Hari Relawan Internasional menjadi momen penting untuk mengenang semangat kemanusiaan.
Berbagai organisasi dan komunitas ramai memeriahkan perayaan ini dengan kampanye dan kegiatan sosial di Indonesia.
Namun muncul pertanyaan: apakah semangat relawan benar-benar membumi dalam kehidupan sehari-hari, atau hanya jadi seremoni tahunan tanpa makna mendalam?
Relawan sejatinya adalah wajah kemanusiaan bangsa. Mereka hadir di garis depan ketika bencana datang, mengajar anak-anak tanpa bayaran, serta membangun ruang sosial dalam situasi sulit.
Sayangnya, banyak relawan kurang mendapatkan perhatian dan dukungan yang layak, sehingga kerap menghadapi tekanan sosial dan emosional.
Oleh sebab itu, Hari Relawan seharusnya bukan hanya acara tahunan, melainkan bagian dari pendidikan karakter sosial yang berkelanjutan.
Sebagai contoh inspiratif, Tiongkok memperingati Lei Feng Day setiap 5 Maret, mengenang seorang prajurit muda yang dikenal dengan pengabdian tanpa pamrih.
Baca Juga: Indahnya Kepemimpinan Berfikir dalam Islam: Prinsip, Sifat, dan Penerapannya
Mao Zedong menginisiasi gerakan nasional “Belajar dari Lei Feng” yang diintegrasikan secara sistematis ke dalam pendidikan karakter, menanamkan nilai empati dan kerja sosial sejak dini. Ini bukan sekadar perayaan, melainkan kebiasaan sosial yang kuat dan berulang.
Indonesia sebenarnya sudah memiliki nilai serupa, seperti gotong royong dan solidaritas, yang terpatri dalam Pancasila.
Contohnya, Garda Pemuda Peduli Lingkungan di Bali yang aktif dalam pendidikan, literasi, dan pengabdian sosial mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Program seperti Garda Muda Berkelana menggabungkan berbagai kegiatan mulai dari pengelolaan sampah di sekolah, penguatan ekonomi kreatif lokal, hingga kesadaran lingkungan khususnya bagi generasi muda.
Program ini membangun karakter peduli lingkungan dan pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Namun, modernisasi dan budaya individualistik membuat banyak orang merasa tidak punya waktu untuk menjadi relawan.
Menurut laporan UN Volunteers (2022), banyak kegiatan relawan di Asia bersifat reaktif dan sementara, terutama muncul saat bencana atau acara besar.
Baca Juga: Resensi Buku: Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi
Ini menunjukkan semangat relawan belum menjadi kebiasaan sosial yang terstruktur dan jangka panjang.
Untuk mengubah kondisi ini dan menjadikan Hari Relawan lebih bermakna, beberapa langkah nyata perlu dilakukan;
Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan menetapkan Hari Relawan sebagai Pekan Empati Kota dengan berbagai kegiatan edukatif, pelatihan kesehatan mental, kelas empati berbasis komunitas, dan program sosial sederhana secara serentak sesuai kebutuhan setempat.
Organisasi menyediakan ruang aman bagi relawan untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan pendampingan psikososial agar tetap sehat secara mental.
Media lokal mengangkat kisah kemanusiaan relawan agar publik memahami kompleksitas kerja sosial dan memberikan apresiasi yang layak.
Pengakuan resmi dan insentif berkelanjutan dengan pemberian sertifikat kompetensi dan pencatatan kredensial untuk meningkatkan kapasitas relawan.
Perkuat pendidikan karakter berbasis empati di sekolah dan komunitas melalui modul dan ekstrakurikuler yang melibatkan relawan sebagai fasilitator.
Hari Relawan harus menjadi ruang refleksi sosial tentang bagaimana masyarakat bisa menyeimbangkan kepedulian terhadap sesama dengan kesejahteraan diri sendiri.
Menjadi relawan bukan hanya membantu, tapi juga belajar menghargai kemanusiaan dalam dunia yang penuh tantangan.
Seperti semangat Lei Feng yang sederhana namun menginspirasi menjadi “relawan kecil” di lingkungannya, bukan karena paksaan, tapi atas kesadaran moral dan empati.
Relawan bukan hanya mereka yang aktif di lapangan, tetapi setiap individu yang memilih untuk peduli di tengah dunia yang seringkali acuh tak acuh.
Saat empati menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan bersama, kita tak lagi memerlukan hari khusus untuk merayakannya, karena kemanusiaan itu sendiri sudah menjadi bagian dari cara kita hidup.
Penulis: Maulidya Na’ima Zukhrufa Arzaqina
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Brawijaya
Peminat Sosial Kependidikan
Referensi
- China Daily. (2024). Lei Feng Day and Civic Empathy Education.
- Info Bali Netizen. (2025). Sekolah Jadi Garda Depan Pengelolaan Sampah.
- Kementerian Sosial RI. (2023). Refleksi Hari Relawan Nasional.
- United Nations Volunteers. (2022). The State of the World’s Volunteerism Report.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













