Mahasiswa PPKn Unpam Belajar Hukum yang Hidup di Baduy Luar

hukum adat masyarakat Baduy
Para mahasiswa PPKn Universitas Pamulang yang belajar langsung tentang hukum adat, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat Baduy Luar. (Foto: Dok. Penulis)

Musyawarah keluarga masih menjadi dasar utama dalam pembagian warisan di masyarakat Baduy. Fakta tersebut menjadi salah satu temuan penting mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Pamulang (Unpam) saat mengikuti kegiatan Saba Budaya Baduy di Baduy Luar, Kabupaten Lebak, Banten, pada 15 Juni 2026.

Kegiatan yang merupakan bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Hukum Adat dan Sistem Pemerintahan Daerah ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana hukum adat dan sistem sosial masih dijalankan dengan kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Mengenal PPKn Unpam Melalui Pembelajaran Lapangan

Program Studi PPKn Universitas Pamulang tidak hanya berfokus pada pembelajaran teori di dalam kelas. Berbagai kegiatan lapangan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan mahasiswa pada realitas sosial yang ada di masyarakat.

Melalui pendekatan ini, mahasiswa didorong untuk memahami secara langsung praktik nilai-nilai kewarganegaraan, hukum, demokrasi, dan budaya yang berkembang di Indonesia.

Kegiatan Saba Budaya Baduy menjadi salah satu bentuk implementasi nyata dari metode pembelajaran tersebut. Mahasiswa tidak hanya membaca teori tentang hukum adat di buku, tetapi juga berdialog langsung dengan masyarakat yang masih memegang teguh sistem hukum adat tersebut.

Baca Juga: Baduy Dalam dan Baduy Luar: Ketika Kesederhanaan Menjadi Cara Hidup

Musyawarah Menjadi Kunci dalam Hukum Waris

Salah satu materi utama yang dipelajari mahasiswa adalah sistem pewarisan dalam masyarakat Baduy. Berdasarkan penjelasan tokoh adat setempat, pembagian warisan di sana selalu dilakukan melalui musyawarah keluarga dan kesepakatan bersama.

Prinsip ini menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan keluarga di Baduy lebih mengedepankan keharmonisan dibandingkan perselisihan. Nilai musyawarah yang menjadi salah satu ciri khas bangsa Indonesia ini terbukti masih dijaga dan dipraktikkan secara nyata oleh mereka.

Pernikahan di Baduy: Terbuka, tetapi Memiliki Konsekuensi

Hal menarik lainnya yang dipelajari mahasiswa adalah sistem perkawinan masyarakat Baduy. Berbeda dengan anggapan sebagian orang, masyarakat Baduy sebenarnya tidak sepenuhnya menutup diri terhadap orang luar. Warga Baduy diperbolehkan menikah dengan masyarakat di luar komunitas adat mereka.

Namun, keputusan tersebut tentu memiliki konsekuensi tersendiri. Pasangan dapat memilih untuk tinggal di wilayah Baduy atau mengikuti pasangan yang tinggal di luar. Meski demikian, hubungan sosial dengan masyarakat Baduy tetap terjaga dengan baik, dan mereka akan tetap diterima dengan hangat jika berkunjung kembali ke wilayah adat.

Dalam sesi wawancara, salah satu tokoh adat menyampaikan pandangan yang menarik. Menurutnya, siapa pun sebenarnya boleh tinggal di Baduy, tetapi pertanyaannya adalah apakah mereka siap menjalani kehidupan yang penuh kesederhanaan.

Tinggal di Baduy berarti harus siap meninggalkan berbagai kebiasaan modern. Mulai dari penggunaan telepon genggam, listrik, kendaraan bermotor, hingga berbagai kemudahan teknologi yang umum digunakan oleh masyarakat perkotaan.

Baca Juga: Modernisasi dan Perpaduan Budaya dalam Adat Pernikahan Etnis Pesisir

Sistem Pemerintahan Adat yang Tetap Bertahan

Mahasiswa juga mempelajari bagaimana sistem pemerintahan adat masih berfungsi sangat efektif dalam kehidupan masyarakat Baduy. Tokoh adat memiliki peran sentral dalam menjaga ketertiban sosial, menyelesaikan persoalan warga, dan memastikan aturan adat tetap berjalan tanpa celah.

Keberadaan sistem pemerintahan adat ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki keragaman bentuk organisasi sosial yang masih hidup hingga sekarang. Meskipun berada di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), masyarakat Baduy konsisten mempertahankan struktur adat yang menjadi identitas utama mereka.

Menjaga Tradisi dengan Menolak Modernisasi Tertentu

Masyarakat Baduy dikenal luas karena konsistensinya dalam menjaga adat istiadat leluhur. Salah satu bentuk konkretnya adalah komitmen untuk tidak menggunakan aliran listrik dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, beberapa program pembangunan fisik modern, seperti pengaspalan jalan ke wilayah adat, juga tidak diterima oleh masyarakat.

Keputusan tersebut bukan semata-mata bentuk penolakan buta terhadap kemajuan zaman. Langkah ini merupakan upaya sadar untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan adat yang telah diwariskan oleh leluhur.

Bagi masyarakat Baduy, mempertahankan tradisi adalah bagian dari tanggung jawab moral untuk menjaga keberlangsungan hidup komunitas mereka.

Perekonomian yang Bertumpu pada Alam

Selain mempelajari aspek hukum dan pemerintahan, mahasiswa juga memperoleh gambaran utuh mengenai kehidupan ekonomi masyarakat Baduy. Sebagian besar masyarakat di sana bekerja sebagai petani yang menghasilkan padi untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Di samping itu, masyarakat juga mengelola kebun dengan menanam berbagai hasil bumi seperti pisang, singkong, dan tanaman produktif lainnya. Aktivitas ekonomi yang dijalankan masih sangat bergantung pada kearifan alam dan dilakukan dengan cara-cara tradisional.

Meskipun sederhana, sistem tersebut terbukti mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat tanpa harus bergantung pada pola hidup modern.

Baduy Luar sebagai Ruang Belajar Kehidupan

Kunjungan ke Baduy Luar memberikan pengalaman empiris yang sangat berharga bagi mahasiswa PPKn Unpam. Pembelajaran yang biasanya berlangsung kaku di dalam ruang kelas, kini berpindah langsung ke tengah-tengah masyarakat adat. Mahasiswa dapat mengobservasi langsung bagaimana hukum adat, sistem pemerintahan, kehidupan ekonomi, dan nilai sosial diimplementasikan.

Lebih dari sekadar kunjungan akademik biasa, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa tentang pentingnya menghargai keberagaman budaya Indonesia.

Baduy Luar menunjukkan sebuah pelajaran penting: kemajuan tidak selalu harus diukur dengan kecanggihan teknologi, melainkan dari kemampuan masyarakat dalam menjaga nilai, identitas, dan kearifan lokal yang mereka miliki.

Penutup

Saba Budaya Baduy membuktikan bahwa pembelajaran terbaik sering kali lahir dari pengalaman langsung di lapangan. Melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi PPKn Universitas Pamulang ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori hukum adat dan sistem pemerintahan daerah secara tekstual, tetapi juga menyaksikan bagaimana nilai-nilai tersebut hidup berdenyut di tengah masyarakat.

Dari Baduy Luar, mahasiswa belajar bahwa keberagaman budaya Indonesia bukan sekadar materi hafalan perkuliahan, melainkan sebuah realitas berharga yang harus dipahami, dihargai, dan terus dilestarikan.


Penulis: Riko Saputra
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Pamulang


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses