Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat dalam mencari informasi kesehatan, terutama melalui media sosial. Sebelumnya, masyarakat cenderung mencari informasi melalui buku atau berkonsultasi langsung dengan tenaga medis, sekarang banyak yang beralih ke media sosial karena menganggap hal tersebut lebih cepat dan praktis. Berbagai informasi kesehatan dapat dengan mudah ditemukan, mulai dari tips menjaga pola hidup sehat hingga klaim tentang pengobatan tertentu. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut memiliki dasar ilmiah yang jelas, sehingga tetap banyak orang yang langsung mempercayainya.
Menurut Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO), penyebaran informasi kesehatan yang tidak akurat dapat berdampak pada pengambilan keputusan masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya terpapar informasi, tetapi juga cenderung menerima tanpa bukti yang jelas.
Baca juga: Sistem Informasi Kesehatan: Peluang dan Tantangan di Era Data Terbuka
Fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Salah satu faktor utamanya adalah kecepatan penyebaran informasi di media sosial yang sulit dikendalikan. Dalam waktu yang singkat, satu konten bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan pengguna. Akibatnya, informasi yang benar ataupun yang salah akan sama-sama memiliki peluang besar untuk tersebar lebih luas. Dalam sebuah kajian disebutkan bahwa era digital saat ini ditandai dengan maraknya penyebaran informasi yang tidak akurat atau menyesatkan, yang dapat tersebar secara sengaja maupun tidak sengaja (Suarez-Lledo & Alvarez-Galvez, 2019). Akibatnya, masyarakat sering kali terpapar informasi yang belum tentu benar secara terus-menerus, sehingga batas antara fakta dan opini menjadi semakin kabur.
Selain faktor penyebaran informasi, kemampuan individu dalam memahami dan mengevaluasi informasi juga berperan penting. Tidak semua orang terbiasa untuk memeriksa kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayainya. Banyak juga yang langsung menerima informasi tersebut, terutama jika disajikan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya literasi kesehatan serta kurangnya kemampuan berpikir kritis dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap misinformasi (Nan et al., 2022). Hal ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan hanya pada informasi yang beredar, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dalam mengolah informasi tersebut. Dalam kondisi ini, penilaian seringkali berdasarkan pada persepsi pribadi daripada analisis yang rasional.
Selain itu, cara penyajian informasi kesehatan di media sosial juga berpengaruh besar. Konten kesehatan di media sosial umumnya dibuat secara ringkas dan menarik agar mudah dipahami oleh masyarakat. Penggunaan visual, musik, atau testimoni sering kali membuat informasi terlihat lebih meyakinkan, meskipun belum tentu benar. Akibatnya, akan lebih banyak orang yang memperhatikan tampilan daripada isi informasinya. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pesan dalam media sosial dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk memberikan informasi tanpa mempertimbangkan akurasinya (Wang & Huang, 2024). Dengan kata lain, daya tarik pesan sering kali lebih dominan dibandingkan kebenaran informasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa daya tarik visual seringkali mengalahkan rasionalitas dalam menilai informasi.
Baca juga: Mengenal Sistem Informasi Kesehatan: Apa Peluang, Tantangan, serta Strateginya?
Di sisi lain, faktor sosial juga memperkuat fenomena ini. Kepercayaan juga menjadi salah satu faktor penting dalam fenomena ini. Di media sosial, banyak orang cenderung mempercayai informasi yang disampaikan oleh figur publik atau influencer yang mereka ikuti. Namun, tidak semua dari mereka memiliki latar belakang di bidang kesehatan. Hal ini disebabkan oleh jumlah pengikut yang besar serta intensitas kemunculan mereka di media sosial, informasi yang mereka sampaikan dianggap lebih dapat dipercaya. Sering kali, popularitas justru dianggap sebagai tanda bahwa informasi tersebut bisa dipercaya. Padahal, keakuratan informasi seharusnya didasarkan pada bukti ilmiah. Penelitian juga menunjukkan bahwa lingkungan informasi yang dikonsumsi seseorang dapat memengaruhi cara mereka memahami dan mempercayai informasi (Liu et al., 2025). Hal ini menunjukkan adanya peran yang tergeser dari tenaga ahli ke influencer populer di media sosial.
Individu cenderung mempercayai informasi yang sejalan dengan keinginan dan ekspektasinya. Dalam konteks kesehatan, banyak orang menginginkan solusi yang cepat dan praktis. Oleh karena itu, informasi yang menawarkan hasil instan cenderung lebih menarik perhatian. Tanpa disadari, hal ini membuat seseorang kurang mempertimbangkan validitas informasi dan lebih mengutamakan kenyamanan atau harapan pribadi. Akibatnya, informasi yang belum tentu benar justru lebih mudah diterima dan dipercaya (Nan et al., 2022). Akibatnya, proses penilaian informasi menjadi tidak objektif dan lebih dipengaruhi oleh faktor emosional.
Baca juga: Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menangkal Disinformasi Kesehatan di Masyarakat
Jika tidak dikendalikan, kondisi ini akan berpotensi menimbulkan dampak serius. Kesalahan dalam memahami informasi kesehatan dapat menyebabkan keputusan yang tidak tepat, seperti penggunaan obat yang tidak sesuai atau menunda pengobatan medis yang sebenarnya diperlukan. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat secara luas (Suarez-Lledo & Alvarez-Galvez, 2019). Jika tidak segera ditangani, kondisi seperti ini berpotensi memperburuk kualitas kesehatan masyarakat.
Selain pengguna, platform media sosial juga memiliki peran dalam menekan penyebaran misinformasi. Platform dapat berperan dengan memberikan penanda pada informasi yang diragukan atau mempromosikan konten dari sumber yang lebih terpercaya (Wang & Huang, 2024). Dengan adanya kerja sama antara pengguna dan platform, diharapkan penyebaran informasi yang tidak akurat dapat diminimalkan. Namun dalam praktiknya, banyak platform yang masih mengutamakan engagement dibandingkan akurasi informasi.
Kepercayaan terhadap informasi kesehatan tanpa bukti ilmiah di media sosial dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari tingginya arus informasi, rendahnya literasi kesehatan, hingga pengaruh cara penyajian dan sumber informasi. Oleh karena itu, sikap kritis dan selektif dalam menerima informasi menjadi hal yang sangat penting, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar (Liu et al., 2025). Tanpa perubahan sikap, misinformasi kesehatan akan terus menjadi ancaman bagi kualitas pengambilan keputusan masyarakat.
Penulis: Lintang Yaffa Vera Asmara
Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya
Dosen Pengampu: Sukma Nurmala, S. Psi., M. Si.
Editor: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Suarez-Lledo, V., & Alvarez-Galvez, J. (2019). Systematic literature review on the spread of health-related misinformation on social media. Social Science & Medicine, 240, 112552.
Nan, X., Yang, B., & Iles, I. A. (2022). Why do people believe health misinformation and who is at risk? Social Science & Medicine, 314, 115398.
Wang, W., & Huang, Q. (2024). Mitigating the influence of message features on health misinformation sharing intention in social media. Social Science & Medicine, 345, 116765.
Liu, Y., Zhang, X., & Chen, L. (2025). Misinformation, trust, and health: The role of the information environment. Social Science & Medicine, 360, 117234.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












