Tradisi Nyadran Dam Bagong Kabupaten Trenggalek

Nyadran
Sumber: https://images.app.goo.gl/92kq7XttiYge1kmq7

Trenggalek merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur, terkenal dengan pantainya yang banyak. Di Trenggalek juga ada beberapa tradisi turun temurun, salah satunya adalah Tradisi Nyadran Dam Bagong.

Trandisi Nyadran Dam Bagong merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang ada di Kabupaten Trenggalek. Tradisi ini merupakan turun temurun dari nenek moyang atau sesepuh Kabupaten Trenggalek. Nyadran biasanya dilakukan atau diperingati pada Jum’at Kliwon bulan Selo atau bulan Jawa.

Nyadran dilakukan di daerah Bagong yaitu tepatnya di Dam Bagong. Dam ini merupakan dam pembagi aliran sungai Bagong yang digunakan untuk mengairi persawahan di Kota Trenggalek. Dalam tradisi ini akan dikorbankan seekor kerbau yang kemudian disembelih, Penyembelihan kerbau dilakukan malam hari sebelumnya.

Ada beberapa macam jenis penyembelihan seperti Kepala, kulit, beserta tulang-tulang kerbau dilempar ke sungai yang kemudian nanti diperebutkan oleh warga masyarakat sekitar. Tujuan tradisi nyadran dam bagong ini adalah sebagai tolak balak. Nyadran dam bagong ini sebenarnya tidak hanya sebagai tolak balak tetapi juga sebagai simbol supaya kehidupan warga Trenggalek gemah ripah loh jinawi (tentram, subur, dan makmur).

Tradisi nyadran dam bagong mempunyai beberapa tahapan, yaitu:
  1. Penyembelihan kerbau (berkorban) dan dilakukan didekat dam bagong yang bertujuan supaya tidak terjadi banjir bandang. Penyembelihan kerbau biasanya dilakukan malam hari sebelum tradisi dilakukan.
  2. Setelah penyembelihan adalah memberikan sesaji yang dilakukan oleh dalang pada saat ruwatan. Perlengkapan yang digunakan juga cukup banyak, misalnya mule metri, kembang telon, dan lain-lain.
  3. Kemudian bapak bupati dan masyarakat berjalan dari makam Adipati Menak Sopal (sesepuh cikal bakal Kabupaten Trenggalek) menuju dam bagong lalu melemparkan kepala, kaki, kulit serta tulang kerbau ke dalam dam bagong dan diperebutkan oleh masyarakat yang sudah ada di dalam dam bagong.
  4. Setelah acara pelemparan atau larung selesai, kemudian makan-makan. Makan bersama disini dilakukan oleh masyarakat dan seluruh undangan yang ada. Mereka semua memakan daging kerbau yang telah dimasak.
  5. Dan kemudian yang terakhir adalah ruwatan wayang kulit yabg dilakukan semalam penuh dengan tujuan agar masyarakat Kabupaten Trenggalek diberikan keselamatan, terhindari dari segala jenis bahaya dan bencana yang tidak diinginkan serta supaya dam bagong selalu dapat mengairi sawah-sawah penduduk sehingga nantinya akan  membderikan manfaat bagi seluruh penduduk terutama penduduk Kabupaten Trenggalek.

Pemberdayaan Komunitas Berbasis Kearifan Lokal

Kearifan lokal dam bagong di Trenggalek ini jangan sampai memudar karena ini merupakan salah satu bentuk tradisi yang harus di jaga dan dilestarikan. Solusi dan upaya penghidupan kearifan lokal dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu diantaranya adalah pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal.

Pemberdayaan ini merupakan solusi awal perubahan yang dilakukan oleh anggota dari komunitas masyarakat agar mampu membentuk  individu serta masyarakat yang mandiri. Sebagai generasi muda penerus bangsa dan juga merupakan bagian dari masyarakat Kabupaten Trenggalek, ada juga hal-hal yang dapat dilakukan untuk melestarikan kearifan lokal, yaitu dengan cara menjaga keaslian dari kearifan lokal itu sendiri.

Budaya yang masih asli bisa dilestarikan dengan cara memberi ruang bagi kelangsungannya. Kemudian, selalu menjaga eksistensi atau keberadaan budaya lokal serta senantiasa mendukung aktivis budaya lokal agar dapat selalu bertahan dan terjaga di tengah arus modernisasi dan globalisasi. 

Kearifan lokal merupakan ciri khas suatu daerah yang berupa kebudayaan yang dapat menjadi daya tarik  serta identitas yang membedakan daerah satu dengan daerah yang lainnya. Salah satu contoh dari kearifan lokal tersebuat adalah tradisi nyadran dam bagong yang ada di Kabupaten Trenggalek ini. Pemahaman kepada masyarakat dengan cara menjaga keaslian dari kearifan lokal serta menjaga eksistensi atau keberadaan budaya lokal harus terus dilakukan agar tidak kalah dengan budaya-budaya lain.

Silvia Ayu Dwi Ratnasari
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Editor: Muflih Gunawan

Baca Juga:
Tradisi Rebo Wekasan Desa Suci
Memahami Makna Kematian dalam Tradisi Dayak Bahau
Beladiri Tradisional Kalah Eksis?

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI