Pengaruh Bahasa Gaul di antara Mahasiswa Kota Malang: Menggeser Bahasa Walikan

Bahasa
Ilustrasi: istockphoto.

Bahasa gaul telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Di Kota Malang, misalnya, bahasa gaul telah menggeser bahasa Walikan, yang dahulu digunakan sebagai alat perjuangan dan identitas budaya.

Dalam artikel ini, kita akan membahas pengaruh bahasa gaul terhadap penggunaan bahasa Walikan di kalangan mahasiswa Kota Malang dan implikasinya terhadap budaya dan identitas masyarakat.

Bahasa Walikan, yang juga dikenal sebagai Boso Walikan, adalah bahasa pergaulan khas di Malang. Bahasa ini terbentuk dengan membalikkan urutan huruf dalam kata-kata, sehingga kata “Malang” menjadi “Ngalam” dan “Arema” menjadi “Arem-A”.

Bacaan Lainnya
DONASI

Pada awalnya, bahasa ini digunakan sebagai sandi untuk mengelabui penjajah Belanda, tetapi seiring waktu, berkembang menjadi bahasa pergaulan yang mencerminkan identitas lokal. Penggunaan bahasa gaul di kalangan mahasiswa Kota Malang dapat dilihat sebagai bagian dari fenomena globalisasi.

Dalam era digital, teknologi telah memudahkan komunikasi dan berbagi informasi, sehingga bahasa gaul menjadi lebih mudah dipahami dan digunakan. Generasi muda saat ini lebih tertarik mempelajari bahasa asing dan kosakata baru yang trendi daripada menguasai bahasa tradisional seperti bahasa Walikan.

Bahasa gaul adalah campuran bahasa Indonesia dengan istilah-istilah dari bahasa asing, slang, dan kosakata yang terus berkembang. Pengaruh media sosial, budaya pop, dan internet sangat besar dalam penyebaran bahasa ini.

Platform seperti Instagram, Twitter, dan TikTok menjadi medium utama di mana bahasa gaul berkembang dan menyebar dengan cepat. Akibatnya, bahasa Walikan yang memiliki aturan lebih kompleks dan terdengar kuno menjadi kurang populer.

Di lingkungan kampus, bahasa gaul lebih sering digunakan dibandingkan bahasa Walikan. Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia membawa serta bahasa gaul ke dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa gaul yang lebih inklusif dan mudah dipahami menjadi pilihan utama dalam komunikasi antar mahasiswa.

Bahasa Walikan, yang mungkin hanya dipahami oleh warga asli Malang atau mereka yang telah lama tinggal di kota ini, menjadi jarang digunakan. Penggunaan bahasa gaul di kalangan mahasiswa Kota Malang dapat dilihat dalam percakapan sehari-hari di lingkungan kampus, media sosial, atau saat berkumpul dengan teman-teman.

Bahasa gaul seolah menjadi tren yang dianggap lebih modern dan membuat pemakainya terlihat lebih kekinian. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa pendatang, tetapi juga mulai merambah ke mahasiswa asli Malang yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melestarikan bahasa Walikan.

Dampak dan Implikasi pada Bahasa Walikan

Kekhawatiran akan kepunahan bahasa Walikan bukan tanpa alasan. Di era globalisasi saat ini, pengaruh budaya luar begitu masif dan sulit dibendung. Bahasa gaul yang dianggap lebih ‘kekinian’ dan lebih mudah dipahami oleh kalangan luas menjadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa.

Sementara itu, bahasa Walikan cenderung dipandang sebagai bahasa ‘kuno’ dan kurang relevan dengan perkembangan zaman. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Jurnal Bahasa Daerah Indonesia, ditemukan bahwa pengaruh bahasa gaul hampir 73,9% dapat melemahkan penggunaan bahasa Indonesia.

Hal ini juga berlaku pada penggunaan bahasa Walikan di kalangan mahasiswa Kota Malang. Penggunaan bahasa Walikan mulai tersisih dari ranah publik dan hanya bertahan di ranah privat, seperti di rumah atau dalam lingkup keluarga.

Penurunan penggunaan bahasa Walikan di kalangan mahasiswa mengindikasikan bahwa bahasa ini mulai kehilangan relevansinya di tengah arus modernisasi.

Bahasa Walikan, sebagai bagian dari budaya dan identitas masyarakat, memiliki peran penting dalam mempertahankan keaslian dan keunikan budaya. Dengan penggunaan bahasa gaul yang lebih dominan, budaya, dan identitas masyarakat mulai terancam.

Hilangnya bahasa Walikan dapat membawa dampak yang lebih besar, yakni punahnya nilai-nilai dan kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga: Aksesibilitas Disabilitas pada Coffee Shop Kota Malang

Solusi untuk Pelestarian Bahasa Walikan

Upaya pelestarian bahasa Walikan memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:

  1. Integrasi dalam Kurikulum Pendidikan: Mengajarkan bahasa Walikan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi dapat membantu generasi muda memahami dan menghargai nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran bahasa Walikan bisa dimasukkan ke dalam mata pelajaran muatan lokal atau sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler.
  2. Kampanye dan Sosialisasi: Melakukan kampanye dan sosialisasi yang masif untuk mengingatkan masyarakat, khususnya mahasiswa, tentang pentingnya melestarikan bahasa Walikan. Hal ini bisa dilakukan melalui media massa, media sosial, dan berbagai acara budaya.
  3. Dukungan Pemerintah: Peran aktif pemerintah daerah sangat diperlukan dalam upaya pelestarian bahasa Walikan. Pemerintah bisa mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung program-program pelestarian bahasa dan budaya lokal. Selain itu, pemerintah juga bisa memberikan penghargaan kepada individu atau kelompok yang berkontribusi dalam upaya pelestarian bahasa Walikan.
  4. Komunitas dan Festival Budaya: Membentuk komunitas-komunitas yang aktif menggunakan bahasa Walikan dan mengadakan festival budaya secara rutin. Kegiatan seperti lomba pidato, teater, dan musik dalam bahasa Walikan bisa menjadi sarana efektif untuk melestarikan dan mempopulerkan bahasa ini.
  5. Media Lokal: Media lokal, baik cetak maupun elektronik, juga bisa berperan dalam pelestarian bahasa Walikan. Dengan menyiarkan program-program dalam bahasa Walikan, media dapat membantu menjaga eksistensi bahasa ini di tengah masyarakat.

Untuk memastikan kelangsungan bahasa Walikan, diperlukan kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat Malang. Mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran penting dalam upaya ini. Meskipun bahasa gaul mungkin terlihat lebih menarik dan sesuai dengan zaman, kita tidak boleh melupakan akar budaya dan identitas kita sendiri.

Baca Juga: Guiding Blocks pada Trotoar di Kota Malang: Inklusif atau Hiasan Saja?

Penutup

Bahasa Walikan adalah warisan budaya yang berharga dan unik dari Kota Malang. Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara mengikuti tren global dan mempertahankan identitas lokal.

Upaya pelestarian bahasa Walikan memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, media, hingga masyarakat itu sendiri. Dengan langkah-langkah konkret dan kesadaran kolektif, bahasa Walikan masih memiliki harapan untuk tetap hidup dan berkembang.

Melalui pelestarian bahasa ini, kita tidak hanya menjaga alat komunikasi, tetapi juga merawat nilai-nilai budaya dan identitas yang menjadi kebanggaan masyarakat Malang. Semoga generasi muda, khususnya mahasiswa, dapat mengambil peran aktif dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya ini demi masa depan yang lebih kaya akan keragaman.

Penulis: Athirah Faqihatun Nisa Latuconsina
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.