Setiap anak tumbuh dengan warna dan caranya sendiri. Ada yang cepat menyerap hal baru seperti mulai bicara lebih awal, mudah memahami respon orang lain, dan terlihat aktif mengenali lingkungan. Ada juga yang berkembang dengan ritme yang berbeda.
Beberapa anak mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk merespon panggilan, menatap mata, atau mengikuti instruksi sederhana. Perbedaan ini kadang membuat orang tua bingung harus menganggapnya sebagai bagian dari variasi perkembangan normal, atau tanda bahwa anak membutuhkan perhatian khusus.
Justru karena itulah kondisi perkembangan anak perlu disorot dengan hati-hati. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar orang tua tidak mengabaikan sinyal-sinyal penting.
Autisme bukan penyakit, bukan pula akibat pola asuh. Autisme merupakan himpunan gangguan neurobiologis yang memengaruhi tahapan perkembangan anak.
Kondisi tersebut biasanya teridentifikasi melalui gejala dan penyimpangan perkembangan yang tampak secara nyata dan dapat ditandai oleh gangguan dalam beberapa aspek perkembangan seperti kemampuan sosial, hubungan interpersonal, keterampilan adaptif, serta kemunculan perilaku stereotip, minat terbatas, atau aktivitas repetitif.
Secara etimologis, istilah autis berasal dari kata Yunani autos yang berarti “diri sendiri.” Autisme dipahami sebagai gangguan dalam spektrum, artinya individu autistik menunjukkan karakteristik yang beragam baik dari jenis gejalanya maupun tingkat keparahannya.
Tanda-tandanya biasanya sudah terlihat sejak sebelum usia tiga tahun. Namun, karena bentuknya bisa sangat beragam, tidak semua anak menunjukkan gejala dengan cara yang sama. Dengan memahami perbedaan dan tanda-tandanya dapat membantu orang tua, keluarga, dan masyarakat memberikan dukungan dan intervensi yang tepat.
Ciri-ciri Autisme yang Umum ditemui
Tidak semua harus muncul sekaligus, biasanya hanya beberapa saja yang terlihat.
- Kesulitan memahami atau memakai bahasa tubuh, ekspresi wajah, atau kontak mata.
- Perkembangan bicara yang lambat, atau bicara lancar tapi sulit menangkap konteks percakapan.
- Minat yang sangat spesifik atau berulang.
- Pola gerakan tertentu yang dilakukan berulang, seperti mengepak tangan atau berayun.
- Sensitivitas tinggi terhadap suara, cahaya, sentuhan, atau tekstur.
- Lebih nyaman pada rutinitas yang teratur dan dapat cemas jika ada perubahan mendadak.
Jenis-jenis dalam Spektrum Autisme
Spektrum autisme mencakup beberapa kategori, antara lain:
- Autistic Disorder, dengan tantangan komunikasi dan interaksi sosial yang lebih tampak sejak usia dini.
- Asperger Syndrome, biasanya kemampuan berbahasa baik, tetapi kesulitan memahami kondisi sosial.
- Childhood Disintegrative Disorder, ditandai penurunan kemampuan setelah masa perkembangan awal yang normal.
- Pervasive Developmental Disorder, gejala mirip autisme namun tidak sepenuhnya memenuhi kriteria autisme berat.
- Rett Syndrome, lebih spesifik terjadi pada anak perempuan dan ditandai kemunduran motorik yang khas.
Apa yang Membuat Autisme Terjadi?
Genetika dan perkembangan sistem saraf berperan besar. Faktor kehamilan, usia orang tua, dan kondisi biologis tertentu juga dapat berpengaruh. Autisme bukan disebabkan oleh kesalahan pola asuh, itu mitos yang sudah lama dibantah.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sari dkk. (2017) menemukan bahwa proses peradangan di sistem saraf (neuroinflamasi) juga dapat terlibat dalam perkembangan autisme. Temuan ini memperkuat bahwa autisme memiliki dasar biologis yang kompleks.
Perbedaan Autisme dan Down Syndrome
Kedua kondisi ini sering disalahpahami sebagai hal yang sama, padahal keduanya berbeda secara mendasar. Down Syndrome terjadi karena kelainan kromosom (trisomi 21) yang memengaruhi fisik dan kemampuan intelektual sejak lahir, ciri-cirinya tampak secara fisik.
Autisme terkait cara otak berkembang dan memproses informasi, tidak memiliki ciri fisik khusus, dan tingkat intelektualnya bisa sangat beragam. Anak dengan down syndrome bisa saja memiliki autisme, tetapi keduanya tetap dua kondisi yang berbeda. Pengetahuan sederhana ini penting supaya masyarakat tidak menggabungkan semua perbedaan perkembangan ke dalam satu kotak.
Baca juga: Pengaruh Latihan Fisioterapi untuk Meningkatkan Keseimbangan pada Anak Down Syndrome
Dukungan yang Bisa Membantu
Anak dengan autisme bisa berkembang sangat baik bila mendapat dukungan yang tepat. Beberapa pendekatan yang sering digunakan:
- Terapi perilaku untuk membangun keterampilan langkah demi langkah.
- Terapi wicara dan bahasa untuk meningkatkan komunikasi.
- Terapi okupasi untuk kemampuan motorik dan aktivitas sehari-hari.
- Pendekatan sosial-relasional, seperti permainan interaktif dengan orang tua.
- Pengaturan kelas yang terstruktur dan berbasis visual.
Setiap anak akan membutuhkan kombinasi yang berbeda, tidak ada satu metode yang cocok untuk semua. Yang paling utama adalah dukungan dari orang tua baik dari segi fisik, emosional, maupun kognitif.
Penutup: Melihat Anak Bukan sebagai Label
Pada akhirnya, memahami autisme bukan tentang menghafal gejala, tetapi memahami manusia di baliknya. Anak autistik bisa bahagia, kreatif, mandiri, penuh rasa ingin tahu, dan punya cara unik untuk lingkungan sekitar. Mereka bukan kurang, hanya berbeda.
Ketika masyarakat berhenti menghakimi dan mulai memahami, anak-anak ini bisa tumbuh dengan percaya diri dan diterima apa adanya. Setiap anak berhak dilihat sebagai individu, bukan sebagai label.
Penulis:
- Ahmad Fa’iz Nuzula Husnayain 2. Zahirah Sabiya 3. Regita Dwi Cahyani
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi
Dosen Pengampu:
- Nurul Hafizhah, M.Psi., Psikolog
- Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog
- Mindy Maghfira, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Referensi
Alms, S. (2025, February 4). New data show global prevalence of autism. Organization for Autism Research (OAR). https://researchautism.org
Centers for Disease Control and Prevention. (2024, May 16). Treatment and intervention for autism spectrum disorder. https://www.cdc.gov/autism/treatment/index.html
Dewi, S., & Morawati, S. (2024). Gangguan Autis pada Anak. Scientific Journal, 3(6), 418-431.
Jessy, M., & Diswantika, N. (2019). Efektivitas terapi Applied Behavior Analysis (ABA) terhadap perkembangan bahasa anak berkebutuhan khusus autisme. Jurnal Cakrawala Pendas, 5(2), 456686.
Mayo Clinic Staff. (2025, May 22). Autism spectrum disorder – Diagnosis & treatment. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autism-spectrum-disorder/diagnosis-treatment/drc-20352934
Suprajitno, S., & Aida, R. (2017). Bina aktivitas anak autis di rumah: Panduan bagi orang tua. Media Nusa Creative.
Sari, A. P. P., Amin, M., & Lukiati, B. (2017). Penyebab gangguan autis melalui jalur neuroinflamasi. Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi, 3(2), 1-9.
Tim PPID Ditbalnak. (2024, November 13). Kajian epidemiologis, anak dengan autisme di Indonesia. Orang Tua Hebat. https://www.orangtuahebat.id/kajian-epidemiologis-anak-autisme/
WHO. (2025, September 17). Autism spectrum disorders. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/autism-spectrum-disorders
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












