerjaan. Di perkantoran misalnya.

Generasi Z sebagai generasi yang masih terbilang baru di dunia kerja pastinya tidak memiliki pilihan lain apabila senior mengharuskan mereka untuk mengerjakan tugas di luar kewajiban mereka. Atau bahkan, mereka sendiri yang rela melakukan itu demi kenaikan pangkat atau upah.

Hal-hal seperti lembur hingga larut malam, melewatkan jam istirahat demi mengerjakan tugas, membalas email di hari libur, dan masih banyak lagi, sudah menjadi kultur yang diglorifikasi.

Tidak ada lagi batas yang jelas yang memisahkan kehidupan profesional dengan kehidupan personal seseorang yang overwork.

Belum lagi pengaruh dari sosial media yang menggambarkan kehidupan ideal dari orang-orang yang sukses, bahwa mereka bekerja tanpa mengenal istirahat. Memang tidak ada yang salah dari berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan yang terbaik, tetapi kebiasaan merugikan kesehatan diri sendiri perlu dihilangkan.

Banyak dari mereka yang justru merasa bersalah apabila tidak melakukan sesuatu yang produktif barang sekali saja. Mereka merasa membuang-buang waktu mereka saat tidak sengaja ketiduran, atau saat harus kumpul keluarga besar dan berbincang tentang hal-hal yang tidak penting.

Tidur menjadi hal yang dengan mudah disepelekan oleh anak muda. Padahal, menurut penelitian yang dilakukan oleh Wolfson dan Carskadon, kualitas tidur anak-anak dan remaja akan memengaruhi performa mereka di sekolah.

Tidur berguna dalam proses kognitif dan plastisitas otak, yaitu pembentukan memori dengan cara membentuk koneksi yang baru dan tahan lama dalam otak. Bagi seseorang yang terbiasa tidur kurang dari tujuh jam setiap harinya, akan ada banyak gangguan kesehatan kronis yang dapat menghantui.

Gangguan itu mulai dari menurunnya imun tubuh, seperti pada kasus Putri, akibat berkurangnya level sitokin yang diproduksi tubuh, yang kemudian dapat juga melemahkan kemampuan untuk beradaptasi terhadap stres.

Selain itu, kurang tidur juga dapat memicu penyakit jantung koroner dan diabetes. Hal ini karena selama tidur, banyak proses penting yang terjadi. Mulai dari distribusi oksigen melalui darah ke seluruh tubuh, perbaikan sel-sel yang rusak, hingga produksi hormon-hormon yang berfungsi dalam mengatur metabolisme tubuh.

Dengan mengetahui besarnya peran tidur bagi tubuh manusia, apakah masih wajar jika kita meninggalkannya demi pencapaian semata?

Jika masih ada yang menganggap bahwa kebiasaan hustle ini tidak membahayakan, mari kita telaah lagi dari sisi hubungan sosial kita. Banyak dari kita tidak sadar bahwa dengan selalu meletakkan pekerjaan sebagai prioritas utama dalam hidup dapat berpengaruh pada kehidupan sosial.

Kita cenderung melihat orang-orang di sekeliling sebagai alat dan batu loncatan untuk mendapatkan apa yang kita tuju.

Sebagaimana hubungan yang baik adalah hubungan yang memiliki manfaat bagi orang-orang di dalamnya, tetapi esensi dari berinteraksi dengan tulus tidak akan didapatkan apabila kita hanya fokus pada manfaat apa yang bisa kita ambil dari seseorang.

Manusia memerlukan manusia lain, untuk hidup, untuk sekadar merasa didengar dan diterima. Hal ini hanya bisa kita dapatkan apabila kita menyisihkan waktu untuk sepenuhnya menjadi manusia. Lepaskan diri sejenak dari dunia yang bising, yang selalu membuatmu merasa tidak pernah cukup akan pencapaian.

Our social life is a living system, and it needs maintenance too. One of the ways you can do it is through tiny actions,” ucap Robert Waldinger, seorang psikiater dan profesor di Harvard Medical School.

Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga hubungan sosial kita dengan orang-orang di sekitar, seperti makan bersama seusai kelas, menonton film di akhir pekan, atau melakukan apapun yang sama-sama disenangi.

Waldinger di salah satu bukunya yang berisi tentang penelitian yang dilakukan pada 724 pria beserta pasangan dan keturunan mereka, memperlihatkan bahwa hubungan seseorang dengan orang-orang yang mereka sayangi merupakan kunci akan kehidupan yang bahagia di hari tua nanti.

Tidak hanya itu, kondisi hubungan seseorang dengan pasangannya bahkan berpengaruh terhadap kemungkinan mereka terkena penyakit arteri koroner, artritis, dan diabetes tipe 2. Hubungan yang bahagia akan menjauhkan kemungkinan seseorang untuk terkena penyakit-penyakit kronis tersebut.

Hal ini juga diperkuat dengan hasil dari kelompok penelitian lainnya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kan untuk meluangkan waktu dengan orang-orang yang kita sayangi. Toh, seluruh waktu dalam sehari juga tidak akan habis hanya karena kita menyisihkan sedikit waktu untuk bersenang-senang.

Memang dalam pembuatan hal-hal hebat dibutuhkan kerja keras yang dilakukan secara terus menerus. Perusahaan yang besar, gelar pendidikan tinggi, jabatan impian, gaji yang memuaskan, prestasi, tidak lahir dengan perjuangan yang seadanya.

Namun, perlu kita sadari bahwa hustle culture merupakan kebiasaan di mana seseorang menggantungkan nilai dirinya pada pekerjaan yang dia lakukan. Semakin banyak hal yang dilakukan, semakin berharga seseorang. “Busier always equals better”.

Padahal, nilai manusia jauh lebih berharga daripada itu. Semua yang diusahakan pada akhirnya tidak lebih berarti dibanding kesehatan dan kebahagiaan diri kita. Lalu, apa yang harus dilakukan anak muda untuk dapat tetap produktif dan terhindar dari hustle culture di saat yang bersamaan?

Jawabannya, coba terapkanlah work-life balance. Seimbangkan porsi antara kehidupan profesional dan personal. Setelah bekerja keras di pagi hingga sore hari, jangan lupa untuk memberikan tubuh haknya tidur di malam hari. Saat libur akhir pekan, sempatkanlah melakukan hobi kamu, atau bertemu dengan teman dan keluarga.

Dengan itu, tubuh akan lebih siap untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan selanjutnya, dengan pikiran dan ide yang lebih segar tentunya.

Penulis: Sabina Trista Diandra Agustin
Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI