Subak dalam Menghadapi Tantangan Arus Globalisasi

SUBAK
SUBAK-BALI

Bali merupakan pulau kecil di tengah kepulauan Indonesia. Walaupun begitu, Bali sangat terkenal karena berbagai ciri khasnya, terutama dari segi kebudayaan, pariwisata, bahkan dari sisi pertaniannya. Pulau ini memiliki kebudayaan yang kuat dalam menghadapi arus globalisasi, yaitu Subak.

Sebagai Kebudayaan Bali

Subak, Bali

Sistem irigasi subak adalah wujud rasa gotong-royong yang telah ada di Pulau Bali dan diturunkan oleh nenek moyang sampai sekarang. Dalam bidang pertanian, Bali tidak dapat terlepaskan dari subak. Subak telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap citra Bali dengan identitasnya yang unik dan juga sebagai penyangga kebudayaan Bali.

Bahkan, budaya subak telah mendominasi kebudayaan Bali karena keunikannya. Misalnya pelaksanaan kegiatan upacara keagamaan yang sangat banyak dan berkaitan erat dengan setiap tahap penanaman dan pertumbuhan padi. Kegiatan keagamaan inilah yang menjadi pembeda subak dengan sistem pengairan tradisional lainnya di Indonesia bahkan dunia.

Sudah hampir satu milenium subak tetap eksis di mata dunia. Akankah keadaannya tetap sama meskipun di tengah era globalisasi saat ini?

Di Era Globalisasi

Era globalisasi menjadi salah satu tantangan subak untuk tetap bertahan. Globalisasi adalah sebuah era di mana semakin bebasnya arus manusia, sumber daya fisik, modal, informasi, dan berbagai aspek kehidupan yang tak terbatas antar negara di seluruh penjuru dunia.

Kegiatan pariwisata, revolusi hijau, dan perkembangan bioteknologi serta industri digital yang merupakan hasil dari era globalisasi. Hal tersebut menjadi aspek penting dari proses globalisasi yang sudah dipastikan akan membawa dampak pada sektor pertanian di Bali. Yang tak lain adalah sistem subak itu sendiri.

Dampak dari adanya globalisasi menjadi tantangan bahkan ancaman tersendiri bagi eksistensi keberlangsungan subak. Salah satunya adalah dampak dari sektor pariwisata yang walaupun membawa sisi positif bagi perekonomian di Bali. Tetapi juga sebagai pemicu terbesar migrasi dan urbanisasi yang berdampak pada alih fungsi lahan sawah.

Faktor lain yakni, menurunnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Mereka cenderung ingin mencari pekerjaan yang menjanjikan dengan pendapatan lebih besar. Globalisasi bukanlah sesuatu yang baru, karena sudah berlangsung sejak abad ke-18. Ketika Adam Smith, seorang pelopor ilmu ekonomi modern memunculkan teori pasar bebas.

Perkembangan sistem perdagangan internasional berdampak pada pergeseran sistem produksi pangan dan kebijakan ketahanan pangan yang akhirnya juga berdampak pada peran dan kedudukan petani di pasar global. Era globalisasi membentuk sistem pasar yang lebih liberal sehingga peran dan kedudukan petani pun  menjadi semakin sulit dalam sistem perdagangan internasional.

Hingga kini, arus globalisasi semakin deras dengan disepakatinya kesepakatan-kesepakatan yang memberlakukan perdagangan bebas seperti AFTA pada tahun 2003, APEC pada tahun 2010, dan WTO (World Trade Organization).

Perdagangan bebas yang berlaku sangat menarik jika dikaitkan dengan kondisi lokal Bali khususnya sektor tradisional pertanian yaitu subak itu sendiri. Dari sistem perdagangan yang dikembangkan WTO ini, jelas bahwa aspek penting dalam perdagangan bebas adalah kompetisi berdasarkan asas efisiensi.

Kemajuan Sektor Pertanian dalam Rangka Melestarikan Subak

Kini, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah pertanian Bali akan mampu bersaing dengan negara-negara maju ataupun perusahaan-perusahaan swasta agribisnis raksasa asing yang saat ini mempunyai tingkat efisiensi jauh di atas Bali bahkan Indonesia?.

Lalu, bagaimana keberlanjutan lembaga-lembaga tradisional dalam sektor pertanian yang dalam hal ini adalah subak di tengah-tengah derasnya arus globalisasi?

Untuk menjaga keberlanjutan subak, tentu merupakan suatu keharusan dalam pembangunan sektor pertanian dan kebudayaan di Bali. Sebab, pada dasarnya keadaan sektor pertanian  di daerah ini telah berada pada kondisi yang lemah sekaligus terpinggirkan.

Oleh karena itu, sektor yang lemah ini mesti diberikan proteksi dan subsidi agar tetap eksis dalam menjalankan peranannya, serta agar tidak hancur dilindas arus globalisasi. Dalam hal ini contohnya seperti yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali No.9 Tahun 2012 tentang Subak yaitu mengatur lahan produktif Bali yang harus tetap dijaga dilindungi.

Dalam usaha menjaga kelestarian subak secara dinamis, subak harus melakukan transformasi dan rekonstruksi tetapi tetap dengan nilai-nilai dasar yang telah dimiliki agar sesuai dengan perkembangan situasi global, dan mampu menghadapi gejolak arus globalisasi dunia serta perdagangan bebas.

Diharapkan di masa yang akan datang, subak juga mengembangkan dirinya menjadi organisasi yang berorientasi ekonomi selain melakukan fungsi pokoknya sebagai pengelola air irigasi, tanpa harus mengorbankan corak sosio-religiusnya.

Syauqina Firdausa
IAAS LC Universitas Udayana

Editor: Sharfina Alya Dianti

Baca Juga:
Beladiri Tradisional Kalah Eksis?
Pengaruh Arus Globalisasi dalam Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya di Desa Kertamukti
Kembali Menghidupkan Pariwisata, LEPPAMI HMI Lakukan Kampanye Pariwisata New Normal Via Offline

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI