Mahasiswa dan Demo Demokrasi Pemilu 2024

Opini
Sumber: Pinterest

Februari 2024 adalah bulan panas politik Indonesia di mana terjadi pergantian presiden tiap lima tahun sekali. Huru-hara gejolak politik sudah direncanakan matang pastinya oleh birokrat partai, namun menjadi semakin panas dirasai masyarakat sejak September 2023 setelah bulan kemerdekaan Indonesia. Keganjilan berpolitik semakin diperlilhatkan jelas satu per satu.

Dimulai dari anak presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep yang diumumkan masuk PSI, beberapa hari setelahnya, Ia langsung diumumkan menjadi ketua partai.

Tak lama, koalisi Anies Baswedan dengan mengusung jargon ‘Perubahan’ mengumumkan calon wakilnya yaitu Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum PKB, hal ini berdampak mundurnya Partai Demokrat yang merasa sakit hati atas pilihan Anies Baswedan dan memutuskan untuk bergabung dengan Koalisi Prabowo Subianto.

Di kubu lain, PDIP mengusung Ganjar Pranowo dan Mahfud MD untuk maju melawan Anies yang sudah mantap dengan pilihannya. Tepat di hari terakhir pendaftaran di KPU, Prabowo mengumumkan wakilnya ialah Gibran Rakabuming Raka yang sebelumnya menjadi kontroversial masyarakat karena pelanggaran konstitusi di Mahkamah Konstitusi.

Berawal dari kasus pelanggarannya ini, Gibran menjadi sorotan hukum karena mengubah ketentuan syarat umur untuk menjadi wakil presiden. Hakim MK yang memutus perkara ini adalah paman Gibran, Anwar Usman dipecat dari jabatannya.

Dengan mengemban amanah dari relawan Jokowi, Prabowo melenggang lancar bersama Gibran ke arena perjudian pemilu dengan dana kampanye paling besar, lapor sana-sini, dan tabrak sana-sini tiap pelanggaran dan teguran dari Bawaslu, bahkan Bawaslu sendiri pun turut dilaporkan oleh relawan mereka.

Setelahnya, tampak perubahan sikap dari Presiden Jokowi yang memperlihatkan kecondongan untuk memenangkan sang anak, mulai dari gelagat jari, cara bicara yang berlawanan dengan sikapnya perihal kenetralan pegawai negara, kunjungan ke daerah-daerah yang dikunjungi paslon lain untuk berkampanye, bahkan pemberian bansos secara ugal-ugalan di depan istana tanpa penyebab yang jelas.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah pusat dan pemerintah daerah bahkan TNI-Polri menunjukkan secara terang ketidaknetralan mereka memandang pemilu dan ikut berkampanye, ada yang mendapat tekanan dan ada juga yang sukarela ikut memenangkan anak presiden.

Tak khayal paslon lain (Anies-Ganjar) pun turut mendapat intimidasi saat berkampanye, mulai dari Anies yang kesulitas mendapat izin di daerah-daerah, juga pembatalan mendadak acara kampanyenya yang terkenal dengan Desak Anies dan Slepet Imin, juga dari Ganjar yang selalu tercuri start kampanye oleh Presiden Jokowi yang turun langsung memantau pasar atau membagikan bansos.

Dampak dari cara kampanye seperti ini tentunya memuluskan elektabilitas kubu Prabowo-Gibran terus naik sampai 50% pada banyak survei mendekati hari pencoblosan.

Melihat cara bermain kampanye cuci tangan ala presiden Joko Widodo kepada anaknya ini dan begitu tebalnya muka sang anak maju menjadi cawapres lewat memperkosa konstitusi hukum membuat resah banyak para akademisi.

Akhirnya tiap guru besar, profesor, dan rektor-rektor banyak kampus besar di seluruh Indonesia membuat petisi, bahkan Universitas Gajah Mada sempat menjewer Jokowi sebagai alumni paling memalukan karena sikapnya yang mengkhianati visi-misi almamater.

Tiap guru besar yang bersuara ini juga tak lepas dari intimidasi setelah membacakan teguran kepada presiden, mulai dari ungkapan kekecewaan bahkan permintaan dari Polri kepada sejumlah dosen untuk membuat pernyataan bahwa kepemimpinan Jokowi benar dan demokrasi Indonesia sedang baik-baik saja.

Akademisi telah turun gunung. Para alumni ’98 kembali mencolek semangat mahasiswa yang ‘katanya’ tertidur melihat pengangkangan demokrasi pemilu 2024.

Menuju masa tenang kampanye politik, mahasiswa merencanakan aksi demokrasi besar-besaran melawan kepada kesombongan dinasti pemerintah yang menjabat mewakili suara masyarakat yang jengah, mirisnya masih banyak masyarakat yang buta karena kinerja Jokowi dianggap baik selama Ia menjabat dan menutupinya dengan akal tidak waras membela mati-matian dari kasus hukum anak presiden dan gaya malu-malu kucing presiden kampanye.

Banyak yang menanyakan kenapa aksi ini dilakukan setelah hari pencoblosan, kenapa tidak di awal keputusan MK? Pendiskualifikasian pun dirasa sudah tidak mungkin. Para akademisi menjawab, mereka telah observasi dan berdiskusi sudah cukup lama untuk akhirnya memutuskan keresahannya.

Melihat para dosennya telah memulai aksi dan mengalami intimidasi, mahasiswa mulai berdemo satu-persatu. Dimulai dari kampus yang terkenal karena banyak mahasiswanya yang mati dan hilang saat aksi ’98: Universitas Trisakti, disusul kampus-kampus lainnya.

Mahasiswa turun ke jalan dan merobek tiap banner partai yang berkoalisi dengan Prabowo-Gibran. Beberapa tuntutan aksi yaitu menolak pemilu curang 2024, pemakzulan Presiden Joko Widodo, menuntut mundur seluruh kabinet Joko Widodo, pecat Ketua KPU Hasyim Asy’ari dan Hakim MK Anwar Usman, serta meminta DPR mengaktifkan hak angket dan hak interpelasi.

Aliansi BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) juga memnuntut Jokowi untuk mengembalikan marwah demokrasi. Aksi besar-besaran akan digelar sebelum hari pencoblosan.

Tugas mahasiswa selain berkuliah adalah menjadi suara masyarakat yang paling vokal dan nyaring. Jika mahasiswa sudah bergejolak seperti ini, berarti benar negara tidak baik saja. Mahasiswa jangan sampai apatis, karena kalau bukan anak muda siapa lagi?

Hanya anak muda yang mempunya idealisme. Siapapun yang mempunyai dan mempertahankan idealismenya tanpa campur tangan kepentingan pribadi karena tuntutan realita, berarti ia masih berjiwa muda.

Demokrasi bukan hanya perihal bisa atau tidaknya kita bersuara tapi juga perihal aman atau tidaknya kita setelah bersuara. Semua orang bisa bersuara, tapi tidak semua orang berani karena sekarang intimidasi masih ada di mana-mana mengekor mereka yang lantang dan kritis merusaki jalan mulus pemerintah. Jadi, apakah sekarang sudah tidak ada intimidasi karena pemerintah bilang demokrasi Indonesia sedang baik-baik saja?

Penulis: Ika Ayuni Lestari

Redaktur Pelaksana Media Mahasiswa Indonesia

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.