Pernahkah kamu menonton pertunjukan tradisional dan merasa tarian di tengah acara hanyalah jeda agar penonton tidak bosan? Jika iya, fragmen sepuluh menit dalam Ketoprak Sang Aji Saka (menit 30:35 sampai 40:00) yang dibawakan oleh kelompok Muda Kalong asal Pekalongan pada 14 Juni lalu di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini akan mengubah sudut pandangmu.
Di balik gerakan yang indah, ada sebuah pesan tersembunyi tentang bagaimana cara rakyat menghormati seorang pemimpin. Pesan mendalam tersebut disampaikan secara visual tanpa perlu mengucapkan satu kata pun.
Simbolisme dalam Kekompakan dan Formasi Gerak
Daya tarik utama dari penampilan di Anjungan Jawa Tengah ini adalah kekompakan para penarinya yang luar biasa. Sejak awal masuk panggung, gerakan mereka sangat rapi dan serempak, membuat mata penonton betah menatap panggung.
Koreografinya tidak monoton karena mereka terus berpindah formasi secara dinamis. Kadang mereka menari dengan posisi berdiri tegak, kadang merunduk, hingga momen di mana mereka bersimpuh di lantai panggung.
Perubahan posisi dari atas ke bawah ini bukan sekadar variasi agar tarian terlihat bagus. Posisi bersimpuh di bawah sejatinya adalah simbol dari kerendahan hati, sedangkan posisi berdiri tegak menggambarkan rasa hormat dan kewibawaan.
Ketulusan Ekspresi dan Hidupnya Musik Karawitan
Secara teknik, kemampuan para penari ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Menariknya, di sepanjang tarian, wajah mereka selalu dihiasi oleh senyuman yang sangat anggun. Senyuman ini seolah berbicara kepada penonton tentang ketulusan hati dan kedamaian.
Suasana pertunjukan pun terasa semakin hidup dan nyata karena musik pengiringnya dimainkan secara langsung (live) oleh tim karawitan di belakang panggung. Getaran suara gamelan yang asli ini memberikan suntikan energi yang membuat gerakan para penari terasa lebih bertenaga.
Keindahan visual di atas panggung dipertegas oleh permainan warna lampu yang cerdas. Panggung hanya menggunakan dua warna lampu utama, yaitu biru dan oranye. Perpaduan ini tidak melelahkan mata, melainkan punya arti tersendiri.
Warna biru yang tenang di latar belakang menciptakan kesan malam yang sakral dan penuh misteri. Sementara itu, sorotan warna oranye yang hangat melambangkan semangat yang menyala, kejayaan, serta awal dari sebuah era baru di kerajaan.
Momen Kunci: Menjemput Sang Raja
Puncak dari seluruh tarian ini terjadi ketika para penari berjalan maju ke arah penonton untuk menjemput sang aktor yang berperan sebagai raja, lalu berjalan beriringan mengawalnya kembali ke tengah panggung. Menariknya, dalam prosesi mengawal ini, ada satu penari yang memimpin di paling depan sambil menebar bunga di sepanjang jalan yang akan dilewati oleh sang raja.
Momen inilah yang menjadi kunci jawaban dari seluruh tarian. Gerakan menjemput dan mengawal raja ini adalah simbol hubungan antara rakyat dan pemimpinnya. Penari di sini berperan sebagai rakyat jelata yang dengan sukarela menjemput, menyambut, dan menjaga pemimpin mereka.
Sementara aksi menebar bunga di depan langkah kaki raja bukan sekadar pemanis. Aktivitas tersebut merupakan simbol dari ketulusan rakyat yang membersihkan jalan pemimpinnya dari segala rintangan, sekaligus menjadi doa agar kepemimpinan sang raja selalu membawa keharuman dan kedamaian bagi negaranya.
Pesan Moral dan Kesimpulan
Prosesi ini mengandung makna sebuah pesan moral yang mendalam: seorang raja atau pemimpin tidak akan pernah bisa naik takhta atau memiliki kekuasaan tanpa adanya kesetiaan, dukungan, dan kawalan yang tulus dari rakyat yang dipimpinnya.
Secara keseluruhan, fragmen tari selama sepuluh menit ini berhasil memberikan tontonan yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga kaya akan makna kehidupan. Penampilan ini membuktikan bahwa seni tradisi bisa dinikmati dan dipahami oleh siapa saja, bahkan bagi penonton awam sekalipun, selama pesan di dalam gerakannya disampaikan dengan hati dan eksekusi yang matang.
Dokumentasi

Penulis: Viana Sukma Maharani
Mahasiswa Pendidikan Tari, Universitas Negeri Jakarta
Dosen Pengampu: Rines Onyxi Tampubolon, S.Sn., M.Sn.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















