Di tengah riuh modernitas ibu kota, Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin di Kramat Jati, Jakarta Timur, berdiri sebagai ruang kontemplatif yang mempertahankan tradisi Islam dengan teguh.
Pesantren ini tidak sekadar menjadi tempat belajar agama, melainkan menjadi sistem sosial dan budaya yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari para santri.
Nilai-nilai luhur seperti kesederhanaan, ketaatan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap kiai hidup secara organik dalam keseharian mereka.
Pesantren ini menunjukkan bahwa bahkan dalam pusaran modernitas yang serba cepat dan digital, tradisi masih punya tempat untuk tumbuh dan menyesuaikan diri, bukan sebagai warisan yang beku, tetapi sebagai fondasi nilai yang lentur dan adaptif.
Keunikan Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin semakin terasa ketika kita melihat bagaimana santri-santrinya tidak hanya berkutat dalam dunia kitab kuning dan pendidikan salafiyah, melainkan juga aktif sebagai mahasiswa di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).
Sistem pendidikan ganda atau double degree ini menjadikan para santri sebagai pelajar yang menjalani dua dunia sekaligus: dunia tradisi dan dunia akademik modern.
Beberapa santri menempuh studi formal di program studi Akuntansi, Sosiologi, dan Hukum UNUSIA.
Mereka tidak hanya belajar tauhid, fikih, atau tasawuf di bawah bimbingan kiai, tetapi juga mendalami teori sosial modern, ilmu hukum positif, dan prinsip ekonomi kontemporer di ruang kuliah.
Hal ini memperlihatkan wajah baru pesantren, di mana bukan hanya sebagai pelestari nilai lama, tetapi juga sebagai penyemaian generasi baru yang siap hidup dalam kompleksitas zaman.
Penelitian mengenai pesantren ini melihat secara sosiologis bagaimana sistem sosial dan budaya dijalankan di tengah tantangan kota besar. Pesantren tidak berdiri sendiri sebagai institusi konservatif yang menolak modernitas, melainkan bernegosiasi dengannya.
Para pengurus pondok dan kiai menerapkan adaptasi terbatas, seperti memperbolehkan penggunaan ponsel atau laptop untuk keperluan kuliah, tetapi tetap melarang akses berlebih yang mengganggu adab dan kedisiplinan pondok.
Hal ini menunjukkan dinamika antara struktur nilai dan tindakan individu yang menurut teori strukturasi Anthony Giddens, (1984) hal tersebut merupakan bentuk dari duality of structure, di mana tradisi tidak sekadar diwariskan, tetapi juga dikonstruksi ulang melalui praktik harian para aktornya, seperti santri dan kiai.
Lebih jauh, kehidupan para santri tidak hanya berkutat pada ritual ibadah, tetapi juga membentuk solidaritas sosial yang erat, seperti kerja bakti, pembacaan kitab bersama, serta kegiatan bermasyarakat.
Etos kolektif ini mencerminkan solidaritas mekanik dalam pandangan Durkheim (1997), di mana kesamaan nilai dan keyakinan menjadi perekat komunitas.
Di tengah tantangan modernitas kota, seperti individualisme dan konsumerisme, pesantren justru hadir sebagai antitesisnya yaitu sebagai ruang yang menawarkan makna, keterikatan sosial, dan spiritualitas yang mendalam.
Keberadaan kiai sebagai figur sentral juga tetap menjadi rujukan moral, sekaligus penggerak arah transformasi pesantren dalam merespons zaman.
Dalam hal ini, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai sistem sosial yang menciptakan identitas kolektif berbasis nilai-nilai Islam.
Santri-santri yang menjalani double degree adalah wujud nyata dari integrasi dua dunia tersebut.
Mereka tidak tercerabut dari akar tradisi, tetapi juga tidak tertinggal dari perkembangan dunia akademik dan profesional.
Model ini mencerminkan sebuah bentuk pendidikan alternatif yang khas yaitu, pendidikan yang membumi dalam tradisi dan menjangkau masa depan.
Pesantren bukanlah ruang yang terkungkung, tetapi justru menjadi titik temu antara kekayaan lokal dan tantangan global.
Dengan demikian, Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin menjadi contoh konkret bagaimana institusi tradisional Islam mampu bertahan, bertransformasi, dan bahkan menawarkan model pendidikan yang relevan dengan zaman.
Para santrinya bukan hanya pewaris nilai-nilai Islam klasik, tetapi juga calon pemikir, praktisi hukum, ekonom, dan sosiolog Muslim yang terdidik secara spiritual dan akademik.
Tradisi dan modernitas tidak dipertentangkan, melainkan disatukan dalam praktik hidup harian yang reflektif, disiplin, dan bermakna.
Penulis:
1. Nisa Haniatus S.
2. Nabil Pratama N.
Mahasiswa Prodi Sosiologi, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
Aktif juga di HIMASOS
Dosen Pengampu: Muhammad Nurul Huda, M.Si.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












