Kelompok PKM-T FIB Universitas Brawijaya Menghidupkan Limbah Kayu Menjadi Warisan Berbudaya

Malang, Jawa Timur — Pada hari Jumat, 1 Agustus 2025, PKM-T Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) Kelompok 01 melaksanakan program kerja bertajuk “Merchandise Kampung Budaya Polowijen” di Pawon Kampung Budaya Polowijen.

Program ini diikuti oleh sepuluh anggota kelompok, yaitu Revivia Kahisyah, Nayla Azzahra, Nasywa Putri, Nazwatesa Aulia, Akhmal Nurfaizi, Dhiwa Ammar, Ashifa Lianty, Attanzilun Nabilla, Siti Fatimah Balqis, dan Nesma Diah, dengan Ashifa Lianty sebagai penanggung jawab kegiatan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Program kerja ini lahir dari ide untuk mendaur ulang papan kayu bekas milik Ki Demang, pengelola Kampung Budaya Polowijen, agar dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai guna.

Kayu-kayu tersebut kemudian ditransformasi menjadi merchandise wayang khas Malang, berupa Wayang Bagong, Wayang Semar, Wayang Petruk, Wayang Togog, dan Wayang Limbuk.

Baca juga: Limbah Kayu Jati Menghasilkan Pundi-Pundi

Selama tiga minggu pengerjaan, kelompok berhasil memahat sebanyak 30 merchandise kayu. Dari jumlah tersebut, 25 merchandise dialokasikan untuk kegiatan DIY (Do It Yourself) melukis yang menjadi salah satu paket visitasi di Kampung Budaya Polowijen, sedangkan 5 merchandise lainnya dipersiapkan untuk dijual kepada pengunjung sebagai produk resmi.

Photo Taken by: Ashifa Lianty

Lebih dari sekadar cenderamata, merchandise ini membawa pesan. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara nilai budaya dan kreativitas modern.

Para mahasiswa tidak hanya belajar tentang pengabdian masyarakat, tetapi juga berperan dalam menjaga warisan budaya agar tetap bernyawa di tengah arus globalisasi.

Dengan adanya kegiatan ini, program kerja Merchandise Kampung Budaya Polowijen menghadirkan pemanfaatan limbah kayu yang menumpuk di kampung budaya sekaligus menjaga pelestarian wayang dan membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar.

Baca juga: Hari Wayang Dunia ke-9: ISI Surakarta Berikan Semangat Baru dan Inspirasi bagi Para Penggiat Wayang

Transformasi kayu bekas menjadi wayang-wayang khas Malang menjadikan budaya lokal tetap hidup sekaligus memiliki nilai guna dan jual yang tinggi.

Kampung Budaya Polowijen kini tidak hanya menawarkan pengalaman mengenal topeng Malangan, tetapi juga menghadirkan kesempatan bagi pengunjung untuk terlibat langsung dalam proses kreatif budaya.

Dengan cara ini, budaya tidak lagi dipandang statis, melainkan dinamis, menyentuh kehidupan sehari-hari, sekaligus membuka ruang bagi ekonomi kreatif masyarakat sekitar.

Inisiatif ini membuktikan bahwa budaya dapat terus hidup selama ada generasi yang peduli dan berani berinovasi.

Baca juga: Selamat Hari Wayang Dunia, Persatuan Perdalangan Indonesia Surakarta Gelar Pertunjukan dalam Rangka Memperingati Hari Wayang Dunia

Dari kayu bekas yang nyaris terlupakan, lahirlah sebuah karya yang sarat makna yakni merchandise wayang, simbol kecil dari cinta besar terhadap warisan leluhur.

 

Penulis: Muhammad Akhmal Nurfaizi

Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Universitas Brawijaya

 

Editor: Anita Said

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses