Dinamika Perubahan dalam Meningkatkan Efektivitas Gerakan Lingkungan Hidup Global melalui Konstruksi Gerakan Sosial

Gerakan Lingkungan Hidup Global Melalui Konstruksi Gerakan Sosial
Ilustrasi Gerakan Lingkungan Hidup Global Melalui Konstruksi Gerakan Sosial (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Gerakan lingkungan, pada fase pionirnya cenderung terjerat dalam dinamika sebagai sebuah kelompok yang beroperasi di luar cakupan kebijakan politik global. Pada awalnya, gerakan ini muncul sebagai hasil dari aktivitas yang lebih bersifat spontan dan kurang terencana dengan baik, serta kurang didukung oleh rencana jangka panjang yang terstruktur.

Isu-isu yang diadvokasi oleh gerakan ini dipahami hanya sebatas dengan pola gerak yang terkesan kaku. Di periode ini, gerakan lingkungan dianggap sebagai sebuah bentuk aksi jalanan yang kurang memiliki dasar ideologis yang kokoh.

Kondisinya semakin rumit karena minimnya perhatian terhadap isu lingkungan di ranah politik internasional. Hal ini menyebabkan garis gerakan menjadi samar di tengah-tengah isu-isu ekonomi, politik, dan keamanan.

Bahkan, gerakan lingkungan mengalami kelemahan yang signifikan karena menghadapi perlawanan keras dari penguasa yang menganggap pandangan environmentalisme sebagai ancaman, bahkan hingga tindakan represif.

Namun, pada awal dekade 90-an, terjadi perubahan yang signifikan dalam eksistensi gerakan lingkungan. Gerakan ini berkembang menjadi aktor yang sangat berpengaruh dalam advokasi untuk keberlanjutan lingkungan global.

Hal ini terbukti dari banyaknya perbaikan lingkungan yang semakin terlihat. Melalui perluasan isu dan tujuan politik yang diusungnya, gerakan lingkungan berhasil memperluas pengaruhnya ke masyarakat dan institusi.

Bahkan, dalam konteks politik internasional, gerakan lingkungan memainkan peran penting dalam menyusun beberapa perjanjian internasional yang terkait dengan upaya penyelamatan lingkungan.[1]

Gerakan lingkungan telah muncul dan berkembang sebagai suatu alternatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu lingkungan. Gerakan ini mengubah perspektif masyarakat terhadap lingkungan, menganggapnya sebagai elemen integral dalam proses pembangunan.

Dengan melakukan berbagai aksi kolektif dan gerakan yang melibatkan partisipasi dari tingkat individu hingga skala global, gerakan lingkungan telah menjadi pemangku kepentingan yang signifikan dalam konteks politik lingkungan global.

Kekuatan gerakan ini semakin diperkuat oleh struktur organisasinya yang semakin terorganisir, memberikan dampak yang besar terhadap pembentukan opini publik terkait isu-isu lingkungan dan pembangunan.

Selain itu, muncul dan berkembangnya gerakan lingkungan juga dipengaruhi oleh kegagalan negara dalam menciptakan kesadaran melalui kebijakan-kebijakan lingkungan yang efektif.

Keragaman kerusakan lingkungan dan kehilangan berbagai bentuk kehidupan sosial dalam masyarakat, ditambah dengan dampak negatif dari pembangunan yang merugikan komunitas lokal, menjadi pendorong utama bagi perkembangan gerakan ini.

Gerakan lingkungan dapat dianggap sebagai revolusi dalam dunia gerakan sosial, mampu mengubah pandangan masyarakat terhadap lingkungan. Hal ini terlihat dari peran yang semakin besar gerakan lingkungan dalam program penyelamatan lingkungan, bahkan menjadi pelobi yang penting dan efektif dalam merumuskan kebijakan pembangunan di Inggris.

Dalam konteks kerjasama internasional, gerakan lingkungan juga memiliki peran utama dalam menyusun kerangka kerjasama di bidang lingkungan hidup.[2]

Dalam era kontemporer, gerakan lingkungan sedang menggali berbagai aspek lingkungan sejalan dengan perkembangan politik lingkungan. Saat ini, gerakan ini diartikan sebagai tanggapan terhadap era pasca-industrialisasi, menjadi satu-satunya pilihan untuk menghadapi dampak negatif industrialisasi yang signifikan.

Melalui penggunaan simbolisme gerakan hijau, ideologi yang dianut oleh gerakan ini dengan cepat diterima karena dapat menyatu dengan budaya dan norma-norma universal. Ideologi hijau ini menjadi alternatif yang cerdas dalam menanggapi pola kapitalisme Barat yang sering kali dianggap memiliki sifat yang berlebihan.

Gerakan lingkungan beserta ideologi hijau yang diusungnya berhasil efektif dalam membangun kesadaran individu untuk aktif menjadi seorang environmentalis.

Gerakan lingkungan yang berkembang sebagai revolusi gerakan sosial, memiliki dimensi pergerakan yang sangat luas dan mengusung platform atau pola yang konsisten dengan proses pembentukannya. Jika dilihat dari perspektif sejarah, gerakan lingkungan ini tidak berbeda jauh dengan gerakan sosial lainnya.

Munculnya gerakan ini umumnya dipicu oleh krisis atau situasi konfliktual tertentu. Keadaan konfliktual ini menjadi pendorong bagi aksi kolektif yang secara mandiri berusaha menyelesaikan konflik tersebut.

Untuk mengatasi situasi konfliktual ini, diperlukan transformasi imajinasi yang mampu mengubah keadaan kekacauan, ketimpangan, dan kemerosotan lingkungan sosial.

Gerakan lingkungan dapat diartikan sebagai sebuah kontrak sosial yang terjadi dalam masyarakat sebagai tanggapan terhadap konflik lingkungan yang ada. Konflik lingkungan, dalam konteks ini, merujuk pada kerusakan lingkungan dan kemerosotan kehidupan sosial di berbagai wilayah di dunia.

Dengan tingkat kerusakan lingkungan yang signifikan dan melibatkan hampir seluruh dunia, konflik ini tidak lagi hanya menjadi permasalahan regional, melainkan telah meluas menjadi isu global.

Sebagai contoh, kebakaran hutan di wilayah Kalimantan, Indonesia, tidak hanya menimbulkan masalah di tingkat lokal, tetapi juga melibatkan banyak pihak dan kepentingan di tingkat global. Globalisasi isu lingkungan ini memberikan dampak yang luas terhadap dimensi gerakan lingkungan saat ini.

Gerakan ini bersifat global bahkan sejak awal pembentukannya. Aksi kontemporer gerakan lingkungan tidak terkait dengan kesamaan atau homogenitas dalam satu kelas, melainkan keberagaman aksi dan aktor di dalamnya.

Gerakan lingkungan tidak terbatas pada satu wilayah atau golongan tertentu seperti gerakan sosial lainnya. Keberagaman identitas kolektif yang bersatu dalam tujuan penyelamatan lingkungan berhasil menghilangkan aspek-aspek perbedaan kelas dan perbedaan lainnya.[3]

Gerakan lingkungan menunjukkan karakteristik yang tidak terbatas oleh batasan identitas, di mana identitas yang sebelumnya melekat pada individu dapat mengalami transformasi menuju pencapaian satu tujuan bersama.

Meskipun terdapat keberagaman pola gerakan, hal ini menghasilkan organisasi yang terstruktur dengan tujuan utama melibatkan diri dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Kesamaan dalam identitas kolektif memfasilitasi kelancaran setiap gerakan yang dilakukan, terutama ketika dihadapkan pada isu perubahan iklim sebagai akibat dari pemanasan global yang memengaruhi wilayah belahan utara dan selatan bumi.

Persesuaian ideologi dan identitas juga mempermudah gerakan lingkungan dalam melaksanakan program dan menyampaikan pesan kesadaran lingkungan.

Perlawanan yang diinisiasi oleh gerakan lingkungan dapat diinterpretasikan melalui dua dimensi, yaitu dataran ide dan dataran agen. Kedua dimensi ini berkontribusi secara signifikan dalam mencapai identitas kolektif yang mengarah pada penyeragaman nilai-nilai yang diusung.

Konstruksi ide yang dikembangkan oleh gerakan ini memiliki dampak yang luas, membawa pengaruh dan pengetahuan baru mengenai lingkungan yang sebelumnya sulit dipahami. Di sisi lain, konstruksi agen dibangun untuk memberikan legitimasi penuh terhadap tindakan langsung yang dilakukan oleh gerakan lingkungan.

Dalam lingkup kekuatan ide, gerakan lingkungan menitikberatkan pada urgensi masalah lingkungan. Konstruksi kekuatan ide dalam gerakan ini difokuskan pada dua objek sasaran utama, yaitu pemerintah dan non-pemerintah.

Pada dimensi pemerintah, pola gerakan melibatkan proses lobi dan kajian ilmiah yang direfleksikan melalui penyusunan laporan. Di sisi non-pemerintah, seperti yang dilakukan oleh Greenpeace, konstruksi berfokus pada citra dan visualisasi masalah lingkungan dengan dukungan demonstrasi dan kekuatan media.

Dalam dimensi kekuatan ide, gerakan lingkungan berhasil mengaktualisasikan berbagai gerakan di masyarakat untuk membentuk aliansi perlawanan. Dimensi ini memegang peran penting dalam mendukung perlawanan dari berbagai kelompok kepentingan, termasuk organisasi keagamaan, organisasi masyarakat, dan organisasi lingkungan hidup.

Oleh karena itu, konstruksi gerakan lingkungan mencakup kedua dimensi ini sebagai strategi untuk mencapai perubahan dan perbaikan dalam isu lingkungan.[4]

 

Penulis: Marlina
Mahasiswa Manajemen, Universitas Kalimantan Timur

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Referensi

Aditjondro, George J. 2003. Pola-Pola Gerakan Lingkungan: Refleksi Untuk Menyelamtakan LIngkungan Dari Ekspansi Modal. Pustaka Pelajar. Yogayakarta

Burchill, Scott,et al. 2005. Theories of International Relations-Third Edition. Palgrave Macmillan. New York

Crowson, Nick, Cs. 2009. NGOS In Contemporary Britain Non-State Actors In Society And Politics Since 1945. Palgrave Macmillan. UK

Murdiyarso, Daniel. 2003. Sepuluh Tahun Negosiasi Konvensi Perubahan Iklim. Kompas. Jakarta

Top of Form

[1] Burchill, Scott,et al. 2005. Theories of International Relations-Third Edition. Palgrave Macmillan. New York, h.76

[2] Murdiyarso, Daniel. 2003. Sepuluh Tahun Negosiasi Konvensi Perubahan Iklim. Kompas. Jakarta, h. 4

[3] Crowson, Nick, Cs. 2009. NGOS In Contemporary Britain Non-State Actors In Society And Politics Since 1945. Palgrave Macmillan. UK, h.85

[4] Aditjondro, George J. 2003. Pola-Pola Gerakan Lingkungan: Refleksi Untuk Menyelamtakan LIngkungan Dari Ekspansi Modal. Pustaka Pelajar. Yogayakarta, h. 76

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI