Refleksi Dies Natalis HMI ke-76

Bendera HMI
Bendera HMI (Sumber FuadNasar.worpress.com)

Eksistensi HMI kini tidak terasa sudah berusia 76 tahun. Kalau diibaratkan dengan kehidupan seorang manusia, maka himpunan ini tidak mudah lagi, sudah sepuh.

Pesan moral dibutuhkan untuk kemajuan dan pembangunan negara yang kita cintai ini. Dalam perjalanan yang cukup panjang HMI melalui tangan Lafran Pane telah menanamkan pondasi yang begitu kuat yaitu dua anasir yang begitu signifikan yang membawa warna organisasi yaitu Islam dan keindonesiaan.

Keduanya tidak diperhadapkan dengan kontradiksi interminus melainkan disejajarkan dan saling melengkapi atau Islam dan Indonesia saling kompatibel.

Bacaan Lainnya
DONASI

Sikap nasionalisme kader HMI tidak perlu diragukan lagi. Jangan kita berpikir sikap frontal adik-adik HMI. Gerakan-gerakan yang dibangun secara konstruktif dan sistematis untuk menyuarakan ketidak adilan atau menuntut penyetaraan di mata hukum, merupakan implementasi dari nilai pencipta dan pengabdi, merupakan manifestasi sikap nasionalisme.

HMI tidak mungkin berdiri sendiri, akan tetapi ada KAHMI yang mempunyai peran penting sebagai daya penggerak dan pendobrak, untuk lebih responsif.

Eksistensi wadah independen KAHMI adalah wadah penguatan alumni dari berbagai cabang HMI di tanah air, dan juga ingin bernostalgia dan bersilaturahmi antar inter eks aktifis hijau hitam.

Selain misi temu kangen, ada misi besar yang ingin dituntaskan yaitu memproteksi arus besar yang begitu massif. Mau tidak mau, suka atau tidak suka revolusi teknologi dan informasi telah bergulir di tengah aktifitas-aktifitas primer maupun sekunder di era disrupsi yang begitu massif.

KAHMI mempunyai tanggung jawab moral terhadap tumbuh kembang eksistensi kader kader HMI secara organisatoris.

Di sudut pandang yang lain, responsibilty sosial dan religiusitas tidak kalah penting di tengah perubahan yang begitu massif di era disrupsi.

Ada dua unsur penting yang dicetuskan abang atau kakanda Lafran Pane yaitu anasir relegiusitas dan nasionalisme yang lebih kongkrit adalah Islam dan Indonesia dengan tujuan lahirnya HMI adalah “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wa ta’ala” yang termaktub dalam pasal 4 Anggaran Dasar HMI.

Landasan filosofi inilah, yang secara verbal ditakhsiskan “bernafaskan Islam” maka KAHMI hadir ingin memporteksi dengan misi memaksimalkan religiusitas Islam di era disrupsi. Sehingga, KAHMI ENDE HADIR DAPAT BERDAYA GUNA DAN BERKONTRIBUSI AKTIF DAN BERSINERGISITAS UNTUK PEMBAGUNAN FISIK DAN NON FISIK.

HMI dan KAHMI dianalogikan dengan dua sisi mata uang, yang tidak bisa didikotomi secara substansi. Kedua anasir ini saling menguatkan dan melengkapi. HMI adalah lokomotif gerbong penggerak sebagai kontrol sosial di dalam penata kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama sementara KAHMI adalah masinis yang memberikan advis yang konstruktif demi kemajuan dan laju pertumbuhan pembangunan yang ideal.

Langkah kongkrit yang diambil KAHMI sebagai bukti komitmen adalah KAHMI telah mengadakan rapat awal dengan seluruh pengurus harian KAHMI, dengan menghasilkan beberapa kesepakatan yang compatible, di antaranya:

  1. Rencana pelantikan pengurus sebagai bentuk advokasi legalitas formal lembaga independen KAHMI ENDE;
  2. Seminar kebangsaan yang akan mendatangkan dua anggota Presidium Majelis Nasional KAHMI, yaitu Ketua Komisi Il DPR RI Ahmad Doli Kurni Tandjung, serta anggota komisi XI DPR RI Fraksi PAN Ahmad Yohan, sebagai putra daerah dan teregistrasi sebagai alumni MAN Ende;
  3. Penguatan spiritual dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan yaitu: safari ramadhan dan HMI dan KAHMI berbagi sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarkat.

Perspektif inilah yang menjadi langkah maksimal dan kongkrit KAHMI merespon tuntutan di era disrupsi. Langkah kongkrit dari kader HMI dalam memproteksi arus globalisasi dan teknologi informasi yang melahirkan disrupsi .

Salah satu langkah yang kongkrit yang diambil yaitu memaksimalkan atau membumikan religiusitas ihsan. Ihsan merupakan ajaran yang mendiskripsikan ibadah dengan dimensi esoterik maupun eksoteris.

Setiap muslim dan muslimah (Kohati) diajari dengan dogmatis ihsan sebagai trilogi dari ajaran, “Islam, Iman dan Ihsan” sejalan atau paralel dengan trilogi HMI yaitu iman, amal saleh dan ilmu.

Trilogi HMI membentuk sebuah piramida-permata yang signifikan dalam membentuk watak, perilaku dan cara berfikir sistematis.

Terkait dengan dimensi esoterik ihsan, hadis Nabi yang masyhur tentang ihsan, ketika Nabi ditanya Jibril, beliau menjawab:

“Ihsan adalah, engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” (HR Bukhari & Muslim).

Menurut Falih bin Muhammad mengutip Al-Qurtubi, ihsan atau “al-Ihsan” mengandung dua makna: pertama, artinya “memperbaiki dan menyempurnakan kebaikan” makna yang kedua “memberikan sesuatu yang bermanfaat.

Menurut Asy-Syaukani, Ihsan secara bahasa bermakna mengamalkan sesuatu yang tidak wajib seperti sedeqah. Ahklak berbasis ihsan merupakan persenyawaan ruhani kesalehan insan akademis pencipta dan pengabdi sebagai kader HMI yang terkristalisasi sebagai wujud kesalehan sosial yang luhur dan utama.

Esensinya ihsan melahirkan spritualitas, moral, etika dan tindakan yang luhur dan membuahkan pencerahan hidup bagi diri, keluarga, masyarakat, ummat, bangsa dan rahmatan lilalamin.

Filosofi ihsan inilah yang harus dipegang teguh sebagai role mode bagi kader-kader Hijau Hitam sehingga anasir keislamannya tetap survive dalam cengkraman hegemoni globalisasi teknologi dan informasi.

Bilahi Taufiq Walhidayah
Wassalamu Alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

Ende, 2 Februari 2023

Abdullatif

Penulis: Abdullatif
Wakil Ketua III MD KAHMI Ende
Kepala KUA Kec. Ndona Kab. Ende Nusa Tenggara Timur (NTT)

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI