Bukan Sekedar Mood Swing, Ini 5 Fakta Bipolar yang Sering diremehkan!

Mood Swing
Ilustrasi Mood Swing (Sumber: MMI)

Pernahkah kamu merasa suatu hari kamu ekstra semangat untuk ngelakuin apapun, eh besoknya langsung drop abis-abisan sampai ga mood buat ngapa-ngapain? Mungkin kamu ngiranya itu cuma mood swing biasa, tapi kalau hal ini terjadi terus-terusan, bisa jadi pertanda untuk hal yang lebih serius loh!

Banyak yang mengira gangguan bipolar itu sama dengan mood swing. Namun perlu diketahui bahwa bipolar memiliki intensitas dan siklus yang bertahan lebih lama. Bipolar adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan perubahan ekstrem pada suasana hati, energi dan aktivitas. Gangguan mental satu ini ditandai dengan periode suasana hati sangat gembira (mania/hipomania) dan sangat sedih (depresi).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sekalipun istilah gangguan bipolar sudah tidak lagi asing ditelinga, ternyata masih banyak loh yang salah paham tentang apa itu bipolar. Mulai dari disepelekan, hingga disamakan dengan kepribadian ganda, berbagai pemahaman keliru berseliweran bebas diantara masyarakat. Mau tahu fakta-fakta mengenai gangguan bipolar? Yuk simak!

1. Bipolar Berbeda dengan Kepribadian Ganda

Seringkali masyarakat mengira bipolar dan kepribadian ganda sebagai hal yang sama. Namun faktanya, kedua gangguan ini sama sekali berbeda.

Bipolar adalah gangguan afektif yang berkaitan dengan perubahan suasana hati ekstrem, sedangkan kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder adalah kondisi dua atau lebih kepribadian pada individu. Sudah jelas kan beda antara kedua gangguan ini?

2. Perubahan Siklus Bipolar Tidak Terjadi dalam Sekejap

Untuk dapat didiagnosis sebagai penderita gangguan bipolar, individu perlu mengalami serangkaian gejala yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM 5), untuk bipolar tipe 1 individu harus merasakan paling tidak 1 minggu episode mania dan 2 minggu episode depresif.

Gejala mania ditandai dengan suasana hati yang meningkat, banyak berbicara, energi yang tak terbatas, hingga sulit untuk tidur. Sedangkan gejala depresif ditandai dengan penurunan suasana hati seperti perasaan rendah diri, sedih yang berlarut dan peningkatan kecenderungan untuk menyakiti diri. Jadi siklus bipolar itu tidak terjadi dalam hitungan jam ya! Jangan sampai keliru.

3. Bipolar Bukan Sekedar Mood Swing Biasa

Banyak dari masyarakat yang mengira bahwa bipolar adalah perubahan mood biasa yang pasti dirasakan setiap orang. Namun, bipolar tidak sesederhana mood swing. Pengidap bipolar memiliki risiko yang tinggi untuk menyakiti diri sendiri. Bahkan pada fase depresif yang parah, kecenderungan untuk bunuh diri meningkat pesat.

Pada fase ini, individu akan merasa putus asa, sedih yang mendalam dan merasa dirinya tidak berharga. Jadi, bipolar tidak boleh dianggap remeh ya! Karena ini bukan sekedar mood swing tetapi gangguan psikologis yang serius.

Baca juga: 7 Cara Mengelola Emosi dan Mood agar Hidup Lebih Seimbang dan Bahagia

4. Bipolar Tidak Hanya Perubahan Suasana Hati yang Ekstrem

Tahukah kamu? Bipolar bukanlah satu gangguan tunggal, melainkan terdiri dari beberapa tipe? Banyak yang mengira, bipolar hanya ada 1 tipe dan perubahan suasana hatinya terjadi secara ekstrem. Namun, tidak seperti itu faktanya. Bipolar terbagi menjadi 3 tipe, yaitu bipolar tipe 1, 2 dan siklotimik.

Menurut DSM 5, bipolar ditandai dengan setidaknya 1 episode mania yang terjadi selama 1 minggu untuk tipe bipolar 1, dan atau 1 episode hipomania yang terjadi setidaknya 4 hari diikuti dengan episode depresi mayor yang berlangsung setidaknya 2 minggu. Sedangkan untuk siklotimik gejala hipomania dan depresi muncul selama setidaknya 2 tahun untuk orang dewasa dan 1 tahun untuk anak kecil.

5. Diagnosis Tidak Dapat dilakukan oleh Sembarang Orang

Gejala perubahan mood drastis saja tidak cukup loh untuk dikatakan bipolar! Untuk mendapatkan diagnosis, kontribusi tenaga profesional seperti psikolog maupun psikiater dibutuhkan. Maka dari itu, self-diagnose sangat tidak dianjurkan ya! Kalau kamu merasa gejala-gejala yang sudah disebutkan ada pada dirimu, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional!

Banyaknya pemahaman keliru mengenai gangguan mental turut memengaruhi pandangan masyarakat terhadap pengidapnya. Disepelekan, hingga ditakuti, sudah tak lagi asing untuk menjadi masalah yang dihadapi orang dengan gangguan bipolar. Mari kita luangkan waktu untuk memahami, dan menciptakan ruang yang aman bagi para pengidap gangguan mental.

Apabila kamu merasa mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional ya! Dan hindari untuk melakukan self-diagnose agar kamu mendapatkan bantuan yang sesuai!

 

Penulis:

  1. Natasya (G1C124114) 
  2. Rahma Hassana (G1C124098)
  3. Sherly Gusmai Linda (G1C124087)

Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi 

Dosen Pengampu:

  1. Nurul Hafizhah, M.Psi., Psikolog
  2. Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog
  3. Mindy Maghfira, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses