Dampak Pandemi Corona dan Kaitannya dengan Agama dalam Teori Fungsionalisme Struktural

corona

Oleh: Nahla Thalia Hasanah. A. M
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga

Saat ini bumi tengah berada sebuah kondisi yang mempengaruhi seluruh tatanan dan konsistensinya. Covid-19, virus corona, pandemi merupakan kata-kata yang setiap harinya terdengar oleh telinga kita saat ini. Tentu saja pandemi ini menyebar begitu luas mempengaruhi masyarakat juga sosial-budayanya.

Hal-hal yang dipengaruhi oleh peristiwa saat ini dimulai dari dampak yang kecil hingga dampak yang begitu besar. Seperti yang kita ketahui bahwa pemerintah berupaya menerapkanan berbagai kebijakan untuk menekan angka kerugian yang disebabkan oleh pandemi ini. Salah satunya yaitu penetapan lockdown di beberapa negara. Di Indonesia sendiri pemerintah tidak dengan tegas memerintah penerapan lockdown akan tetapi memerintah masyarakat untuk tetap berada di rumah, tidak keluar melainkan ada keperluan penting, menjaga jarak dan mengetatkan pemeriksaan kesehatan di berbagai tempat umum.

Jelas bahwasanya instruksi-instruksi tersebut membawa dampak yang besar bagi masyarakat, contoh yang sangat besar misalnya yang berdampak pada bidang sosial-budaya dan agama masyarakat. Pelarangan untuk meminimalisir sosialisasi membuat beberapa cabang pekerjaan mengalihkan pekerjaannya ke rumah masing-masing, tempat-tempat umum yang biasa menjadi tempat berkumpul masyarakat juga ikut ditutup yang membuat kontak sosial antar masyarakat menjadi menurun.

Kemudian dampak dari peristiwa ini di bidang agama, yakni jika melihat agama dalam perspektif fungsionalisme struktural berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Malinowsky (salah satu antropolog terpenting pada abad ke-20) bahwa salah satu kebutuhan dasar manusia adalah keamanan, maka agama hadir memenuhi rasa aman tersebut dan melahirkan optimisme bagi setiap individu dalam menghadapi berbagai tantangan dan tragedi dalam kehidupan.

Disaat-saat yang seperti inilah agama hadir sebagai pemenuhan kebutuhan dasar tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa manusia dilanda oleh perasaan yang cemas, bahkan takut menghadapi  situasi yang bisa kapan saja membahayakan dirinya. Dengan keyakinan yang kuat terhadap kepercayaannya maka rasa aman dan optimisme dapat muncul disini. Sebagai contoh misalnya penganut islam pada situasi seperti ini dianjurkan lebih rajin untuk membaca wirid tertentu sebagai upaya pendekatan diri dan meminta perlindungan kepada Tuhan. Secara sadar maupun tidak ketika kita mendekatkan diri kepada Tuhan untuk memohon perlindungan, rasa optimisme akan hadir dalam diri kita juga diliputi dengan rasa aman.

Kemudian lebih lanjut hal yang terdampak atas pandemi ini juga termasuk ritual keagamaan yang biasa dilakukan masyarakat. Sebagai contoh umum dalam islam solat jum’at merupakan ibadah wajib bagi laki-laki dewasa yang lazimnya dilakukan berjamaah di masjid. Karena musibah yang saat ini menimpa, maka tempat-tempat umum ditutup dengan alasan keselamatan dan penghindaran penyebaran virus ini. Akibatnya, masjid yang biasa menjadi tempat yang ramai dengan jamaah pada hari jum’at menjadi kosong dan masyarakat melaksanakan ibadah solat di rumah masing-masing.

Maka jika mengamati agama dalam perspektif fungsionalisme struktural berdasarkan teori Durkheim (seorang sosiolog Prancis yang juga dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern) bahwa agama sebagai perekat/kohesi sosial masyarakat, disini dapat dilihat bahwa melalui ritual keagamaan seperti solat jum’at, masyarakat dapat saling mengenal, berhubungan, dan mempererat tali silaturahmi satu sama lain. Sehingga saat perintah penutupan tempat-tempat ibadah diterapkan dapat dirasakan kejanggalan dan perasaan yang begitu ingin berkumpul bersama saudara-saudara seagama untuk kembali bersama melaksanakan solat jum’at.

Begitu pula dengan masuknya bulan Ramadhan, seperti yang kita ketahui bahwa pandemi yang berlangsung saat ini mulai berkembang secara pesat di Indonesia saat sebelum bulan Ramadhan dan semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Maka saat-saat kebersamaan umat islam di bulan Ramadhan tahun ini lebih terasa hambar. Momen buka puasa bersama atau yang biasa diistilahkan dengan ngabuburit, sampai solat tarawih tak terasa berwarna di tahun ini. Masjid-masjid yang masih melakukan pelaksanaan salat tarawih pun memberi batas antara satu jamaah dan jamaah lainnya sehingga posisi jamaah tak saling berdempetan. Beberapa golongan masyarakat yang lain bahkan memilih untuk melaksanakan solat tarawih di rumah demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kemudian hal lain yang berdampak pada hubungan kerekatan sosial masyarakat adalah pelarangan mudik atau balik kampung oleh pemerintah. Seperti yang kita ketahui bahwa pandemi yang berlangsung saat ini mulai berkembang secara pesat di Indonesia saat sebelum bulan Ramadhan dan semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Hingga saat akhir bulan Ramadhan perintah pelarangan mudik disuarakan oleh pemerintah dan dapat dikatakan bawa lebaran umat muslim pada tahun ini akan terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tak sedikit masyarakat muslim yang terpaksa tak berkumpul dengan keluarga di kampung halaman pada saat lebaran. Sedangkan sebagai umat muslim tentunya, hari lebaran merupakan momen yang sangat ditunggu-tunggu, karena pada saat itulah kita dapat berkumpul bersama keluarga dan kerabat untuk kembali merajut momen yang tak dilupakan selanjutnya. Biasanya di momen ini masyarakat mempunyai istilah tertentu saat berkunjung ke rumah kerabat. Contohnya pada masyarakat Sulawesi Utara di mana momen berkunjung ke kediaman kerabat untuk menjalin silaturahmi pada hari kedua lebaran disebut dengan istilah iwadh. Ini merupakan suatu tradisi yang berasal dari Hadramaut yang kemudian diadaptasi di daerah Sulawesi. Tentunya kehilangan kesempatan menikmati momen-momen ini menimbulkan perasaan sedih dan janggal.

Maka lewat pandemi yang sedang berlangsung, disinilah masyarakat malah merasakan fungsi agama yang dibahas berdasarkan teori-teori tersebut. Yakni agama menurut Malinowsky yang hadir memenuhi rasa aman sebagai kebutuhan dasar manusia dan melahirkan optimisme bagi setiap individu dalam menghadapi berbagai tantangan dan tragedi dalam kehidupan juga menurut teori Durkheim yang mengungkapkan bahwa agama sebagai perekat/kohesi sosial masyarakat.

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI