Peran dicirikan sebagai kumpulan perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki posisi sosial. Peran adalah tindakan yang dilakukan oleh individu selama suatu acara (Afilaily, 2022).
Generasi muda merupakan individu yang sedang mengalami pematangan fisik dan psikologis, sehingga berperan sebagai sumber daya manusia yang vital bagi pertumbuhan saat ini dan masa mendatang. Sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi sebelumnya.
Istilah politik berasal dari kata Yunani polis, yang berarti warga negara dan kewarganegaraan. Di negara-kota Yunani kuno, individu terlibat satu sama lain untuk mencapai kemakmuran, sebagaimana didefinisikan oleh Aristoteles. Individu yang terlibat dalam tindakan yang bertujuan untuk memastikan kedudukan sosial mereka, mencapai kesejahteraan pribadi melalui metode yang mapan, atau meyakinkan orang lain untuk mengadopsi perspektif mereka berpartisipasi dalam politik. Gabriel A. Almond dikutip oleh (Harahap, 2022) mendefinisikan politik sebagai kegiatan yang berkaitan dengan pengaturan pengambilan keputusan publik dalam masyarakat dan wilayah tertentu, di mana pengaturan ini didukung oleh cara-cara yang berwenang (disetujui secara hukum) dan yang bersifat memaksa (ditegakkan). Politik berkaitan dengan pemanfaatan instrumen yang berwenang dan yang bersifat memaksa, termasuk penunjukan pengguna yang sah dan tujuan penggunaannya.
Contoh kasus: mantan ketua BEM UI (Manik Marganamahendra) terjun ke dunia politik

Manik Marganamahendra, mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), dikenal sebagai sosok aktivis vokal yang pernah menjadi sorotan publik. Ia mendapat perhatian luas ketika memimpin demonstrasi mahasiswa pada 2019, terutama saat menyampaikan kritik tajam kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ia juluki sebagai “Dewan Pengkhianat Rakyat.” Kritik ini muncul dalam konteks penolakan mahasiswa terhadap RUU KPK dan RUU KUHP.
Dalam audiensi di DPR pada 23 September 2019, Manik mempertanyakan absennya anggota Komisi III DPR, yang menurutnya menunjukkan kurangnya keseriusan dalam mendengarkan aspirasi mahasiswa. Pernyataannya yang keras dan sikapnya yang tegas mencerminkan semangatnya dalam memperjuangkan keadilan sosial dan transparansi pemerintahan.
Kini, Manik memutuskan untuk terjun ke dunia politik dengan menjadi bakal calon legislatif (bacaleg) DPRD DKI Jakarta melalui Partai Perindo. Keputusan ini ia ambil dengan tujuan untuk membawa aspirasi masyarakat ke ranah kebijakan publik. Manik menekankan pentingnya menjadi jembatan antara suara rakyat di lapangan dengan proses legislasi di parlemen (Ramdhani, 2023).
Baca Juga: Dampak Media Sosial terhadap Penurunan Nasionalisme Generasi Muda
Peran generasi muda di dunia politik
Penelitian oleh EACEA (2013) dalam (Sandiasa, Pramana, & Puspitasari, 2023) terhadap pemuda di tujuh negara Eropa menunjukkan bahwa generasi muda dapat mengartikulasikan preferensi dan minat politik mereka. Beberapa individu menunjukkan tingkat aktivitas yang lebih besar daripada mayoritas generasi yang lebih tua. Mereka menginginkan perspektif mereka diakui lebih menonjol. Meskipun demikian, keterlibatan politik generasi muda sekarang menunjukkan pergeseran dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Secara historis, partisipasi politik sebagian besar bersifat konvensional dan sering berlarut-larut, dicontohkan oleh demonstrasi jalanan atau boikot. Sebaliknya, tindakan politik generasi muda sekarang dianggap sebagai “baru,” karena tidak lazim satu dekade lalu.
Di negara demokrasi, individu dapat terlibat dalam kehidupan politik melalui ruang publik, mengajukan petisi, dan berpartisipasi dalam pemilihan umum atau mencalonkan diri untuk jabatan publik. Generasi muda, yang dicirikan oleh kecakapan media, kreativitas, dan advokasi, diharapkan menjadi katalisator perubahan dan berkontribusi pada masyarakat yang idealis. Mereka diharapkan melampaui pemimpin yang ada sebagai pemimpin masa depan, bertindak sebagai agen perubahan. Seorang pemimpin yang efektif harus memiliki visi yang pasti, keuletan untuk mencapai tujuan, terlibat dalam pemikiran kritis, memiliki pengetahuan yang luas, dan membangun hubungan yang kuat dengan orang lain. Individu muda dan antusiasme mereka sangat penting sebagai katalisator perubahan di berbagai bidang, termasuk politik. Namun, politik sering dianggap korup, menyebabkan banyak orang mengabaikan dan tetap acuh tak acuh, memperburuk kondisi politik. Persaingan dalam hal kompetensi dan integritas tidak cukup bagi individu untuk mengambil peran penting dalam lembaga negara.
Akibatnya, mereka yang menduduki posisi berwenang di negara ini bukanlah individu yang paling berkualitas, melainkan individu yang awalnya terjun ke dunia politik dengan tujuan semata-mata untuk memperoleh kekuasaan dan keuntungan finansial atau tujuan egois lainnya. Ketika individu yang tidak berkualitas mendominasi ranah politik dan lembaga negara, semakin banyak individu yang berkualitas menarik diri dari lapangan. Hal ini terjadi terus-menerus, sehingga menciptakan lingkaran setan. Generasi muda harus berfungsi sebagai katalisator perubahan dan memutus pola siklus ini. Individu muda harus tetap optimis dan terus berupaya untuk melakukan perbaikan, khususnya di ranah politik. Individu muda harus mengutamakan integritas politik negaranya dan memiliki keberanian untuk terlibat di dalamnya. Kemajuan politik hanya akan terjadi ketika individu yang kompeten, profesional, dan berintegritas terlibat dalam politik.
Tidak dapat disangkal bahwa politik secara historis telah dieksploitasi oleh kaum oportunis hanya untuk mengejar jabatan, kekuasaan, dan kekayaan. Namun, ada komponen tambahan dalam politik, khususnya instrumen ampuh yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Keterlibatan politik yang efektif dan tepat dapat meningkatkan kualitas dunia kita. Mahatma Gandhi dalam (Sandiasa, Pramana, & Puspitasari, 2023) menyatakan, “Jadilah perubahan yang ingin Anda lihat di dunia.” Jangan bergantung pada orang lain untuk perbaikan; sebaliknya, kita harus siap untuk terlibat aktif dalam mewujudkan perbaikan yang diinginkan. Generasi muda sangat ahli dalam teknologi. Generasi ini memiliki kemampuan dan sumber daya teknologi yang memberi mereka beberapa peluang untuk melampaui generasi sebelumnya.
Baca Juga: Reformasi Alat Politik Gen-Z: Meme Menjadi Senjata Baru dalam Kampanye Politik
Keberhasilan generasi muda terjun ke dunia politik
Peran generasi muda dalam dunia politik memiliki signifikansi seperti yang tercermin dalam perjalanan Manik Marganamahendra. Sebagai mantan Ketua BEM UI, Manik dikenal karena keberaniannya mengkritik keras DPR, khususnya dalam konteks penolakan terhadap RUU KPK dan RUU KUHP pada tahun 2019. Sikap kritis dan tegasnya menunjukkan bahwa generasi muda dapat menjadi penggerak perubahan sosial, berperan sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah, serta mendorong transparansi dan akuntabilitas. Keputusan Manik untuk terjun ke dunia politik sebagai bakal calon legislatif DPRD DKI Jakarta menandakan evolusi penting dari peran aktivis menjadi pembuat kebijakan. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya dapat menyuarakan aspirasi dari luar sistem, tetapi juga membawa perubahan langsung dengan berpartisipasi aktif dalam proses legislasi. Dengan masuknya pemuda ke dalam dunia politik, diharapkan muncul energi baru, idealisme, dan perspektif segar yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat dengan kebijakan publik. Kasus Manik menjadi contoh bagaimana generasi muda dapat berkontribusi secara signifikan dalam membangun pemerintahan yang lebih responsif, transparan, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Langkah ini juga memberikan inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk tidak hanya menjadi pengamat atau pengkritik, tetapi turut serta dalam membentuk masa depan bangsa melalui jalur politik.
Keberhasilan generasi muda dalam politik semakin meningkat di era digital, khususnya generasi milenial. Keterlibatan politik mereka dipengaruhi oleh pemahaman mereka tentang hak asasi, literasi politik, dan minat terhadap isu politik. Keterlibatan ini meningkatkan pemahaman politik, partisipasi pemilih, dan kesiapan masyarakat untuk peran kepemimpinan. Keterlibatan yang efektif menumbuhkan kepercayaan dan legitimasi pada pemerintah, yang pada akhirnya menumbuhkan kehidupan demokrasi yang lebih kuat ( Prasetyo, Putri, & Pramono, 2022).
Baca Juga: Potensi Dinasti Politik dalam Kasus Gibran Rakabuming
Dampak positif dan negatif generasi muda terjun ke dunia politik
Dampak positif
- Generasi muda cepat merespon khususnya perkembangan teknologi digital dan secara optimal menguasai berbagai fitur aplikasinya secara bersamaan. Disisi lain, ketergantungan terhadap media sosial merupakan indikasi tingginya interaksi komunikasi. Sehingga aspirasi masyarakat mudah dan cepat tersampaikan misalnya melalui “Lapor Mas Wapres”
- Generasi muda dalam dunia politik aktif beropini, keberanian dan kemampuan mereka mengelola isu dan opini di ruang publik dengan berbagai metodenya, baik dari persoalan pribadi, isu-isu sosial dan politik, hingga terhadap proses pengambilan kebijakan publik.
- Generasi muda dalam dunia politik menggunakan berbagai saluran aspirasi yang tersedia, bahkan dapat menciptakan sendiri media alternatif. Nilai dan gagasan idealis menjadikan lebih kritis menilai berbagai fenomena disekitarnya, sikap generasi muda kerap disamakan sebagai oposisi bahkan mungkin skeptis kepada para pejabat publik(Sandiasa, Pramana, & Puspitasari, 2023)
Dampak Negatif
- Generasi muda mungkin memiliki semangat dan idealisme tinggi tetapi tidak memungkin kan juga jika Apatisme generasi muda terhadap dunia politik tersebut erat kaitannya dengan pemahaman generasi ini terhadap politik, tetapi kurangnya pengalaman dalam birokrasi dan politik praktis bisa menjadi kendala. Sehingga dapat menyebabkan kebijakan yang mereka usulkan kurang realistis atau sulit diimplementasikan secara efektif.
- Pemuda yang baru terjun ke politik sering kali menjadi sasaran manipulasi oleh politisi senior atau pihak berkepentingan lainnya. Mereka bisa diarahkan untuk mendukung agenda tertentu yang tidak sesuai dengan kepentingan publik, merusak independensi dan integritas mereka.
- Platform media digital memberikan kontribusi besar diserapnya informasi politik di kalangan generasi muda terutama yang aktif di media sosial, menghadapi tekanan besar untuk selalu tampil sempurna dan sesuai ekspektasi publik. Hal ini dapat mengalihkan fokus dari kerja nyata ke citra atau popularitas semata( Prasetyo, Putri, & Pramono, 2022).
Solusi untuk mengatasi dampak negatif generasi muda di dunia politik
- Dengan pendidikan politik bagi kaum muda dilibatkan dalam program pelatihan dan mentoring yang terstruktur, seperti magang politik atau pelatihan kepemimpinan. Generasi muda adalah calon pemimpin di masa depan. Kesadaran dan kemauan generasi muda untuk terlibat dalam sistem politik berbangsa dan bernegara menjadi penting karena dengan cara inilah kelangsungan suatu sistem politik dapat dipertahankan.
- Membangun komunitas pemuda yang solid dan transparansi karena aktivisme kerelawanan (voluntarisme) menghargai individu dan independen tanpa terikat struktur. Serta pengetahuan etika politik dan teknik mengidentifikasi potensi manipulasi. . Tujuan utama etika politik adalah untuk memperluas kebebasan dan membangun institusi yang lebih adil. Hal ini mencakup keterlibatan masyarakat dalam kehidupan sosial-politik tanpa adanya tekanan. Pentingnya etika politik semakin meningkat, terutama dalam situasi politik yang tidak stabil, di mana etika dapat berperan sebagai panduan untuk menjaga integritas dan keadilan dalam proses politik( SIRAIT, 2024).
- Edukasi literasi digital yang menekankan pentingnya substansi kerja nyata daripada sekadar citra. Karena media sosial memfasilitasi pembentukan dan pengembangan jaringan sosial yang dapat memengaruhi pola komunikasi, pertukaran informasi, dan dukungan sosial Iantar antar individu individu.
Baca Juga: Lunturnya Jiwa Nasionalisme pada Generasi Muda
Kesimpulan
Peran generasi muda diperlukan dalam dunia politik sebagai agen perubahan. Generasi muda, dengan dinamisme, energi, dan idealisme mereka, memiliki potensi besar untuk memperbarui sistem politik yang kerap dianggap korup dan tidak transparan. Contoh seperti Manik Marganamahendra menunjukan bagaimana aktivisme dapat berkembang menjadi peran legislatif, membawa aspirasi masyarakat langsung ke ranah kebijakan publik. Keterlibatan pemuda dalam politik diharapkan menghadirkan perspektif segar, mendorong transparansi, dan menciptakan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan rakyat.
Di era digital saat ini, generasi muda memiliki akses luas terhadap teknologi, meningkatkan potensi mereka untuk memengaruhi wacana politik secara lebih efektif melalui media sosial dan platform digital. Namun, kesuksesan mereka dalam politik bergantung pada integritas, pemahaman mendalam tentang hak dan kewajiban, serta keterlibatan aktif dalam proses politik. Dengan kesadaran dan partisipasi yang kuat, generasi muda dapat memutus lingkaran korupsi dan membawa perubahan positif, memastikan bahwa posisi berwenang diisi oleh individu yang kompeten dan berintergritas. Politik bukan sekedar perebutan kekuasaan; ia dapat menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika dijalankan oleh pemimpin muda yang berkomitmen pada kemajuan dan keadilan sosial.
Penulis: Fransisca Yvonne Natashya
Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Kristen Satya Wacana
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
Daftar Pustaka
Prasetyo, K., Putri, N., & Pramono, D. (2022). PENDIDIKAN POLITIK GENERASI MUDA MELALUI GERAKAN VOLUNTARISME KOMUNITAS MILENIAL. https://bookchapter.unnes.ac.id/index.php/kp/article/download/48/45, 2-5.
SIRAIT, A. (2024). MEMBANGUN ETIKA POLITIK DI KALANGAN GENERASI MUDA GUNA MENDUKUNG PENGEMBANGAN DEMOKRASI PANCASILA. http://lib.lemhannas.go.id/public/media/catalog/0010-092400000000015/swf/7790/01%20-%20A%20M%20LISTON%20SIRAIT.pdf, 35-36.
Afilaily, N. (2022). Peran Sentra Batik Tulis dalam peningkatan pendapatan keluarga perempuan pengrajin dalam perspektif Ekonomi Islam studi kasus di Batik Tulis Dermo Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. . thesis, IAIN Kediri.
Faoji, K. A. (2019). SIKAP DAN PERSEPSI GENERASI MUDA TERHADAP PEKERJAAN SEKTOR PERTANIAN DI KOTA TASIKMALAYA. Diss. Universitas Siliwangi.
Harahap, P. A. (2022). Peran Bawaslu terhadap proses penyelesaian pelanggaran dalam penyelenggaraan pemilu serentak ditinjau dari perspektif fiqih siyasah (Studi kasus pelaksanaan pemilu serentak di Padang Lawas Utara 2019). Diss. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan.
Ramdhani, J. (2023, Juni 16). Eks Ketua BEM UI Bakal Nyaleg, Dulu Pernah Kritik Keras DPR. Retrieved from news.detik.com: https://news.detik.com/pemilu/d-6776512/eks-ketua-bem-ui-bakal-nyaleg-dulu-pernah-kritik-keras-dpr?single=1
Sandiasa, G. R., Pramana, G. I., & Puspitasari, N. (2023). PERAN GENERASI MILENIAL DALAM PARTISIPASI POLITIK DI INDONESIA DALAM BINGKAI BEHAVIORALISME. Jurnal Nawala Politika .
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












