Perspektif Lain Tradisi Tu’u Belis Kabupaten Rote Ndao

Tradisi Tu’u Belis Kabupaten Rote Ndao
Ilustrasi Tradisi Tu’u Belis (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Adat merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, memengaruhi berbagai aspek seperti tradisi kelahiran hingga norma pernikahan dan kehidupan sehari-hari. Di pulau Rote, adat telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, menjadi bagian dari identitas yang tak terpisahkan.

Salah satu tradisi terkenal di Rote adalah Tu’u dan Belis, yang menjadi ciri khas dalam prosesi pernikahan. Tu’u adalah adat pemberian sumbangan bersyarat, sedangkan Belis adalah mas kawin yang diberikan dari pihak mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan.

Tradisi Tu’u Belis telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari prosesi pernikahan di Rote. Pertemuan kedua keluarga menentukan tanggal pernikahan dan jumlah belis, seringkali diiringi dengan pesta meriah di mana puluhan hewan disembelih untuk makan bersama. Meskipun biayanya bisa mencapai puluhan juta, kemeriahan pesta dianggap sebagai keharusan, tanpa memandang status ekonomi penyelenggara.

Pada saat menentukan tanggal pernikahan dan jumlah belis, keluarga dan masyarakat sekitar memberikan sumbangan berupa uang atau ternak yang dicatat dengan baik untuk kemudian dibayar secara wajib. Sumbangan ini seringkali diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai utang yang harus dibayar.

Pelestarian praktik budaya Tu’u Belis di masyarakat Rote memperkuat identitas kolektif mereka dengan keunikan tersendiri, meskipun asal usulnya belum terdokumentasikan secara tertulis maupun lisan. Menurut Folabessy dalam Anderias (2014), upaya untuk mempertahankan warisan budaya seringkali bertentangan dengan kondisi ekonomi.

Hal ini tercermin dalam tradisi Tu’u Belis, di mana kelompok keluarga berkumpul untuk mengumpulkan dana pernikahan. Meskipun dianggap sebagai kewajiban adat yang membebani secara finansial, praktek ini memperkuat solidaritas antaranggota masyarakat. Meskipun menghadapi tekanan moral yang kuat, masyarakat tetap melaksanakannya karena dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka.

Baca juga: Tradisi Rambu Solo di Suku Toraja

Tujuan utama Tu’u Belis adalah memperkuat hubungan kekerabatan, dan tahapan prosesnya meliputi kumpul keluarga dalam membahas pernikhan, dalam prosesi kumpul keluarga, yang datang bukan hanya keluarga inti tetapi juga rumpun keluarga besar, serta masyarakat sekitar pun dapat turut hadir dalam prosesi kumpul keluarga atau Tu’u.

Tujuan dari Tu’u memiliki kaitan dengan teori Sense of Community yaitu memiliki perasaan hubungan yang kuat di antara anggota suatu komunitas, menurut McMilan dan Chavis dalam Fernanda & Dan Rachmawati (2019).

Sense of Community, diperkenalkan oleh Seymour Sarason pada tahun 1974, adalah konsep dalam psikologi komunitas yang menggambarkan perasaan individu terhadap komunitas mereka.

Menurut Sarason dalam Bahl et al., (2017), SOC terdiri dari tiga komponen utama:

  1. Rasa kepemilikan dan makna bersama yang membuat seseorang merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar dan bermakna;
  2. Kemampuan untuk menyelesaikan konflik secara konstruktif merusak tanpa rasa merusak rasa kebersamaan,
  3. Kemampuan untuk yang mendukung, membantu mengurangi kesepian dengan memberikan dukungan emosional dan sosial.

Aspek dari Sense of Community dengan mengacu pada fakta-fakta yang ada di Rote. Pertama, mengenai rasa memiliki dan ikatan budaya, dalam setiap kelompok penting ini adalah salah satu aspek penting, namun rasa kepemilikan yang berlebihan dapat menyebabkan tekanan sosial untuk mengikuti adat, yang seringkali membebani secara finansial.

Menurut penelitian Anderias, dorongan kuat untuk mempertahankan identitas budaya melalui tradisi seperti Tu’u Belis dapat memperkuat ketidaksetaraan ekonomi dan memicu konflik antara keluarga yang mampu memenuhi tuntutan adat dan yang tidak mampu.

Aspek selanjutnya adalah kemampuan untuk menyelesaikan konflik secara konstruktif tanpa merusak kebersamaan. Ketika Sense of Community yang terlalu kuat mendorong musyawarah yang selalu menghasilkan konsensus demi harmoni, hal ini bisa menghalangi individu untuk menyuarakan pendapat atau keberatan yang mungkin penting.

Menurut Anderias, keinginan untuk menghindari konflik dan mempertahankan kesatuan bisa menyebabkan masalah mendasar tidak pernah terselesaikan dengan tuntas, yang akhirnya dapat memperburuk ketegangan dalam jangka panjang.

Aspek terakhir adalah kemampuan untuk mendukung, membantu mengurangi kesepian dengan memberikan dukungan emosional dan sosial. Menurut Anderias, tekanan sosial untuk selalu memberikan dukungan, termasuk dalam bentuk pesta pora dan sumbangan besar saat Tu’u Belis, dapat menyebabkan beban finansial yang berat.

Orang merasa terpaksa untuk ikut serta dalam pengeluaran besar meskipun tidak mampu, yang memperburuk kondisi ekonomi mereka dan dapat memperpanjang siklus hutang serta kemiskinan.

Sense of Community (SOC) yang tinggi di masyarakat Rote menciptakan ikatan budaya yang kuat melalui praktik seperti Tu’u, yang memperkuat solidaritas dan hubungan emosional antaranggota komunitas. Namun, Haning dalam penelitian Anderias (2014) menyoroti bahwa Tu’u Belis sebagai kewajiban adat seringkali membebani secara finansial, memperkuat ketidaksetaraan ekonomi dan memicu konflik.

SOC yang kuat mendorong individu untuk mengikuti tradisi meskipun menyebabkan kesulitan ekonomi, yang berujung pada transfer aset dari warga miskin ke warga kaya dan memperburuk kondisi ekonomi tuan pesta karena biaya yang tinggi. Selain itu, SOC yang kuat dapat memperpanjang hutang Tu’u menjadi hutang antargenerasi, memperpanjang siklus hutang dan kemiskinan.

Tradisi Tu’u Belis di Rote memperkuat identitas budaya, tetapi kompleks dalam efeknya pada ekonomi dan sosial. Meski memperkuat hubungan sosial, SOC yang tinggi dapat memperburuk disparitas ekonomi dan memperpanjang hutang antargenerasi.

Untuk itu, perlu beberapa pertimbangan matang untuk menyikapi budaya ini tanpa mengurangi esensi dari tradisi Tu’u Belis itu sendiri. Penting menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Rote.

 

Penulis: Aulia Axella Firmanningtyas Ufi
Mahasiswa Psikologi, Universitas Sarjanariyata Tamansiswa

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Referensi

Anderias, T. W. M. (2014). Rote dalam Konteks Pembangunan di Nusa Tenggara Timur. Relasi Negara Dan Masyarakat Rote, 93–128. http://repository.uksw.edu/handle/123456789/9265

Bahl, N. K. H., Nafstad, H. E., Blakar, R. M., & Geirdal, A. Ø. (2017). Responsibility for Psychological Sense of Community and Well-Being in Old Age: A Qualitative Study of Urban Older Adults in Norway. Open Journal of Social Sciences, 05(07), 321–338. https://doi.org/10.4236/jss.2017.57020

Fernanda, A., & Dan Rachmawati, R. (2019). Social Presence dan Sense of Community Pada Anggota Komunitas Seni. Psychology Journal of Mental Health, 1(1), 66–77. http://pjmh.ejournal.unsri.ac.id/66

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.